Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 124....


__ADS_3

Setelah satu malam rawat inap di klinik dokter Nisa,keesokan harinya aku pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah.Dan setelah mempertimbangkan dan memastikan jika aku harus istirahat total di rumah,akhirnya dokter Nisa mengizinkanku pulang.


"Terimakasih dokter...."


Ucapku sebagai salam perpisahan.


"Sama sama Naima..."


"Aku berharap kalian segera kembali lagi ke sini dengan kabar yang membahagiakan..."


Jawab dokter Nisa memberikan harapan di sertai doa agar aku bisa segera hamil kembali.


Dan aku pun tersenyum meresponnya serta mengaminkannya dalam hati.


Dan tanpa kata David pun menjabat tangan dokter Nisa dan memeluknya dengan perasaan yang dapat ku rasakan.


"Jangan terlalu larut dalam kesedihan,setelah masa nifasnya selesai kalian bisa langsung mencobanya lagi dan sekian puluh persen itu biasanya berhasil karena setelah masa nifas dia dalam masa subur.Dan itu masa yang bagus untuk pembuahan."


Jelas dokter Nisa sembari menguatkan David sebagai seorang sahabat.


"Benarkah....?"


Tanya David melepaskan pelukannya dan menatap dokter Nisa.


"Hem...."


Jawab dokter Nisa menganggukkan kepala dan tersenyum memberikan semangat dan harapan.


"Tidak ada usaha yang menghianati hasil,dan jika usaha di sertai doa,yakinlah semua tidak akan sia sia..."


Sambung dokter Nisa tersenyum sambil menepuk nepuk bahu David.


Seolah merasa lega David pun tersenyum meninggalkan dokter Nisa.


Mobil pun melaju meninggalkan klinik,dalam mobil David berusaha membuatku senyaman mungkin.Mulai dari posisi duduk ku hingga memilih lagu yang membuat aku merasa rilex.Terkadang sesekali muncul perasaan senang dalam hati ku dan masih tidak percaya bahwa sempat ada janin dalam rahimku.Namun sesekali muncul rasa sedih karena begitu cepat aku kehilangannya bahkan aku belum sempat merasakan kehadirannya di rahimku.Tapi semua yang terjadi memberiku secerca harapan dan coba memahami bahwa mungkin Tuhan ingin memberitahuku bahwa aku wanita yang bisa mengandung.Dan senyuman bahagia pun seketika muncul dari bibirku.


"Kau baik baik saja?"


Tanya David mengusap kepala ku.


"Heem...."


Jawabku tersenyum.


"Boleh aku tanya sesuatu padamu?"


Tanya David.


"Heemm..."


"Katakanlah..."


Jawabku.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?"


Tanya David.


"Aku baik baik saja,dan aku meras bahagia...."


Jawabku membuat David bingung.


"Bahagia....?"


Tanya David mengernyitkan dahi.


"Yaa...."


Jawabku mantap.


"Setelah semua yang terjadi..?"


Tanya David memastikan.


"Yaa ...."


jawabku lagi tersenyum menatap David untuk memastikan bahwa aku baik baik saja.


"Oh..."


"Okey...."


Jawab David terdengar lega.


"David ....."


Panggilku beberapa menit kemudian.


"Heemm...."


Jawab David fokus menyetir.

__ADS_1


"Apa kau tahu,apa yang menjadi alasanku baik baik saja?"


"Setelah semua yang terjadi?"


Tanyaku ingin memulai cerita.


"Apa?"


Tanya David menatapku sejenak.


"Karena kau telah membuatku menjadi seorang wanita yang sempurna tentunya dengan izin Allah...."


Kataku begitu bangga.


"Tapi anak kita.....?"


Tanya David tak sanggup melanjutkan kata katanya.


"Tak mengapa,mungkin belum rezeki kita.Tapi percayalah,lewat semua peristiwa kemarin setidaknya kita dapat pemberitahuan bahwa aku bisa mengandung,dan itu sudah lebih dari cukup untukku.Dan aku yakin yang di ambil akan di ganti kembali."


Jelasku begitu bijaksana.


"Wah....wah...."


"Kau benar benar wanita penceramah ya,setiap kalimat yang kau ucapkan terasa sejuk di hati..."


"Hehe....."


Sanjung David yang juga tak lupa untuk meledekku untuk mencairkan suasana


"Dasar duda sombong....."


Balasku tertawa seolah tidak menyia nyiakan kesempatan untuk membalas David.Dan kami berdua pun tertawa bersama sejenak melupakan kesedihan.


"Coba ceritakan padaku apa yang terjadi hingga kau bisa terjatuh dari tangga?"


Tanya David di sela sela tawa kami.


"Ehm...."


"Saat itu setelah aku mendengar bahwa Rima tidak ingin kembali bersama mu aku langsung mengakhiri panggilan telepon kita.Sehingga aku tidak tahu lagi apa cerita selanjutnya yang terjadi disana antara kalian.Aku hanya berharap apa yang ku dengar itu hanyalah salah,dan telingaku salah mendengar.Hingga beberapa jam kemudian aku mendengar suara mobilmu harapanku bahwa Rima akan pulang bersama mu lah yang membuat aku berlari begitu cepat menuruni anak tangga hingga akhirnya aku terjatuh."


Jawabku menceritakan kronologi kecelakaan yang ku alami di tangga.


Mendengar ceritaku seketika David menjadi sedih dan merasa bersalah.


"Naima...."


"Maafkan aku..."


Kata David merasa bersalah.


"Jadi benar dia tidak ingin kembali?"


Tanyaku memastikan.


"Hemm...."


Jawab David dan mengelus kepalaku yang di tutup hijab.


