
Seketika suasana begitu hening setelah suara Sahira yang begitu lantang terdengar.
Aku tidak dapat membayangkan bagaimana ekspresi kemarahan muncul di wajah David saat melihat Sahira dengan kalimat yang dilontarkannya.
"Apa maksudmu?"
Tanya David terdengar emosi.
"Jangan pura pura lupa,apa alasanmu datang kemari,atau aku perlu menjelaskannya lagi?"
Jawab Sahira seolah menantang.
"Oh ya...silahkan."
"Silahkan jelaskan kembali agar Rima mengerti kebusukan mu yang telah menggunakan. dia untuk mencapai tujuanmu."
Kata David seolah menyambut tantangan Sahira.
"Ayah...."
"Ibu Sahira..."
"Kenapa kalian jadi bertengkar?"
"Bukan kah kita akan tinggal bersama sama?"
Tanya Rima begitu polos yang sudah mulai percaya dengan janji manis Sahira.
"Tidak sayang...."
"Tidak seperti itu...."
"Ayahmu hanya masih bingung untuk memilih antara ibu Naima, perusahaannya,atau kita dan tinggal di sini bersama sama."
Jawab Sahira seolah menempatkan David seperti sosok ayah yang tidak ingin memperjuangkan putrinya.
Mendengar hasutan Sahira demikian,sontak membuat darahku menididih.Ingin sekali rasanya aku pergi menyusul David ke rumah Sahira dan menampar wajahnya.Aku merasa kesal karena tidak sepantasnya dia mengatakan sesuatu yang belum pantas Rima dengar,karena itu akan membebani pikirannya nanti.
"Kenapa harus memilih?"
"Bukankah kita bisa tinggal di sini bersama sama?"
Tanya Rima lagi.
"Tidak sayang,ayahmu harus memilih dan pilihan ayahmu akan memberitahu seberapa besar cintanya pada putrinya."
Jawab Sahira.
Namun aku tida ada mendengar suara David untuk memberikan jawaban dari setiap pertanyaan Rima.Dan aku yakin David mencoba menahan amarahnya di depan Rima.
"Benarkah....?"
"Lalu pilihan apa yang ingin ibu sahira berikan untuk ayah...?"
Tanya Rima.
"Pilihannya adalah..."
"Pertama...jika ayahmu ingin membawamu dari ibu maka dia harus sepakat keuntungan proyek kerjasamanya dengan Arga di alokasi kan ke rekening ibu."
"Pilihan yang ke dua,jika ayahmu lebih memilih menyelamatkan proyeknya,maka ayahmu tidak akan pernah boleh membawa kau kembali bersamanya."
"Jadi ayo kita lihat nak,siapa yang lebih di cintai ayahmua,dirimu atau bisnisnya...."
Jelas Sahira seperti ibu yang tidak punya harga diri memberikan dua pilihan untuk ayah dari anaknya dengan menjadikan putrinya sebgai bahan pertimbangan dalam sebuah pilihan yang memberatkan mantan suaminya.
__ADS_1
"Sahira...."
"Kau benar benar sudah gila...."
Kata David emosi.
Bahkan aku lebih emosi mendengarnya meskipun hanya lewat panggilan telepon.Bahkan aku tidak peduli dengan keputusan David nantinya yang ku inginkan hanyalah Rima bisa di bawa David kembali pulang.Karena aku tidak ingin Rima di besarkan dengan pengasuhan yang tidak benar oleh Sahira.
"Ya benar aku memang sudah gila,dan kau harus tahu orang gila tidak bisa mentolerir apa pun yang aku inginkan"
Sahut Sahira seolah bangga dengan kegilaannya.
"Ehmmmmm..."
"Baiklah kalau begitu,arena aku telah di libatkan dalam dua pilihan yang ibu buat untuk ayah,jadi aku juga berhak ikut memutuskan."
"Titikk.!!!
Kata Rima begitu mengejutkanku saat mendengarkannya.
