Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 135.....


__ADS_3

Dengan penuh amarah akhirnya Sahira beserta dua lelaki pengecut itu pergi meninggalkan aku dan David.


"Dasar wanita sihir...."


Maki ku sambil tertawa.


"Ayo...."


Sambungku sambil menggandeng tangan David untuk mengajaknya pergi ke kantor pengacara untuk menunjukkan file rekaman dan arsip kesepakatan bukti kerjasama yang sudah di manipulasi.


Namun seketika langkahku terhenti karena David menarik tanganku dan menahannya begitu erat tanpa suara hanya dengan tatapan yang begitu mendalam.


"Hey....ada apa?"


Tanyaku mendekatinya.


Bukan nya menjawab pertanyaanku,David malah tersenyum dan menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatapku lalu mengajaku masuk ke dalam mobil.


"Dasar duda aneh....."


Gumamku dalam hati mengikuti langkah David menuju ke mobil.


Tak lama kami pun tiba di kantor pengacara David.Tuan Sajad namanya,beliau sudah belasan tahun mengurus semua keperluan dan kepentingan yang menyangkut hukum dalam keluarga David termasuk bisnis dan usaha David.


"Selamat pagi Tuan David...."


"Kali ini siapa yang sudah berani mengusik ketenangan mu hingga mengantarkan mu pada ku?"


Sapa tuan Sajad seolah sudah paham betul maksud dan tujuan kami datang menemuinya.


"Selamat pagi Tuan Sajad..."


"Aku ingin menyerahkan beberapa hal penting padamu dan aku ingin kau mempelajarinya,dan pastikan aku yang memenangkan kasus ini,jangan kasih celah sedikitpun untuk orang orang ini."


Jawab David membalas sapaan Tuan Sajad sembari menyerah barang bukti lengkap dengan foto Sahira,Arya,dan Arga.


"Oh....wanita ini?"


Kata Tuan Sajad tersenyum sinis saat melihat foto Sahira yang di berikan David.


"Apa yang di inginkan nya?"


"Semua property mu?"


"Hehe...."


Tanya Tuan Sajad yang lagi lagi membuat aku tercengang karena merasa seolah tuan Sajad sudah kenal betul watak dari seorang Sahira.


"Hem...."


"Bahkan dia membuat dua pilihan untuk ku antara property ku atau Rima..."

__ADS_1


"Dan tentu kau tahu aku tidak ingin kehilangan keduanya..."


Jawab David sekilas terdengar egois.Namun satu sisi dia adalah seorang ayah yang tak ingin kehilangan putrinya dan masa depan putrinya.Dan kali ini aku dapat memakluminya.


"Baiklah Tuan David,aku akan mempelajari semua bukti bukti ini dan aku pastikan kau akan menang dalam kasus ini."


Janji tuan Sajad begitu optimis.


"Baiklah....aku ingi kasus ini secepatnya di selesaikan,karena saat ini keselamatan Rima sangat terancam..."


Jawab David sambil berjabat tangan dengan tuan Sajad.


"Apa maksudmu?"


"Apa Rima di culik"


"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku...!"


Pertanyaan dari tuan Sajad yang bertubi tubi.


''Hem..ya.."


"Secara tidak langsung seperti itu,dan dia ingin semua keuntungan kerjasama bisnis ku dengan Arga jatuh ke tangannya."


"Jadi saat ini Rima sedang bersamanya sejak beberapa Minggu lalu,dan aku sangat khawatir jika sewaktu waktu dia akan menyakitinya."


Ujar David mejelaskan..dengan begitu kesal.


"Dassar wanita serakah...."


Celah tuan Sajad yang sepertinya sudah begitu geram dengan ulah Sahira yang tak tahu malu itu.Sehingga aku menyimpulkan jika orang lain saja sangat geram melihat ulah Sahira apalagi dengan David,bahkan kakek dan nenek nya.


"Hem...baiklah terimakasih,aku tunggu kabar dari mu secepatnya."


Ucap David pamit permisi.


Kami pun meninggalkan tuan Sajad dengan banyak harapan.


"David...."


Panggilku.


"Hem..."


Jawab David seperti biasa sambil mengemudikan mobil.


"Bagaimana jika kita ke sekolah Rima sekarang,aku ingin menemui ibu kepala sekolah."


Keluhku dalam sebuah permintaan.


"Baiklah....sesuai perintah anda nyonya Wijaya..."

__ADS_1


Sahut David mengolok olok ku.


