Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 29...


__ADS_3

Ayah mertua masih terus mencoba menghubungi ponsel David ,namun nada sibuk masih terus menjadi jawabannya.


"Suamiku..."


"Pergi kemana David?"


"Tidak biasanya dia seperti ini."


Ibu mertua pun semakin panik.


"Tenanglah istriku.."


"Begini saja,satu jam lagi aku akan coba menghubungi ke kantornya mungkin ada pegawai receptionis yang sudah masuk dan aku akan menanyakan apakah David ada di kantor atau tidak."


Kata ayah mertua.


"Naima sayang,tenanglah nak..."


"Ayahmu pasti pergi untuk sebuah pekerjaan penting."


Ayah mertua coba menenangkan Rima yang mulai menangis.


"Baiklah sayang ayo habiskan sarapanmu,karena kita harus pergi ke sekolah sekarang."


Kataku untuk mengalihkan fokus Rima tentang ayahnya.


"Tapi bagaimana dengan ayah ibu Nai?"


Tanya Rima menangis.


"Sayang....dengarkan ibu,ayahmu pasti baik baik saja.Benar kata kakek pasti ayah ada pekerjaan penting jadi mungkin saja karena dia pergi lebih awal bisa jadi dia cepat kembali dari biasanya bahkan sebelum kita pulang sekolah."


Kataku untuk membujuk Rima agar tetap mau pergi ke sekolah.


"Iya sayang pergi lah ke sekolah,kakek akan segera menelpon ibu Nai jika ada kabar dari ayah mu."


Ayah mertua pun ikut membujuk Rima,hingga akhirnya Rima menurut dan kami pun berangkat ke sekolah.


Sepanjang perjalanan menuju sekolah Rima hanya terdiam.Aku pun merasa sedih melihatnya apa lagi jika ingat Rima mengatakan apakah David akan meninggalkannya juga.


Ada apa dengan mu David?


Apa dia begitu marah dengan kata kataku tadi malam,jika dia marah dan akhirnya memutuskan pergi kenapa dia tidak memikirkan rasa khawatir Rima?


Huf...David kau dimana,jika kau marah padaku harusnya hanya denganku saja jangan buat Rima bersedih.


Keluhku dalam hati.Dan akhirnya kami pun tiba di sekolah.Hingga waktu jam belajar selesai tidak ada kabar juga dari ayah mertua tentang David bahkan ponselnya masih tetap tidak dapat di hubungi.Aku pun bergegas pulang dengan Rima dengan harapan David sudah pulang lebih awal di rumah.


"Ibu Nai apa ayah sudah kembali?"


Tanya Rima dalam perjalanan menuju rumah.


"Ehm...belum ada kabar dari kakekmu sayang,tapi mungkin saja ayahmu sudah pulang dan mereka lupa memberi kabar."


Jawabku memberikan secerca harapan.


"Apa ibu sudah telpon ponsel ayah?"


Tanya Rima lagi.


"Sudah ibu coba tapi ponsel ayah mu sedang tidak aktif,mungkin batre ponselnya habis dan ayah sedang menchargernya."


Jawabku coba memberi alasan.


"Huff,ayah ini sangat ceroboh ya ibu Nai..."


Kata Rima begitu bawelnya.Dan aku pun sempat tertawa melihat ekspres wajahnya dengan kebawelannya mengkritik David layaknya istri memarahi suami nya.


"Haha....begitu lah ayah David,bahkan dia tidak mampu menemukan hal hal kecil yang dia perlukan karena tidak pernah manaruh pada tempatnya."


Kataku tertawa menceritakan kebiasaan David.


Dan Rima pun ikut tertawa.Aku merasa senang melihatnya,setidaknya rasa cemasnya tentang David sedikit berkurang.


"Ibu Nai,bagaimana jika kita mengirim pesan saja ke ponsel ayah.Nanto saat ponselnya sudah aktif dia bisa mengetahui jika kita sedang mencarinya."

__ADS_1


Kata Rima memberikan ide.


"Ide yang bagus sayang,tapi saat ini ibu Nai sedang menyetir nanti saja di rumah ya."


Kataku setuju.


"Huff ibu Nai, kenapa harus tunggu sampai di di rumah,apa ibu Nai lupa kalau Rima putri ibu yang pintar sudah pandai mengetik pesan."


Kata Rima protes sambil menepuk dahinya.


"Oh...ya?"


"Baiklah"


Lagi lagi aku tertawa melihat tingkah Rima yang nyinyir itu.


David kau ada dimana?


Aku sudah merindukanmu....


Isi pesan yang di ketik Rima tanpa aku tahu,seolah aku lah si pengirim pesan itu.Dan atas dasar percaya tanpa membaca pesan itu aku pun langsung menyimpan ponselku yang di kembalikan Rima,dan tak lama kami pun tiba di rumah.


"Assalamu'alaikum….kakek..nenek...aku pulang."


Teriak Rima memberikan salam saat masuk rumah yang sudah menjadi rutinitasnya setipa kali pulang ke rumah.


"Waalaikumsalam...."


Jawab kakek dan nenek Rima bersamaan.


