Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 115.......


__ADS_3

Arga berlalu,namun aku masih tetap memeluk David begitu erat.


"Kau baik baik saja?"


Tanya David membelai rambutku begitu lembut.


"Hemm....."


Jawabku manja dalam pelukan David.


"Are you sure?"


Tanya David lagi memastikan.


"Heeemmmmm....."


Jawabku tetap anteng memeluk David.


"Walaupun setelah mengeluarkan taringmu?"


Tanya David mulai mengejek ku yang sebenarnya ingin mencairkan suasana.


"Pllak...."


"Kau ini..!"


Kataku memukul bahu David.


"Haha....."


"Maaf..."


Kata David dan mengeratkan pelukannya.


"Satu....."


"Hehe....."


Balasku mengingatkan untuk hadiah atas hukuman dari ucapan maafnya.


"Aku tidak peduli....."


Sahut David dan semakin kuat memelukku dalam dekapannya.Selama beberapa menit kami hanya terdiam sejenak menikmati adegan romantis dalam pelukan dengan mata yang saling terpejam.Hingga tak lama kemudian David menyebut namaku dan mengatakan sesuatu.


"Naima...."


Panggil David.


"Hemm......"


Jawabku dengan kedua tangan yang masih melingkar di tubuh David.


"Terimakasih karena telah begitu tulus mencintaiku dan kau mengatakannya di depan Arga mantan mu."

__ADS_1


Kata David dengan menengadahkan wajahku menghadap dekat dengan wajahnya.


"Sekalipun itu bukan mantanku,aku tetap tulus mencintaimu dan itu semua karena kepedulian mu terhadap diriku."


Jawabku tersenyum menatap David dengan jarak pandang yang begitu dekat.


Hingga akhirnya bibir David maju semakin dekat dengan bibirku,lalu ciuman yang terasa hangat dari kedua bibir kami lagi lagi terjadi dan saling berbalas tanpa henti.


David semakin tak dapat mengendalikan diri hingga tak peduli jika kami sedang berada di kantor.Andai saja itu bukan di ruangan sang direktur utama yang jika ingin masuk harus mendapat jawaban terlebih dahulu dari David,mungkin beberapa orang akan merasa iri melihat adegan kami ini.


Semakin David tak terkendali dengan mulai menjalankan jari jemarinya menyusuri sekujur tubuhku,aku pun semakin menikmati.Dan tiba tiba ponselku berdering dengan bunyi notifikasi panggilan masuk.Seketika aku pun menarik bibirku dari cengkraman bibir David dan mengambil ponselku di dalam tas yang berada di meja tamu di ruangan David.


David pun berdecak,merasa kesal karena kesenanganya harus terganggu dengan panggilan dari ponselku.


"Jangan marah....."


"Ini panggilan dari sekolah...."


"Pasti tuan putri Rima meminta pihak sekolah untuk menghubungiku agar menjemputnya."


Kataku tertawa sebelum menjawab panggilan telepon itu.


"Astaga...."


"Aku lupa menyuruh supir untuk menjemputnya."


Kata David baru teringat.


Kataku menjawab panggilan telepon dan menekan tombol pengeras suara agar David juga mendengarnya.


"Ibu Nai....."p


Panggil Rima dari sana.


"Ya sayang...."


Jawabku sambil bercermin merapihkan make up ku dan menghapus lipstik ku yang sudah berantakan.


"Kalian dimana?"


"Kenapa tidak ada yang datang menjemputku?"


"Semua teman temanku sudah di jemput sejak tadi,aku takut ibu Nai...."


Tanya Rima terdengar gelisah.


"Maafkan ibu sayang..."


"Jangan takut sayang ayah dan ibu akan segera datang menjemputmu."


Jawabku dan segera berkemas.


"Ibu Naima...."

__ADS_1


Kali ini terdengar suara ibu kepala sekolah ya g berbicara.


"Ya Bu...."


Jawabku.


"Dengar,kalau boleh secepatnya anda datang menjemput Rima,karena sebelumnya tadi ada dua orang mengaku kerabat anda ingin menjemput Rima dengan mengatasnamakan nama anda dan bapak David."


Kata ibu kepala sekolah memberikan informasi.


"Apa...?"


Teriakku dengan David bersamaan begitu khawatir.


"Ya Bu,itu benar..."


"Namun karena mereka tidak termasuk ke dalam daftar orang orang yang di rekomendasikan oleh orang tua tau wali Rima untuk menjemput Rima,pihak sekolah pun tidak mengizinkan mereka.Hingga akhirnya mereka bersikeras tetap ingin membawa Rima.Hingga saya datang dan akhirnya menyuruh mereka menunggu di luar gerbang sekolah hingga orang tua dari Rima datang.Beberapa menit yang lalu saya masih melihat mereka berdiri di depan gerbang sekolah tapi sekarang sudah tidak kelihatan."


Jelas ibu kepala sekolah sangat bijaksana.


"Baiklah Bu ...."


"Terimakasih atas informasinya ,secepatnya kami akan tiba di sekolah."


Kataku dan mengakhiri panggilan telepon.


Tanpa bicara apa pun David langsung menyambar kunci mobil yang ada di meja kerjanya dan bergegas untuk menjemput Rima.


"Naima cepatlah....!!"


Kata David berjalan begitu cepat keluar dari ruangannya menuju pelataran parkir dan aku pun mengikuti langkahnya.


Dengan perasaan gelisah David mengendarai mobilnya dengan begitu kencang.


"David,tenanglah...."


"Jangan gegabah membawa mobilnya ."


Kataku coba menenangkannya.


"Aku tidak bisa tenang Naima sebelum bertemu dengan Rima dan ibu kepala sekolah."


Kata David dengan pandangan fokus ke depan dan melajukan mobilnya dengan kecepatan seratus kilometer per jam.


"Dan aku tidak akan memberi ampun kepada mereka yang telah berani mengusik ketenangan putriku..."


Sambung David memberi ultimatum.


Aku melihat rasa khawatir yang begitu besar di mata David.Bahkan sama seperti David aku pun merasakan hal yang sama,karena meskipun Rima tidak terlahir dari rahim ku,tapi dia bagaikan denyut jantung dalam kehidupanku.


Mobil pun terus melaju dengan kencang,aku pun tak dapat menghentikan keinginan David kali ini.Dalam diam aku hanya bisa berdoa dan berharap agar kami bisa cepat sampai di sekolah dalam keadaan selamat.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2