
Aku sangat takjub melihat tatanan setiap ruang di Panti Asuhan ini,semua terlihat sangat rapih dan bersih terutama ruangan yang menjadi kamar tidur anak anak Panti.Tidak terlihat sama sekali seperti kamar kamar yang ada di Panti pada unumnya,meskipun terlihat sederhana tapi David dan para pengurus Panti berusaha membuat senyaman mungkin suasana kamar yang di tempati semua anak anak.
Dan yang paling membuat aku takjub adalah,ketika aku berada di sebuah ruangan yang mana di buat khusus untuk ruangan anak balita,terdapat enam orang anak yang mungkin usianya masih di bawah tiga tahun termasuk anak yang di gendong David tadi dan dua orang bayi mungil yang baru hadir menjadi bagian dari Panti Asuhan ini sekitar dua Minggu lalu.Dua Baby sister yang sedang menggendong mereka cerita bahwa kedua bayi ini kembar dan di temukan oleh pihak Panti tepat di depan pintu gerbang.
Hatiku begitu terharu mendengar cerita mereka,dan kembali mengingatkan dengan takdir yang menetapkan ku sebagai wanita yang tidak memiliki rahim sehingga tidak bisa melahirkan seorang anak.Aku berpikir Tuhan memang benar benar menuntun jalanku.Benar yang pernah ayah bilang jika Tuhan menakdirkan tidak bisa menjadi ibu dari darah dagingku sendiri itu karena Tuhan ingin menjadi kan ku seorang ibu untuk anak anak yang membutuhkan kasih sayangku seperti Rima dan melalui pernikahanku dengan David Tuhan memeprtemukan ku dengan anak anak di Panti ini.
Tuhan memang Maha Besar dengan segala perencanaan Nya yang menjadi rahasia kehidupan.
Pikirku dalam hati.
"Boleh saya menggendongnya?"
Tanyaku pada salah satu baby sister yang sedang menggendong bayi yang kebetulan sedang menangis.
"Tentu saja Bu...."
Jawabnya dan menyerahkan bayi itu kepadaku,Seketika naluri keibuanku pun muncul aku langsung mendekapnya dalam gendongan ku dan membuainya untuk menenangkannya.
"Uhh....sayang...."
"Sudah diam ya....jangan menangis lagi..."
Kataku membujuk dan menenangkan bayi mungil itu.
Tak lama kemudian David pun menucul.
"Kau disini rupanya...."
Kata David menghampiriku.
"Iya, saat kau tengah sibuk ngobrol dengan anak anak tadi di depan,aku penasaran untuk melihat sekeliling Panti Asuhan ini hingga akhirnya aku berada di ruangan ini."
Jawabku.
"Kau menyukai Panti Asuhan ini?"
Tanya David...
"Ammat suka..."
Jawabku.
"Baguslah..."
Kata David sambil mengambil bayi satu lagi dari baby sister yang menggendongnya karena mulai merengek juga.
"Kenapa dia menangis?"
Tanya David sambil menggedong bayi itu dengan sangat hati hati.
"Tuan,ini jamnya mereka minum susu."
Jawab seorang baby sister.
"Kalau begitu pergi lah buat susunya biar kami yang menggendongnya."
Titah David kepada dua Beby sister itu.Dan mereka pun pergi untuk membuat susu.
"David..."
__ADS_1
"Lihatlah mereka sangat lucu dan menggemaskan ya..."
Kataku begitu terpesona melihat dua bayi kembar yang masing masing ada dalam gendongan kami.
"Siapa?"
"Baby siternya?"
Tanya David coba melawak.
"Ikh...kau ini.'
"Plak...."
Rasa gemas ku pindah ke David karena lawakannya.
"Haha...."
Tawa David terlihat begitu senang.
"Mereka bayi kembar yang di buang oleh orang tuan yang tidak bertanggung jawab."
Jelas david menatap bayi yang begitu tenang dalam dekapannya.
"Iya aku sudah dengar ceritanya tadi."
"Sungguh malang nasib mereka."
Kataku terharu.
"Sekarang tidak lagi...."
