
Setelah tragedi percobaan penculikan itu,aku tidak peduli lagi dengan hal lain dan memprioritaskan Rima di atas segalanya.Seluruh waktu ku tercurah untuk Rima.Hingga terkadang dengan kejahilannya David pun tidak ingin kalah manja untuk di perhatikan layaknya Rima.
Terkadang hanya sekedar melampiaskan hasrat ingin menjahili ku,protesnya pun muncul.
"Wanita penceramah...."
Panggil David yang sedang duduk di sofa dan aku sedang merapikan pakaian pakaian Rima dan membawanya ke kamarku.
"Hemmmm...."
Jawabku dan fokus memilih milih untuk memisahkan pakaian yang masih layak di pakai Rima dan yang sudah tidak layak.
"Kenapa kau sombong sekali akhir akhir ini?"
Tanya David protes.
"Sombong.....?"
"Apa maksudmu?"
Tanya ku terkejut dan tertawa karena aku tahu itu hanya kejahilannya saja.
"Kau tidak peduli lagi padaku."
"Bahkan kau lebih memilih tidur bersama Rima dari pada diriku,padahal saat ini kita juga sedang fokus untuk proses dedek bayi yang di impikannya..."
Protes David lagi.
"Haha....."
Aku hanya tertawa menanggapi protes David.
Dan ternyata tawaku membuat David semakin kesal.
"Kenapa menertawaiku? seolah kau sudah cukup berani menanggung resiko dari tertawamu itu...!"
Kata David.
"Haha...hahaha......"
__ADS_1
Dan lagi lagi aku hanya tertawa.
"Ow.....kau sudah tidak takut lagi rupanya ya menertawaiku...?"
Kata David seolah mengancam.
"Takut?"
"Kenapa aku harus takut jika menertawaimu,kau itu lucu tau......"
"Terkadang kau sama lucunya seperti Rima..."
"Haha....."
Sahutku semakin tertawa.
Dan dengan geram David melangkah cepat menuju ke arahku,memiting leherku kemudian membanting ku di atas kasur.Belum merasa puas karena aku masih tertawa David pun menggelitiki sekujur tubuhku hingga akhirnya tawaku bukan karena tingkah lucu David yang ke kanak kanak kan,melainkan tertawa karena tak tahan menahan rasa geli.
"David......"
"Hentikan........"
"Kenapa?"
"Bukannya kau tidak takut mertawaiku?"
"Dan ini hukuman dari keberanianmu itu..."
Kata David menahan kedua tanganku yang sejak tadi melawan kedua tangan David.Hingga akhirnya kedua mata kami saling menatap,perlahan wajah David mulai mendekat ke arah wajahku dan aku pun tidak dapat menghindarinya lagi.Adegan ciuman akan terjadi namun sayang terpaksa harus terhenti saat kami mendengar suara Rima memanggil kami.
"Ibu Nai......"
"Ayah....."
Teriak Rima memanggil kami yang suaranya terdengar dari halaman bawah tepat di bawah balkon kamar.
"Rima...."
Panggil kami bersamaan dan seketika hasrat untuk berciuman pun hilang begitu saja.Kami pun bergegas menuju balkon kamar dan melihat ke bawah.
__ADS_1
"Ibu Nai ...."
Panggil Rima lagi melambaikan tangannya terlihat begitu riang.
"Sayang ...!"
"Kau membuat ibu jantungan..."
Jawabku merasa lega.
"Ada apa?"
Tanya David dengan nafas terengah engah setelah berlari dari kamar Rima.
"Ayah...."
"Ayo turun lah kalian berdua..."
"Aku ingin mencoba sepeda baruku..."
Rengek Rima yang memperkenalkan sepeda barunya.
"Sepeda baru.....?"
Tanya kami berdua bersamaan dan saling menatap penuh tanda tanya,karena masing masing dari merasa tidak pernah membelikan sepeda baru.Jika ayah dan ibu mertua juga tidak mungkin karena mereka sedang pergi menghadiri pesta salah satu kerabat kami.
"Rima sayang....."
Panggil david mulai panik.
"Ya ayah....."
Jawab Rima mulai mencoba menaiki sepedanya.
"Tunggu di situ jangan kemana mana ayah dan ibu Nai akan segera turun."
Perintah David panik dan terlihat merasa ada yang tidak benar,karena aku juga merasakan hal yang sama.
Kami pun segera berlari secepat kilat menuruni anak tangga.Dan kami begitu syok,karena Rima sudah tidak terlihat saat kami membuka pintu depan rumah yamg langsung menuju ke halaman rumah tempat Rima memamerkan sepeda barunya tadi.....
__ADS_1
Bersambung.....