Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 25...


__ADS_3

Tak lama kami pun tiba di rumah,kakek dan nenek Rima beserta ayah dan ibuku sedang duduk santai di teras rumah.


Tumben ayah ibu duduk santai di sini,ada apa ya?


Pikirku dalam hati.


"Kakek...nenek...."


Triak Rima memanggil kakek neneknya begitu turun dari mobil dan berlari membawa pialanya.


"Wah....sayang,kau membawa piala?"


"Katakan pada kami apakah kau tampil dengan bagus tadi di sekolah?"


Tanya ibu mertua memangku Rima.


"Tentu saja nenek karena itu lah aku membawa piala."


Jawab Rima begitu bangga.


"Itu sebabnya kakek dan nenek bangga sekali punya cucu seperti Rima"


Sambung ayahku yang sudah menganggap Rima seperti cucu kandungnya.


"Benarkah kakek sebrang (Panggilan Rima untuk ayah dan ibuku)?"


Tanya Rima


"Tentu saja nak, setiap anak yang baik dan pintar semua orang tua pasti bangga memilikinya."


Jawab ayahku.


"Ayah...ibu ada apa ?"


"Tumben main ke sini?


"Apa semua baik baik saja?"


Tanyaku heran.


"Oh...tidak ada sayang kami hanya mengobrol santai saja kebetulan ada waktu luang."


Jawab ibuku.


"Benarkah?"


"Kalau begitu aku ijin ke kamar dulu untuk menyegarkan diri nanti kita mengobrol lagi."


Pamitku dengan senyum sumringah melihat ayah dan ibu ada di rumah karena kami sudah lama tidak mengobrol alasan pekerjaan padahal rumah kami bersebrangan letaknya.


"David apa kau mau minum kopi?"


Tanya ibu mertua yang masih berdiri di teras.


"Tidak ibu sebaiknya aku langsung ke kamar saja untuk mengganti pakaian dulu."


Jawab David dan menyusulku ke kamar.


"Pak Wijaya bagaimana hubungan Naima dan David sejauh ini?"


"Apakah mereka masih sering bertengkar?"


Tanya ayah kepada ayah mertua sedikit kawatir.


"Kalian tidak perlu kawatir bapak dan ibu Satya ,mereka baik baik saja.Jika ada sedikit perdebatan dalam sebuah rumah tangga bukan kah itu hal yang biasa."


Jawab ibu mertua agar ayah ibu jangan risau.


"Iya itu benar Pak Satya,dan aku sangat bersyukur Naima hadir dalam hidup Rima dan David,aku perhatikan kehidupan Rimabdan david jauh lebih baik di banding dulu.Kami percaya suatu hari nanti Naima akan bisa membuat David kembali percaya pada sebuah ikatan yang di sebut cinta."


Sambung ayah mertua.


"Oh...syukurlah jika begitu,kami merasa kawatir jika kehadiran Naima akan menjadi beban dalam hidup David?"


Keluh ibuku.


"Ya ampun buk Satya,jangan berkata seperti itu.Kehadiran Naima dalam hidup David bukanlah menambah bebannya tapi lebih tepatnya mengurangi bebabnya."


Kata ibu mertua.

__ADS_1


"Maksudnya?"


Tanya ibu bingung.


"Apa kau tahu Bu Satya,semenjak Naima berhasil membuktikan bahwa Rima adalah putri kandung David,setelah itu sikap David mulai pun mulai berubah,baik kepada Rima maupun Naima meskipun perubahannya tidak seratus persen langsung berubah tapi David yang dulu bersikap sangat dingin sekarang mulai lebih perhatian.Dan bahkan sekarang ini David tidak pernah mengizinkan Naima pergi sendirian meskipun itu hanya ke sekolah.Walaupun alasannya mengatas namakan Rima tapi aku yakin itu hanya cara David saja bagaimana agar bisa melindungi Naima."


Cerita ibu mertua menyampaikan pengamatannya tentang David.


"Ya ampun...benarkah sampai seperti itu?"


Tanya ibu terkejut dan salut dengan perubahan sikap david.masih sebatas antar jemput belum lagi jika dia mengetahui bagaimana David membelaku di sekolah tadi.Mungkin mereka akan terus menyanjung David hingga telinganya terbang ke awan.


"Hoo...syukurlah jika seperti itu,semoga suatu hari nanti hubungan mereka bisa terjalin layaknya hubungan sebuah pasangan pada umumnya."


Doa ibu untuk hubunganku dengan David.


"Aamiin.."


Jawab ibu mertua.


"Bu Satya tenang saja,aku sudah merencanakan perjalanan bulan madu untuk mereka."


Kata ibu mertua dengan tersenyum dan memikirkan sebuah ide.


"Ya...aku setuju untuk itu"


Sambung ayah mertua.Dan mereka pun tertawa lepas layaknya orang yang mendapatkan ide cemerlang untuk sebuah rencana.