Tak lama kemudian kami pun tiba di sekolah Rima di waktu proses belajar mengajar.Dan dalam waktu yang bersamaan ponsel David berdering saat kami akan masuk ke gerbang sekolah.


"Naima,aku ada telepon penting."


"Kau pergilah dulu menemui ibu kepala sekolah,aku akan menyusul..."


Titah David sebelum menjawab panggilan teleponnya yang sepertinya penting.


Aku pun segera berjalan menyusuri lorong sekolah yang bersampingan dengan kelas kelas siswa yang sedang belajar mengajar.Dan akhirnya aku berada di depan kelas Rima.Rasa rindu membuatku ingin sekali melihatnya meskipun dari kejauhan karena aku tak ingin mengganggu jam pelajarannya.Namun aku sangat terkejut karena keadaannya Rima tidak berada di ruang kelasnya,mataku liar memperhatikan barisan meja kursi tempat para siswa duduk untuk belajar namun lagi lagi aku tidak melihat Rima.Rasa resah pun spontan menghampiriku dan langsung mengaitkan Sahira serta ancamam yg dia ucapkan di kantor David tadi.


Dengan begitu tergesa gesa aku meneruskan langkahku menuju ruangan ibu kepala sekolah,dan aku sungguh terkejut saat melihat ternyata Rima ada di sana bersama Sahira,aku pun bergegas bersembunyi untuk mencari tahu apa yang sedang mereka bicarakan dari balik pintu yang sedikit terbuka.Dan sangat terkejutnya aku saat mendengar jika Sahira ingin memindahkan sekolah Rima dengan alasan pekerjaan nya,tapi aku masih memiliki secerca harapan saat aku mendengar ibu kepala sekolah masih harus memikirkan keinginan Sahira itu karena David juga harus mengetahui hal ini karena David dan nyonya Wijaya adalah wali murid sah Rima yang terdaftar di sekolah.


Namun Sahira bersikeras tetap ingin memindahkan Rima dengan dalih bahwa dia adalah ibu kandung Rima,tidak ada yang memiliki hak lebih selain dia untuk keputusan apa pun tentang Rima.Tentu hal itu membuat ibu kepala sekolah menjadi murka,karena merasa Sahira tidak menghormati keputusan dan peraturan sekolah.Dengan nada suara tinggi ibu kepala sekolah meminta Sahira keluar dan meninggalkan Rima di ruangan nya.Merasa di permalukan akhirnya Sahira pun keluar dari ruangan tersebut dan aku coba menyembunyikan diriku agar tidak terlihat olehnya.Begitu Sahira lenyap dari pandanganku,aku pun bergegas menemui ibu kepala sekolah.


"Tok...tok..."


"Permisi Bu....ini Naima..."


Sapa ku mengetuk pintu meminta izin.


"Ya masuklah ibu Naima..."


Sahut ibu kepala sekolah mempersilahkan ku masuk.


"Ibu Nai....."


Teriak Rima berlari memanggilku dan memelukku yang masih berdiri di depan pintu.


"Rima sayang......"


Panggilku dan langsung mendekapnya begitu erat tanpa menghiraukan jika aku sedang berada di ruangan ibu kepala sekolah.


"Apa kabarmu sayang,apa kau tahu kalau ibu Nai sangat...sangat....sangat merindukan mu...."


Sambungku melepaskan rasa rindu yang terkatakan sejak Sahira mengambik Rima untuk untuk tinggal bersamanya.


"Aku juga merindukan ibu Nai dengan sangat...sangat...sangat..."


Celoteh Rima dalam dekapan ku.Aku pun tertawa mendengarnya dan tak sengaja bertatapan dengan ibu kepala sekolah yang ternyata juga tersenyum penuh haru melihat pertemuan kami.Dan seketika aku pun tersadar jika kami sedang di perhatikan.


"Mohon maaf ibu,saya terbawa suasana..."


Izinku merasa sungkan sambil menggendong Rima mendekati meja ibu kepala sekolah.


"Santai saja ibu Naima..."


"Ayo duduklah dulu ada hal penting yang ingin saya sampaikan."


Titah ibu kepala sekolah begitu ramah.

__ADS_1


Karena telah mendengar sendiri percakapan Sahira tadi sebelum dia mendapat penolakan atas keinginan nya,maka rasa penasaran pun tak lagi terbersit dalam benak ku ketika ibu kepala sekolah mengatakan demikian.


Bersambung....


__ADS_2