Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 50....


__ADS_3

"Iya....tapi kan itu hanya masa lalu,jangan masukkan urusan priibadi dalam urusan bisnismu,bukankah itu cara pebisnis profesional berpikir?"


Kataku coba mengingatkan David.


"Justru karena sikap profesional ku aku ingin kau yang mengambil keputusan."


Jawab David begitu tenang.


Mendadak aku jadi panik,rasanya aku mulai terjebak dengan permainanku sendiri,ingin sekali aku mengatakan kalau sebenarnya aku sudah tidak peduli lagi dengan Arga.Tapi aku tetap berusaha tenang dan coba mengerti apa maksud dan tujuan David melibatkan ku dalam kesepakatan bisnisnya dengan Arga.


"Ehm...baiklah,jika itu yang kau inginkan."


"Katakan padaku apa yang harus ku lakukan?"


Tanyaku menantang.


"Kau yakin?"


Tanya David.


"Ya tentu,jika itu kebaikan untuk bisnismu."


"Tapi jangan salahkan aku jika terjadi sebuah kesalahan dalam kesepakatan ini."


Jawabku mewanti wanti.


"Tidak akan,karena aku telah memikir kan nya baik baik untuk hal ini."


Sahut David.


"Benarkah?"


"Kalai begitu cepat beri tahu aku apa yang harus ku lakukan dan ajari aku tentang pekerjaan ya."


Kataku seolah sudah siap dengan semua yang akan ku dengar dari David.


"Kau tidak perlu mengerjakan apa pun"


Jawab David.


"Lalu?"


Tanyaku bingung.


"Kau hanya mendengarkan saja,lalu kemudian memberikan keputusan."


Kata David menjelaskan apa yang harus kulakukan dalam keterlibatan ku dalam bisnisnya.


"Haah..."


"Kenapa begitu?"


Tanyaku bingung dan tercengang.


"Tadinya aku sudah tidak tertarik meneruskan kesepakatan ini,tapi melihatmu masih ada rasa kasihan kepada nya aku berpikir ingin memberi dia kesempatan,tapi kesempatan itu akan dia dapatkan hanya jika dia mau dan bersesia menemui dirimu beserta ayah dan ibu mu untuk meminta maaf dan menceritakan kehidupan dia yang sebenarnya sekarang."


Jelas David.


"Glleek..."


Aku menelan ludah dalam kerongkongan ku yang kering sungguh tidak menduga pemikiran David sampai sejauh dan sedetail ini.Namun aku juga masih penasaran apa alasan David mempunyai pemikiran seperti ini.Dan aku pun kembali melayangkan pertanyaan kepada David.

__ADS_1


"Kenapa aku melakukan semua ini?"


Tanyaku penasaran.


"Tidak ada maksud lain,aku hanya ingin Arga juga merasakan sakitnya hidup berdasarkan keputusan mu,seperti keputusan yang tidak adil yang pernah dia berikan padamu dan keluargamu."


Jawab David santai dan masih sibuk memeriksa laporan dari para staff perusahaanya.


Dan aku langsung terdiam,terharu dengan simpatik David padaku dan keluarga ku.Seolah secara tidak langsung dia ingin membalaskan rasa sakit yang aku ayah dan ibu rasakan.


"Tapi kenapa sampai sebegitu ya kau memperlakukan Arga?"


Tanyaku lagi yang ternyata pertanyaan kali ini memancing rasa jengkel David.


"Kenapa?"


"Kau kasihan jika Arga menjadi rendah untuk meminta maaf kepada kalian?"


Tanya David kesal dan menutup laptopnya.


"Bukan seperti itu maksud ku,tapi....?"


Belum lagi aku sempat menyelesaikan kalimat ku David langsung memotong nya.


"Sudah jangan banyak protes,jika kau tidak ingin dia meminta maaf pada ayah dan ibu mu,itu artinya kesepakatan bisnis ini harus ku batalkan."


Kata David seperti memberi pilihan.


Kalau kesepakatan ini batal tidak hanya Arga yang d rugikan,tapi perusahaan David juga akan mengalami kerugian.


