
Malam dingin yang di selimuti oleh perdebatan dan rasa kecewa sebagai penghantar tidurku akhirnya berganti pagi,yang di tandai dengan datangnya sang fajar dan suara adzan yang membuat aku terjaga.
Ku lihat ada Rima Masi tertidur nyenyak dalam pulukanku.
"Ummmuach...."
"Selamat pagi denyut jantungku..."
Bisikku di telinga Rima yang masih tidur.
Aku pun bergegas ke kembali ke kamar ku untuk melaksanakan sholat subuh.Dengan sisa sisa rasa kecewa aku coba mengumpulkan kepercayaan diriku untuk membuka pintu kamar dan menyiapkan mentalku untuk menghadapi salah satu penghuni kamar itu yaitu David.
"Cekreek..."
Ku buka pintu kamar dan memasukan kepalaku duluan untuk melihat situasi dan keadaan.Namun suasana kamar begitu hening seolah tak berpenghuni.Aku pun coba masuk dan memeriksa keberadaan David.Mataku liar mencari ke seluruh penjuru kamar namun aku tidak melihatnya.Ku tundukkan kepala ke bawah pintu kamar mandi untuk memastikan apakah lampu kamar mandi menyala yang menandakan berarti dia sedang ada di kamar mandi (seperti yang di katakannya beberapa waktu lalu),tapi lampu di kamar mandi malah tidak menyala itu artinya dia tidak sedang berada di kamar mandi.
Mendengar suara adzan telah selesai aku pun bergegas ke kamar mandi untuk mensucikan diri dan segera melaksanakan sholat subuh.
Ku abaikan sejenak tentang keberadaan David,mungkin saja dia sudah pergi ke mesjid lebih awal pikirku,dan aku pun segera sholat.
Seperti biasa,setelah selesai sholat dan mengaji aku selalu menyempatkan diri berdiri di balkon kamar untuk mencari udara segar sambil melihat lihat orang orang yang mulai lalu lalang untuk beraktifitas termasuk para jama'ah subuh yang baru pulang dari masjid.
Tapi pagi ini aku hanya melihat ayah dan ayah mertua saja yang jalan bersama jama'ah yang lain namun David tidak terlihat.Dan aku pun baru tersadar bahwa sejak tadi aku juga belum melihatnya tadi nya akau pikir dia sudah pergi ke mesjid tapi ternyata sampai ayah dan ayah mertua belok ke rumah masing masing aku juga belum ada melihat David.
Loh..kemana si duda gila itu?kenapa tiba tiba saja dia hilang seperti di telan bumi.Atau mungkin dia sudah masuk ke rumah saat aku sedang mengaji ? tapi sampai sekarang dia tidak terlihat sudah di kamar?
Aku bertanya tanya sendiri sambil sesekali melihat ke dalam kamar tapi David juga tidak terlihat.
"Haah...masa bodoh terserah dia mau da dimana apa peduli ku ."
Jawabku sendiri coba tidak menghiraukan keberadaan David yang tidak terlihat tidak seperti biasanya.
Segera ku buka mukena ku aku pun bergegas menuju kamar Rima untuk membangunkannya.
"Selamat pagi ibu Nai..."
Sapa Rima begitu penuh semangat menyambutku yang baru saja berdiri di depan pintu kamarnya berniat untuk membangunkannya.
"Selamat pagi sayang..."
"Kau sudah bangun rupanya."
Jawabku dengan senyum penuh hangat dan mengambilkan handuk mandinya.
"Iya,karena aku merasa sudah tidur dengan waktu yang begitu lama,itu sebabnya aku cepat bangun."
Jawab Rima.
"Ya...benar sekali kau sangat cepat tidur tadi malam bahkan kau tidak sempat lagi membereskan alat alat tulismu hingga tertidur di atas meja belajar."
Kata ku coba memberitahu Rima bagaimana dia sebelum tertidur nyenyak.
"Hihi....benarkah itu ibu Nai?"
Tanya Rima sambil meringis karena dia tidak ingat jika dia belajar hingga tertidur.
"Tentu saja..."
Jawabku mencubit hidungnya yang bangir.
"Ibu Nai dimana ayah?"
"Apakah dia belum bangun?"
Tanya Rima.
"Entahlah,ibu Nai juga tidak melihatnya sejak subuh tadi."
"Apakah dia belum ada ke kamarmu pagi ini?"
Tanyaku balik.
"Hemm,belum..."
Jawab Rima menggelengkan kepala.
Kami berdua saling pandang penuh tanda tanya,karena tidak biasanya David seperti ini.Sesibuk apa pun dia pasti selalu menyempatkan datang ke kamar Rima setelah pulang dari mesjid.Tapi hari ini jangan kan Rima bahkan aku saja yang selalu berdebat dengannya setiap pagi untuk mengawali hari juga tidak melihatnya.
"Ehm,mungkin saja ayah David sudah turun duluan ke bawah untuk sarapan.Mungkin hari ini dia ada pekerjaan penting jadi harus cepat cepat pergi ke kantor ."
"Tapi tenang saja kita akan memarahinya jika bertemu nanti."
"Bagaimana?kau setuju kan....?"
Kataku mencoba menghibur Rima yang terlihat cemas.
"Ya,ibu Nai benar..."
__ADS_1
Jawab Rima setuju.
"Baiklah sekarang pergi mandi dan berkemas setelah itu segeralah turun ibu Nai akan menyiapkan sarapan dan susu coklat kocok untukmu."
Perintahku pada Rima.
"Ok...."
Jawab Rima mengacungkan jempolnya dan masuk ke kamar mandi.Sementara itu aku pun bergegas turun ke dapur untuk menyiapkan sarapannya.
