Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 47.....


__ADS_3

Tak lama setelah aku menghabiskan sarapan ku David pun kembali ke kamar dengan membawa Rima yang telah mandi dan berpakaian rapih dengan kunciran rambut ala David.


"Selamat pagi ibu Nai...."


Sapa Rima dalam gendongan David.


"Selamat pagi sayang....wow kau terlihat cantik sekali pagi ini ."


Kata ku yang secara tidak langsung ingin mengomentari kunciran rambut Rima.Namun Rima yang bijak sudah mengerti kemana arah pujianku itu.


"Apakah yang ibu Nai maksud adalah kunciranku?"


Tanya Rima.


"Hehe.....siapa yang telah menguncir rambut mu sayang?"


Tanyaku tak kuasa menahan tawa.


"Ini pasti terlihat jelek karena ini hasil dari karya ayah."


Jawab Rima mulai cemberut dan sangat kesal jika dia tidak terlihat sempurna.


"Oya?"


"Benarkah?"


"Ehm....lumayan setidaknya ini terlihat cukup baik jika seorang ayah yang melakukannya."


Aku memberikan penilaian untuk hasil karya David itu.


"Hei...wanita penceramah jangan terlalu banyak memberikan komentar,setidaknya aku mampu melakukan apa yang menjadi pekerjaanmu."


Protes akan penilaian ku terhadap kunciran Rima yang me jadi hasil karya jari jemarinya.


"Okey....okey....setidaknya kau sudah berusaha."


Jawabku begitu santai.


"Rima sayang segeralah turun ke bawah dan habiskan sarapan mu sebentar lagi ayah akan menyusul mu dan kita akan pergi ke luar."


Perintah David kepada Rima.


"Baiklah ayah...."


Jawab Rima menurut.


"Kalian akan pergi kemana?"


Tanyaku.


"Hari ini aku ada jadwal bertemu dengan Arga."


Jawab David sambil mengambil pakaian di lemari.


"Untuk apa?"


Tanyaku lagi.


"Ya tentu saja untuk membicarakan bisnis."


Jawab David.


"Bukankah hari ini hari Minggu?"


Tanyaku heran.


"Memang kenapa kalau hari Minggu,pebisnis seperti kami bisa membicarakan bisnis kapan saja dan dimana saja."


Jawab David dengan segala kesombongan nya sebagai pebisnis yang paling sukses.Dan kemudian dia pun masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.Dan aku hanya terdiam menunggu agar si mba cepat datang dan membantuku untuk ke kamar mandi.


"Apa kau perlu sesuatu lagi?"


Tanya David ketika keluar dari kamar mandi.


"Ehm...tidak.Aku hanya ingin mandi dan menukar pakaian ku."


Jawabku.


"Perlu bantuan?"


Tanya David tersenyum menyimpan maksud tersembunyi.


"Tidak.....!"


Jawabku tegas.


"Kenapa langsung teriak?"


"Aku cuma ingin bilang jika kau perlu bantuan aku akan memanggil si mbak untuk membantu mu."

__ADS_1


Jawab David tertawa seolah mengejek aku yang histeris saat dia bertanya perlu bantuan.


Ups....Naima,Kenapa kau selalu terjebak dengan mulut mu sendiri.


Gerutuku dalam hati dan memalingkan wajahku dari David karena tak kuasa menahan senyum ku yang sudah kepalang malu.


"Tidak perlu aku sudah mengirim pesan tadi ke ponsel si mba untuk segera naik ke kamarku "


Jawabku coba berdalih.


"Anak pintar...."


Kata David sambil menusap kepalaku saat dia mengambil ponselnya yang terletak di bantal di samping aku duduk.Seolah aku adalah Rima yang patuh pada semua kata katanya.


"Sebelum aku pergi,katakan padaku kau ingin aku mengambil keputusan apa pada Arga?"


Tanya David sambil memaki jam tangannya.


"Tidak ada.."


Jawabku ku cuek karena aku berusaha bangkit kembali dan betul betul ingin menghilangkan Arga dari hidupku.Hingga apa pun yang telah terjadi pada dirinya sebenarnya aku sudah tidak peduli.Hanya saja aku sedang dalam misi ingin menguji David aku harus tetap berpura pura masih memikirkan Arga dan seolah masih mengharapkannya.


"Apa?"


"Tidak ada?"


"Setelah begitu banyak air mata yang kau buang karena nya?"


Tanya David heran.


"Ehm....,keputusan apa pun yang kau ambil untuk Arga,aku yakin itu dari pemikiran terbaikmu "


Jawabku begitu tenang.


"Ya...ya..ya..baiklah wanita penceramah sejak tadi aku sudah yakin hanya isi ceramahmu yang keluar jika aku meminta pendapat."


Kata David seperti kesal dengan jawaban ku.


"Baiklah aku pergi dulu bersama Rima."


"Telepon aku jika kau ingin di belikan sesuatu."


