
Aku begitu panik,sementara David mengelilingi pekarangan rumah mencari Rima sambil memanggil namanya.Namun tidak terdengar suara Rima menjawab panggilan David.
"Rima......."
Panggilku teriak histeris karena Rima tak kunjung terlihat.
"David dimana Rima...?"
Tanyaku menangis dan panik.
"Naima,tenanglah kita pasti akan menemukannya."
Kata David memelukku mencoba bersikap tenang agar menghilangkan rasa panik ku.
"Apa kau sudah mencari ke semua tempat?"
Tanyaku masih gelisah.
"Tenanglah,petugas keamanan kompleks sedang memeriksa seluruh wilayah komplek.Berdoalah agar Rima segera di temukan."
Jawab David.
"Lalu bagaimana jika mereka tidak menemukannya?"
Tanyaku lagi menangis dalam pelukan David dengan segenap penyesalanku kenapa aku tidak menemani Rima.
"Kita membuat laporan ke polisi.."
Jawab David begitu tegas.
Beberapa menit kemudian petugas keamanan datang menghampiri kami.
"Pak David,mohon maaf kami sudah mencari ke seluruh wilayah kompleks namun kami tidak menemukan Rima putri bapak."
Jelas petugas keamanan memberikan informasi.
"Apa....?"
"Tolong di cari sekali lagi pak....!"
Kataku memohon pada petugas keamanan.
"Kami sudah berusaha Bu,tapi kami tidak melihat putri ibu.Begini saja kami akan melakukan pencarian lagi,tapi jika tidak ketemu juga kami sarankan sebaiknya bapak ibu melapor ke polisi."
Jawab petugas keamanan memberi saran dan berlalu dari hadapan kami untuk pergi mencari Rima kembali.
Tak lama kemudian ponsel David berdering tanda notifikasi panggilan masuk.
"Halo....."
Kata David menjawab panggilan masuk dari nomor tidak di kenal dan memasang pengeras suara.
"Bagaimana rasanya tidak dapat melihat orang yang di cintai?"
__ADS_1
"Sakit bukan...?"
Tanya si penelepon yang terdengar suara seorang wanita.
"Siapa ini?"
Tanya David geram plus emosi.
"Tidak mungkin kau tidak mengenali suaraku."
Jawab si penelepon itu.Yang sebenarnya aku jiga tanda dengan suara itu.
"Sahira.....!!!"
Teriak David menebak dengan begitu yakin.
"Hahahaha......"
Terdengar si penelepon itu tertawa seolah bahagia di atas kepanikan kami.
"Ternyata kau masih sangat mencintaiku ya David?"
"Hingga kau masih dapat mengenali aku wanita cinta pertama mu."
jawab si penelepon dan ternyata tebakan David benar.
"Omong kosong.....!"
"Katakan dimana Rima?"
"Haha...."
"Santailah David...."
"Rima baik baik saja bersama ibu kandungnya dan dia sangat senang dengan sepeda barunya."
Jawab Sahira terdengar begitu puas berhasil membuat David emosi.
"Sahira jangan bercanda atau kau....."(David)
"Atau apa?"
"Jangan coba coba mengancamku atau kau yang akan menyesal."
Kata sahira memotong kalimat dari perkataan David dan kembali mengancam.
Merasa geram dengan kelakuan Sahira,membuat ku spontan merampas ponsel yang sedang di pegang David saat mereka masih berbicara.
"Sahira....."
"Aku sarankan padamu segera kembalikan Rima atau kau akan menyesal dengan tindakan mu ini..!"
Kataku geram dan memberi ultimatum.
__ADS_1
"Jangan mengancamku......!!"
Teriak Sahira.
"Dan kau jangan ambil Rima dariku......!"
Balasku berteriak.
"Apa?"
"Aku yang mengambil Rima darimu?"
"Bukannya kau yang telah mengambil Rima dariku,dengan meracuni otaknya hingga dia lebih menyayangimu dari pada diriku...?"
Kata Sahira yang merasa aku lah penyebab kebencian Rima padanya.
"Sahira....seharusnya kau introspeksi diri sebelum menuduhku.Kau tahu kelakuan mu ini tidak seperti kelakuan ibu kandung terhadap putri nya."
"Dan aku tidak pernah merebut Rima dari mu.Cinta Rima begitu besar padaku itu tumbuh karena kami saling menyayangi.Bukan karena aku yang meracuni otaknya."
Kataku coba membuat Sahira paham bahwa apa yang di lakukannya adalah salah.Jika kita mengartikan ibu kita adalah malaikat tak bersayap yang di kirim Tuhan anak anaknya,tapi tidak dengan Sahira.Dia bagaikan monster yang berwujud ibu.
"Omong kosong......!"
Bantah Sahira yang sama sekali tidak menggubris penjelasanku.
"Katakan pada David,jika dia ingin Rima kembali pada kalian,temui aku di rumahku dua hari lagi."
Perintah Sahira dan langsung menutup teleponnya tanpa memberikan penawaran.
Aku merasa begitu lemah,kedua kakiku seolah tak berdaya menopang tubuhku untuk berdiri.Hinnga akhirnya aku teduduk lemas di bangku taman pekarangan rumah.
"Naima....."
Teriak David berlarih memelukku.
"David....."
"Tolong bawa Rima kembali...."
"Maafkan aku karema tidak menjaga Rima dengan baik."
Perasaan merasa bersalah membuat tangisku pecah dalam pelukan David.
"Hei.....ini bukan salahmu..."
"Tenanglah..."
"Aku akan segera membawa Rima kembali untukmu."
Kata David berusaha tetap tegar untuk menenangkan ku.
Dalam keadaan apa pun,dia tetap berusaha untuk mamanjakan ku,dengan tidak membiarkan ku berjalan dan langsung menggendongku dan membawaku ke kamar.
__ADS_1
Bersambung.......