Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 22...


__ADS_3

Setelah David pergi dengan semua kata katanya yang membuat aku mulai dapat melihat sisi baiknya,aku pun tidak menyia nyiakan kesempatan untuk tidur tenang dan nyaman di atas tempat tidur yang telah di izinkan David meskipun hanya satu malam.


Aku pun tertidur begitu lelap hingga fajar yang datang menggantikan malam terasa begitu cepat datang,terasa sulit sekali bagiku membuka kan mata,bahkan hingga David kembali ke kamar untuk mandi sebelum pergi ke mesjid untuk sholat subuh,aku pun tidak menghiraukannya.Dan pada akhirnya rasa kesal nya pun datang di waktu sepagi ini.


"Halo....wanita pemalas."


Teriak David membangunkan ku.


"Hemm...ada apa?"


"Tidak bisakah kau tidak menggangu ku bahkan pada saat aku tidur?Kenapa kau selalu berteriak."


Kataku menjawab panggilan David dengan masih bermalas malasan dengan mata yang masih tertutup dan menyandarkan punggungku di kepala tempat tidur.


"Apa?"


"Menggangumu?"


"Aku yang harusnya mengatakan kalimat itu padamu.Karena aku sudah terganggu sejak berbagi kamar denganmu."


Kata David mengungkit masalah berbagi kamar lagi.Namun aku tidak menghiraukannya malah tertidur dengan posisi duduk bersandar.


"Woiiiii......"


Teriak David lagi,kali ini dia sampai memukul pintu kamar mandi semakin kesal karena aku tidak menghiraukannya.


Dan aku pun tersentak terbangun dari tidurku.


"Ya ampun....kenapa kau terus berteriak"


Kataku kesal dan pindah ke sofa.


"Apa pendengaranmu sudah tidak berfungsi?"


"Apakah kau tidak dengar suara adzan sudah di kumandangkan.


"Istri macam apa kau ini,suami mu akan berangkat ke mesjid sementara kau masih tidur."


Protes David yang semakin jengkel.Tapi lagi lagi aku terdiam dengan kata kata yang seperti sebuah pengakuan hubunganku dengan David.


"Apa ?kenapa malah menatapku,ketampanan ku ini tidak akan berkurang hanya dengan kau menatapku seperti itu."


Kata David yang lagi lagi menyombongkan diri.


"Cepatlah jika ingin ke kamar mandi untuk berwudhu,karena aku mau mandi."


Kata David yang sebelumnya tidak pernah mau mengalah apalagi menawarkan sebaiknya aku lebih dulu.


"Tidak kau saja langsung mandi nanti terlambat ke mesjid."


Kataku sambil menarik selimut kembali.


"Terus...kau mau tidur lagi?"


Tanya David kesal.


"Ya...sebab aku lagi libur."


Jawabku dari bawah selimut.

__ADS_1


"Ow,sudah seperti sekolah saja sholat mu pakai libur."


Sambung David.


"Ya ....karena aku wanita istimewa menurut Tuhan"


Jawabku kembali tidak mau kalah.


"Kau bukan wanita istimewa,melainkan wanita penceramah...itu lebih tepat."


"Jeddaarrr"


David masuk ke kamar mandi dan dengan sengaja menutup pintu kamar mandi dengan keras melampiaskan kekesalannya pada ku.


Tak lama kemudian setelah memakai pakaian rapih David pun pergi ke mesjid,dan selang waktu tiga puluh menit David pun sudah kembali dari mesjid,sementara aku masih nyaman bermalas malasan di sofa di bawah selimutku.


"Halo ibu guru....sampai kapan kau mau terus bermalas malasan di bawah selimut,apa kau tidak ingat hari ini Rima ada pertandingan lomba berpidato?"


"Jangan sampai dia terlambat karena rasa malasmu,aku tidak ingin hal buruk apa pun tetjadi padanya."


Kata David mengingatkan ku.


"O iya...astaga aku lupa..."


Aku pun sontak melompat dari sofa dan pergi berlari menuju kamar Rima.


"Selamat pagi sayangku,kau sudah bangun..?"


Sapaku pada Rima yang ternyata sudah bangun sejak tadi dan bersiap untuk mandi.


"Selamat pagi ibu Nai,kenapa ibu Nai lama sekali datang.Hari ini aku akan mengikuti lomba pidato.Apa ibu Nai tau saat ini aku sangat gugup sekali "


"Oh...ya ampun Kenapa kau harus gugup sayang,bukan kah kau sudah berlatih sangat bagus sekali setiap hari?"


Kataku memberikan dia semangat.


"Iya,tapi aku tetap saja gugup dan aku tidak tau bagaimana caranya agar perasaan khawatirku ini hilang."


Lagi lagi Rima berbicara seperti orang dewasa dan tingkahnya ini yang membuat aku gemas sekali melihatnya.


"Dengar sayang,kau adalah anak yang pintar,dan ibu Nai yakin kau bisa melewati ini semu dengan baik dan penuh percaya diri,karena selain usaha dan kerja kerasmu setiap hari dalam berlatih,ada doa kami semua yang selalu menyertaimu,jadi percayalah kau pasti bisa."


Aku coba meyakinkan nya dengan memeluknya dalam pangkuanku.