Pikirku dalam hati karena sempat secara tidak sengaja aku pernah membaca sebuah dokumen pada saat merapihkan meja kerja David.Dokumen itu yang berisi tentang perjanjian kerja antara perusahaan David dengan perusahaan partner bisnis nya yang di luar negri yang ternyata perusahaan yang di maksud adalah milik Arga.


Lagi lagi aku dihadapkan dalam dilema,satu sisi aku sebenarnya sudah tidak ingin melihat wajah Arga lagi bahkan untuk membicarakan masa lalu apa lagi memafkannya.Tapi di sisi lain aku tidak ingin David mengalami kerugian jika dia membatalkan kesepakatan bisnis ini.


Eh tapi kalau aku cerita kan sebenarnya aku sudah tidak peduli dengan Arga aku hanya ingin menguji kecemburuannya saja,nanti dia jadi ke GR ran lagi.Toh jika aku bilang tidak peduli dengan Arga kesepakatan ini akan di batalkan dan pasti perusahaan David akan mengalami kerugian ....?"


Kasian kan ....?"


Pikir dalam hati mencoba menimbang nimbang segala sesuatu yang terkait agar aku tidak salah langkah hingga merugikan David.Dan akhirnya keputusan ku bulat aku harus bersedia bertemu dengan Arga dan juga mengajak ayah ibu.Bagaimana pun caranya kesepekatan bisnis ini harus terjadi agar David tidak mengalami kerugian.


"Hei...wanita penceramah!"


"Kenapa jadi begong?"


Panggil David membuyarkan konsentrasi ku dalam berpikir.


"Haah...?"


"Oh tidak aku hanya sedang berpikir."


Jawabku sedikit gugup karena terkejut.


"Benarkah?"


"Lalu apa hasil dari pemikiran mu itu?"


Tanya David.


"Ehm...baiklah,jika keputusanku akan menjadi sebuah syarat untuk kesepakatan bisnis mu maka aku bersedia bertemu partner bisnis mu itu."


Jawabku mencoba tenang dan bijaksana.

__ADS_1


"Meskipun itu Arga?"


Tanya David seolah ragu dengan kesiapan ku.


"Ya...."


Jawabku mantap.


"Bagus..."


"Nanti akan menyuruh Anita mengatur waktu dan pertemuannya."


Ujar David.


"Hem..."


Kataku hanya menaikkan kedua bahuku sebagai tanda ikut saja dengan arahan David.


"Baiklah deal..."


David mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan sebagai pertanda kami sudah sepakat.


"Deal..."


Kataku menjabat tangan David.


Tak terasa waktu pun mengantarkan pada malam,selesai sholat maghrib dan membantu Rima membuat pekerjaan rumah David pun kembali ke kamar membawa kan makan malam,sudah dua hari David memperlakukan ku bak pasien rumah sakit dalam keadaan gawat darurat jangan kan berjalan,bahkan jika aku coba menurunkan kaki ku dari tempat tidur untuk menginjak lantai maka dia mengancam akan mematahkan kaki ku yang satu lagi.Hehe...kejam bukan terdengar? tapi kekejaman itu seolah sirna di tutup dengan bentuk perhatiannya padaku.


"Ayo kita makan malam.."


Ajak David membawa nampan yang berisi hidangan makan malam.


"Pegang"


Kata David menyuruhku untuk memegang nampan yang berisi dua porsi hidangan makan malam ,sementara dia ingin mengambil meja sofa untuk di dekatkan padaku.


"Kenapa sampai dua porsi makan malam nya?"


"Bagaimana bisa aku menghabiskannya?"


Tanyaku yang tidak peka.


"Apa kau pikir yang harus di isi perut mu saja nyonya besar?"


"Perutku juga harus di isi kan?"


Jawab David dengan kembali bertanya.


Oh....bilang saja kau ingin makan malam berdua denganku,kenapa susah banget sih kamu mengakui hal hal kecil gini.


Komentar ku hanya dalam hati sambil tersenyum senyum.


"Kenapa senyum senyum?"


Tanya David curiga.


"Tidak....aku hanya memperhatikan jika kau marah dan nyinyir ternyata kau jadi terlihat tampan."


"Kata ku selengekkan."


"Glekk..."

__ADS_1


David terdiam.Rasa kesal yang tadinya terpancar di wajahnya berubah menjadi merona karena tak menahan senyuman yang di tahan.


Bersambung.....


__ADS_2