Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 7


__ADS_3

Matahari telah siap berganti tugas dengan rembulan.Dengan memberikan sinarnya yang cerah untuk pagi yang masih membuatku tidur dalam balutan mimpi.


Dalam mimpi itu aku melihat Rima berdiri di hadapanku dengan menggendong kucing kesayangannya,Dia terlihat begitu sedih dan selalu berulang ulang mengatakan kalimat yang sama.


"Bibi Naima,tolonglah aku....bibi Naima tolonglah aku....bibi Naima tolonglah aku..."


Dan semakin lama dia terihat semakin menjauh dan menghilang dalam kegelapan.


"Rima ..Rima sayang...."


Panggilku.


"Rima......"


Aku berteriak memanggilnya dan teriakan ku sekaligus membuatku terjaga dengan keringat dingin yang mengguyur seluruh tubuhku membuat aku tersadar bahwa itu hanyalah mimpi.


“Huff…syukurlah cuma mimpi.”


Pikirku merasa lega.Dan akupun bergegas untuk bersiap siap untuk berangkat ke sekolah.Dan seperti biasanya setiap pagi aku keluar rumah orang yang pertama kali ku lihat pasti adalah Rima yang sedang bermain di taman dengan kucing putih yang sudah ia tetapkan menjadi sahabat kami juga.


“Hai rima saying…selamat pagi.”


Sapaku sambil meghampirinya.


“Selamat pagi bibi Naima sahabatku.”


Jawab Rima membalas sapaanku.


“Coba katakana padaku ,sedang apa kau dengan sahabat kita yang mungil ini?”


Tanyaku mencubit hidung Rima gemas.


“Bibi Naima,harusnya kau memberikan aku satu ciuman sebagai ucapan selamat pagi,bukan menarik hidungku,nanti bias bertamabah panjang seperti pinokio.”


Kata Rima begitu menggemaskan .


“Oh ya?”


“Oh berarti satu ciuman untuk ucapan selamat pagi untuk sahabatku yang cantik ini,begitu?”


Tanyaku semakin gemas dan memeluknya.


“Hehe…ya benar”


Kata Rima tertawa.


“Ehem baiklah,kalau begitu mulai hari ini sebagai ucapan selamat pagi maka salah satu dari kita akan memberi ciuman yang paling manis,setuju…?”


Kataku.


“Setuju…”


Kata rima sambil memelukku begitu erat,dan entah mengapa aku seolah merasa seperti ada ikatan yang begitu kuat antara kami berdua setiap kali aku memeluknya.


“Rima,kau disini rupanya,nenek mencarimu sejak tadi nak.”

__ADS_1


David dating menghampiri kami yang ternyata seak tadi sudah meperhatikan kami dari depan pintu sat kami sedang asyik mengobrol dan bercanda tawa.Perkataannya yang santun pagi ini membuat aku dan Rima tercengang dan saling memandang.


“Mau sampai kapan kalian saling menatap,apa kalian tidak dengar yang ku katakana tadi?”


Perkataannya kembali membuatku kesal.


“Dasar pria gila,untung saja hatiku ini tidak jadi memujinya,Ikh…dasar manusia kasar!!”


Aku menggerutu dalam hati.


“Rima sayang pergilah temui nenekmu,sampai jumpa di sekolah nanti.Oke…”


Kataku dan aku pun bergegas pergi juga kembali kerumah.


“Tunggu….”


Kata David seketika menghentikan langkahku.


“Ada apa?”


Jawabku tanpa menoleh ke arahnya.


“Ada hal penting yang ingin ku katakan padamu,bisakah kita bertemu sore ini di coffe shop yang ada di dekat taman kompleks ini?”


Tanya David tanpa basa basi.


“Hem,baiklah jam lima sore."


Jawabku dan aku pun pergi meninggalkannya sendirian begitu saja.


Entah kenapa waktu terasa berputar begitu cepat,dan akhirnya tiba di pukul lima sore yang membuatku harus datang ke coffe shop untuk menemui David yang ternyata sudah tiba lebih dulu dari aku.


Aku menggerutu dalam hati sambil berjalan menuju meja tempat David duduk menungguku.


"Maaf jika aku terlambat."


