
Setelah mbok Larseh selesai membalutkan perban di kaki ku,mereka semua pun menyarankan aku untuk beristirahat dan meninggalkan ku berdua saja dengan David di kamar karena sebelumnya ibu memintabdavid menemaniku saja dan si mba akan membawakan makan malam ke kamarku.
"Aku mau mandi dulu."
Kata David.
"Hem baiklah...jawabku.
"Ingat jangan lakukan apa pun ya g bisa membuat kakimu semakin sakit atau lakukanlah jika kau ingin tidak bisa berjalan seumur hidupmu."
Peringatan David untukku.
"Hemm....."
jawabku sambil mengangguk.
Rasa bosan pun datang selama menunggu David mandi,aku pun memutuskan untuk menonton televisi untuk menghilangkan jenuh.Tapi remot tv berada di meja sofa yang berada cukup jauh dariku membuatku sulit menjangkau nya hanya dengan tangan dengan posisi ku berbaring di tempat tidur.
Hufff....baru beberapa jam aku seperti ini sudah menghalangiku untuk melakukan apa pun,bagaimana jika selama dua Minggu.
Keluhku dalam hati karena kesal.Dan akhirnya ku putuskan untuk coba turun dari tempat tidur menuju sofa untuk mengambil remote tv.Namun masih kaki kanan yang turun dan coba perlahan menurun kan kaki yang sedang di balut perban,David sudah keluar dari kamar mandi dan berteriak untuk mencegah ku agar tidak turun dari tempat tidur.
"Hei ..hei ...kau sedang apa?"
Teriak David sambil berlari mendekatiku yang mencoba bangkit dan berjalan menuju sofa.
"Haah....,ehm...!"
Aku dia tak berkutik saat David sudah tolak pinggang dan berdiri di hadapanku.
"Apa kau tidak dengar apa yang ku katakan jangan coba coba bergerak apa lagi berjalan sendiri.Apa kau ingin kakimu tambah sakit ya?"
"O....mungkin kau sengaja berjalan sendiri,agar kakimu tidak cepat sembuh dan kau akan selalu bergantung padaku,iya?"
Pertanyaan David bertubi tubi tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab.
Ciih...siapa juga yang mau bergantung padamu,dasar duda gila.
Gumamku dalam hati.
"Aku...cuma ingin mengambil remote tv untuk menyalakan tv karena aku merasa bosan tidak dapat melakukan apa pun hanya duduk di atas tempat tidur saja."
Jawabku memberikan alasan.
Dengan hanya mengenakan handuk David coba membungkuk untuk menaikan kembali kedua kaki ku ke tempat tidur sambil mengomel.
"Hemm...kau ini,tidak bisakah kau bersabar menunggu ku sebentar hingga selesai mandi.Atau kau bis teriak kan memanggilku."
Kata David,sambil menaikan ke dua kaki dengan lembut.
"Sebentar biar ku ambilkan remote nya."
Sambung David lagi yang kemudian berdiri dari posisi membungkuk nya.Namun tanpa sengaja handuknya terlepas begitu saja hingga membuat tubuh David yang kekar terlihat secara keseluruhan tanpa sehelai benang.
"Aaaaaaaa......."
Teriak ku refleks karena terkejut melihat David dalam keadaan telanjang tanpa mengenakan apa pun tepat di depanku dan aku langsung memalingkan wajahku.Sontak teriakan ku membuat David juga terkejut dan refleks langsung menutup daerah intimnya dengan kedua tangannya dan dia pun langsung kembali membungkuk untuk mengambil handuknya.
"Ya ampun...wanita ini."
__ADS_1
"Hei...kenapa kau selalu berteriak."
Kata David sambil memakai kembali handuknya dan coba menyembunyikan senyum malu di wajahnya dengan nada suara tinggi seolah dia biasa saja dengan apa yang terjadi.
"Aku malu...."
Kataku begitu polosnya dengan wajah yang masih dipalingkan.
"Harusnya aku yang mengatakan itu,karena tubuh polosku ini sudah kau lihat begitu saja dan gratis pula. dasar wanita aneh."
Balas David yang mengambil remote tv dan memberikannya padaku.
"Tapi aku kan belum pernah melihat hal itu sebelumnya."
Kataku lagi dengan begitu lugu dan mengulurkan tanganku untuk mengambil remote tv yang di berikan David tanpa melihat ke arahnya.
"Ya...anggap saja itu pengalaman pertama mu."
