Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 19....


__ADS_3

Meninggalkan David di kamarnya dengan rasa percaya diri yang sudah tingkat dewa,aku pun pergi ke kamar Rima untuk membangunkannya dan menyiapkannya pergi ke sekolah.


"Hei....selamat pagi sayang,kau sudah bangun rupanya."


Sapa ku pada Rima yang masih duduk di tempat tidur dan mengantuk.


"Selamat pagi ibu Nai..."


"Apakah aku terlambat bangun?"


Tanya Rima melihat ke sisi kanan tempat tidur ,tempat David tidur.


"Tidak sama sekali sayang,kau bangun lebih awal dan kita masih punya banyak waktu untuk berkemas sebelum pergi ke sekolah.jadi santai saja ..."


Jawabku tertawa sambil menyiapkan seragam sekolahnya.


"Lalu di mana ayah?"


Tanya Rima mencari David yang sudah tidak dia lihat begitu dia bangun.Karena biasanya selalu David ada di sampingnya saat dia terbangun tiap kali dia minta di temani tidur.


"Ayahmu ada di kamarnya sayang,mungkin sedang bersiap akan berangkat ke kantor juga."


Jawabku.


"Baiklah ibu Nai apa aku harus mandi sekarang?"


Tanya Rima lagi.


"Ya tentu saja sayang,karena bau asam dari tubuhmu sudah mengganggu penciuman ibu.hehe..."


Jawabku menggoda Rima sambil menggendongnya ke kamar mandi.


"Ah...ibu Nai..."


Rima dengan manja naik ke atas punggung belakangku.Dan tanpa aku sadar ternyata lagi lagi David sedang memperhatikan kami dari depan pintu kamar.Terserah entah bagaimana penilaian nya padaku,tapi hidupku hanya demi kebahagian Rima.


Beberapa menit kemudian aku pun selesai dalam hal urusan menyiapkan Rima untuk berangkat sekolah.Mulai dari memandikannya,seragamnya,menyisir rambutnya,hingga memeriksa kembali tas sekolahnya.


"Baiklah tuan putri ibu Nai yang sangat cantik,sekarang kita sudah selesai dan kau terlihat sangat cantik.Apa kau senang?"


Tanyaku.


"Tentu saja,aku akan selalu senang selama ada ibu Nai yang selalu menemaniku."


Jawab Rima memelukku begitu manja.


"Oh manis sekali.."


Kataku, lagilagi aku menarik hidungnya yang Bangir karena gemas.


"Ibu Nai..."


Panggil Rima saat aku sedang memakaikan sepatunya.


"Ya sayang,apa kau butuh sesuatu?"


Tanyaku setelah selesai memakai kan sepatunya.


"Berjanjilah padaku ibu Nai.."


Kata Rima terputus.


"Apa sayang...?"


Tanyaku heran.


"Berjanjilah bahwa ibu Nai tidak akan pernah meninggalkan ku apa pun yang terjadi.Ibu Nai akan tetap bersama ku meskipun terkadang ayah suka marah pada ibu Nai.Aku tidak ingin di tinggal lagi sama seperti waktu aku masih bayi dulu."


Kata Rima terlihat begitu khawatir hingga meneteskan air mata.


"Oh..Rima sayang,sekarang dengarkan ibu Nai baik baik ya..."


Kata ku sambil memangkunya untuk memberikan pengertian.


"Selain kita menjadi teman,sekarang ini kau adalah segalanya dalam hidupku,tak ubahnya seperti denyut jantung dalam diri ibu Nai.Jadi coba pikirkan bagaimana bisa kita hidup jika denyut jantung kita tidak ada.Seperti itulah berharganya seorang Rima dalam hidup ibu Nai."


"Apa kau sudah paham?"


Tanyaku coba memberikan penjelasan agar rasa khawatirnya hilang yang mungkin bisa jadi trauma karena dia sudah di tinggalkan ibu nya sejak bayi bahkan ayahnya pun pada saat itu tidak peduli padanya.


"Itu artinya Ibu Nai juga tidak dapat hidup tanpa diriku?"


Tanya Rima kembali coba lebih meyakinkan dirinya dari apa yang ku jelaskan.


