
Karena Arga setuju,team produksi dan marketing pun setuju akhirnya jadwal meeting pun di majukan jadi lebih awal dari jam lima sore.Meskipun ada beberapa orang yang terlambat karena faktor jadwal meeting yang lebih awal dari scedhule tapi meeting tetap berjalan lancar.Namun hingga hampir pukul lima sore saat meeting hampir selesai masalah pun muncul yang sepertinya di sengaja oleh Arga.
Ada sedikit perdebatan antara team produksi kami dengan team marketing Arga yang sebenarnya bukan lah masalah yang besar namun dari pihak Arga nya terlalu membesar besarkan.Jarum jam yang terus bergerak menuju ke angka lima membuat aku tidak bisa fokus dalam perdebatan mereka apalagi mencari solusinya.Dan ternyata Arga tengah memperhatikan hal itu yang terlihat dari ekspresi wajahku.
"Kau baik baik saja?"
Tanya Arga mendekatiku.
"Hem ya..."
Jawabku merasa tidak nyaman.
"Kau terlihat gelisah,minum lah."
Kata Arga menawarkan segelas air padaku.
"Arga,bolehkah aku izin meninggalkan meeting ini?karena aku harus ke bandara menjemput putriku hari ini baru pulang dari liburannya di luar negeri."
Tanyaku dan mengambil gelas air putih yang di tawarkan Arga.
"Tapi Naima,meeting kita belum selesai dan malah ada terjadi perdebatan tentang menetapkan harga pokok dan harga jual yang akan kita produksi."
Jawab Arga memberikan alasan agar aku tidak pergi.
"Arga please....waktunya sudah sangat mepet."
Kata ku mengatupkan kedua tangan ku coba membuat Arga mengerti.
"Naima,bagaimana bisa kau menjadi wanita yang tidak bertanggung jawab seperti ini.Harusnya sebagai pemimpin proyek ini kau memberikan solusi dalam perdebatan ini bukan pergi begitu saja meninggalkan meeting karena urusan pribadi."
"Aku heran kenapa David bisa memilih orang yang tidak profesional untuk proyek besar dan penting ini."
Kata Arga dengan kalimat yang memberi tekanan pdaku.Sontak telingaku pun meradang saat mendengarnya.
"Jangan bawa bawa David dalam keputusan ini."
Kata ku menatap Arga dengan kemarahan.
"Apa katamu tadi?"
"Aku tidak profesional?"
__ADS_1
"Ya...benar aku memang tidak profesional jika menyangkut masalah anak."
"Lagi pula tidak ada gunanya berbicara soal anak dengan mu,karena kau bukan lah pria yang bisa memberikan seorang anak bukan?"
Kataku memaki Arga.
"Itu tidak ada bedanya juga dengan mu bukan?"
Jawab Arga memancing emosi ku.
"Ya..kau memang benar aku juga wanita yang tidak bisa memberikan keturunan,tapi setidaknya aku jauh lebih beruntung dari dirimu karena aku tetap bisa menjadi seorag ibu meskipun tidak terlahir dari rahimku."
kataku kesal,hingga kami berdebat dalam perdebatan.
"Dan apa katamu tadi?"
"Aku tidak profesional?"
"Perhatikan baik baik akan ku tunjuk kan padu bagaimana sikap profesional pemimpin itu."
Sambungku kembali.
Teriak ku sehingga menghentikan suara ricuh dalam perdebatan itu.Dan semua mata tertuju padaku dengan wajah terperangah.
"Dengar kan aku baik baik..."
"Hubungan kerja sama ini di jalin agar masing masing kedua belah pihak sama sama mendapat keuntungan bukan untuk menimbulkan perdebatan.Aku mau team produksi menghitung kembali biaya produksi dengan benar sesuai bahan kwalitas dari bahan baku yang di gunakan,dan aku mau team marketing mensurvei kembali pasar agar dapat menentukan harga jual dan buat perbandingannya dengan bahan baku dari produk yang di hasilkan."
"Aku beri waktu dua hari dan laporannya akan Kita presentasikan bersama pak David di kantornya."
"Tidak ada lagi kritik dan komentar meeting selesai,selamat siang."
Bagaikan singa betina yang mengeluarkan taring seketika apa yang ku sampaikan berhasil membuat perdebatan terhenti dan tidak ada yang berani bersuara satu orang pun termasuk Arga hingga aku keluar dari ruangan meeting.
Aku pun bergegas melajukan mobilku menuju bandara untuk menjemput Rima beserta kakek dan neneknya.Sepanjang perjalanan aku senyum senyum sendiri mengingat kejadian di ruang meeting tadi.Bahkan aku sendiri pun tidak percaya jika aku bisa setegas itu berbicara di depan umum.
Hemmmm,kira kira bagaimana ya ekpresi si tuan duda jika melihat ku tadi?
Pasti dia juga diam dan ternganga memandangku tak berkutik seperti Arga tadi.
Hehe....
__ADS_1
Pikirku dalam hati tersenyum seraya memuji diri sendiri.
Tak lama mobilku pun tiba di bandara,setelah parkir di tempat yang tepat aku pun bergegas menuju pintu kedatangan.Sepertinya aku datang di waktu yang tepat,tampak dari kaca ayah dan ibu mertua sedang menyusun barang barang bawaan mereka di trolly dan memeriksanya kembali.Aku pun melambaikan tangan saat ibu mertua melihatku dan aku segera menghampirinya.
"Assalamualaikum bu..."
Sapaku memeluk ibu mertua dan ayah dengan senyum sumringah.
Namun tidak dengan senyum mereka,aku rasa ada yang aneh,tapi aku tidak begitu menghiraukannya karena aku pikir mungkin mereka lelah karena penerbangan yang cukup lama hingga tujuh jam.
"Bagaimana perjalanan kalian?"
"Apakah semua lancar?"
Tanyaku dengan mata yang liar mencari Rima yang belum kulihat sejak tadi.
"Ya sayang,semua baik dan lancar."
Jawab ibu mertua sedikit gagu.
"Ada apa ini mertua?"
"Kau baik baik saja?"
"Oh ya dimana si cerewet Rima?"
"Aku tidak melihatnya sejak tadi?"
Tanyaku sambil melihat di semua tempat dan toko ,pikirku mungkin Rima sedang membeli sesuatu.
"Ehm...."
"Rima ada di....."
Seketika ibu mertua berhenti tidak melanjutkan kalimatnya saat mata kami sama sama melihat Rima keluar dari toko ice cream bersama sorang wanita dengan pakaian yang seksy dan elegan menuntun tangan Rima yang satunya lagi.
Entah kenapa aku begitu terkejut dan deg degan merasa seperti aku akan kehilangan sesuatu,padahal aku pun tidak mengenal wanita tersebut.
Sementara ayah dan ibu mertua hanya terdiam tidak menjelaskan apa pun padaku.
Bersambung....
__ADS_1