
Dua hari yang di tentukan Sahira pun tiba.Ku lihat David tengah bersiap siap untuk menemui Sahira usai pulang dari sholat subuh dari masjid.
"Kau akan pergi...?'
Tanyaku.
"Yeah...."
Jawab David terdengar begitu berat.
"Boleh aku ikut bersama mu?"
"Aku ingin sekali bertemu Rima,aku sudah sangat merindukannya."
Kataku memohon.
"Ehm......"
"Aku pikir sebaiknya kau tunggu kami di rumah saja,tubuh dan pikiranmu sudah terlalu lelah dalam tiga hari ini untuk memikirkan Rima.Jadi istirahatlah tunggu kami di rumah,aku janji akan segera kembali."
Kata David membujuk ku.
"Bersama Rima?"
Tanyaku meyakinkan.
"Yaap...."
"Ofcourse....."
Jawab David meyakinkan ku.
"Janji.....!"
Kataku mengajukan jari kelingkingku untuk memastikan.
"Janji...."
Jawab David mengaitkan jari kelingkingnyar dengan jari kelingkingku kemudian mengecup keningku dengan durasi yang cukup lama.
Selesai sarapan David pun berpamitan untuk pergi.David benar sejak Sahira membawa Rima pergi tenaga dan pikiranku begitu banyak terkuras hingga aku memutuskan untuk mengambil cuti dari kegiatan belajar mengajar.
Namun setidaknya tujuan dari kepergian David hari ini sedikit membuatku lega karena harapan bisa bertemu dan memeluk Rima kembali saat david pulang nanti.
Hampir sudah satu jam lebih David pergi,dan aku pun tak terasa tertidur dalam penantian kepulangan David dengan rasa yakin bahwa dia akan kembali bersama Rima.
Tak lama kemudian ponselku berdering, notifikasi panggilan masuk.Aku bergegas mengambil handphone ku yang terletak di sofa.Kulihat di layar ponsel " Tuan duda memanggil..." yang artinya itu panggilan masuk dati David.
"Assalamualaikum...."
Sapaku menjawab panggilan masuk dari David.
"Waalaikumsalam...."
Sahut David membalas sapaanku.
"Sudah sampai?"
Tanyaku.
"Ya..."
"Untuk itu aku meneleponku,karena aku ingin memberitahumu bahwa aku sudah di depan rumah Sahira."
Jawab David.
"Kau sudah melihat Rima?'
"Bagaimana keadaanya?"
Tanyaku tidak sabar.
"Belum...."
"Aku masih di depan gerbang rumah Sahira dan menunggu security membuka kan pintu gerbang."
"Sudah dulu ya,karena gerbangnya sudah di buka."
Kata David sebelum menutup telepon mengakhiri panggilan.
"David....!"
Panggilku sebelum telepon di tutup.
"Ya ....."
Jawab David.
__ADS_1
"Ehm...."
"Jika tidak keberatan,boleh tidak jika telepon nya tidak usah di tutup selama kau bertemu Sahira."
Kataku mengajukan sebuah permintaan.
"Kenapa?"
Tanya David bingung.
"Ehmmmm...."
"Aku ingin mendengar langsung apa alasan Sahira mengambil Rima dari kita."
Jawabku.
"Apa kau keberatan....?"
Tanyaku lagi.
"Ooh..."
"Baiklah kalau begitu,teleponnya tidak akan aku tutup."
"Tapi aku harap kau tidak terbakar api cemburu jik wanita siluman itu mengatakan hal hal aneh tentang kami berdua."
Jawab David setuju dan sekaligus coba memperingatkan.
"Aku percaya sepenuhnya padamu."
Sahutku tegas dan yakin.
"Okey...."
"Aku masuk dulu .."
Pamit David,dan kudengar mobilnya melaju memasuki pekarangan rumah Sahira.
Semakin diberi kesempatan dapat mendengar langsung pembicaraan yang akan terjadi,hatiku pun semakin gelisah.Bahkan sudah campur aduk dengan rasa tidak sabar mendengar suara Rima serta alasan Sahira mengambil Rima yang bisa di katakan kasus penculikan.
Melalui panggilan telepon yang tidak di tutup dari ponsel David aku dapat mendengar saat David menutup pintu mobil ,yang dapat ku bayangkan itu artinya David sudah turun dari mobilnya dan akan segera bertemu dengan Rima dan Sahira.
Dan tak lama kemudian aku mendengar suara Rima memaanggil David yang seperti dari kejauhan menuju ke arah David.
"Ayah......."
"Hai sayang......"
Jawab David.
"Ayaaaaaaaaaaaaah...................!"
Tariak Rima lagi begitu panjang seolah terjadi sesuatu.
"Heeeeiiiii.........."
"Ow.....ow...ow....."
