Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 125....


__ADS_3

Tak lama mobil pun masuk di parkiran pekarangan rumah.Tampak ayah ibu dan kedua mertuaku sedang berdiri untuk menyambut kedatangan kami.Karena mereka sudah tahu kronologi ceritanya hingga aku mengalami keguguran.


"David...."


Panggilku.


"Hem..."


Jawab David seperti biasanya.


"Kenapa mereka semua berdiri di depan teras seperti akan menyambut kedatangan ibu negara?"


Tanyaku bingung sebelum turun dari mobil.


"Ya....anggaplah seperti itu."


Jawab David santai.Dan kemudin kami pun membuka pintu mobil untuk turun.


"Eits.....tungu..tungu..."


Perintah David,menghentikan ku saat hendak turun dari mobil.


"Apa?"


Tanyaku sontak terdiam dan termangu menatap David yang seketika melingkarkan ke dua tanganya ke tubuhku dan menggendongku turun dari mobil.


"David..."


"Apa apaan ini?"


"Jangan berlebihan,aku bisa berjalan dengan perlahan,apa kau tidak malu mereka senyum senyum melihat kita."


Protesku tak kuasa menahan malu melihat para orang tua yang sudah tersenyum senyum melihat aksi romantis David.


"Malu?"


"Kenapa harus malu?"


"Kau istriku,dan aku suami mu?"


"Dan keadaan mu sangat lemah,aku tidak mau ambil resiko untuk itu."


"Jadi sudahlah kau diam saja dan hentikan ceramah mu itu..!"


"Dassar,wanita penceramah..."


Kata David menepis protesku dan terus berjalan sambil menggendongku.


"Kenapa kalian semua berdiri di sini seolah menyambut kepulangan ibu negara?"


"Ayo kita masuk dan berbicra di dalam."


Kata David senewen.


"Naima...."


Panggil ibu dan langsung memelukku saat David menurunkan ku dari gendongannya dan menduduk kan ku di sofa.


"Hei...."


"Kenapa ibu menangis?"w


Tanyaku mengusap air mata ibu yang membasahi pipinya.


"Biarkan dia menangis sayang,itu adalah air mata kebahagiaannya."


Jawab ayah mewakili ibu yang tak mampu berkata kata lagi.


"Benarkah?"


Tanyaku dan mengeratkan pelukan ku.


"Sayang....ternyata kau adalah wanita sempurna nak...."


Tangis ibu pecah sembari memelukku.


"Ya Bu...aku sudah menjadi seorang ibu meskipun sebentar.."


Jawabku merasa bangga.


"Hei....hei...."


"Sudahlah....kenapa jadi ada drama penuh mata,harusnya kita bahagia karena kita memiliki harapan untuk mendapatkan cucu dari mereka."


Kata ibu mertua yang coba mencairkan suasana.


"Haha....."


"Ya,kau benar besanku."


"Maafkan aku karena terbawa suasana..."


Sahut ibu melepaskan pelukannya.


"Nah....begitu."


"Baiklah David,Naima pasti sangat lelah...bawa dia ke kamar dan istirahatlah nanti si mba akan mengantarkan makanan ke kamar kalian."


Perintah ini mertua yang sangat peduli padaku.


"Naima sebentar...."


Kata ibu mertua dan mengehentikan David yang ingin menggendongku untuk naik ke kamar.


"Ya bu...."


Jawabku.


"Apa kau ingin pergi begitu saja,tanpa memeluk ibu?"


Sambungnya dengan wajah yang datar.


Dan aku pun lengsung merentangkan tangan ku lalu dia menghampiriku dan memelukku.


"Selamat sayang...."


"Selamat atas keajaiban yang di berikan Tuhan padamu."


Ucap ibu mertua memelukku dengan erat.


"Terimakasih Bu..."

__ADS_1


Jawabku dalam pelukannya.


"Okey...."


"Sekarang jagalah kesehatan mu dengan baik,makan makanan yang bergizi,jangan terlalu lelah...dan segera berikan kami cucu sebanyak banyaknya ya..."


Sambung ibu mertua setelah melepaskan pelukannya.Dan aku hanya menunduk tersipu malu.


"Hei ...istriku ..."


"Bicara mu ini,seolah olah Naima seperti pabrik yang memproduksi boneka saja."


Sahut ayah mertua yang seketika membuat tawa kami semua pecah dan gemuruh di ruang tamu.


"Ehem...."


"Baiklah semua kalau begitu sudah bolehkan si pabrik boneka ini ku bawa ke kamar untuk istirahat?"


Tanya David di sela sel tawa kami.


"Ya...ya ..."


"Tentu saja,pergilah nak bawa Naim istirahat."


Jawab ayahku.


Dan kami pun pergi meninggalkan mereka yang sedang tertawa bahagia,sejenak mereka lupa masalah tentang Rima.


"Huff...."


"Ya ampun....kau ini semakin berat saja."


Kata David meledekku sembari meletak kan ku di atas tempat tidur.


"Jangan memghina...."


"Ini resiko dari seorang ibu hamil yang baru saja proses bersalin."


"Dan itu juga hasil dari perbuatanmu."


Jawabku kesal.


"Haha....."


"Benarkah...."


"Kalau begitu kau harus berterimakasih pada lelaki hebat ini."


Kata David begitu bangga.


Lelakk hebat....


Ciih...si duda sombong ini merasa seperti supe Hero saja.