Melihat ekspresi sedih di wajah David aku pun berusaha menyembunyikan kesedihan di wajahku.


"Tidak mengapa...."


"Toh jika dia tidak ingin kembali dia bukan bersama orang lain,melainkan bersama ibu kandungnya sendiri."


"Mungkin selama ini dia sangat merindukan moment kebersamaan bersama Sahira."


"Jangan kawatir semua pasti baik baik saja."


Kataku terdengar begitu bijaksana sambil mengelus Elus lengan kiri David dan berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh di hadapan David.


Pikrku,cukup aku saja yang tahu betapa hatiku begitu sedih saat mendengar Rima tidak ingin kembali.Karena meskipun Rima tidak terlahir dari rahimku,tapi aku sangat mencintainya lebih dari segalanya.Namun aku harus bisa menyembunyikan sedihku karena ada yang lebih berhak akan Rima yaitu Sahira ibu kandungnya.


Ditambah lagi aku tidak ingin membebani David dengan rasa sedihku ini.Meskipun sekilas aku merasa seperti ada yang aneh dengan keputusan Rima yang tiba tiba tidak ingin kembali ke rumah.Bahkan aku sempat mendengar bahwa dia tidak merindukan siapa pun di rumah termasuk diriku.


Namun lagi lagi aku berusaha menepis rasa aneh itu hingga akhirnya David juga mengatakan hal yang sama seperti yang ku rasa.


"Tapi Naima...."


"Aku merasa seperti ada yang aneh dengan apa yang di putuskan Rima."


Kata David.


"Maksudnya?"


Tanyaku ingin lebih memastikan maksud dari apa yang di rasakan David.


"Ya....aku merasa apa yang di katakan Rima bukanlah keinginannya."


Jawab David mulai curiga.

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Jika Rima sedang dalam pengaruh Sahira?"


"Begitu...?"


Tanyaku.


"Dua puluh persen aku merasa seperti itu.Tapi delapan puluh persen aku merasa Rima seperti memikirkan sesuatu sehingga dia memutuskan memilih Sahira dari pada ikut bersamaku."


Jawab David menyampaikan asumsinya.


"Kenap kau berasumsi demikian?"


Tanyaku penasaran.


"Ya..."


"Karena Rima memutuskan untuk tinggal bersama Sahira setelah dia mengetahui dua pilihan yang di berikan Sahira untukku...."


Jawab David dan membuat aku langsung paham.


"Ow....begitu."


"Aku mengerti...."


Kataku tersenyum.


"Apa??"


Tanya David bingung.


"Hehe...."


"Kau ini bagaimana?"


"Seperti bukan ayah kandungnya Rima saja."


Kataku yang ternyata membuat David merasa tersinggung.


"Apa maksudmu?"


Tanya David emosi.


"Hei....tenang...."


Jawabku dengan senyuman yang membuat David semakin kesal.


"Bagaimana aku bisa tenang dengan pertanyaan mu yang meragukan ku."


Kata David yang merasa di sepelekan.


"Aku tidak bermaksud meragukanmu,tapi aku hanya sedikit heran saja.Jika benar kau ayah nya Rima bagaimana bisa kau tidak mengenali katakter putrimu sendiri seperti aku mengenal Rima."


Kataku dan membuat David semakin bingung.


"Maksudnya?"


Tanya David mengernyitkan dahinya.


"Maksudku,kau sendiri bilang Rima memutuskan tinggal bersama sahira setelah mendengar dua pilihan yang di ajukan sahira untuk mu.Dam aku tahu kedua pilihan itu sangat memberatkan mu.Dan untuk itulah Rima memilih tinggal bersama Sahira agar kau bisa kembali dan mencari jalan keluar untuk permasalahan ini selama dia bersama Sahira.Secara tidak langsung Rima ingin mengatakan "Pergilah ayah segera selesaikan proyek yang di inginkan ibu Sahira,urus segalanya agar jangan sampai dia menikmati keuntungan yang bukan haknya,dan berpikirlah ayah agar ayah bisa memenangkan kedua pilihan yang di tawarkan ibu Sahira,yaitu aku putrimu dan bisnismu serta kepentingan anak anak panti asuhan ayah."


Jawabku menjelaskan kepada David yang sudah paham maksud dari keputusan Rima yang mengejutkan.


"Benarkah....?"


Tanya David begitu bersemangat dan seketika menghentikan mobil yang hampir sampai memasuki kompleks perumahan.


"Ya...."


"Percayalah...."


Jawabku meyakinkan David.


"Kenapa kau begitu yakin seperti itu maksud Rima?"


Tanya David.


"Hehe...."


"Mungkin kau lupa."


"Ya...memang benar bukan aku ibu yang melahirkan Rima,tapi aku lah ibu yang mengikuti tumbuh kembang Rima hampir dua tahun ini.Jadi aku lebih tahu karakter putriku seperti apa di banding Sahira."


"Dan aku sangat yakin Rima memikirkan hal yamg sama seperti yang ku pikirkan,karena Rima adalah anak yang sangat cerdas,dia berbeda dengan anak anak lain seusianya."


Jawabku tersenyum dengan bangga menjelaskan karakter Rima sembari membayangkan wajahnya yang menggemaskan.Dan aku tak henti menyanjungnya.


"Ya....Rima memang sangat pintar sama seperti ibu Nai...."


Sambung David menyanjungku dan kembali menghidupkan mesin mobil dan melaju memasuki gerbang komplek perumahan.

__ADS_1


Dan aku benar benar tersanjung dengan pujian yang di lontar kan David untukku dengan menggunakan nama Rima.


Bersambung...


__ADS_2