
Dua hari sudah Rima beserta kakek dan nenek nya pergi liburan,dan selama dua hari juga aku tinggal hanya berdua saja dengan David di rumah.Dan aku pun sangat merindukan mereka saat sendirian di rumah setelah David pergi ke kantor.
Tadinya aku pikir akan main ke rumah ibu saja selama David di kantor,tapi ternyata seperti sudah di atur dalam sebuah rencana ayah dan ibu juga pergi berlibur ke luar kota ke tempat paman dan bibi ku.
Sambil menunggu David turun untuk sarapan aku pun bermain ponsel di meja makan dan tak lama kemudian ponselku berdering notifikasi panggilan video dari Rima.Tentu saja membuat aku begitu gembira sampai tidak menghiraukan sapaan David yang baru turun untuk sarapan.
"Assalamualaikum ibu Nai....."
Sapa Rima dari sana di sebuah taman dengan pemandangan senja yang berarti di sana sudah sorew menjelang malam.
"Waalaikumsalam sayang...."
Jawabku begitu gembira.
"Bagaimana kabar ibu dan ayah?"
Tanya Rima .
"Meskipun kami sangat merindukan mu tapi kami tetap berusaha agar baik baik saja di sini."
Jawabku begitu bahagia melihat Rima sepertinya sangat senang di sana.
"Jangan sedih ibu Nai,ingat apa yang ku katakan pada ibu sebelum pergi, jika ibu Nai merindukan ku peluk lah ayah,karena ayah sebagai pengganti diriku."
Kata Rima spontan membuatku tertawa.
"Haha.....kau ini."
Kataku gemas sekali jika sudah mendengar Rima berbicara.
"Katakan padaku apa ayah menyusahkan ibu?"
"Atau mengganggu ibu?"
Tanya Rima.
Bukan lagi menyusahkan atau mengganggu Bu nak ,bahkan ayahmu sudah menyerang ibu habis habisan tanpa ampun.
Jawabku dalam hati.
"Lalu di mana ayah?"
Tanya Rima lagi.
"Nih...sedang sarapan?"
Jawabku mengarahkan ponsel ku ke arah David yang ternyata juga tertawa meskipun tanpa suara saat mendengar arahan Rima jika aku merindukan nya.
"Halo ayah terbaik ku...."
Sapa Rima.
"Halo anak terbaik ayah.....
Jawab David sambil menghabiskan sarapannya.
"Bagaimana rasanya berdua saja di rumah bersama ibu Nai?"
Tanya Rima membuatku tiba tiba sesak nafas.
"Luar biasa....fantastis...."
Jawab David mengacungkan jempolnya ke arah kamera ponsel.
"Apa ayah menjaga ibu Nai dengan baik?"
Tanya Rima yang begitu perhatian padaku.
"Tentu saja sayang,bahkan ibu Nai mu ini tidak bisa lepas dari ayah..."
Jawab David sambil tertawa seolah memutar balik kan fakta.
"Plak...."
"Kau ini..."
"Jangan dengarkan ayah mu sayang."
Kataku sambil memukul bahu David karena geram.
"O iya,sayang di mana kakek dan nenek mu apa mereka baik?"
Sambungku bertanya.
"Iya mereka baik baik saja dan sedang menikmati secangkir espreso,lihatah mereka romantis sekali."
__ADS_1
Kata Rima mengarahkan ponselnya ke arah kakek neneknya yang sedang duduk saling bersandar di bangku taman menikmati suasana sore yang sepertinya dingin karena terlihat mereka sedang memakai baju hangat yang mereka bawa kemarin.
"Halo....sayang ..."
Sapa ayah dan ibu mertua melambaikan tangan dari sana.
"Halo ayah...ibu..."
"Wah....sepertinya menyenangkan sekali di sana ya..."
Kataku berbasi basi sejenak merasa iri melihat kemesraan mereka.
"Kau benar sayang,ayah merasa seperti kembali muda lagi..."
Kata ayah mertua tertawa.
"Plak...."
"Hei kau ini tidak tahu malu ya,berbicara dengan menantimu seperti itu."
Celah ibu mertua memukul suaminya dan tersipuh malu.
"Hei....kenapa harus malu,Naima sudah seperti putri ku sendiri."
Jawab ayah mertua uang begitu menyayangiku.
"Oh iya dimana David ?"