"Wah....Rima sudah pulang?"


"Bagaimana hari ini di sekolahmu?"


Tanya ibu mertua sebagai pertanyaan rutinitas juga setiap kali Rima pulang sekolah.


"Buruk nenek."


Jawab Rima.


"Ada apa?"


Tanya ibu mertua lagi.


"Aku tidak bisa fokus pada pelajaran ku nenek karena selalu memikirkan ayah."


Jawab Rima yang bertingkah seperti orang dewasa.Dan ibu mertua pun langsung terdiam.


"Kakek,apakah sudah ada kabar dari ayah?"


Tanya Rima.


"Belum sayang,kakek juga sudah cek ke kantornya namun sekretarisnya bilang ayahmu hari ini memang tidak pergi ke kantor mungkin ada jadwal meeting di luar bersama rekan bisnisnya."


Jawab Ayah mertua menjelaskan.


"Lalu ponselnya sudah bisa aktif kek?"


Tanya Rima lagi.


"Belum sayang,mungkin ayahmu sedang meeting penting tidak ingin di ganggu."


Ayah mertua coba memberikan jawaban dari setiap pertanyaan Rima.


"Ehm..Rima sayang pergilah tukar pakaianmu,ibu Nai nanti akan menyusul."


Titahku pada Rima agar aku ada kesempatan menayanyakan keberadaan David yang sebenarnya.


"Hem...baiklah."


Rima pun naik ke kamarnya dan meninggalkan kami yang berada di meja makan.


"Ayah,bagaimana?"


"Apa sudah ada kabar dari David?"

__ADS_1


Tanya ku kembali karena aku tau jawaban ayah mertua dari setiap pertanyaan Rima hanyalah untuk menenangkan Rima saja bukan yang sebenarnya.


"Belum ada sayang,bahkan asisten kepercayaan David juga menelpon ke rumah dan menanyakan hal yang sama kepada ayah."


Jawab ayah mertua.


"Ya ampun...apa yang terjadi dengan David suamiku."


Ibu mertua pun kembali cemas.


"Tenanglah istriku,sembunyikan wajah cemasmu itu di hadapan Rima.Jangan sampai hal ini membuat di sedih lagi.Semoga David sudah kembali sore ini."


Kata ayah mertua meminta kami agar selalu bersikpa tenang di hadapan Rima.


Dengan rasa putus asa aku pun meninggalkan mereka di ruang tamu dan pergi ke kamarku.Namun seketika langkahku terhenti saat mendengar teriakan si mbak memanggil kami dari ruang keluarga (tempat bersantai sambil nonton televisi).


"Tuan.....nyonya.....!"


Teriak si mbak.


Kami pun segera berlari menghampirinya.


"Ada apa?"


Tanya ayah begitu khawatir melihat keadaan di mbak yang menggelegar sambil menunjukkan berita d televisi tentang kecelakaan pesawat.


Sontak kami pun bingung apa yang di maksud si mbak.Dan tiba tiba saja firasat buruk dan rasa takut terlintas d benakku.


Please mba jangan bilang.......


Pikirku dalam hati yang sulit ku katakan.


"Tu..ttu..tuan,tuan David.....!"


Si mbak seolah ingin mengatakan sesuatu tapi sulit karena rasa takut sudah menguasainya.


"Ya ampun mba katakan yang jelas!!"


Bentak ibu mertua tidak sabar.


"Mba...tenanglah dan minumlah dulu"


Aku memberikan segelas air putih dan mangajaknya duduk agar dia lebih tenang dan dapat mengatakan yang sebenarnya.


"Nyonya Naima,tadi pagi pagi sekali sebelum subuh tuan David berpamitan dan mengatakan jika hari ini dia ada pekerjaan penting sekali di luar kota."


"Saat saya bertanya kenapa perginya pagi sekali ,tuan David menjawab jika dia akan pergi naik pesawat dan penerbangannya setelah subuh jadi dia harus pergi lebih awal karena takut ketinggalan pesawat."


Jelas si mba menceritakan bahwa dia mengetahui David sudah pergi kerja pagi pagi sekali.


"Apa.....?"


Teriak ibu mertua dan terduduk lemas di sofa.


"Ya ampun mba...kami semua sangat risau sejak tadi pagi dan kenapa tidak memberitahu kami hal ini?"


Tanyaku jengkel.


"Maafkan saya nyonya Naima,tadi nya saya pikir tuan David pergi sepagi ini sudah memberitahu kalian semua lebih awal."


Jawab si mbak.


"Ya ampun sumaiku....bagaimana keadaan putraku."


Ibu mertua syok dan mulai menangis takut kalau David menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat itu.


"Tenanglah istriku,semoga hal buruk tidak terjadi kepada David."


Kata ayah mertua menenangkan istrinya.


"Aku akan pergi mencari tahu ke bandara bersma asisten David.Kalian tetap di rumah tunggu kabar dari ku."


Perintah ayah mertua.


Sementara aku yang terduduk lemas,hanya terdiam tanpa sadar meneteskan air mata rasa takut kehilangan tiba tiba menguasai pikiranku.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2