Ku dengar suara David seperto sedang menghadang sesuatu.Dan....
"Gubbbrrraaak......."
Terdengar seperti suara gaduh dan aku membayangkan dan berandai apakah Rima terjatuh.
"Heeiii sayang ..."
"Hati hati main sepedanya...."
"Untung ayah menangkapmu.."
Kata David seolah ingin menjelaskan padaku bahwa Rima baik baik saja.
"Ya ayah terimakasih...."
"Emmmuach...."
Kata Rima mencium David sebagai hadiah dari ucapan terimakasihnya.
Dan aku pun tersenyum mendengarnya.
"Oh iya...."
"Dimana ibu Nai...?"
"Kenapa tidak ikut bersama ayah...?"
Sambung Rima menanyakan ku.
__ADS_1
"Ehm....ibu Nai sedang menunggu mu di rumah,dan apa kau tahu dia sangat mencemaskan mu,karena kau pergi tidak berpamitan dengan ayah dan ibu."
Jawab David.
"Benarkah?"
"Apa ibu Nai menangis?"
Tanya Rima terdengar begitu resah.
"Ya...dia terus menangis sepanjang hari,bahkan telinga ayah terasa mau pecah mendengarkannya."
Jawab David yang sengaja meledek ku.
"Haah....Ayah,jangan seperti itu pada ibu Nai.Dia pasti sangat mengkhawatirkan ku."
Kata Rima merasa bersalah.
"Hem...sangat."
"Lalu,coba katakan pada ayah kenapa Rima pergi begitu saja dan tidak berpamitan pada ayah dan ibu..?"
Tanya David coba mencari tahu apa yang telah di lakukan Sahira saat membawa Rima pada saat itu.
"Maafkan aku ayah..."
"Waktu itu ibu Sahira datang memberikan sepeda ini untuk ku,katanya sebagai hadiah dari permohonan maafnya yang telah meninggalkan ki sejak kecil.Lalu ibu Sahira ingin sekali pergi makan es krim dengan ku dan dia mengatakan bahwa dia sudah mendapatkan izin dari ayah dan ibu Nai satu hari yang lalu.Karena ibu Sahira saat itu tidak punya waktu banyak katanya maka kami pun langsung pergi."
Jelas Rima menceritakan kronologi kepergiannya bersama sahira.
"Benarkah....?"
Tanya David yang tedengar nada kekecewaan.Mungkin sama seperti yang ku pikirkan kenapa Sahira berbohong dengan mengatasnamakan kami berdua yang tentu saja ini akan mempengaruhi kepercayaan Rima pada orang lain nantinya.
"Hemmm...."
Jawab Rima yang selalu berkata jujur.
"Ehmm....lalu kenapa tidak langsung pulang nak?"
Tanya David lagi yang berusaha untuk menutupi kejahatan Sahira ibu kandungnya.
"Karena ibu Sahira bilang,kita semua akan tinggal di sini jadi tidak usah pulang dulu ke rumah ayah.Karena ayah tidak menelepon ku,aku berfikir memang benar seperti itu,dan hari ayah datang karena ingin tinggal di sini bukan ?"
Tanya Rima.
Jika ku dengar dari apa yang dia ceritakan sepertinya Sahira mulai mencuci otak Rima untuk mulai mempercayainya.
"Hehe...."
"Sayang jika kita tinggal di sini,lalu bagaimana dengan ibu Nai...?"
Kata David coba memberikan pengertian pada Rima yang pikiran sudah mulai mempercayai cerita bohong Sahira.
"Oh iya..."
"Ibu Nai pasti juga tidak akan suka jika harus tinggal di sini."
"Kalau begitu ayah,ayo kita pulang sekarang kasihan ibu Nai pasti khawatir menungguku di rumah."
Kata Rima yang begitu polos.
Namun di saat yang bersamaan Sahira sepertinya datang dan menggagalkan niat David untuk membawa Rima pulang.
"Rima tidak akan pulang kemana mana karena ini adalah rumah ibunya juga..."
Kata Sahira terdengar begitu lantang.
***********
Halo semua pembaca setia....
🖐️🖐️🖐️🖐️🖐️🖐️🤗
terimakasih karena masih mengikuti cerita DUDA SOMBONG PILIHAN AYAH
mohon maaf jika dalam beberapa hari ini tidak upload episode terbaru ya
di karenakan kondisi kesehatan saya menurun.
Tapi,saya akan tetap berusaha untuk menyelesaikan cerita ini .
Terimakasih buat dukungan kalian semua dan semua komentar kaliam yang menjadi motivsiku
salam sehat dari aku buat kalian yang setia mengikuti alur cerita. DUDA SOMBONG PILIHAN AYAH....
"Bersambung...."
__ADS_1