Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 30


__ADS_3

Sudah satu jam ayah mertua dan asisten David pergi ke bandara untuk mencari informasi tentang korban kecelakaaan pesawat yang di siarkan di televisi,namun hingga kini belum juga ada kabar dari mereka.


Aku pun semakin resah namun harus coba tetap tenang agar aku tetap bisa menenangkan ibu mertua yang sudah panik sejak tadi.


"Ibu,sebaiknya ibu makan siang saja dulu nanti ibu sakit."


Kataku membujuk ibu mertua yang belum makan apa pun sejak dia cemas tentang David .


"Bagaimana ibu bisa makan Naima,jika belum ada kabar dari David."


"Oh...ya Tuhan lindungilah putraku ."


Ibu mertua pun mulai menangis karena rasa cemasnya.


"Kring...kring...."


Telepon rumah berdering.


Ibu mertua yang teng terduduk lemas sejak tadi sontak berdiri dan berlari ke meja tempat telepon berbunyi. dan berharap telepon itu kabar dari David.


"Halo....."


Kata ibu mertua.


"Halo...halo..."


Sapa ibu mertua berkali kali dari telepon tapi sepertinya belum di jawab oleh orang yang menelepon.Hingga akhirnya telpon terputus.


"Kring...kring..."


Telepon kembali berdering saat ibu mertua akan melangkah.Dengan cepat dia langsung mengangkat telpon dan memaki si penelepon.


"Hei ...kau yang ada di sana,siapa pun dirimu dan entah apa keperluan mu jika ingin bermain main tolong jangan menghubungi nomor telepon ini jika jika kau mengulanginya lagi maka aku akan melaporkan mu ke polisi ..!!"


Maki ibu mertua begitu geram...


"Ibu.....!"


Jawab si penelpon dari sana.


Sontak ibu mertua pun terdiam mengernyitkan dahinya seolah dia kenal dengan suara itu.


"Ibu ini aku..."


Sekali lagi panggil si penelpon.


"David,kau kah ini nak?"


Tanya ibu dengan ekpresi penuh harapan.


"Iya Bu,ini aku..."


Jawab si penelepon yang ternyata itu adalah David.


"Hoh....David apa kau baik baik saja nak?kai dimana sekarang...?"


Tanya ibu sambil menangis.


"Tenanglah ibu,kenapa ibu menangis?"


"Jangan berlebihan seperti itu,aku hanya pergi untuk beberapa hari di luar negri.."


Kata David menjelaskan keberadaanya.


"Apa jadi kau sudah kembali ke luar negri ?itu pun tanpa memberitahu orang orang yang ada di rumah ini termasuk istrimu?"


Kata ibu yang mengganti emosi tangisnya jadi amarah.

__ADS_1


"Ibu maafkan aku.."


"Aku dapat kabar mendadak tadi malam lewat email dari perusahaanku yang di luar negri.Dan aku langsung pesan tiket untuk penerbangan jam lima pagi.Ada masalah sedikit di sana dan aku harus menyelesaikannya mungkin dalam waktu tiga atau lima hari aku baru kembali.Tolong sampaikan kepada Rima agar dia jangan bersedih.Batre ponselku sedang habis.Aku janji akan menelponnya nanti malam."


Kata David menjelaskan kepada ibu mertua.


"Hem...baiklah nak,jaga dirimu dan makan lah tepat waktu."


Pesan ibu sebelum mengakhiri pembicaraan.


Telepon pun di tutup.Terlihat rasa tenang dan lega di wajah ibu setelah mendapat kabar dari David.


"Oh ya ampun Naima....kau tahu ibu sudah sangat lega sekali setelah David menelpon."


"Terimakasih ya Tuhan karena tidak me jadikan putraku salah satu dari korban kecelakaan pesawat itu."


Kata ibu mengucap syukur dan menceritakan siapa yang menelpon dan kabar apa yang dia dengar.


Dan aku hanya tersenyum kecil.Aku tidak mengerti dengan apa yang ku rasa.Sesaat rasa khawatirku hilang setelah tau bahwa ternyata David baik baik saja.Tapi entah kenapa aku berkecil hati karena aku tidak menjadi orang pertama yang di hubungi David tentang keberadaannya.


Ya ampun Naima....


Ada apa denganmu?


Kenapa kau merasa begitu sakit dan sangat peduli dengn David?


Sementara David tidak menganggap kau begitu penting baginya.


Tanyaku sendiri dalam hati mengalihkan kesedihanku.


"Baiklah ibu mertua kalau begitu sekarang ibu harus makan dan jangan lupa hubungi ayah untuk tidak mencari David lagi di bandara.Dan aku akan memberitahu ini kepada Rima."


Kataku sebelum aku naik ke kamar Rima.


"Ho...ya ampun,ibu smapai lupa memberitahu ayahmu."