Gerutuku yang ternyata samat terdengar oleh David.


"Apa kau mengatakan sesuatu?"


Tanya David.


"Haah...?"


"Aku...?"


Jawabku berdalih.


"Ya,kau mengatakan susuatu."


"Cepat katakan,atau kau akan tanggung sendiri akibatnya."


Ancam David.


"Ehm...."


"Itu...."


"Maksudku....."


Jawabku terbata bata sambil berfikir ingin mengatakan agar david tidak mendengar gerutuanku.


"Apa.....!"


Gertak David.


"Ehm...maksudku kenapa aku harus berterimakasih padamu?"


Tanyaku sepontan.


"Ow...."


"Tentu saja kau harus berterimakasih padaku atas bahan baku yang ku transfer ke dalam rahim mu sebagai uji coba yang membuat.u bisa menjadi wanita sempurna sekaligus membuktikan bahwa apa yang di katakan si pecundang Arga itu salah."


Jelas David begitu bangga.


"Benarkah?"


Tanyaku


"Hemm..."


Jawab David ya g sedang berdiri di sebelahku dan bermain ponselnya.


"Kalau begitu kemarilah.."


Pintaku mengulurkan tangan.


"Apa ?"


Tanya David belagak cuek.


"Kemarilah dan duduk sini di dekatku."


Kataku.


Dan tanpa komentar David pun duduk di sebelahku dan sangat dekat dan menatapku.


Ku pegang wajahnya dengan kedua tanganku.Aku menatapnya dengan penuh cinta lalu mengecup dahinya dengan durasi yang cukup lama.


"Emmmmmuach...."


"Terimakasih...."

__ADS_1


Kataku tersenyum begitu bahagia.


"Terimakasih karena telah,menjadikan ku wanita yang sempurna dengan menjadikan ku seorang ibu yang dapat mengandung dan melahirkan."


Sambungku mengulang kata yang sama.


"Kau bahagia?"


Tanya David mengelus pipiku dengn tangannya.


"Sangat bahagia..."


Jawabku.


"Kalau begitu terimakasih karena sudah merasa bahagia hidup bersamaku."


Sambung David membelai rambutku dan menatapku dengan penuh cinta.


"Sama sama...."


Jawabku karena tak kuasa melawan tatapan mata David dari wajahnya yang tampan.


"Lalu mana hadiah dari ucapan terimakasihmu?"


Tanya David yang tak pernah lupa hukum dalam hidupnya.


"Hadiah apa?"


"Kau juga mengucapkan terimakasih padaku,jadi kita impas kan...?"


Jawabku membela diri agar selamat dari kejahilan David.


"Ya,kau benar dan aku akan memberikan hadiah untuk itu."


Kata david menepis alasan ku.


"Ya sudah mana hadiahmu?"


Tanyaku seolah menantang.


"Berikan hadiahmu dan aku akan memberikan hadiahku."


Jawab David tersenyum sinis dengan tatapan penuh rencana.


"Katakan kau ingin apa?"


Tanyaku lagi lagi menantang.


"Aku ingin ini....(menunjuk dahi dengan jarinya)"


"ini....(menunjuk hidung bangirku)"


"Ini.....(menyentuh bibirku)"


"Ini.....(menyentuh gunung kembarku)"


"Dan.......ini....(Jari jemari David mantap berhenti tepat di daerah terlarangku yang sangat sensitive."


"Ouch.....maaf"


"David kali ini aku tidak dapat memberikan hadiah seperti yang kau pinta."


Jawabku menepiskan tangan David.


"Kenapa?"


"Bahkan jika aku tidak memintanya sebagai hadiah tetap saja itu semua adalah hak ku."


Protes David kesal.


"Ya...kau benar,tapi apa kau lupa saat ini aku sedang masa nifas..?"


Tanyaku tersenyum dengan menaikkan kedua alisku seoalah merasa puas melihat wajah David yang penuh rasa kesal.


"Lalu bagaimana denganku?"


David balik bertanya.


"Untuk itu kau harus menahan diri untuk tidak mendekati diriku."


"Ya....anggap saja ku sedang berpuasa untuk mengendalikan hawa nafsu birahi mu."


"Hehe....."


Jawabku mendorong David perlahan sebagai peringatan.


"Hemmm....."


"Baiklah...,berapa lama?"


Tanya David kesal.


"Ehm....bisa jadi selama satu bulan,atau lebih..."


"Bagaimana tuan Duda?"


"Apa kau bisa melakukannya?"


Tanyaku kembali tersenyum dan menaikkan kedua alisku menantang David.


"Okey ..."


"Jika itu untuk kebaikan mu,jangan kan mengendalikan nafsuku,bahkan jika dunia ini dapat ku beli maka aku akan belikan hanya untuk kebaikan mu."


Kata David bak pujangga yang sedang merayu.


"Ya...dan sayangnya itu tidak mungkin."


Kataku snewen karena merasa sedang di gombali oleh David.


"Ya...maka dari itu aku mengatakan hal seperti itu."


"Hehe........"


Tawa David lepas seolah merasa puas berhasil membuatku kesal.


"Baiklah....tunggu di sini aku akan ambilkan makanan untukmu."


Perintah David sambil membelai manja rambutku sebelum turun kebawah.


"Dasar duda gila....."

__ADS_1


Kataku menggerutu sambil tertawa saat David telah keluar dari kamar.


Bersambung.....


__ADS_2