Sementara itu di kamar....


Aku masih resah dan uring uringan.


Duh..Gimana nih,aku tetap harus berterimakasih untuk pembelaan David padaku hari ini.tapi hadiah apa yang harus ku berikan sebagai ucapan terimakasih.Gimana coba jika dia meminta hadiah yang sana seperti yang Rima berikan.Iih......


Pikirku dalam hati sambil menggeliat geli memikirkan hadiah yang sama seperti Rima.Dan ternyata aku semua kegelisahan ku ini masih dalam pengawasan David,sepertinya dia tahu apa yang ku fikirkan hingga mengundang sifat jahilnya untuk membuatku ketakutan senidiri dalam pemikiranku.


"Apa kau baik baik saja?"


Tanya David yang terlihat dari pantulan cermin riasku dia sedang berdiri di depan pintu dengan senyum sinisnya.


"A...aku...,ehm...eh,ti..ti..dak ."


Jawabku gugup.


"Lalu kenapa kau gugup dan berkeringat?"


Tanya David lagi.


"Berkeringat?"


Tanyaku gugup dan memegang tengkuk leherku yang ternyata benar sudah berkeringat dingin karena gugup.


"Oh ya...?mungkin karena ac nya belum di nyalakan.


Jawabku coba mengelak.


"Oh ya?"


"Tapi ac di kamar ini menyala ko dan temperatur suhunya cukup dingin."


Kata David mengernyitkan dahi nya.


"Hei...sebenarnya ada apa dengan mu?"


"Jika kau ingin mengatakan sesuatu,katakan saja,jangan malu malu."


Kata David lagi begitu santainya sambil membuka kemejanya untuk tukar pakaian.


Aku yang dalam kebingungan memikirkan hadiah apa yang akan di minta David jika aku mengucapkan terimakasih sontak berfikir negatif melihat hal itu.


Ya ampun ...mau apa duda gila ini?


apa dia ingin meminta hal yang bukan bukan sebagai hadiah dari ucapan terimakasihku?


Oh tidak tidak....jangan mendekat ..jangan mendekat....


Kataku dalam hati dan menundukkan kepalaku karena gugup dan takut saat melihat David yang sudah bertelanjang dada berjalan menuju kearahku.


"Heiii ....!" (David)

__ADS_1


"Aaaaa......." teriakku terkejut dan refleks melemparkan sisir yang ku pegang ke arah David.


"Ada apa denganmu?"


"Kenapa kau selalu berteriak?"


Tanya david kesal.


"Kau....ka..kau mau apa?"


Tanyaku merasa tidak nyaman.


"Apa?"


"Memangnya aku mau apa?"


Tanya David heran.


"Ke...ke..kenapa kau membuka kemejamu?"


Tanya ku kembali dengan gugup.


"Hei wnita aneh,jangan berpikiran negatif hanya karena aku membuka kemejaku ya.!!!"


"Aku hanya ingin mengganti pakaiannku dan menemui orang tuamu di bawah."


Jelas david...


Huf...syukurlah....


Aku menarik nafas lega.


"David...."


Panggilku begitu sopan


"Hemm..."


Jawab David sambil bermain ponsel duduk di sofa.


"Dengar,mungkin ini tidaklah penting bagimu tapi ini sangat penting bagiku."


"Aku ucapkan terimakasih untuk semua yang kau lakukan hari ini.Terlepas entah apa pun itu alasan di balik semua yang sudah kau lakukan,aku ucapkan terimakasih banyak."


Kataku menyampaikan apa yang dari tadi ingin ku katakan hingga membuat aku uring uringan.


"Haha...."


"Apa aku tidak salah dengar?"


Tanya David malah tertawa.


"Maksudnya?"


Tanyaku bingung.


"Maksudnya adalah kau berani mengucapkan terimakasih berarti kau sudah menyiapkan hadiah untuk itu."


Jawab david menggodaku.


"Mengucapkan terimakasih tidak harus memberikan hadiah,itu hanya ada dalam peraturan hidupmu saja."


Jawabku kesal


"Justru itu,saat ini kau mengucapkan terimakasih dengan orang yang memiliki peraturan itu kan?"


"Tapi kan....."


"Cukup..."


Kata David memotong kalimat yang ingin ku katakan untuk berdalih.


"Sekarang coba pikirkan hadiah apa yang ingin kau berikan sebagai ucapan terimakasih mu ,atau aku yang menentukan hadiah apa yang harus kau beri."


"Gllek.."


Aku terdiam menelan ludahku mendengar atau dia yang menentukan hadiah apa yang harus ku berikan.Karena aku sangat takut jika David meminta hadiah yang sama seperti ya g di berikan Rima.


Dengan senyuman sinis seolah meledekku David pun pergi meninggalkan ku di kamar dan turun untuk bergabung dengan kakek dan nenek Rima di teras depan.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2