Kata David begitu entengnya dan tersenyum sinis.
Itu namanya bukan pengalaman pertama duda gila,tapi lebih tepatnya kesialan.
Jawabku dalam hati dengan wajah masih berpaling.
"Lalu kenapa kau masih memalingkan wajahmu dari ku,aku sudah memakai handuk tidak perlu berlebihan,atau kau ingin aku membuka handukku lagi"
Protes David dan menggertakku.
"David...itu tidak lucu"
Kataku tegas.
David tertawa mengejek keluguanku sambil mengambil pakaian.
"Hei wanita penceramah..!"
Panggil David.
"Apa lagi..."
Jawabku kesal.
"Jangan coba coba menurunkan kaki mu lagi untuk mencoba berjalan,atau akan ku patahkan kaki mu agar tidak bisa berjalan selamanya."
Ancam David sebelum masuk kembali ke kamar mandi untuk memakai pakainnya.
Selang beberapa menit si mbak pun datang ke kamar mengantarkan makan malam,dan tak lama David pun keluar dari kamar mandi.
"Nona Naima,ini makan malam anda."
"Apakah anda memerlukan sesuatu lagi ?"
Tanya si mbak.
"Tidak ada mbak,terimakasih."
Kataku,dan si mbak pun berlalu meninggalkan ku.
"Oh makan malam mu sudah datang."
__ADS_1
Kata David keluar dari kamar mandi mengenakan kaos lengan pendek dan celana pendek tepat nya baju santai yang biasa dia kenakan sehari hari jika di rumah.
"Ayo di makan."
Kata David mempersilahkan ku makan makanan yang di letakkan si mbak di meja sofa.Dan David mulai sibuk dengan laptopnya dan pekerjaannya.
Sementara itu aku dalam dilema antara takut dengan ancaman David yang tidak memperbolehkan ku bergerak apalagi berjalan dan merasa tidak enak jika aku memintanya untuk membawakan makan nan itu dekat dengan ku.Akhirnya aku hanya terdiam saja dan memilih menonton tv.
Beberapa menit kemudian David pun tersadar dan melihat makan malam ku masih berada di meja.Setelah melihat aku dan kemudian ke arah meja sofa David pun paham bahwa aku tidak mungkin bisa makan jika makanan itu di letakkan jauh dari ku.Dia pun berinisiatif membawa makanan itu dekat denganku dan menarik satu bangku kecil dan duduk di sampingku memangku nampan yang di gunakan untuk sajian makan malam ku.
"Buka mulutmu!"
Perintah David menyuapkan makanan ke mulutku.Tanpa protes aku pun membuka mulutku dan tanpa kata meskipun itu ejekan dan hinaan seperti biasanya yang di lontarkan David padaku,kali ini dia begitu sabar menyuapi ku hingga selesai dan makanan itu habis.
Tumben duda gila ini tidak mengatakan apa pun.Terimakasih sudah merawatku dengan baik
Kataku yang hanya terucap dalam hati sambil curi curi menatap David yang fokus menyuapiku.
"Allhamdulillah..."
Kata David di suapan terakhir.
"Wah..wah...biarpun sakit ternyata selera makan mu kuat juga ya.Pantas kau sangat berat ternyata makan mu sangat banyak."
"Haha...."
Ejekan yang akhirnya terlontar juga dari mulut David yang tajam itu.
Sialan,baru saja aku mengaguminya.
Eh...ternyata mulutnya yang tajam itu sudah mulai lagi.Dasar duda gila.
Aku kembali memakinya dalam hati.seoalh menarik ucapan terimakasihku tadi.
"David..."
Panggilku saat David menuangkan air minum untukku.
"Hemmm..."
Jawab David.
"Kau belum ada makan sejak tadi.pergilah turun kebawah untuk makan malam.Aku janji aku tidak akan bergerak sedikitpun sampai kau kembali setelah makan."
Kataku tanpa sadar telah memberinya perhatian.
"Kau yakin...?"
Tanya David yang memastikan aku akan baik baik saja jika di tinggal di kamar sendirian.
"Ya tentu."
Jawabku.
"Baiklah,aku akan turun sebentar untuk makan dan aku akan meminta Rima ke sini untuk menemani dan mengawasimu."
Kata David yang tidak ingin aku sendirian sekaligus juga tidak bisa mempercayaiku kalau aku tidak akan coba untuk turun dari tempat tidur.
Bersambung.....
__ADS_1