
Setelah David berlalu hingga tak terlihat dari pandangan mataku,aku pun bergegas mengerjakan pekerjaan rumah,yang biasa di lakukan si mbak setiap harinya.Mulai dari bersih bersih rumah, hingga menyiram tanaman semua ku lakukan.
Begitu asik dengan pekerjaan rumah,hingga tak terasa waktu telah berlalu begitu cepat.Selesai mengerjakan semuanya aku pun merebahkan tubuhku sejenak di sofa ruang tamu.Kulihat jam menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh pagi.
"Allhamdulullillah....."
"Selesai juga akhirnya...."
Kataku mengucap syukur sambil merebahkan tubuhku untuk menghilangkan rasa lelah.Sambil mengumpulkan tenaga kembali aku pun bermain ponsel hingga akhirnya rasa lelah membuat aku tertidur di sofa dalam waktu yang cukup lama hingga ponselku yang berdering membuat aku terbangun.
Aku tersentak dan langsung meraba di sekitar sofa mencari ponselku yang ternyata ada di atas perut ku.Ku lihat beberapa panggilan tak terjawab sejak setengah jam yang lalu dari David.
"ouch...."
"Astaga satu jam lebih aku tertidur,pasti si duda sombong khawatir karena teleponnya tidak ku angkat."
Kataku begitu panik setelah melihat jam ternyata menyisakan tiga puluh menit lagi waktunya jam makan siang,dan artinya supir sedang dalam perjalanan untuk menjemputku.
"Ting tong....."
Terdengar suara bel berbunyi saat aku akan bergegas naik ke kamar untuk mandi dan bersiap.Namun dengan berat langkah terpaksa aku harus menuju pintu depan terlebih dahulu untuk melihat siapa yang datang.Jika itu supir dari kantor yang di kirim David maka aku akan memintanya untuk menunggu ku sebentar agar bersiap.Pikir ku.
Aku pun bergegas membukakan pintu yang bel nya tidak berhenti di bunyikan.
"Iya...iya sebentar....!"
"Huuh....kenapa tidak sabar sekali sih pak supir ini,sama seperti majikannya."
Kataku nyinyir sambil membuka pintu.
"Kau.....!!"
Panggil kami (David dan aku ) bersaamaan dengan terkejut begitu pintu ku buka.
"Kenapa kau yang datang?"
"Bukannya supir?"
Tanyaku.
Namun David hanya diam dengan tatapan yang tajam melihatku,sampai dia masuk ke kamar pun dia tetap diam.Seperti orang yang sedang mogok bicara.
"David..."
Panggilku saat David tetap diam tidak menjawab setiap pertanyaan ku.
"Hei....ada apa dengan mu?"
"Kenapa kau hanya diam?"
"David..."
Panggilku terus mengikuti David kemana pun dia bergerak.
"Apa kau marah karena aku tidak menjawab telepon mu?"
Tanyaku memegang bahu David merasa bersalah.
"Apa kau tahi bagaiman paniknya aku memikirkan mu sendirian di rumah jika kau tidak menjawab teleponku?"
Jawab David meluapkan rasa paniknya.
Yang masih tetap membelakangiku.
Ya ampun tuan duda ...
Enggak usah lebay deh..
Masa langsung panik sampai ngambek gitu cuma karena telepon gak di jawab.
Huff.....harus kerja keras nih membujuknya.
Ehm....kira kira apa ya.....?"
Pikirku dalam hati.
Aha.....
Aku ada ide....
Tiba tiba otak ku serasa kembali di refresh saat menemukan ide untuk membujuk David.
"Emmmmuach....."
"Maaf...."
Kataku mencium pipi David dan tersenyum meringis sambil memegang kedua telingaku di depannya seolah Rima yang meminta maaf.
"Apaan sih...."
Kata David tak kuasa menahan senyuman di wajahnya saat melihat caraku meminta maaf.
Dan tanpa ragu aku langsung melingkarkan kedua tanganku ke pinggang David dan memeluknya dengan erat.
"Maaf ya teman...."
__ADS_1
Kataku memeluk David begitu manja.
"Teman?"
Tanya David bingung....
"Ya teman...."
Jawabku menatap David.
"Kenapa?"
Tanya David
"Ya...karena belum ada ikatan cinta antara kita,jadi aku fikir mungkin kita bisa mulai dengan menjadi teman."
Jelasku menatap begitu dekat tanpa melepaskan pelukan ku.
"Ehmmm....tidak buruk..."
"emmuach..."
Jawab David mengecup keningku.