"Iya ibu Nai,tapi bagaimana caranya agar rasa gugupku ini hilang,bahkan jika aku membayangkan nomor urut ku di panggil aku sudah jantungan duluan."


Kata Rima yang masih belum menemukan rasa percaya dirinya.


"Apa kau tahu sayang,dulu waktu seusia mu ibu Nai juga pernah mengalami hal yang sama seperti mu."


Kataku coba berbagi pengalaman dengan Rima dan berharap dia mengerti apa yang ku maksud dari ceritaku.


"Benarkah?"


"Lalu apa yang ibu Nai lakukan?"


Tanya Rima.


"Ibu menutup kedua mata ibu,menarik nafas panjang dan ibu bayangkan wajah kedua orang tua ibu yang terlihat mereka tersenyum dan memberi semangat pada ibu,dan setelah itu semua rasa gugup ibu hilang."

__ADS_1


Ceritaku pada Rima.


"Benarkah semudah itu?"


Tanya Rima mulai tersenyum.


"Ya sayang,bahkan kau boleh mencobanya semoga dapat membantu menghilangkan rasa gugupmu."


Titahku sebagi saran untuknya dan Rima pun mencobanya.


Rima mulai memejamkan matanya,terlihat menarik nafas panjang dalam beberapa menit lalu dia membuka matanya dengan ekspresi wajah yang terlihat sudah tenang.


"Wah ..ibu Nai benar ,rasa gugupku sudah hilang sekarang."


"Ibu Nai memang hebat,dan aku semakin sayang pada ibu Nai."


Peluk erat Rima melingkar di pinggang dan kami pun tertawa bersama.


"Tuhan memang begitu baik kepada Rima.."


Kata David pelan yang lagi lagi memperhatikan kami sedari tadi di depan pintu tanpa kami ketahui dan sepertinya itu sudah menjadi kebiasaanya.


Setelah selesai berkemas,sarapan,dan berpamitan kami pun berangkat ke sekolah di antar oleh david.entah kenapa akhir akhir ini David tidak pernah membiarkan kami pergi sendiri meskipun itu hanya ke sekolah.Terkadang hal itu menimbulkan perdebatan juga,karena aku yang terbiasa menyetir sendiri merasa risih jika kemana pun kami pergi harus dia yang turun tangan ikut mengantar.meskipun cuma sekedar mengantar.


Tak berapa lama kemudian kami pun tiba di sekolah.


"Selamat berjuang nak...berikan yang terbaik dalam penampilan mu nanti ya,kau putri dari David Putra Wijaya tidak ada yang bisa menandingi mu karena kaulah yang terbaik."


Motivasi dari David sebelum Rima masuk kelas.dan lagi lagi dia memperlihatkan sisi sombong seorang David.


"Baiklah ayah,dan cepatlah datang aku ingin ayah menyaksikan penampilanku."


Kata Rima dalam sebuah permintaan.


"Ok,ayah akan datang saat nama mu di umumkan jadi juara."


"Tossss"


Salam perpisahan ciri khas mereka.


Dan kami pun masuk ke dalam aula tempat perlombaan berlangsung.


Dan kami pun langsung masuk ke aula tempat perlombaan di laksanakan.Setelah menunggu beberapa lama akhirnya tiba giliran Rima untuk tampil.Dengan penuh percaya diri Rima pun naik ke panggung untuk menyampaikan pidato nya dengan tema sosok tokoh yang di kagumi.


Penampilan dari Rima :


"Selamat pagi para bapa / ibu guru,para orangtua murid,dan semua teman temanku yang ku sayangi.Ada pun sosok seorang tokoh yang akan saya ceritakan dalam pidato saya kali ini adalah tentang Ibu Nai.


Menurutku ibu Nai adalah ibu yang terbaik di dunia ini,namanya sebenarnya adalah ibu Naima tapi karena terlalu panjang untuk memanggilnya jadi aku menyingkatnya dengan sebutan ibu Nai.Dia seperti malaikat yang di kirim Tuhan untukku,setiap kali aku merasa sedih atau resah dialah orang pertama yang memelukku dan menenangkan ku.Aku selalu merasa nyaman di dekatnya.dia selalu mengutamakan aku dari hal penting apa pun yang ada di dunia ini.Bahkan saat aku merasa resah jika suatu hari nanti dia akan pergi meninggalkan ku,dia langsung meyakinkan ku dengan mengatakan bahwa aku adalah denyut jantung dalam kehidupannya.Lalu bagaimana bisa manusia dapat hidup jika tidak ada denyut jantungnya,maka seperti itu lah pentingnya aku dalam hidup ibu Nai.


Dan jika aku seperti denyut jantung dalam kehidupan ibu Nai,maka bagiku ibu Nai bagaikan udara dalam setiap nafasku.Yang artinya aku juga tidak dapat hidup dengan baik tanpa ibu Nai.


Terimakasihku yang sangat dalam untuk ibu Nai.


Demikian cerita tentang toko yang ku kagumi pada pidato ku kali ini,terimakasih."


Rima membungkuk kan diri sebelum turun dari panggung.Dan tepuk tangan bergemuruh di berikan untuk penampilan Rima.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2