Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 99....


__ADS_3

Rima tampak begitu riang bersenda gurau dengan David,bahkan terkadang David kewalahan dengan beberapa celotehan Rima yang terdengar menggelitik telinga di tambah lagi pertanyaan nya yang terkadang tidak masuk akal.Seperti satu pertanyaan yang membuat aku juga terkejut mendengarkan nya sambil memakai hijabku.


"Ayah...?"


Panggil Rima.


"Hemm...."


Jawab David tetap melayani pertanyaan putrinya meskipun matanya fokus ke laptop.


"Coba jawab,antara ibu Nai dan ibu Sahira siapa yang lebih dulu bertemu dengan ayah?"


Tanya Rima masih terdengar biasa.


"Ibu Sahira...."


Jawab David yang juga terdengar masih biasa.


"Huff ayah,kenap dulu ayah tidak bertemu ibu Naima lebih dulu saja?"


Protes Rima.


"Maksudnya?"


Tanya David bingung,begitu juga dengan aku sebagai pendengar.


"Iya,andai dulu ayah bertemu ibu Naima lebih dulu lalu menikah kemudian melahirkan ku,pasti aku tidak akan pernah merasakan sedihnya di tinggalkan oleh kedua orang tua saat aku kecil."


Jawab Rima terdengar begitu miris,yang mengisyaratkan bahwa sebenarnya dia mulai mengerti apa alasan yang terjadi dalam kenangan nya selama lima tahun silam.


"Maaf kan ayah sayang...."


Ucap David langsung memeluk Rima dan tak kuasa menahan air mata penyesalan karena dia juga termasuk orang tua yang mentelantarkan Rima karena takut menerima kenyataan akibat hasutan Arya selingkuhan Sahira,meskipun dia menghidupi Rima dengan limpahan materi tapi penyesalan selalu mengikuti dirinya karena tdiak pernah memberikan kasih sayang yang Rima butuhkan dari dia bayi hingga lima tahun.


Aku yang begitu mencintai Rima juga turut merasakan kesedihan mendengar ucapan Rima yang sebenarnya itu adalah keluhan yang di balut dalam pertanyaan.


Tak ingin mereka larut dalam kesedihan,selesai mengenakan hijabku aku pun menghampiri mereka seolah untuk mencairkan suasana.


"Hei.....kenapa sudah ada drama sepagi ini?"


"Dan David,cepatlah bersiap nanti kau terlambat ke kantor...."


Kataku seolah tidak menyimak percakapan mereka.


"Iya,cepat lah ayah..."


"Ini hari pertamaku sekolah dan aku tidak ingin terlambat."


Kata rima melepaskan pelukannya.


"Haha...."


"Iya ..iya ..,baiklah tuan putri."


"Kalian turun lah lebih dulu ayah akan segera menyusul...."


Kata David mengalihkan rasa sedihnya dengan tertawa.


"Ayah...."


"Lima belas menit...."


Kata Rima memberi peringatan.


"Siap tuan putri.....!"


Jawab David bak tentara kerajaan yang patuh dengan perintah tuan putrinya.


Dengan dengan menggandeng tangan ku,kami pun turun ke ruang makan.


Tampak Sahira sudah berada di meja makan lebih dulu.


"Selamat pagi ibu Sahira...."


Sapa Rima sambil menuruni anak tangga terakhir.


"Rima kau dari mana saja sayang,bukan kah ibu menyuruhmu langsung turun ke ruang makan untuk sarapan."


Tanya Sahira kesal.

__ADS_1


"Aku dari kamar ayah dan ibu Nai .."


Jawab Rima.


"Bukan kah ibu menyuruhmu langsung ke ruang makan?"


"Kenapa menjadi anak yang tidak patuh?"


"Ini kah yang di ajarkan ibu Nai kepadamu?"


Tanya Sahira dengan nada suara meninggi terdengar.


"Maaf ibu Sahira...."


Rima menundukkan kepala nya merasa sedih karena selama ini tidak ada yang pernah berbicara dengan nada tinggi seperti itu padanya.


"Sahira..."


"Aku rasa kau terlalu berlebihan?"


Kataku coba menegur Sahira.


"Naima,tolong jangan ikut campur dia anak ku aku ingin mengajarkan kedisiplinan padanya agar dia menjadi orang sukses nantinya."


Bantah Sahira.


"Tapi kau juga harus tahu,aku adalah ibu yang sejak dulu merawatnya aku lebih tau apa yang menjadi kebutuhan nya."


"Dan kau juga harus tahu,jika kau ingin mendisiplin kan putri mu,kau juga harus lihat waktu yang tepat untuk hal hal yang memang harus dia patuhi."


Ujarku dengan tegas.