"Bennar sekali sayang,ibu Nai tidak bisa hidup tanpa dirimu jadi bagaimana mungkin ibu meninggalkan mu."


Jawabku.


"Kalau begitu aku juga akan buat janji."


Kata Rima memberikan jari kelingkingnya dan memintaku menunjukkan jari kelingkingku.


"Janji...?"


"Janji apa?"

__ADS_1


Tanyaku heran sambil menunjukkan jari kelingkingku.


"Aku janji tidak akan pernah meninggalkan ibu Nai sendirian apa pun yang terjadi."


Kata Rima mengikrarkan janjinya.


"Janji"


Kataku mengaitkan kelingkingku pada kelingkingnya.


"Janji...dan ini Janji Rima."


kata Rima


"Maksudnya?"


Aku heran tapi tetap tertawa melihat wajah Rima yang semakin menggemaskan.


"Janji Rima artinya janji itu pasti akan di tepati dan tidak akan di ingkari."


Jelas Rima.


"Oya....manis sekali."


Kataku tertawa dan memeluknya.


Rima memang tidak salah memilih wanita penceramah ini menjadi ibunya.


Kata David pelan yang ternyata masih berdiri di depan pintu mendengarkan obrolan kami.Dia tersenyum diiringi air mata yang menetes di pipinya sebagai tangis haru.


"Baiklah sayang,sudah cukup drama kita,sekarang pergilah turun ke bawah habiskan sarapanmu,nanti ibu Nai akan seegera menyusul setelah selesai mengganti pakaian.."


Kataku mengarahkan Rima.


"Hem,baiklah..."


Rima pun bergegas turun,dan di bawah sudah ada David,ayah dan ibu mertua yang sudah menunggunya di meja makan untuk sarapa.


"Selamat pagi kakek,nenek,ayah..."


Sapa Rima sambil berlari dari tangga.


"Selamat pagi sayang..."


Jawab David dan meletakan satu gelas susu kocok coklat yang di buatnya sendiri seolah sudah menjadi rutinitasnya.


"Wow..susu kocok coklat."


Kata Rima melompat di anak tangga terakhir.


Kata ibu mertua khawatir.


"Tenanglah Ibu,jangan risau Rima adalah anak yang kuat.bukan begitu sayang...."


David membela Rima yang sekarang telah menjadi tuan putri kesayangannya.


"Ya benar nek,itu karena susu coklat kocok buatan ayah...."


"Haha......"


Sambung Rima membenarkan pembelaan David.Dan tentu saja semua yang ada di ruang makan tertawa mendengar stetment Rima.


"Selamat pagi semua.....hei ada apa ini kenapa sepertinya ada hal yang lucu di sini"


Sapaku yang langsung turun karena mendengar suara tawa yang begitu lepas.


"Tidak ada,hanya sedikit lelucon dari Rima yang mengatakan dia semakin kuat karena susu kocok coklat buatan ayahnya."


Jawab ayah mertua masih tertawa geli.


"Ha....benarkah?"


Kataku jadi ikut tertawa.Tapi David wajahnya seketika berubah serius bahkan merasa kesal karena merasa ku tertawakan.


"Baiklah sayang,ayah pergi ke kantor duluan karena ada meeting penting,cepat habiskan sarapanmu atau kalau tidak ceramah panjang akan kau dengar sepanjang hari."


Kata David berbisik kepada Rima dengan melirik ke arahku.


"Ayah....."


Protes Rima yang tidak pernah suka melihat atau pun mendengar jika David mengatakan hal yang buruk padaku.


"Baiklah...baiklah...belajar yang rajin nanti siang ayah akan me jemputmu dan kota pergi makan es krim,bagaimana?kau setuju?"


Janji David sambil pamit untuk ke kantor.


"Yeaaaay....baiklah ayah ."


Rima bersorak begitu gembira.


"Ayo cepat habiskan sarapanmu,dan kita juga harus segera berangkat ke sekolah kan agar tidak terlambat"


Kataku.


Tak lama kemudian kami pun selesai dan berpamitan untuk pergi ke sekolah.