Tadinya aku berpikir seperti apa yang ku katakan pada Rima,David pasti sudah turun duluan untuk sarapan.Tapi ternyata tidak di meja makan hanya ada ayah dan ibu mertua serta si mbak yang menyiapkan sarapan.
Kemana si duda gila itu?Di sininjuga tidak ada.apa mungkin dia sudah ke kantor sepagi ini.Apa sebaiknya aku tanyakan kepada ayah dan ibu mertua?
Pikir ku dalam hati.
Tapi tidak,itu akan terasa aneh.Sebab aku istrinya kenapa aku yang tidak tahu keberadaannya."
Jawabku sendiri dalam hati.
"Selamat pagi semua."
Sapaku pada mereka begitu di ruang makan.
"Selamat pagi nak.."
Jawab mereka.
"Dimana Rima?"
Tanya ayah mertua.
"Rima masih di atas sedang bersiap siap mungkin sebentar lagi turun ayah."
Jawabku.
Please,jangan tanya lagi tentang anakmu ayah mertua karena kau akan bingung untuk memjawabnya.Hiks...
Kataku dalam hati dan tersenyum.Dan untuk menghindari pertanyaan itu aku pun segera ke dapur menyiapkan sarapan dan bekal Rima.
Tak lama kemudian Rima pun turun.
"Selamat pagi kakek..."
"Selamat pagi nenek..."
Sapa Rima sambil menuruni anak tangga.
"Selamat pagi sayang.."
"Kau selalu terlihat cantik..."
Jawab mereka.
"Duduklah di sini sayang,ibu Nai sedang menyiapkan roti kentang dan susu coklat kocok kesukaanmu."
Kata ibu mertua.
"Nenek kenapa ibu Nai yang membuat susunya?"
"Dimana ayah?"
Tanya Rima yang mengira bahwa David sudah turun duluan untuk sarapan seperti yamg ku katakan.
"Ehm,nenek juga belum melihatnya turun ke bawa."
"Coba tanya ibu mu mungkin ayahmu masih di kamarnya tadi."
Kata ibu mertua.
"Tidak nenek,ayah tidak ada di kamarnya."
"Bahkan ibu Nai juga tidak melihatnya sejak subuh tadi."
Jelas Rima.
"Apa...?"
"Bagaimana bisa?"
Tanya ibu mertua mulai panik.
"Tenanglah istriku,sebaiknya kita tanya kepada Naima langsung."
Kata ayah mertua coba menenangkan istrinya.
"Naima..."
__ADS_1
Panggil ayah mertua.
"Ya ayah,ada apa ?"
Sahutku datang dari dapur sambil membawa sarapan Rima.
"Nak,dimana David?"
"Kata Rima kau juga tidak melihatnya sejak subuh tadi?"
Tanya ayah mertua terlihat mulai risau.
"Glekk.."
Aku terdiam dan coba mengumpulkan kata untuk memberi jawaban atas pertanyaan yang aku tidak tahu jawabannya.
"Aku juga tidak tahu ayah?"
Jawabku.
"Apa?"
"Bagaimana bisa kau tidak tahu keberadaan suami mu nak?"
Tanya ibu mertua risau.
"Ibu mertua maafkan aku."
"Aku tidak tahu David pergi ke mana."
Jawabku menunduk.
"Ini aneh sekali,kau yang satu kamar dengannya."
"Pasti kau lah orang yang terakhir bersamanya."
"Lalu bagaimana bisa kau tidak tahu dia pergi kemana?"
Kata ibu mertua panik seolah kehilangan anak laki laki se usia Rima.
"Maaf ibu,tapi tadi malam aku tertidur di kamar Rima hingga subuh.aku sempat bertemu David sebelum ke kamar Rima,namun David tidak mengatakan apa pun padaku seperti pesan misalnya."
Jelasku dengan tidak mengatakan apa yang terjadi sebenarnya di dalam kamar tadi malam.
"Tenanglah istriku,mungkin David ada urus. yang sangat penting secara mendadak di kantor hingga dia harus pergi pagi pagi dan todak sempat memberi tahu kita semua."
"Kau kan tahu prinsip hidup David waktu adalah uang."
Jelas ayah pada ibu mertua yang sudah sangat panik karena tidak melihat putranya.
"Tadinya juga aku berpikir seperti itu ayah,dan dia sudah memberitahu kalian.Oleh sebab itu aku juga tidak ada bertanya tentang keberadaanya."
Sambungku menyampaikan apa yang ku pikirkan.Meskipun sebenarnya aku gengsi untuk menayanyakan hal itu.
"Naima sayang...jika kami tahu pasti kami tidak akan bertanya padamu."
Kata ibu mertua lagi.
"Sudahlah kalian semua tenang.."
"Aku akan coba menelpon ponselnya"
kata ayah mertua.
"Tut...Tut...Tut..."
Jawaban dari ponsel David.
"Oh ya ampun...bahkan ponselnya juga tidak bisa di hubungi."
Jelas ayah mertua.
Suasana makan pagi yang bersahabat tiba tiba jadi bertukar rasa panik karena David tidak terlihat.
"Ibu Nai..."
Panggil Rima memegang tangan ku yang hanya bisa terdiam.
"Apakah ayah juga pergi meninggalkan ku seperti ini Sahira seperti beberapa tahun lalu?"
Tanya Rima mulai menangis.
Aku yang merasa sedih mendengar perkataan Rima langsung memeluknya agar dia tenang dan berhenti menangis.
"Tidak sayang,hal itu tidak akan terjadi."
Jawabku sambil menyuapi nya sarapan.
__ADS_1
Bersambung.....