Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 13


__ADS_3

Sudah lima belas menit lebih namun Gea belum ada menghubungi ku,rasa gelisahku pun kembali muncul aku takut bagaimana jika darahnya tidak ada.Bahkan sudah hampir satu jam lebih tapi belum ada telepon juga dari Gea.


"Ya ampun...kenapa Gea juga belum menghubungi ku?"


Keluhku dalam hati sambil sesekali melihat ke arah jam mushollah.


"Ehm...mungkin sebaiknya aku kembali saja dulu ke ruang UGD mudah mudahan Gea segera memberiku kabar."


Pikirku dan bergegas kembali ke ruang tunggu.


"Ya ampun Naima,kau dari mana saja sayang?"


Tanya ibu memghampiriku.


"Ibu aku dari musholla tadi,ada apa?"


"Apa ada masalah?"


Tanyaku khawatir.


"Naima,jika tadi kau di mushollah berdoa mungkin Tuhan telah mengabulkan doa mu."


Kata ibu yang membuat ku heran.


"Ibu ada apa?"


Aku semakin bingung.


"Nak,teman mu bernama Gea baru saja dari sini mengantarkan tiga kantung darah untuk Rima?"


Jelas ibu dengan tangis haru.


"Oh ...benarkah?"


"Lalu dimana Gea sekarang Bu?"


"Kenapa dia tidak menemui ku"


Tanyaku terkejut di iringi rasa lega juga karena akhirnya Rima mendapat pertolongan.


"Ya nak benar,Gea datang mengantarkan kantung darah yang kau pesan.Katanya ada seorang pria yang tiba tiba datang memiliki golongan darah yang sama dengan Rima dan ingin mendonorkan nya."


Sambung ibu mertua menjelaskan padaku.


"Oh.....sungguh Tuhan benar berbelas kasi pada Rima yang malang,di saat orang yang memiliki ikatan darah dengannya tidak bersedia membantu Tuhan mengirimkan orang lain yang bersedia mendonorkan darahnya meskipun ia tidak mengenal Rima."


Ucap ku ketus memandang David sinis yang baru saja datang setelah tadi pergi begitu saja.

__ADS_1


"Ehm..ibu,ibu mertua sebaiknya aku harus menelpon Gea untuk mengucapkan terimakasih."


Kataku sambil berlalu melewati David.


"Halo Gea..." sapaku.


"Hallo Nai,maaf aku tidak menghubungimu tapi tiga kantong darah untuk Rima tadi sudah langsung aku antar ke rumah sakit karena aku takut tidak cukup waktu dan sekalian aku ingin tau keadaan Rima."


Jelas Gea.


"Iya Ge,untuk itu lah aku menelpon mu karena ingin mengucapkan terimakasih sudah mau menolong putriku Naima."


Jawabku.


"Dan sebenarnya aku juga ingin berterimakasih kepada orang yang sudah bersedia mendonorkan darahnya untuk Rima.Bolehkan aku tau siapa orang itu Ge atau ada kah alamat atau nomor ponselnya yang bisa di hubungi aku ingin mengucapkan terimakasih kepada orang itu."


Kataku lagi lagi melirik David dengan sinis seolah memberikan sindiran padanya yang berdiri tepat di sebelahku.


"Oh untuk hal itu tidak perlu Nai,karena orangnya sendiri meminta agar identitasnya di rahasiakan karena dia memang tulus ingin membantu."


Jawab Gea menjelaskan.


"Oh benarkah,wah ternyata masih ada di dunia ini orang sebaik itu ya,baiklah Ge sekali lagi terimakasih untuk mu ya.."


kataku.


Balas Gea dan pembicaraan di telpon pun berakhir.


"Hem,kau lihat?"


"Sekalipun kau tidak ingin menolong ?"


"Tuhan punya cara tersendiri untuk bisa menolong Rima..!"


"Anak yang kau ragukan identitasnya".


Kataku dengan kesal dan berlalu dari hadapannya.


