Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 108.....


__ADS_3

Fajar pun datang menggantikan gelapnya malam.Aktifitas rutin di pagi hari pun kami laksanakan hingga menemui Rima setiap pagi di kamarnya usai David pulang dari mesjid dan saat aku selesai menghirup udara segar di balkon kama sambil melihat David,ayah,dan ayah mertua jalan pagi bersama sama kembali dari mesjid.


"Selamat pagi sayang....."


Sapa kami bersamaan saat membuka pintu kamar Rima untuk membangunkan nya.Dan kami pun tertawa saat melihat Rima yang sepertinya baru saja terbangun dan memaksa dirinya untuk duduk dengan mata yang masih sulit di buka dan dengan rambut yang berantakan.


"Hei ...tuan putri?"


"Ayo bangun..."


Kata David menggelitiki Rima agar membuka matanya.


"Aaaaaa ....Ayah...."


"Aku masih mengantuk....."


"Biarkan mataku tetap terpejam sebentaaaar....lagi.Aku masih ingin melihat mimpiku."


Rengek Rima yang tengah di peluk David.


"Benarkah....."


"Dan ayah ingin mendengar cerita dari mimpimu itu,maka dari itu ayo bangun....."


Kata David yang akhirnya berhsil membuat Rima membuka matanya dan tertawa tak tahan menahan geli dari gelitikan David.


"Ayah ibu merusak mimpiku saja..."


Protes Rima.


"Oya...?"


"Coba ceritakan pada kami mimpi seperti apa itu,sehingga tuan putri kami sangat marah ketika di bangunkan meskipun dia tahu ini saatnya memang untuk bangun"

__ADS_1


Tanyaku sambil menyiapkan seragam sekolah yang akan di pakai Rima.


"Apa ibu Nai masih ingat cerita mimpiku waktu itu,saat sebelum aku pergi liburan ke luar negri?"


Tanya Rima.


"Hemmm ya ..."


"Tapi bisakah kau menceritakan nya kembaki sayang,karena ibu Nai hampir sedikit lupa bagaimana ceritanya."


Jawabku memberi alasan,padahal yang sebenarnya aku sudah lupa tentang cerita mimpi itu karena terlalu banyak hal yang terjadi antara aku dan David selama Rima pergi liburan berasama kakek dan neneknya.


"Ya...benar..."


"Karena saat itu ayah juga belum mendengarnya."


Sambung David seoalah memberi pembelaan dan mengerti maksud dari alasan ku.


"Itu loh....yang aku bermimpi ada adik bayi di perut ibu Nai,dan tak berapa lama kemudian ayah dan ibu Nai pulang dari rumah sakit membawa adik bayi."


Maafkan ibu sayang....


Andai saja kau bermimpi yang lain selain dari adik bayi,ibu akan melakukan apa pun agar mimpimu menjadi nyata.


Namun ibu harus berbuat apa,takdir ibu membuat ibu tidak dapat menjadikan mimpimu menjadi kenyataan.


Keluhku dalam hati dan tak sengaja meneteskan air mataku yang ternyata David melihatnya.


"Oh..mimpi itu..."


"Tapi sayang sebagian orang tua berkata jika mimpi itu sebenarnya hanyalah bunga bunga nya tidur saja."


Sahut David begitu netral,satu sisi tidak ingin menghancurkan harapan Rima,di sisi lain tidak ingin melihat aku bersedih karena keadaanku yang tidak bisa hamil.

__ADS_1


"Tapi ayah...."


"Kakek nenek bilang terkadang mimpi itu seperti sebuah petunjuk dari Tuhan."


"Dan temanku di sekolah bilang,jika kau mimpi yang sama sebanyak tiga kali maka itu adalah petunjuk bahwa mimpimu akan menjadi kenyataan."


"Dan apa ayah tahu,ini sudah ketiga kalinya aku mimpi dengan cerita yang sama."


Kata Rima seolah begitu yakin bahwa mimpinya akan menjadi kenyataan.Dan tak lama kemudian dia pun mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.


"Tuhan Yang Maha Baik...."


"Semoga mimpiku ini adalah petunjuk dari Mu yang akan mendatangkan adik bayi ke dalam perut ibu Nai...jika adik bayiku itu sedang dalam perjalanan maka lindungi dia dan buatlah agar segera sampai ke dalam perut ibu Nai."


"Tolong datangkan sebuah keajaiban dari doaku yang tulus ini ya Tuhan..."


"Aamiin..."


Ucap Rima mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya setelah memanjatkan doanya.


"Aamiin...."


Sahut David memeluk Rima dan menatapku yang berdiri terdiam di hadapan David.


Hatiku begitu terenyuh mendengar doa Rima,tak kuasa menahan air mataku yang mulai bercucuran aku pun bergegas keluar dari kamar Rima,karena tak ingin Rima melihatku sedang menangis.


"Rima sayang....."


"Ayo mandi dan segeralah bersiap.."


"Ibu akan menyiapkan sarapan kesukaan mu di dapur."


Kataku sebelum keluar dengan nada sumbang layaknya suara seseorang yang sedang menahan tangis.Dan aku pun meninggalkan mereka di kamar Rima.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2