Tawaran dari David yang sudah mulai peduli padaku.


"Benarkah?"


Tanyaku coba memancing respon David.


"Apa?"


"Baik?"


"Dengan mu?"


"Hei...wanita penceramah,jangan terlalu percaya diri,aku bukan hanya kasihan padamu karena sekarang kau tidak berdaya ."


Kata David menyangkal kebaikan yang dia lakukan.Tak lama dia pun pergi meskipun membelakangi ku tapi dia tetap melambaikan tangannya padaku.Dan aku tertawa geli melihat tingkahnya.


"Dasar Pria angkuh...."


Kata ku menggelengkan kepala.


Sementara itu di sepanjang perjalanan menuju pertemuan dengan Arga,banyak obrolan lucu Antara David dan Rima.


"Ayah kita akan pergi kemana?"


Tanya Rima.


"Kita akan pergi menemui teman bisnis ayah."


Jawab David yang kali ini menyetir sendiri karena hari Minggu supir pribadi nya selalu di liburkan nya.


"Huf...pasti itu sangat membosankan."


Keluh Rima.


"Hei...kenapa kau berkata seperti itu tuan putri ?"


Tanya David tersenyum.


"Pasti kalau. akan berbicara tentang bisnis dan aku sama sekali tidak akan mengerti ayah."


Protes Rima.


"Sayang.....kau tenang saja,pertemuannya di sebuah pusat perbelanjaan.Dan ayah sudah menyuruh asisten pribadi ayah untuk ikut agar menemani mu berbelanja sepanjang ayah berbicara dengan teman bisnis ayah."


Jelas David coba membujuk Rima.


"Benarkah?"

__ADS_1


Tanya Rima.


"Tentu saja...."


"Bukan kah belanja adalah hal yang paling di sukai para wanita?"


Kata David tersenyum.


"Yeaaay .....ayah memang yang paling terhebat karena paling mengerti tentang wanita."


Rima begitu senang dan pujian pun dia lontarkan untuk ayahnya.


"Kau senang?"


Tanya David.


"Tentu saja ayah."


"Tapi ayah kenapa kita tidak mengajak ibu Nai jika ada waktu untuk belanja?"


Tanya Rima.


"Sayang,ibu Nai kan sedang tidak dapat berjalan pasti nanti kan merepotkan jika kita membawa nya."


Jawab David iseng mengejek keadaanku.


"Ayah......"


Teriak Rima mulai kesal jika David mengatakan sesuatu yang buruk tentangku.


"Hehe....."


"Baiklah...baiklah ..hanya bercanda."


"Ibu Nai harus tetap istirahat agar cepat sembuh kakinya."


Kata David yang sebenarnya sudah mulai perhatian padaku.


"Hemmmm....kalau saja ibu Nai bisa ikut pasti berbelanja jadi lebih seru."


Rima yang begitu menyayangiku mulai sedih karena aku tidak bisa ikut bersenang senang dengannya.Melihat itu David pun tidak kehabisan akal memberikan Rima sebuah ide.


"Ehm...begini saja,karena ibu Nai tidak bisa ikut jadi kau bisa menggunakan ponsel ayah saat berbelanja lalu kau bisa melakukan panggilan video Dengan ibu Nai agar ibu Nai juga bisa memilih apa pun yang di inginkan nya."


Kata David membujuk Rima dengan ide nya agar Rima tidak bersedih.


"Wow....ayah,itu ide yang sangat bagus sekali."


Jawab Rima sangat setuju dengan ide dari David.


"Ayah...?"


Panggil Rima yang tidak ada hentinya bertanya.


"Hemm...."


Jawab David.


"Teman ayah yang mana yang akan kita temui?"


Tanya Rima.


"Teman ayah yang waktu itu kita temui di restaurant seafood."


Jawab David tanpa mengingat kejadian waktu itu.


"Bukan kah dia teman ayah yang jahat?"


Tanya Rima yang ternyata masih mengingat betul kejadian dimana aku menangis meninggalkan mereka begitu di perkenalkan dengan teman ayahnya.


"Hei....sayang,kenapa berkata seperti itu tentang tuan Arga?"


Tanya David tidak paham karena lupa.


"Apa ayah lupa ibu Nai langsung menangis dan pergi begitu melihat teman ayah itu?"


Jelas Rima mengingatkan.


"Astaga....."


Kata David tersadar jika saat kejadian itu Rima juga melihat apa yang terjadi.Sejenak David terdiam untuk mencari alasan kenapa dia ingin menemui Arga.


"Ehm...kau benar sayang,dia teman ayah yang jahat.Untuk itu ayah ingin menasihatinya agar doa tidak menjadi teman yang jahat lagi."


Kata David coba memberikan pengertian pada Rima dengan bahasa yang pantas untuk anak seusia Rima.


Perlahan David mulai menjadi ayah yang bijaksana.


Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2