Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 94...


__ADS_3

Dengan masih menggenggam tanganku dengan erat David membuka pintu kamar Rima lalu masuk.


"Selamat pagi ayahku yang paling hebat...."


"Selamat pagi ibu Nai ku tersayang"


Teriak Rima merentangkan kedua tangannya dan berdiri di atas tempat tidurnya, seolah siap memeluk kami melepaskan rindu karena ini adalah pagi pertanyannya bangun dari tidur setelah hampir dua pekan pergi berlibur.


Rima tampak begitu bahagia bahkan sesaat dia tidak menghiraukan keberadaan Sahira yang berdiri di sampingnya.


David yang sebenarnya ingin segera berlari memeluk putri kesayangannya itu,namun jadi merasa tidak nyaman karena keberadaan Sahira.Hal itu dapat ku lihat dari ekspresinya saat hanya terdiam dan kembali menatapku dengan penuh pertanyaan.Namun aku yang sudah paham dengan keadaan itu tersenyum begitu tulus dan mengedipkan kedua mataku seolah berkata...


"Pergilah....peluk putri mu yang sangat kau rindukan,dan abaikan sejenak hal yang membuat mu tidak nyaman.Anggap saja tidak ada orang lain di sini selain kita bertiga."


Arti dari kedipan kedua mataku yang di iringi senyuman yang begitu tulus untuk memberi dukungan pada David.


David pun segera menghampiri Rima.


"Selamat pagi sayang...."


"Tuan putri kesayangan ayah"


Jawab David membalas sapaan Rima dengan ekspresi begitu gembira dengan berjalan cepat menuju ke Rima dan merentangkan kedua tangannya seperti yang di lakukan Rima yang sudah siap untuk memeluk David.Dengan begitu tegar dan percaya diri David melewati Sahira yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur Rima.


"Huff.....syukurlah"


Aku menarik nafas penjang sebagai rasa lega karena David mau mendengarkan ku dan berhasil mengendalikan dirinya seperti apa yang ku saran kan.


"Kemarilah ibu Nai...!"


"Apa ibu tidak ingin memeluk ku di pagi pertamaku di rumah ini?"


Tanya Rima memanggilku.


"Aaaa.....tentu saja."


"Ibu Nai adalah orang yang paling ingin sekali memelukmu"


Dengan melewati Sahira yang berdiri sebelum Rima aku pun menghampiri Rima dan David.


"Berpelukan......"


Kataku memeluk mereka berdua tanpa menghiraukan keberadaan Sahira.


Sontak adegan keluarga bahagia itu membuat Sahira terbakar api cemburu,entah itu antara aku dengan David,atau mungkin kedekatanku antara aku dengan Rima.


"Eheemm....."


Tiba tiba Sahira berdehem seolah ingin memberitahu bahwa selain kami bertiga di situ,juga ada orang lain.


Aku dan David pun saling menatap dan mengernyitkan dahi kami dengan senyuman tipis di bibir kami masing masing.


"Oh iya aku sampai lupa."

__ADS_1


"Ayah,apa ayah tahu siapa yang ikut bersam ku pulang dari liburan?"


Kata Rima merespon Sahira.


"Tidak tahu dan tidak mau tahu."


Jawab David dengan wajah datar.


"Ayah....."


Rengek Rima.


"Oke oke...."


"Maksud ayah tidak perlu di beri tahu karena ayah sudah mengenal dengan baik wanita ini."


Jawab David menatap Sahira begitu tajam.


Tiba tiba suasana menjadi tegang,Rima pun tiba tiba terdiam mencerna perkataan David.


"Ehm....baiklah Rima sayang,sepertinya Si Mbak sudah menyiapkan sarapan yang lezat untuk kita,ayo segera mandi dan kita akan sarapan bersama sama."


Kataku coba mengalihkan pembicaraan dan mencairkan suasana.


"Bersama ibu Sahira juga?"


Tanya Rima.


"Sahira turun lah ke ruang makan,ayo kita sarapan bersama karena sejak tadi malam kalian belum makan apa apa."


"Sementara itu aku akan membantu tuan putri cantik ini untuk mandi."


Kataku berbasa basi pada Sahira.


"Ehm....Naima,sebaiknya kalian duluan saja."


"Biar aku yang membantu Rima bersiap."


Sahut Sahira secara tidak langsung menolak saran dari ku dalam berbasa basi.


Sepintas aku merasa seolah Sahira ingin menguasai Rima dengan melarangku melakukan sesuatu untuk Rima.Tapi lagi lagi aku yang menganggap semua orang di dunia ini baik,menepiskan rasa curigaku dan mencoba positive thinking.


Ku lihat David mulai mengepalkan tangannya menahan rasa geram,aku pun setuju dengan apa yang di katakan Sahira.


"Oke,baiklah...."


"Rima sayang segeralah mandi ibu akan siapkan pakaian mu di tempat tidur."


Kataku sekaligus menyuruh Rima segera pergi ke kamar mandi.


"Baiklah ibu Nai...."


Jawab Rima pergi ke kamar mandi dan memberi hormat sebagai lelucon yang membuatku semakin gemas melihatnya.

__ADS_1


"Ehm...Naima,aku rasa kau tidak perlu serepot ini hingga harus menyiapkan baju Rima,tenang saja aku ada di sini untuk Rima sebagai ibunya."


Kata Sahira lagi lagi melarangku melakukan sesuatu untuk Rima,namun kali ini aku tidak bisa membiarkan itu terus terjadi.Seketika naluri keibuanku muncul yang merasa berhak dan berkewajiban merawat Rima.Sambil tersenyum aku todak menggubris omongan Sahira.


"Sahira,ini bukan masalah merepotkan atau di repotkan tapi hal ini sudah menjadi kebiasaanku dalam merawat Rima selama ibunya tidak pernah menjenguknya."


Balasku sambil mengeluarkan baju pilihan ku yang akan di pakai Rima.


"Katakan pada Rima untuk memakai ini setelah dia selesai mandi,karena ini adalah baju favorite nya yang tidak kau ketahui."


Sambungku sambil meletak kan pakaian Rima yang telah ku pilih di atas kasurnya.


Seolah kalah telak,kali ini Sahira terdiam setelah mendengar perkataanku yang secara tidak langsung mengatakan bahwa aku mengenal rima jauh lebih baik di banding dia meskipun berstatus ibu kandungnya.


"David sayang...."


Panggilku yang tiba tiba begitu mesra.


"Ayo kita turun karena ayah dan ibu sudah menunggumu di meja makan."


Sambungku kembali menggandeng tangan David dan mengajaknya keluar dari kamar Rima.


"Wow....kau keren sekali..."


"Emmuach..."


Kata David memujiku bahkan menciumku sambil menuruni anak tangga.


"Maksdunya?"


Tanyaku tertawa.


"Karena wanita penghianat itu langsung terdiam tak berkutik saat mendengar ceramah mu..."


"Haha....."


Jelas David yang terkadang pujiannya terdengar seperti ejek kan.


"Aku tidak bermaksud menceramahinya,aku hanya ingin mengingatkan nya jangan pernah mengubah keseharian ku yang selama ini sudah merawat Rima."


Jelasku lebih detail.


"Ya....ya...."


"Tidak peduli apa pun itu penjelasannya tapi kau wanita yang sangat hebat perkataan mu bak bisa ular beracun yang mematikan."


"Haha....."


Lagi lagi David menyanjungku sekaligus mengejek ku.


Tapi apa pun itu,aku merasa sangat senang melihat David bisa mengendalikan dirinya bahkan bis tertawa.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2