Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 142....


__ADS_3

Seolah seperti seorang ibu yang benar benar sudah di rampas haknya,Sahira bejalan dengan penuh percaya diri di tempat kami berdiri.


"Jangan hiraukan perkataan mereka,mereka coba memutarbalikkan fakta lewat penjelasan agar dapat mencuci otak ibu ibu sekalian dam berpihak pada mereka."


Ujar Sahira coba memutarbalik kan fakta untuk mencapai tujuannya.


"Hei....wanita siluman...!!"


"Jaga ucapan mu,jangan coba menutupi kejahatan mu di balik statusmu sebagai ibu kandung."


"Dan seperti yang kau katakan kalau kami ingin mencuci otak,itu adalah otakmu sendiri yang penuh dengan ambisi dan keserakahan."


Kata ibu mertua yang semakin tidak mampu mengendalikan emosinya.


"Cukup...!!"


"Sudah cukup penghinaan kalian selama ini terhadapku.Aku hanya ingin kalian mengembalikan Rima padaku atau....?"


Seketika Sahira menghentikan kalimatnya saat menatapku.


"Atau apa Sahira...?"


"Katakan...!"


"Apa lagi yang ingin kau lakukan untuk menyakiti putrimu sendiri?"


"Tidak cukup kah kau telah merampas kebahagiaan Rima saat dia balita yang sangat membutuhkan kasih sayangmu?"


"Dimana hati nurani mu sebagai seorang ibu terhadap darah dagingmu sendiri?"


"Kau benar benar wanita keterlaluan Sahira,benar benar keterlaluan..."


Dengan suara menggelegar tak kuasa menahan amarah ku katakan semua yang ingin ku katakan tentang Sahira.


"Sudah...sudah cukup,tolong hentikan dialog drama mu itu."


"Dan kalian,kenapa diam saja?"


"Ayo lakukan tugas kalian kenapa malah menonton saja..!"


Perintah Sahira kepada orang orang aktifis sosial itu.


"Maaf nyonya Sahira,satu hal yang harus kami tegaskan kepada anda kami di sini sebagai penegak keadilan dan melindungi hak seorang anak dan hak setiap wanita.Bukan orang orang suruhan anda."


"Jika benar hal yang anda keluhkan, kenapa harus risau? Biar kan kami bekerja sesuai tugas kami yang juga harus mendengarkan penjelasan dari orang orang yang anda keluhkan."


Jelas salah satu dari pimpinan aktifis sosial itu.


Sahira pun langsung terdiam dengan raut wajah menahan amarah dan emosi.


"Mohon maaf nyonya Wijaya,jika anda tidak keberatan dapatkah anda membantu kami dengan menceritakan semuanya agar dapat jadi pertimbangan bagi kami siapa yang layak kami bantu?"


Pinta mereka yang sudah mulai bertutur kata sopan.


"Biar aku yang mengatakan semuanya nenek..."


Tiba tiba Rima muncul di tengah tengah keributan itu dan berdiri di depan teras rumah.


"Rima....."


Panggil ibu mertua,Sahira,serta ayah dan ibuku yang sejak tadi ada di situ berusaha membuat keadaan tenang.


"Rima sayang...."


Panggilku saat Rima berjalan secara perlahan melewatiku dan menuju Sahira.


"Kemarilah sayang...."


Panggil Sahira merentangkan kedua tangannya dengan senyum merasa penuh kemenangan.


Akhirnya Rima pun mendekat dan memeluk Sahira.

__ADS_1


"Ibu Sahira,apakah ibu menyayangiku?"


Tanya Rima dalam pelukan Sahira.


"Tentu saja sayang,di dunia ini kau lah yang paling ibu sayangi..."


Jawab Sahira mulai memasukkan kata kata manisnya namun berbahaya bak bisa ular paling beracun.


"Sungguh....?"


Tanya Rima untuk memastikan Lagi.


Jujur degan itu seketika membuat aku begitu cemburu di tambah lagi melihat wajah Sahira yang berkecepatan menghadap ke arahku.


"Ya...tentu."


Jawab Sahira sambil tersenyum dan bermain mata padaku yang tengah melihatnya.Seolah dia ingin mengatakan:


Lihatlah Naima,bagaimana pun ibu kandung pasti jadi pemenangnya.


Namun aku tetap berusaha sabar dan tenang untuk menyikapinya.Aku percaya bahwa Rima adalah anak yang cerdas dan bijaksana.Apa pun keputusan Rima aku akan tetap mendukungnya.


"Jika ibu memang benar benar menyayangiku,maka ibu harus mengehentikan semua ini sekarang juga."


Sambung Rima untuk percakapan mereka sembari melepaskan pelukannya terhadap Sahira.


"Tentu saja sayang ibu akan melakukan apa saja untukmu."


"Ayo,kita pulang sekarang..!"


Ajak Sahira dengan begitu percaya diri dan menggandeng tangan Rima.


"Ibu Sahira,apakah ibu tidak paham yang ku katakan?"


Kata Rima dan melepaskan genggaman tangan Sahira dari tangannya.


"Apa maksudmu sayang...?"


Tanya Sahira terkejut dengan sikap Rima begitu juga dengan aku.


Jelas Rima menatap Sahira dengan penuh amarah.


Jujur ku akui,di balik rasa terkejutku ada sedikit perasaan lega seperti secerca harapan bahwa masalah ini akan selesai.


"Perkataan seperti apa ini Rima?"