Kataku berbasa basi.


"Baca ini..."


Katanya menyodorkan lembaran lembaran kertas yang sudah di tandatanganinya di atas materai.


"Apa ini?"


Tanyaku Bingung.


"Kau adalah seorang guru bukan?kau pasti tahu jika kau ingin mengetahui isi dari segala sesuatu yang tertulis kau harus membacanya."


Jawab David begitu ketus.


"Ya kau benar,kau juga bisa baca bukan dan kau sudah menandatangi kertas kertas ini itu berarti kau sudah tau apa isi kertas kertas ini.Karena jika kau orang yang pintar kau tidak akan menandatangi kertas apa pun tanpa kau tau apa isi kertas tersebut."


Kataku membalas perkataan David yang begitu sakit terdengar di telingaku.Dan dia pun memandangku dengan sinis seoalah aku saingan dalam dunia bisnisnya.


Bahkan matanya tidak berkedip sekalipun saat dia menarik kembali kertas kertas yang di sodorkannya padaku.

__ADS_1


"Kertas ini berisi perjanjian pra nikah yang harus kita sepakati setelah menikah nanti."


Jelas David begitu percaya diri tanpa bertanya apakah aku mau menikah dengannya atau tidak.Dan bodohnya aku hanya diam menatapnya kesal hanya bisa menggerutu dalam hati jika aku menolaknya.


PD gillak ini orang memang siapa yang mau nikah sama dirimu.


Protesku dalam hati.


"Halo..,kau bisu atau tuli?"


David memetikan jarinya di depan wajahku yang hanya terdiam saat dia membacakan isi perjanjian itu bahkan aku pun tidak tau apa yang sudah dia bacakan karena aku sibuk mengutuknya dalam hatiku.


"Satu hal yang harus kau tahu,aku menyetujui pernikahan ini hanya karena Rima,persetan mdengan perjanjian pra nikah ini.Karena setelah menikah kewajiban ku hanyalah sebatas mengurus Rima tidak lebih.Dan kau tidak berhak menuntut apa pun padaku sebagai seorang istri.Ku harap kau paham itu.Dan perjanjian ini,aku tidak peduli dengan ini.Tapi jika kau memang membutuhkan ini ,maka baiklah aku akan menandatanganinya."


"Ku harap kau mengerti dengan apa yang ku sampaikan ini dan cam kan ini baik baik."


Jelasku dengan tegas setelah menandatangani kertas kertas perjanjian itu.Dan karena merasa muak melihat tingkah David,aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu secepatnya.


Dan tiba tiba....


"Haloo nyonya,jangan terlalu percaya diri..."


Lagi lagi kalimat yang keluar dari mulutnya membuat aku menghentikan langkahku.Merasa geram aku pun menoleh ke belakang.


"Kau pikir aku tertarik dengan perjodohan ini?"


"Semua ini ku lakukan hanya demi rima !"


"Ingat itu baik baik dalam ingatanmu."


Balas David untuk penjelasan yang ku katakan.Seolah tidak mau menjadi seorang pecundang yang di tinggalkan saat melakukan kesepakatan,Dia langsung bergegas berdiri dari duduknya merapikan jas nya dan dan berlalu dari hadapanku pergi meninggalkan aku lebih dahulu.


"Dasar manusia angkuh..."


aku menggerutu.


"Kau mengatakan sesuatu?"


Tanya David seolah mendengar hinaanku.


"Apa?"


"A...a..ku"


"Ehm untuk apa aku mengatakan sesuatu padamu,aku rasa semua yang ku katakan tadi susah lebih dari cukup."


Jawabku coba mengalihkan pembicaraan.


"Hem...baguslah kalau begitu."


"Oh ya satu hal lagi jangan coba coba menggerutu di belakangku,bahkan apa yang ada di dalam hatimu pun aku dapat mendengarnya."


Kata David dan berlalu pergi dari hadapanku.


*Hem aku rasa dia tidak cocok menjadi anak bapak dan ibu Wijaya.Keahlian yang dia katakan barisan aku rasa dia lebih cocok jadi anak dukun atau paranormal.

__ADS_1


Kataku membuli dia hanya di dalam hatiku.


hehe*...


__ADS_2