Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 66....


__ADS_3

Akhirnya waktu libur sekolah pun tiba.Terlihat ayah dan ibu mertua mulai berkemas kemas karena mereka akan pergi malam ke bandara dengan rute penerbangan malam.Aku pun tengah sibuk di kamar Rima membantu mengemasi barang barang yang akan di bawanya.


"Sayang...."


"Kau yakin akan membawa ini semua?"


Tanyaku saat mengemasi koper Rima dan merasa barang yang di bawanya terlalu banyak termasuk boneka bonekanya.


"Ya ibu Nai,tentu saja..."


Jawab Rima.


"Termasuk semua boneka ini?"


"Untuk apa?"


Tanyaku lagi.


"Iya ibu Nai...."


Jawab Rima yang sibuk mondar mandir sedang mencari sesuatu.


"Bukan kah ini terlalu banyak sayang,nanayi kau akan repot di sana saat berkemas untuk kembali ke sini."


Kataku memberi saran.


"Huff....ibu Nai ,kenapa ibu bertanya lagi."


"Ibu Nai kan tahu aku akan pergi selama satu Minggu,dan itu tebilang waktu yang cukup lama.Jadi kasihan mereka semua jika aku tinggalkan sendirin selama aku pergi."


Jawab Rima yang menganggap boneka bonekanya sudah seperti teman hidup yang akan kesepian jika dia tinggal selama liburan.


"Tapi sayang ...."


"Ibu Nai benar sayang...."


Potong David yang tiba tiba muncul di kamar Rima.


"Apa yang benar ayah?"


"Ayah baru saja datang"


Protes Rima.


"Dan ayah datang di waktu yang tepat bukan...?"


Jawab David dengan percaya diri.


"Sepertinya semua boneka boneka mu ini tidak perlu di bawa sayang,bawa saja satu."


Saran David.


"Tapi ayah....lalu bagaimana jika aku ingin bermain?"


Rengek Rima.


"Kau bisa membeli boneka yang baru di sana dan bisa kau membawanya pulang dan mengenalkan nya dengan mereka semua yang ada di sini."


Jelas David membujuk Rima.


"Tapi ayah bukan kah boneka di sana harganya sangat mahal.."


Kata Rima.


"Tidak usah khawatir soal itu sayang,ayahmu adalah seorang pengusaha kaya raya jangankan boneka toko bonekanya pun jika di jual ayah mampu membelikan nya untuk mu."


Jelas David dengan kesombongannya.


Huuuu....dasar duda sombong....


Gerutu ku dalam hati.


"Wow...ayah memang keren."


Puji Rima untuk ayah nya.


"Baiklah ...soal boneka yang tidak perlu di bawa sudah sepakat,sekarang dengar kan ibu Nai baik baik."


Kataku menggendong Rima dan mendudukkannya di pangkuan ku karena aku ingin menunjukkan beberapa hal yang ku masukan ke dalam kopernya.


"Pasang telingamu dengan baik sayang,karena wanita penceramah akan menyampaikan ceramahnya.Haha...."


Celetuk David meledekku seolah memancing emosi ku.Namun aku yang tidak ingin kami saling balas menghinaan di depan Rima,berusaha sabar dan diam cukup hanya menatap ya dengan tajam.


"Rima sayang..."


"Dengar,meskipun kau sedang pergi berlibur tapi kau harus tetap menjadi anak yang mandiri.Kau tidak boleh merepotkan kakek dan nenek mu.Lihat di kopermu ibu Nai sudah memasukkan dan menyusun semua yang kau butuhkam nanti,ada beberapa pakaian mu,jepit rambutmu,tas kecil ini yang ingin kau gunakan saat bepergian,dan jangan lupa selalu pakai baju panas mu saat kau keluar rumah karena di sana sedang musim dingin.Ibu juga membawakan obat flu mu tapi ingat kau harus bertanya pada nenek atau kakek mu jika kau merasa kau perlu minum obat jika kau flu."


"Apa kau bisa ingat semua pesan ibu?"


Pesan ku begitu panjang lebar.


"Tentu saja ibu,apa ibu lupa aku kan sedang belajar menjadi anak mandiri."


Jawab Rima begitu menggemaskan.


"Ternayat wanita penceramah ini ibu yang sangat peduli..."


Gerutu david yang samar samar ku dengar ya g terlihat sedang terpaku menatap ke arah kami.

__ADS_1


"Kau mengatakan sesuatu?"


Tanyaku.


"Haah...?"


"Tidak ada.."


"Apa kau sudah selesai menyampaikan ceramah mu?"


Jawab David kembali bertanya untuk menghindar dari pertanyaan ku.


"Itu bukan ceramah tapi itu pesan..."


Jawabku mulai kesal.


"Ibu Nai..."


"Kenapa baju sedikit sekali yang di bawa?"


Tanya Rima saat aku menutup kopernya.


"Tenang saja sayang,ayahmu adalah pengusaha yang kaya raya kau bisa membeli baju baru di sana berikut toko nya jika kau membutuhkannya."


Jawabku menyindir David dan membalikan kata kata sombongnya tadi sambil meliriknya.


Rima yang mengerti bahwa aku sedang menyinggung ayahnya tertawa meringis.


"Baiklah jika semua sudah siap,ayo kita turun karena kakek nenekmu pasti sudah siap untuk berangkat."