"Apa maksudmu?"


Tanya Sahira kembali meninggikan suaranya.


"Tolong kendalikan dirimu..."


"Sebelum kau mengajarkan Rima untuk menjadi anak yang disiplin,terlebih dahulu kau harus belajar untuk mendisiplinkan emosi mu."


"Belajarlah bersikap tenang untuk menjadi ibu yang baik."


"Kau tidak perlu mengajariku..."


"Aku yang lebih tahu mana yang terbaik untuk putriku."


Balas Sahira.


"Maaf Sahira,aku tidak bermaksud mengajarimu tapi aku berusaha menjelaskan padamu jika disiplin juga ada waktunya."


"Memang benar kau memerintahkan Rima agar langsung turun ke ruang makan.Tapi tahu kah kau jam berapa tadi?"


Tanyaku coba menjelaskan apa itu disiplin pada Sahira.


"Yang aku tahu Rima sudah selesai berkemas dan labih baik untuk segera turun sarapan."


Jawab Sahira ketus tak mau kalah.


"Jam enam pagi adalah waktu yang masih sangat pagi sekali untuk nya sarapan,dan sepagi itu bahkan si Mbak pun belum selesai menyiapkan sarapan karena semua orang di rumah ini sarapan tepat jam enam tiga puluh."


"Dan itu sudah peraturan di rumah ini,bukan kah disiplin artinya harus mengikuti peraturan yang sudah berlaku dan berjalan sebelumnya?"


Tanyaku kembali sekaligus menjelaskan pada Sahira.


Dan seperti skak mat,Sahira terdiam dan tidak memberi argument apa pun lagi meskipun raut wajahnya penuh dengan ekspresi kesal.


"Habiskan sarapan mu sayang...."


Kataku mendekati Rima dan menyodorkan nya dua keping roti dengan selai coklat kesukaannya yang ku buat sembari beradu argumen dengan Sahira.


"Tetimakasih ibu Nai,sudah membelaku dari amarah ibu Sahira."


Bisik Rima di telingaku.


"Sama sama sayang,itu sudah menjadi tugas ibu..."


Jawabku dan membelai rambutnya.


"Selamat pagi....."

__ADS_1


Sapa Ayah dan ibu mertua baru kuat dari kamar mereka.


"Selamat pagi kakek..."


"Selamat pagi nenek...."


Jawab Rima....


"Wow....sayang kau sudah sarapan?"


"Jangan lupa habiskan susu mu ya tuan putri...."


Kata ayah mertua yang selalu memperlakukan Rima bak tuan putri.


"Baiklah kakek....."


Jawab Rima dan meneguk susu coklat kocok kesukaannya.


Tak lama David pun turun.


"Selamat pagi...."


Sapa David menuruni anak tangga namun enggan menuju ruang makan.


"Rima sayang cepat selesaikan sarapan mu ayah tunggu kalian di mobil."


Kata David.


"Kau tidak sarapan dulu David?"


Tanya ibu mertua.


"Tidak Bu,aku ada meeting pagi ini bersama klien ku."


Jawab David memberi alasan yang sebenarnya dia malas melihat wajah Sahira.


"Hem...baiklah."


Kata ibu mertua yang juga mengerti alasan David.


"Rima sayang,pergi lah ke mobil lebih dulu ibu akan siap kan roti ini untuk ayah mu."


Titahku pada Rima.


"Baiklah ibu Nai..."


Jawab Rima berdiri dari kursinya dan memakai tasnya.


"Rima sayang..."


"Ibu juga ikut mengantarmu ya dan akan menunggu mu sampai jam belajar selesai setelah itu kita pergi shopping.Kau setuju?"


Kata Sahira menawarkan diri.


"Ehm...maaf Sahira,tapi di sekolah kami orang tua murid tidak di benarkan berada di lingkungan sekolah selama jam belajar berlangsung."


Kataku menolak penawaran Sahira.


"Rima ayo salam ibu Sahira dan segera lah ke mobil."


Titahku mengajarkan Rima agar tetap santun kepada orang tua.


"Assalamualaikum ibu Sahira...."


Rima mencium tangan Sahira untuk berpamitan.


"Sauamiku segera selesaikan sarapan mu sama seperti David aku juga enggan berlama lama satu meja makan dengan manusia yang sudah putus urat malunya."


Ajak ibu mertua pada ayah sekaligus memberi sindiran pada Sahira yang hanya diam menikmati sarapannya.


"Ayah ibu...kami berangkat"


Pamitku pada ayah dan ibu mertua menyusul Rima setelah selesai membuatkan roti untuk David.


"Baiklah sayang...hati hati."


Jawab ayah dan ibu mertua.


Aku pun berlalu dari hadapan mereka.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2