__ADS_1


Rima sangat bersemangat sekali begitu tiba di sekolah,apalagi semua teman di kelasnya menyambutnya dengan begitu baik dan Rima pun dapat mengikuti semua pelajaran dengan baik hingga jam pelajaran selesai.


Beberapa jam kemudian,bel tanda jam pelajaran sudah selesai pun berbunyi.Setelah selesai mengikuti ceremony sebelum pulang,Rima langsung menuju ke kelas tempat aku mengajar.Dan aku pun meminta ya agar menunggu ku untuk menyelesaikan kegiatan belajar dan mengajar di kelas ku.


Tak lama kami pun selesai,Terlihat David sudah berdiri di depan pintu gerbang sekolah dan melambaikan tangannya.


"Ayah...."


Teriak Rima begitu gembira ketika melihat David berdiri di gerbang sekolah.Mungkin adalah hal yang biasa saja bagi anak anak yang lain.Tapi bagi Rima ini adalah hal yang luar biasa karena ini adalah pertama kalinya David datang menjemputnya ke sekolah.


Dan Rima pun langsung berlari menuju ke arah David.


"Rima jangan berlari nanti kau jatuh."


Kataku menyusul berjalan cepat dari belakangnya.


"Wah...ayah,ayah tepat waktu sekali."


Kata Rima


"Tentu sayang,seorang pengusaha sukses haru disiplin dalam waktu dan tepat janji."


Jawab David seolah ingin mengatakan bahwa dia pria sukses yah disiplin dalam waktu dan tepat janji.


Hem...Si duda ini lagi lagi memuji dirinya,rasar duda sombong,ciih..."


Aku memaki dalam hati dengan ekspresi wajah yang biasa saja seolah tidak mengatakan apa pun dalam hatiku.


"Ayah apakah kita jadi pergi makan es krim?"


Tanya Rima.


"Tentu saja sayang,tapi sebelumnya ayah ingin tahu bagaimana pelajaran mu hari ini? apakah semuanya dapat kau ikuti dengan baik?"


Tanya David.


"Tentu saja ayah,semua berjalan dengan lancar aku kan anak yang pintar,ya kan ibu Nai?"


Jawab David dan kembali bertanya padaku untuk membenarkan dirinya.Dan aku pun hanya tersenyum dan mengusap kepalanya.


"Baiklah kalau begitu,ayo kita pergi makan ice cream."


Ajak David sambil menggendong Rima.


"Baiklah sayamg hati hati ya,dan dengar jangan terlalu banyak makan ice creamny atau kau bisa flu nanti."


Kataku.


"Ibu Nai tidak ikut?"


Tanya Rima.


"Tidak sayang,karena ibu harus membawa mobil ibu ke bengkel untuk di service."


Jawabku memberi alasan.


"Aaaaa....ibu Nai ayolah aku ingin kita pergi makan ice cream bertiga.ayolah...kumohon...kumohon..."


Rengek Rima.


"Ayah kenapa diam saja,katakan sesuatu ..ajak ibu Nai juga."


Rima mulai merengek juga kepada David.


"Oh...ya ampun apakah kau wanita dewasa atau seumuran Rima?"


Tanya David kesal.


"Apa masalahmu mempertanyakan kedewasaanku?"


Tanyaku balik.


"Karena kau bertingkah seperti anak kecil."


Jawab David.


"Apa maksud perkataanmu?"


Tanyaku mulai kesal,dan perdebatan pun di mulai.


"Ya kenapa aku harus membujukmu agar ikut juga?" (David)


"Aku tidak memintamu untuk membujukku" (aku)


"Lalu kenapa kau tidak ikut?"


"Kau tahu kan Rima tidak ingin pergi tanpamu?"(David)


"Aku sudah mengatakan alasannya,aku harus membawa mobilku ke bengkel!" (Aku)


"Berhentilah jual mahal ,sekarang naik lah ke mobil dan supirku yang akan membawa mobilmu ke bengkel."


Perintah David mengakhiri perdebatan dan tanpa ku bantah lagi karena aku sudah kehabisan kata untuk membuat alasan.


Dan akhirnya mobil pun melaju ke sebuah cafe yang menjual berbagai varian menu ice cream.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2