Tak lama kemudian dokter pun keluar dari ruang UGD dan mejelaskan bahwa keadaan Rima sudah setabil dan berhasil melewati masa krisitisnya.Dan aku pun lega mendengarnya.Kami semua segera melihat Rima setelah di pindahkan ke ruang perawatan,kecuali duda sombong yang tidak punya hati itu.Entah gengsi atau memang tidak punya hati David tidak bergerak dari tempatnya dan sibuk menerima telepon mengurus bisnisnya.


Hoooo....yam ampun sulit ku percaya masih ada ternyata di dunia ini ayah sekejam dan seangkuh si duda ini.


Aku menggerutu dalam hati dan lagi lagi memandangnya sinis sambil menuju ruangan tempat Rima di rawat.


"Ibu Nai...."


Panggil Rima begitu berat,karena dia masih terlihat lemah setelah sadarkan diri.

__ADS_1


"Ya sayang..ibu Nai disini."


"Bagaimana keadaanmu nak?"


"Apa kau butuh sesuatu?"


Rima hanya menggelengkan kepala dan tangan kanannya memanggilku untuk duduk lebih dekat dengannya.Dan aku pun memenuhi permintaannya.Aku pun tak kuasa menahan air mataku.


"Jangan menangis ibu Nai..."


"Aku baik baik saja karena aku anak yang kuat"


Kata Rima dengan tenaga seadanya coba menghapus air mata di pipi ku.


"Kau tau ibu Nai,tadi nya aku serasa sudah ingin pergi yang jauh dan aku takut sekali.Tapi saat itu aku seperti mendengar ibu,kakek,nenek,kakek dan nenek sebrang (Panggilan Rima untuk ayah dan ibu ku) sedang memanggilku sambil menangis."


"Jangan pergi Rima...jangan pergi Rima..."


Cerita Rima kepada kami seperti kata pergi seolah dia akan meninggalkan kami semua untuk selamanya di masa kritisnya.


"Lalu apa yang terjadi sayang?"


Tanya ibu mertua haru.


"Uff nenek....Lalu aku harus apa lagi ,aku tahu kalian tidak bisa hidup tanpaku maka dari itu aku bilang kepada Tuhan..."


"Tuhan...tolong jangan bawa aku pergi sekarang,lihatlah keluargaku sangat sedih jika aku pergi....Dan Tuhan pun mangantarkan ku kembali untuk bertemu kalian dan di sinilah aku sekarang,haha...."


Sambung Rima dengan ceritanya imajinasinya.


"Oh sayangku ...kau memang anak ibu naima yang pintar ya."


Kataku mendekapnya begitu bahagia.Dan para kakek nenek pun tertawa di iringi air mata seperti mendengar drama komedi.


"Ibu Nai,dimana ayah?"


"Apakah ayah belum pulang dari luat kota?"


Dan aku hanya terdiam bingung harus menjawab apa seakan hatiku tidak tega jika Rima mendengar apa yang terjadi tadi.


"Ehm...sayang,ayahmu masih di luat kota,tapi mungkin akan segera tiba di sini karena dia sangat khawatir mendengar keadaanmu."


Jawab ibu mertua seolah ingin menutupi kesalahan anaknya.Aku yang merasa tidak nyaman dengan kebohongan itu langsung menatapnya penuh tanya.Dan seolah dia mengerti maksud dari pandanganku dia pun langsung menganggukkan kepala dan mengedipkan matanya seolah mengatakan :


Ibu akan menjelaskan alasan kebohongan ini.


Aku yang mulai paham ekspresi wajah ibu mertua akhirnya tersenyum.Dan tanpa sengaja aku melihat David yang sejak tadi berdiri di depan pintu mendengarkan keluh kesah Rima hingga menanyakan keberadaannya dan kejanggalan pun ku lihat dari sosoknya yang sombong dan dingin itu.Saat itu aku melihat dengan jelas raut kesedihan di wajahnya sepintas dia terlihat begitu khawatir tapi kebingungan dan kecurigaan trus menguasai hati dan pikirannya yang membuat dia Dilema.Hal itu dapat ku nilai ketika sesekali dia menghapus air mata yang menetes di pipinya sebelum dia pergi dari depan pintu ruang perawatan Rima.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2