"Karena sekarang mereka berada di tempat yang tepat,dan mungkin saja jika mereka tinggal bersama orang tua mereka,belum tentu bisa mendapat fasilitas yang layak seperti disini.Karena orang tua yang sanggup meninggalkan anaknya adalah ciri orang tua yang tidak mau berjuang untuk masa depan anaknya."
Sambung David seoalah mewakili rasa sakit yang di alami Rima saat di tinggalkan Sahira ibu kandungnya saat dia bayi dulu.
"Kau benar kali ini aku setuju dengan pendapatmu."
Kataku memberi dukungan untuk David.
"Lalu siapa nama mereka?"
Tanyaku.
"Aku belum memberinya nama."
"Dan aku rasa sebaiknya itu menjadi tugasmu."
Kata David menyerahkan ide pemberian nama padaku.
"Hemm...."
"Karena mereka dua bayi kembar laki laki yang tampan, bagaiamana jika kita beri mereka nama Hasan...."
Kataku sambil mengecup dahi bayi yang ku pangku.
"Dan Husain...."
Sambungku mengecup dahi bayi yang ada di pangkuan David.
__ADS_1
"Hasan dan Husain...?"
"Hem...nama yang bagus."
Kata David menyetujui nama yang ku berikan.
Tak lama kemudian dua baby sister pun kembali membawa dua botol susu.
"Saatnya minum susu...."
Kata kedua baby sister dan mengambil mereka dari pangkuan kami dan membawanya masuk ke kamar mereka untuk di beri susu.
"Lalu bagaimana dengan anak anak balita yang lain?"
Tanyaku teringat dengan anak anak balita yang ku lihat di ruangan khusus balita tadi.
"Setiap anak punya satu baby sister untuk merawat mereka."
"Kau tidak perlu khawatir."
Jawab David yang menjelaskan bahwa dia telah memfasilitasi setiap anak di Panti dengan sebaik baiknya termasuk baby sister nya.Dan aku pun merasa lega mendengarnya.
"Ayo ku tunjuk kan ruangan yang lain."
Kata David mangajak ku kembali berkeliling.
Dan akhirnya kami sampai di depan ruangan yang di tunjuk kan bagian staff keuangan tadi saat mengobrol.
"Ayo masuk...."
Ajak David.
Dengan rasa penasaran aku pun ikut masuk ke ruangan khusus itu.Kulihat ada beberapa orang yang sudah menunggu David di ruangan itu dengan membawa beberapa map yang sepertinya itu adalah angket berupa laporan tentang anak anak Panti.
"Selamat siang semua..."
Sapa David memasuki ruangan.
"Selamat Tuan ..."
Jawab mereka berdiri menyambut kedatangan David.
"Silahkan duduk ..."
Kata David yang ikut bergabung duduk di sofa yang sudah di tata dalam ruangan itu.
"Sebelumnya perkenalkan,ini adalah ibu Naima istri saya yang mungkin kedepannya yang akan membantu kalian mengurus Panti Asuhan ini."
Kata David memperkenalkan ku.
Aku pun langsung menatap David,tapi bukan untuk terkejut dan keberatan ,melainkan karena aku merasa senang dan bersedia untuk ikut mengurus Panti Asuhan ini.
Senyum begitu ramah pun terpancar di wajahku sebagai salam kenal dari diriku.Lalu kemudian satu persatu dari mereka menunjukkan map yang berisi laporan tentang Panti kepada David.Mulai dari data biaya pengeluaran,data biaya anak anak yang sudah bersekolah dan data anak anak yang akan lulus SMA tahun ini.
Aku begitu takjub mendengarnya,dan kembali menyadari betapa mulia nya hati David.Di balik kesombongannya di menyimapan rasa prihatin yang tulus untuk orang lain.Bahkan dia tidak pernah memikirkan begitu besarnya biaya yang harus dia keluarkan jika dia tidak menerima bantuan dari donatur yang ingin menyumbang memberikan bantuan.Yang dia pikirkan adalah bagaimana caranya agar semua anak anak yang tinggal di Panti merasa nyaman dan masa depan mereka terjamin.
Aku begitu salut dengan jiwa sosial si duda sombong.
Bersambung......
__ADS_1