Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 40...


__ADS_3

Tidak butuh waktu yang lama untuk kembali ke rumah David yang letaknya hanya di seberang rumahku,hanya perlu menyebrang jalan yang cukup ramai kendaraan yang lalu lalang maka kami pun sudah tiba.Tanpa ku sengaja sebuah kecelakaan kecil ku alami saat akan menyebrang,tanpa sengaja aku tersandung batu kecil yang membuat aku tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhku untuk berdiri apalagi aku menggunakan higheels.


"Awwww...."


Teriakku kesakitan dan terduduk di halaman depan rumah ibu.Sontak teriakku membuat langkah David yang berjalan di depanku terhenti.


"Ada apa ?"


Tanya David terkejut dan langsung berlari menghampiriku.


"Auwww...,kakiku..."


Rengekku kesakitan


"Tidak bisa kah kau lebih berhati hati jika berjalan?"


"Lihat kakimu memar ini pasti kau keseleo."


"Dan ini semua pasti karena sepatu higheels mu ini."


"Plak....."


Dengan kesal David mencampakan sepatu ku yang menduga penyebab aku terjatuh.


"Hei...apa yang kau lakukan?"


Kataku seolah tidak terima karena David telah mencampakkan sepatu kesayanganku.


"Apa?"


"Jika kau keberatan minta tolong dengan sepatu mu untuk membantumu berdiri dan berjalan."


Jawab David kesal dan langsung bediri seakan ingin pergi meninggalkan ku karena aku sudah protes karena aku tidak terima dia mencampakkan sepatuku.


"David....."


Aku yang tak berdaya karena kesakitan memanggil David begitu manja.


Dan lagi lagi langkah David terhenti dan menoleh ke arahku.


"Huff...berdiri lah !!"


Kata David mengulurkan tangannya untuk menolongku.


Ya ampun si duda bodoh ini,dia tidak tahu apa kaki ku ini rasanya sakit sekali.


Gumam ku dalam hati sambil merintih menahan kan sakit karena cedera di pergelangan kaki ku.Dan aku hanya menundukkan kepala sambil memegang pergelangan kaki ku yang mulai membengkak.


"Heeiii kenapa kau diam saja,ayo cepat berdiri!"


Kata David yang mulai kesal,namun seketika ekspresi wajah yang kesal itu berubah menjadi ekspersi wajah yang panik ketika dia melihat air mata sudah berlinang membasahi pipiku tanpa terdengar suara tangis.


"Loh...hei,kau kenapa?"


"Apa ada yang luka?"


"Coba aku lihat."


Akhirnya David pun ikut jongkok mengecek kakiku.


"Ya ampun...kakimu bengkak Nai..."


"Pasti sakit sekali rasanya."


"Ayo ...kaki mu haris segera di obati."


Tanpa rasa ragu,David pun langsung mengangkat dan menggendongku dalam dekapan tubuh kekarnya.

__ADS_1


Aku yang tadinya hanya merintih menahan sakit sontak terkejut melihat sikap cekatan David tanpa bertanya dan meminta izin apakah dia boleh menggendongku atau tidak.Namun aku yang tidak berdaya sedikitpun tidak berontak dengan apa yang di lakukannya,malah kedua tanganku erat melingkar anatar bahu dan leher David untuk berpegangan.


Jalanan sore ini cukup ramai kendaraan lalu lalang membuat David sulit untuk menyebrang dan berdiri cukup lama di tepi jalan sambil menggendongku untuk menyebrang.Dalam kesesmpatan moment yang terbilang romantis mataku sangat lancang menatap wajah David yang mulai ku akui memang tampan.


Ternyata ayah benar,di balik sosok ya yang angkuh dan dan sombong dia punya hati yang lambut.Hemm ...tuan duda andai saja kau bisa bersikap peduli seperti ini setiap hari pasti kau akan terlihat semakin tampan.


Curhatku dalam hati sambil menatapnya.


"Ada apa ?"


Tanya David ketus yang ternyata dia paham jika sejak tadi aku menatapnya.


"Tida ada..."


Jawabku ngeles.


"Jangan terlalu lama menatapku nanti kau bisa jatuh cinta padaku.dan jika sampai itu terjadi aku tidak bertanggung jawab."


Kata David yang mulai menunjukkan kesombongannya.


Ciih....jangan terlalu percaya diri duda


Jawabku dalam hati.