"Apa ini yang di ajarkan ibu Naima padamu?"


"Kalian lihatlah bahkan mereka juga sudah berhasil mencuci otak anak sekecil ini,hingga berani berkata kurang ajar seperti ini pada ibu nya sendiri."


protes Sahira dengan menunjuk aku dan ibu mertua.


"Ibu Sahira,tidak ada yang mengajarkan hal buruk apa pun padaku untuk tidak menyukai ibu."


"Apa ibu tahu,bahkan ibu Naima selalu berusaha menutupi keburukan dari perilaku ibu selama ini karena dia tidak ingin aku mengenal ibu sebagai ibu yang jahat."


"Bahkan ibu Naima melarang nenek mengatakan hal yang buruk tentang ibu di depanku."


"Ibu jangan menyalahkan siapa pun jika aku tidak ingin kembali pada ibu bahkan bersikap seperti ini terhadap ibu."


"Mungkin ibu lupa bahwa aku bukan lah bayi dua bulan lagi yang ibu tinggalkan sejak beberapa tahun yang lalu."


"Aku adalah putri ibu yang sudah berusia enam tahun Bu....yang sudah mulai mengerti siapa orang yang baik dan orang yang bersikap pura pura baik padahal sebenarnya dia jahat.


Jawab Rima menjawab protes Sahira.


"Rima sayang,kau tidak mengerti nak,saat itu ibu tidak punya pilihan."


Sahira mulai memasang jurus pengasih untuk Rima.


"Lalu kenapa ibu bisa memberikan pilihan pada ayah antara aku dan semua harta ayah..?"

__ADS_1


"Cetttarrrrrr....."


Pertanyaan Rima bagaikan petir yang langsung menampar wajah Sahira.Dam Sahira hanya terdiam dengan perasan malu.


"Nyonya nyonya sekalian...ku mohon hentikan semua ini.Sudah ku jelaskan bahwa aku tidak ingin kembali ke rumah ibu Sahira.Aku hanya akan tinggal bersama ayah dan ibu Naima di sini bersama kakek dan nenek ku."


"Ku mohon jangan paksa aku untuk tinggal bersama ibu Sahira.Karena dia tidak menyayangiku..."


Pinta Rima dengan mengatupkan kedua tangannya kepada para aktifis sosial itu.


"Rima sayang,tenanglah..."


"Kau adalah anak yang baik dan juga cerdas kami tidak akan membiarkan mu tinggal dan besar bersama orang yang salah sekalipun dia adalah ibu kandungmu."


Kata salah seorang dari mereka yang berasal dari komisi perlindungan anak.


"Apa apaan ini....!!"


"Kenapa kalian malah jadi ingin memisahkan aku dengan putri kandungku..!!"


Teriak Sahira tidak terima dengan keputusan dan dukungan yang di berikan pada Rima dan kami.


"Nyonya Sahira,tolong jaga sikap anda..."


"Sekali kali tegaskan,kami cuma melayani masyarakat untuk mendapatkan keadilan akan haknya,bukan pelayan anda...."


"Rima sayang,kau boleh tinggal dengan keluargamu di sini selama itu membuatmu nyaman,dan jangan kawatir sayang kami akan terus memantau mu agar tidak di ganggu oleh orang orang yang tidak berperikemanusiaan..."


Pesan salah seorang dari aktifis sosial itu sambil menatap Sahira begitu tajam sebelum pamit pergi


"Kami mohon maaf Nyonya Wijaya dan nyonya Naima atas keributan ini."


Pamit mereka tanpa menghiraukan Sahira sama sekali.


Melihat hal itu Sahira pun kembali beteriak protes tak terima karena merasa di abaikan.


"Dasar orang orang payah.....!!"


"Lihat saja,aku akan melaporkan kalian pada pihak berwajib.....!!"


Teriak Sahira memberi ancaman,namun sayang nya mereka tidak menghiraukanya dan terus berjalan membubarkan keributan yang telah mereka ciptakan.


"Sebelum kau membuat laporan ke kantor polisi,ada baiknya kau ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan atas perbuatanmu bersama rekan rekanmu....!"


Sahut David yang tiba tiba muncul bersama pengacaranya dan petugas kepolisian.


Seketika susana menjadi begitu sangat tegang,bahkan aku sangat terkejut karena David tidak ada menceritakan hal ini padaku sebelumnya.


"Lelucon macam apa lagi ini?"


Tanya Sahira terlihat sangat gugup melihat petugas kepolisian berjalan ke arahnya.


"Maaf Nyonya Sahira,anda harus ikut kami ke kantor polisi sekarang."


Kata oknum polisi wanita yang bertugas membawa Sahira.


"Atas dasar apa,kalian membawa saya...?"


Sahira berusaha mengelak.


"Tuduhan pemalsuan dokumen kerjasama yang Tuan Arya dan Arga lakukan bersama Tuan David..."


Jelas pihak kepolisian.


"Apa?"..


"Tapi saya tidak tahu menau tentang hal itu!"


Sahira coba berdalih.


"Anda bisa menjelaskan nya nanti di kantor polisi bersama kedua rekan anda yang sudah ada disana.."

__ADS_1


Jelas pihak kepolisian kembali dengan sangat tegas dan memborgol kedua tangan Sahira.Dengan terpaksa Sahira pun masuk ke dalam mobil.Dari dalam mobil dengan pintu yang masih terbuka terlihat Sahira menatapku dengan penuh amarah dan kebencian.


Bersambung....


__ADS_2