"Baiiklah nak,ceritakan pada Rima agar dia tidak sedih."


Sepanjang menaiki anak tangga berbagai pertanyaan menguasai otak dan pikiranku.Mulai dari pertanyaan untuk diriku sendiri bahkan untuk David.


*Apakah perkataanku tadi malam begitu membuat David tersinggung hingga dia seacuh


ini denganku bahkan dia enggan berbicara padaku malah memberi kabar dengan ibunya.


Terus...


kenapa denganku?


Kenapa aku begitu merasa sakit sekali ketika David tidak menganggap ku ada.Dan aku orang yang berhak tau keberadaanya.


Akh...masa bodoh.Cukup rasa benci saja yang ada antar kami jangan ada perasaan yang lain...


Hufff*....


Bantahku dalam hati yang coba memungkiri apa yang sedang ku rasakan.


Dan aku pun bergegas ke kamar Rima untuk memberi tahunya bahwa David pergi ke luar negri untuk beberapa hari.


Sementara di tempat David (Luar negri)...


Malam pun tiba,hanya ada perbedaan waktu beberapa jam saja dari negara tempat David saat ini berada dengan waktu di tempat kami.


Setelah pulang dari bertemu klien penting David pun segera kembali ke hotel tempat dia menginap.Sudah terbiasa hidup dengan perdebatan di kamar bersama ku setiap kali dia pulang dari kantor,kali ini dia begitu merasa sunyi dan rasa kesepiannya mengingtakan dia untuk mengaktifkan kembali ponselnya setelah di isi daya penuh.


David pun menggelengkan kepala saat melihat begitu banyak notifikasi panggilan tak tersambung,email,dan beberapa pesan singkat.Setelah menyegarkan diri sambil bersantai David pun membuka semua notifikasi yang ada di ponselnya satu persatu.Hingga akhirnya muncul pesan dari nomor Naima.Tanpa banyak berpikir dia pun segera membuka pesan singkat dari nomor Naima dan dia tersenyum senyum membaca pesan dari nomor Naima yg sebenarnya di ketik Rima.


"Hehe...dasar wanita penceramah munafik."

__ADS_1


Kata David tersenyum dan melakukan panggilan ke nomor ku.


Aku yang sedang duduk termenung di sofa sontak tesadar karena ponselku berdering dengan notifikasi panggilan masuk.Ku lihat di layar ponsel "David memanggil"


"Haah...apa ini enggak salah?"


Aku terkejut dan segera mengambil ponselku tapi tidak mengangkatnya.


Aku yang masih berkecil hati Masi teringat cerita ibu bahwa malam ini dia akan menghubungi Rima.


"Sebaiknya biar Rima saja yang menjawab,karena pasti di hanya ingin berbicara dengan Rima saja."


Pikirku.Dan aku pun berlari segera ke kamar Rima tanpa mengangkat panggilan masuk itu yang sudah berdering berklai kali.


"Rima sayang.....,..."


"Telepon dari ayahmu..."


Teriakku memanggil Rima menuju kamarnya.


"Yeaay....ayah....!"


Sorak Rima girang dan mengambil ponselku kemudian mangangkat panggilan masuk dari David.Namun sebelum Rima menagatakan "halo" seperti biasa si duda sombong itu tanpa mendengarkan terlebih dahulu dia langsung ngomel ngomel tanpa alasan.


"Halo....!!"


"Hei wanita penceramah,selain punya kesibukan menceramahi orang lain apa lagi kesibukan mu sekarang,hingga begitu lama mengangkat teleponku."


Kata David ngomel dari sana karena panggilannya lama ku jawab.


"Halo ayah...."


"Kenapa ayah marah marah..."


Jawab Rima bingung.


"Ups...Rima sayang ternyata ini kau nak?"


"Maafkan ayah nak ayah pikir tadi yang menjawab telepon nya ibu Nai."


Jelas David meminta maaf.


"Lalu apa bedanya ayah?"


"Kenapa ayah selalu saja marah marah kepada ibu Nai?"


Tanya Rima menyampaikan protesnya.


"Bukan begitu sayang...ayah hanya .."


"Ayah cukup...!"


"Jangan lagi lagi ayah marah dengan ibu Nai.Apakah ayah tu ibu Nai sangat khawatir saat ayah tidak memberi kabar."


Kata Rima langsung memotong David yang coba ingin memberi alasan kenapa selalu marah denganku.


"Oya?"


"Benarkah?"


Tanya David tersenyum dari sana.


"Tentu saja ayah,ibu Nai merasa sedih saat ayah tidak ada...."


Tambah Rima lagi yang membuat aku salah tingkah,takut jika David percaya dengan apa yang dikatakan Rima.


"Rima....."

__ADS_1


Panggilku berbisik menyuruhnya agar tidak mengatakan hal seperti itu pada David.Dan akan ada salah paham lagi.


Bersambung.....


__ADS_2