Ajak David sebagai dalih karena merasa di serang oleh kata katanya sendiri.


"Yeay....let's go to holiday..."


Teriak Rima turun dari pangkuanku dan berlari keluar kamar lebih dulu.


Aku pun ingin bergegas menyusul Rima turun sambil menarik kopernya,namun langkahku terhenti karena David menarik tanganku hingga aku tertarik menabraknya dan berdiri begitu dekat di depannya.


"Berani sekali kau membalikkan kata kata ku?"


"Habis lah kau malam ini?"


Kata David mengancam ku dengan tatapan nya yang tajam.


"Kau tenang saja,sebelum kau menghabisi ku aku yang lebih dulu akan menghabisi mu."


Jawabku begitu berani sambil melepaskan cengkraman tangan David dari tangannya dan memindahkannya ke gagang koper yang sedang ku pegang.Aku pun pergi meninggalkannya untuk turun ke bawah.


Tak lama kemudian David pun turun dengan membawa koper Rima.


"Semua sudah siap?"


Tanya David.


"Ya itu lebih baik jangan sampai kita ketinggalan pesawat."


Jawab ayah mertua.


Setelah memasukkan semua koper yang akan di bawa ke bagasi mobil kami pun segera berangkat mengantar mereka ke bandara.Sepanjang perjalanan menuju bandara begitu banyak perbincangan di dalam mobil.Mulai dari pesan ,oleh oleh yang di tawarkan,hingga perkataan ayah mertua untuk David yang tidak aku mengerti maksudnya.


"David jangan lupa apa yang ayah sampaikan."


Kata ayah mertua sebelum turun dari mobil begitu tiba di bandara.


"Hemm...."


Jawab David tanpa banyak kata.


"Daag....sayang,ibu Nai pasti akan sangat merindukan mu."


Kata ku memeluk Rima begitu erat sebelum mereka masuk ke ruang tunggu.


"Sampai jumpa ibu Nai...."


"Jika ibu merindukan ku,ibu bisa memeluk ayah dan menganggap itu aku."


"Hehe...."


Jawab Rima yang membuat semua orang tertawa.


"Sampai jumpa...."


"Kami pergi dulu..."


Teriak mereka bersamaan dan melambaikan tangan menuju ruang tunggu.


Aku dan David pun memutuskan untuk kembali setelah mereka masuk ke ruang tunggu.


"Apa kau ingin beli sesuatu?"


Tanya David sambil menyetir mengeluarkan mobil dari tempat parkir.


"Sepertinya,tapi aku yakin kau pasti tidak menyukai nya."


Jawabku langsung menebak.


"Apa?"


"Katakanlah.."

__ADS_1


Tanya David.


"Aku ingin makan jagung bakar di pinggir jalan yang ada di dekat kompleks."


Jawabku.


"Hanya itu?"


Tanya David lagi.


"Ya...?"


" Kenapa kau pasti tidak setuju."


"Sudah ku duga..."


Jawabku.


"Tidak bisakah kau pilih yang lebih mewah selain jagung bakar?"


"Contohnya makan malam romantis di hotel berbintang.."


Kata David mengkritik selera ku.


"Soal itu bisa saja,tapi pertanyaan nya adalah apakah kau bisa bersikap romantis?"


Balasku seolah aku ingin mengatakan David bukan lah pria romantis.


"Itu mudah saja,tapi kau bisa tanggung akibatnya nanti dari sikap romantis ku padamu?"


Tanya David seperti memberi peringatan.


"Kenapa?"


Tanyaku mulai bingung dan penasaran.


"Dasar lambat..."


"Katakan padaku berapa banyak jagung bakar yang ingin kau pesan."


"Aku akan turun membelinya dan kau di mobil saja."


Kata David,begitu sampai di tempat penjual jagung bakar.


"Kenapa aku tidak boleh turun?"


Tanyaku.


"Kau tidak lihat semua yang dudu di sekitar penjual adalah para pria."


Jawab David menjelaskan situasi dan keadaan di sekitar penjual jagung bakar.


"Lalu apa hubungannya dengan ku?"


Tanyaku lagi.


"Berapa puluh pasang mata yang akan menatapmu juka kau ikut turun."


Jawab David yang secara tidak langsung dia ingin mangatakan bahwa dia tidak ingin ada pria mana pun selain dirinya yang menatapku.


Tentu saja penjelasannya membuat aku tertawa.


"Haha....."


"Kau cemburu ya....?"


Kataku menertawai kecemburuan David ya g di tutupi kesombongannya.


"Jangan terlalu percaya diri nona."


Jawab David kesal.


"Sudah...akui saja?"


Ejek ku lagi yang semakin membuat David kesal dengan wajah memerah.


"Kau mau sebutkan berapa banyak jagung bakar yang harus di beli atau kita pergi sekarang tanpa membeli apa pun."


Ancam David padaku.


"Iya...iya .."


"Tidak perlu emosioanal bebs..."


"Hihi...."


Aku menggoda David kembali.


Dan dia langsung menatapku dengan tajam.


"Dua saja mungkin cukup."


Sambungku.


Dan David pun langsung turun untuk memesan jagung bakar.


Sepanjang dia berjalan menuju tempat penjual jagung bakar,terlintas dalam pikiran ku yang memberikan penilaian bahwa David benar benar pria yang melindungi wanita.


Dan aku mulai merasa bucin😍😍😍

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2