"Tentu saja sayang,dan ibu mu yang demokratis ini memberikan hak itu untukmu."
Jawab Sahira begitu bangganya dengan apa yang dia lakukan.
"Tapi sayang,jangan pernah libatkan dirimu dengan wanita serakah ini."
"Ini sudah tanggung jawab ayah untuk membawamu pulang."
Jawab David mencoba memberi pengertian pada Rima.
"Tidak ayah,aku ingin aku yang mutuskan."
"Please..."
Terdengar Rima memohon dan sudah ku bayangkan ekspresi wajahnya yang memelas hingga membuat David tidak berdaya.
Kata David setuju.
"Baiklah..."
"Dan aku memutuskan ...."
"Agat ayah kembali lh ke rumah dan konsentrasi saja dengan bisnis ayah,karena aku ingin tinggal di sini bersama ibu Sahira..."
Kata Rima menjelaskan keputusannya yanga sontak membuat Sahira dan David terkejut,begitu juga aku.
"Apa....??!"
Tanya kami bersamaan(Aku,David, Sahira) sangat terkejut meskipun dengan versi yang berbeda beda.
"Sayang,apa kau yakin dengan keputusanmu?"
"Apa kau tidak menginginkan kembali ke rumahmu dan bertemu ibu Nai?"
Tanya Sahira merasa sial,karena aku yakin dia berharap Rima akan memutuskan untuk kembali bersama David dan akhirnya David tidak punya pilihan lain dan memberikan apa yang diinginkannya,yaitu keuntungan dari proyek kerjasama perushaan David dan Arga yang sebenarnya milik Arya.
"Ya aku sangat yakin."
"Lagi pula kenapa ibu bertanya seperti itu?"
"Apa ibu tidak ingin jika aku tinggal bersama ibu?"
Tanya Rima kembali yang membuat Sahira gelagapan menjawabnya untuk memberikan alasan.
"Ehm.."
__ADS_1
"Tidak...tidak...!"
"Bukan seperti itu sayang,ibu malah senang jika kau ingin tinggal bersama ibu."
"Tapi....bagiamana dengan ibu Nai...binggo si kucing kesayanganmu?"
"Kau nanti tidak akan di izinkan lagi bertemu mereka?"
"Apa kau tidak merindukan mereka?"
Tanya Sahira yang terdengar seperti berharap agar Rima mengubah keputusannya.
"Sayang...."
Panggil David begitu lembut.
"Hey...."
"Ada apa denganmu?"
"Kenapa mengambil keputusan seperti itu?"
"Apa kau tidak merindukan ibu Nai?"
Tanya David coba membujuk Rima meskipun bisnisnya jadi taruhannya.
"Tidak ayah,aku tidak merindukan siapa pun."
"Aku hanya ingin tinggal bersama ibu Sahira ..."
"Please....."
Kata Rima seolah sudah yakin dengan keputusannya.
"Pulanglah ayah...."
"Dan biarkan aku tinggal di sini."
Sambung Rima kembali menegaskan.
"Look...."
"Kau bisa lihat dan dengar sendiri apa keputusan Rima."
"Dan kau sudah lihat dan dengar sendiri bukan...?"
"Jika Rima lebih memilih ibu kandungnya dari pada ibu sambungnya ...?"
"Haa..."
Tawa Sahira terdengar begitu bahagia.
"Haha....."
"Dan sayangnya kau tidak bisa lihat alasan Rima memutuskan memilih tinggal bersama mu..."
"Dasar wanita bodoh...."
Balas David seolah paham alasan Rima memilih tinggal bersama Sahira.
"Apa maksudmu....?"
"Heii David....!"
Teriak Sahira terdengar kesal dan sepertinya David telah meninggalkannya karena aku mendengar alarm mobil david berbunyi untuk membuka pintu mobil.
__ADS_1
Dan aku pun tak sabar menunggu kedatangan David kembali ke rumah.
Bersambung...