Tanya ayah mertua.
"Ada ayah dia sedang sarapan."
Jawabku kembali mengarahkan ponselku ke arah David.
"Halo ayah....bagaimana perjalanan kalian ?"
Tanya David menyapa mereka.
"Sangat menyenangkan,dan saran ayah pergi lah berbulan madu bersama Naima ke sini,dia pasti sangat menyukainya."
Saran ayah mertua.
"Tidak perlu jauh Sampai ke sana ayah,bulan madu di sini pun sudah sangat menyenangkan."
"David...."
Panggilku berbisik dan melotot seolah mengancam jangan sampai David keceplosan.
Namun bukan David namanya jika tidak mencari ulah,bukan nya takut dengan tatapan ku yang tajam,dia malah bermain mata dengan ku dan tersenyum sinis.
"Wah....wah...sepertinya kalian juga sedang berbulan madu ya di rumah.Haha....."
Kata ayah mertua meledek kami yang membuat aku tak berani menunjukkan wajahku pada panggilan video itu.
"Ehm...baiklah ayah,aku harus ke kantor sekarang,jaga diri kalian di sana salam untuk Rima dan ibu."
Kata David mengakhiri pembicaraan karena tak tega melihat wajahku yang mulai merona menahan malu.
"Baiklah nak,kabari ayah jika kau sudah tiba di kantor,ada hal penting yang ingin ayah tanyakan tentang pekerjaan."
Balas ayah mertua seperti memberi kode penting.
"Hem baiklah ayah..."
"Assalamualaikum...."
kata David sebelum mengakhiri panggilan.
"Waalaikumsalam...."
Jawab ayah dan panggilan video pun terputus.
"Kenapa wajahmu memerah?"
"Seperti sedang malu?"
Tanya David mulai meledek ku.
"Aku?"
"Tidak ada?"
Jawabku dan langsung memegang kedua pipiku.
"Kenapa harus malu,kan benar kita sudah berbulan madu."
__ADS_1
Kata David semakin membuat aku tersipuh malu.
"Hei...sudah ku katakan,tidak perlu ada lagi yang harus kau tutupi sehingga membuatmu malu,aku sudah lihat semuanya."
Kata David mendekat padaku dan memegang dagu ku.
Merasa ada sinyal tidak baik aku pun langsung melangkah mundur dan mengangkat semua piring yang ada di meja dan membawanya ke dapur.
"Haha....dasar wanita."
Kata David tertawa sambil memakai Jaz nya.
"Baiklah,pergi dulu."
Pamit David dari ruang makan yang masih dapat ku dengar meskipun aku di dapur.
Aku pun segera berjalan cepat menuju David.
"Dengar..."
"Sepertinya kau tidak perlu masak untuk makan siang."
Sambung David sebelum pergi.
"Kenapa?"
Tanyaku.
"Karena aku ada pekerjaan di luar kantor saat jam makan siang."
"Aku akan makan siang di luar bersama klien"
Jawab David.
"Lalu apa hubungannya dengan aku tidak perlu masak."
"Sementara kau makan siang di luar,aku di rumah.Kalau aku tidak masak trus aku mau makan apa?"
Tanyaku protes.
"Kau tidak perlu repot repot untuk memasak."
David kembali mengulangi kata katanya.
"Kenapa?"
Tanyaku lagi.
"Karena kau harus bersiap siap,dandan yang cantik sebelum jam makan siang supir akane jemput mu dan kita akan pergi makan siang di luar."
Jelas David.
"Bersama klien mu itu?"
Tanyaku semakin bawel.
"Hem..."
Jawab David terlihat semakin kesal karena pertanyaan ku yang tak henti.
"Kalau begitu kau saja yang pergi ,aku makan siang di rumah saja,tidak apa apa."
Kataku menolak.
"Tidak bisa."
"Kau harus pergi makan siang bersama ku,karena di pertemuan ini ada beberapa berkas yang perlu persetujuan dan tanda tangan mu."
Jelas David menolak penolakan ku.
"Tapi...."
Aku tidak dapat melanjutkan kalimatku karena
seketika secepat kilat David melayangkan ciuman di bibirku.
"Emmmuach...."
"Jangan protes atau kau akan menyesal."
"Daaag....."
Kata David melambaikan tangan sambil berjalan membelakangi ku menuju mobilnya.
Bersambung.....
__ADS_1