"Lalu bagaimana jika suatu hari kau yang jatuh cinta padaku?"


Tanyaku iseng seolah menantangnya.


"Jangan terlalu percaya diri wanita penceramah,karena itu tidak akan mungkin terjadi."


Kata David membantah.


"Lalu bagaimana jika aku mampu membuat mu bisa jatuh cinta padaku?"


Tanyaku semakin berani.


Jawab David kesal dan melampiaskan rasa kesalnya pada jalanan yang akhirnya memberikan kesempatan pada David untuk menyebrang.


"Hooh...ya ampun wanita penceramah, tolong kurangi makan mu,kenapa kau terasa berat sekali."


Keluh David yang menggendongku sambil menyebrangi jalan hingga masuk ke pekarangan rumah nya.


Ada ayah dan ibu mertua di teras rumah yang sedang bersantai menikmati suasana sore.


"Wah...wah....David,naima,ternayata kalian pasangan romantis yang ada di seberang jalan sana ?"


Tanya ayah dan ibu mertua yang ternyata sejak tadi memperhatikan kami dari teras rumah.


"Ibu nanti saja komentarnya tolong panggilkan dokter atau tukang urut yang bisa mengobati kaki menantu mu ini.."


Perintah David kepada ibu mertua.Sontak hal itu membuat mereka panik.


"Haah?"


"Memangnya kenapa Naima?"


Tanya mereka terkejut.


"Ibu mertua,aku tadi terjatuh dan mungkin kaki ku keseleo tapi sakit sekali.."


Jawabku.


"Hooh...ya ampun sayang kaki mu sudah bengkak."


"Ehm...begini saja,David bawalah dia ke kamar kalian ibu akan memanggilkan tukang urut langganan ibu."


Perintah ibu kepada David.Dan David pun langsung membawaku masuk.

__ADS_1


Dan lagi lagi dia mengeluh saat berdiri di depan tangga yang menuju ke kamar.


"Ya ampun...habis semua energi ku untuk menuju kamar dengan menggendong wanita gendut ini."


Keluh David.


"Jika kau keberatan turunkan saja..."


Kataku merajuk karena david memanggilku wanita gendut meskipun itu tidak benar untuk tubuhku yang ideal ini.


"Sudah jangan keras kepala,kau sudah tidak berdaya saat ini,aku tidak ingin di bilang pria yang tidak bertanggung jawab karena membiarkan istrinya berjalan sendiri dengan kondisi kaki seperti ini."


Ujar David sambil menaiki anak tangga yang hingga akhirnya sampai membawa ku ke. kamar.Dengan pelan dia meletakkan ku di atas tempat tidurnya yang biasanya tidak boleh di tempati oleh siapa pun.dan dia yang terlihat begitu lelah segera menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur tepat di sebelahku.


"David..."


Panggilku.


"Hem..."


Jawab David yang masih mengatur nafasnya untuk mengumpulkan tenaganya.


"Terima kasih..."


Kataku tanpa berpikir dan ingat jika aku harus menyiapkan hadiah untuk ucapan terimakasihku.


"Dua hadiah...."


Jawab David menunjukkan dua jari padaku sambil rebahan.


Astaga ...kenapa aku tidak ingat.


Hemm ...lagi lagi aku terjebak dengan ucapan terimakasihku.


Hufff....


Keluhku dalam hati yang mengerti maksud dua hadiah dari perkataan David.Dan aku hanya terdiam.Tak lama kemudian ibu mertua pun datang membawa tukang urut.


"Naima sayang...."


"Ini mbok Larseh...tukang urut yang biasa mengurut ibu."


Kata ibu mertua memperkenalkan wanita paruh baya yang berprofesi sebagai tukang urut yang sudah berpengalaman selama dua puluh tahun dengan profesinya.


"Halo mbok..."


Sapaku.


"Coba non,saya lihat dulu kakinya."


Kata mbo larseh.


"Oh...silahkan mbok."


Jawabku.


"Mbok Larseh pastikan dia harus sudah bisa berjalan setelah ini,karena aku tidak sanggup jika harus menggendongnya terus terusan."


Kata David lagi lagi ingin meledekku.


"David...kau ini"


Ibu mertua tertawa dan memukul pundaknya.


"Sungguh ibu dia berat sekali."


Bisik David kepada ibu mertua sebelum pergi mengangkat ponselnya yang berdering sejak tadi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2