"Lalu,apa kau ingin memeluk ku seharian dengan menahan rasa lapar?"
Sambung David mulai bawel.
"Haah...."
"Hehe....enggak lah..."
"Lapar itu enggak enak tau....!"
Jawabku dan melepaskan pelukan ku.
"Cepatlah bersiap karena kita sudah terlambat."
Perintah David.
"Iya...iya..."
Sahutku menuju lemari pakaian.
"David..."
Panggilku sambil memilih baju yang ingin ku pakai.
"Hemm..."
"Kenapa jadi kau yang jemput?"
"Bukankah kau bilang supir kantor yang akan menjemputku?"
Tanyaku sambil mencocok kan baju yang ingin ku pakai di depan cermin.
"Itu semua karena mu?"
Jawab David ketus.
"Kenapa?"
Tanyaku merasa tidak bersalah.
"Hampir satu jam lebih aku menghubungi mu tapi kau tidak menjawab teleponku,dan saat ini kau sedang sendirian di rumah,tentu saja itu membuat aku panik.Jadi ku putuskan meninggalkan semua pekerjaanku di kantor dan langsung pulang ke rumah khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi padamu."
Jelas David.
Aku langsung terdiam dengan mata yang berkaca kaca mendengar penjelasan David.
Ya Tuhan....
Sampai sebegitu ya David peduli padaku.
Kataku dalam hati begitu terharu.
"Dan kau....!!"
Bentak David membuat aku terkejut dan tersadar dari lamunanku.
"Haah..."
"Iya kenapa?"
Jawabku spontan.
"Jelaskan padaku kemana saja dari tadi hingga tidak sempat menjawab teleponku."
Tanya David mulai bawel setingkat detektiv.
"Oh itu,maaf...."
"Selesai mengerjakan pekerjaan rumah aku sangat lelah jadi aku berfikir untuk rebahan sebentar sofa ruang tamu sampai ketiduran."
"Ya...mungkin pengaruh pertempuran yang terjadi setiap malam..."
__ADS_1
Jawabku menjelaskan dan memelan kan volume suaraku di kalimat terakhir.
"Apa kata mu?"
Tanya David mengernyitkan dahinya.
Wadduh....gawat.apa dia dengar ya kalimat terakhir yang ku katakan.
Tanyaku dalam hati urung uringan.
"Apa ?"
Tanyaku pura pura bodoh.
"Coba ulangi kalimat yang katakan tadi."
Pinta David.
"Yang mana?"
Tanyaku deg degan,takut jika dia mendengar kalimat terakhirku.
"Dari awal..."
Kata David.
"Ehm...maaf karena sele..."
Kataku coba mengulang dari awal apa yang ku katakan tadi namun seketika terhenti.
"Stop...!!"
Perintah David.
Hufff.....
untung aja....
Pikirku dalam hati.
"Sudah ingat apa yang kau katakan?"
Tanya David.
"Ehm...ma...af...?"
Jawabku coba memeahami maksud David.
"Ha...."
"Benar maaf..."
"Jadi....."
Kata David berdiri dari sofa dan mulai berjalan ke arah ku.
Merasa David sudah memberi kode tidak aman aku pun segera meletakkan pakaian yang sedang ku coba tadi dan langsung mengambil handuk ku.
"Ow.....sial...."
"Tidak...tidak...tidak..."
"David jangan sekarang ku mohon..."
Teriakku sambil berlari masuk kamar mandi.
"Haha....."
Terdengar suara David menertawaiku.
"Dasar duda gila...duda mesum..."
"Aku jadi semakin resah jika lama lama berduaan di kamar dengan nya."
Kataku curhat sendiri di depan kaca.
"Hei...wanita penceramah..."
"Jangan lebih dari dua puluh menit"
"Atau kau akan menyesal jika sampai lewat."
Teriak David dari depan pintu kamar mandi memberi ultimatum.
"Lalu bagaimana jika aku selesai kurang dari dua puluh menit,ku harap kau jangan menyesal ya..."
"Hehe..."
Sahutku dari dalam kamar mandi di latar belakangi gemiricik air shower yang mulai membasahi tubuhku.
"Oh....kau ingin bermain main dengan ku ya?"
Tanya David mulai geram.
Seolah merasa ini adalah ancaman yang akan berakhir di tempat tidur,aku pun tidak merespon lagi perkataan david.Dan segera menyelesaikan mandi ku agar tidak lewat dari dua puluh menit seperti yang di perintahkan si tuan duda.
__ADS_1
Bersambung....