
Seolah mendengar suara mobil David,tak lama Rima pun datang berlari menuju ke arah kami.Dan sontak suara Rima yang memanggil nama kami seketika membuat kami menyudahi adegan romantis itu.
"Ayah...."
"Ibu Nai...."
Panggil Rima berlari ke arah mobil.
"Ya sayang ...."
Jawab kami bersamaan dan keluar dari mobil.
"Ibu Sahira telah pergi....."
Kata Rima memberi kan informasi tanpa ada ekspresi sedih di wajahnya seperti yang terlihat tadi saat kami menemukan kertas memo yang di tinggalkan Sahira di kamarnya.Bahkan aku dan David saling menatap dengan ekspresi bingung.
"Sayang ...tenang ya."
"Ibu Sahira pasti nanti di temukan."
Kataku sambil membungkuk dan mengusap kepala Rima bermaksud membuat dia tenang.
"Tidak ibu Nai..."
"Ibu Sahira tadi sudah kembali sekitar lima belas menit yang lalu."
Kata Rima coba menjelaskan.
"Lalu....?"
Tanya David mengernyitkan dahinya.
"Lalu....ibu Sahira mengemasi semua pakain nya.Dan dia bilang dia akan pergi karena dia todak bisa tinggal di sini lagi."
Cerita menyambung penjelasannya.
"Benarkah....?"
Kata David terlihat begitu senang langsung menggendong Rima dan masuk kedalam.
"Dan kau baik baik saja sayang....?"
Tanya ku sambil berjalan mengikuti mereka masuk ke dalam.
"Ya ibu Nai..."
Jawab Rima.
"Tidak sedih...?"
Tanyaku memastikan.
"Untuk apa sedih...."
"Jika ibu Sahira saja tidak sedih untuk pergi meninggalkan ku lagi,jadi kenapa aku harus sedih."
Jawab Rima begitu tegar.
"Anak pintar...."
"Emmmuach....."
Kata David memberi pujian dan bangga pada Rima.
Dan lagi lagi aku belajar dari Rima tentang sebuah keikhlasan.
**************
__ADS_1
Malam pun tiba selesai makan malam aku langsung membawa Rima ke kamarnya untuk membantunya belajar.Karena tadi di sekolah belajar belum aktif jadi anak anak hanya mendapat tugas belajar membaca di rumah Dan karena Rima adalah anak yang cerdas,jadi itu bukan lah hal yang sulit untuknya.Bahkan dia sangat suka membaca.
"Ibu Nai...."
Panggil Rima padaku setelah menyelesaikan tugas membacanya.
"Ya sayang...."
Jawabku dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa orang dewasa sangat membingungkan?"
Tanya Rima membuatku tersenyum.
"Hei....tuan putri,kenapa kau tiba tiba punya keluhan tentang orang dewasa?"
"Siapa orang dewasa yang sedang ingin kau bahas?"
Tanyaku mencubit pelan pipi Rima karena gemas.
"Ayah dan ibu Sahira."
Jawab Rima singkat.
"Wow...."
"Katakan dengan jujur,apa keluhan mu tentang mereka?"
Tanyaku coba menempatkan diri bukan sebagi seorang ibu,tapi sebagai seorang teman untuknya.
"Aku tidak mengeluh tentang mereka,hanya saja aku heran kenapa ayah dan ibu Sahira bertengkar hingga ibu Sahira harus keluar dari rumah ini?"
"Kenapa tidak ada yang coba mengalah."
"Seperti yang selalu ayah katakan,bahwa ayah sangat menyayangi ku,tapi kenapa ayah menyuruh ibu Sahira pergi meninggal kan ku.Padahal ayah tahu aku sudah begitu bahagia bertemu dengan ibu Sahira?."
"Apa kau sangat menyayangi ibu Sahira?"
Jawabku dan kembali bertanya.
"Ibu Nai,meskipun ibu Sahira telah meninggalkan ku sejak bayi,tapi ibu Sahira tetaplah ibu yang telah melahirkan ku kan?"
"Dan jika ibu Sahira tidak ada,mana mungkin aku bisa ada di dunia ini dan bertemu dengan ibu Nai yang baik hati ini...."
Jawab Rima begitu bijaksana terdengar sambil memeluk ku.Sejenak seperti bisikan setan yang menghampiri telingaku aku merasakan sedikit perasaan cemburu mendengar jawaban Rima,namun seketika ku hempaskan bisikan bisikan itu setelah mendengar kalimat terakhir dari Rima.
"Dan lagi pula,bukan kah sejak dulu ibu Nai selalu mengajarkan bahwa kita harus menghormati dan selalu menyayangi kedua orang tua kita meskipun kita tidak pernah melihatnya?"
Sambung Rima yang semakin membuatku bangga karena Rima selalu mendengarkan dan mengingat nilai nilai kebaikan yang ku ajarkan padanya.
"Ukkkh...."
"Kau memang anak pintar...."
Pelukku semakin erat pada Rima.
"Tapi ibu Nai,Apakah jika salah satu dari orang tua kita menikah lagi setelah berpisah apakah cintanya akan pindah semua untuk istri barunya....?"
Celetuk Rima dalam pertanyaan yang polos,namun aku seperti menangkap signal yang tidak beres dari pertanyaan Rima kali ini.
"Hei....sayang siapa yang mengatakan hal itu padamu?"
Tanyaku.
"Ibu Sahira....!"
Jawab Rima.
__ADS_1
Sudah ku duga.....
Kataku dalam hati yang curiga jika Sahira telah mencuci otak Rima.
"Boleh kau ceritakan pada ibu apa saja ya g di ceritakan ibu sahira padamu tadi sebelum dia pergi?"
Tanyaku coba mencari tahu hal buruk apa yang sudah di katakan Sahira pada Rima.
"Tadi ibu Sahira bilang,sebaiknya aku ikut dengannya,karena ayah tidak akan lagi punya cinta untuk ku setelah menikahi ibu Nai.Karena ibu Sahira dan ayah berpisah itu setelah kehadiran Ibu Nai."
Jawab Rima menundukkan kepalanya karena merasa tidak enak menceritakannya padaku.
"Lalu,apa keputusanmu?"
Tanyaku menegak kan kembali kepala Rima yang tertunduk.
"Aku tidak memutuskan apa pun.Karena yang terjadi tidak seperti yang ku rasakan.Aku merasa selama ini begitu bahagia tinggal di rumah ini bersama kalian semua."
Jawab Rima seolah menjelaskan bahwa apa yang di katakan Sahira padanya tidak membuat dia terpengaruh.Namun aki merasa kali ini saat yang tepat untukku menjelaskan yang sebenarnya pada Rima.
"Anak pintar...."
Kataku memuji Rima.
"Tapi,boleh ibu Nai ceritakan yang lebih jelas lagi?"
Tanyaku sebelum menceritakan yang sebenarnya.
"Hem...ya..."
Jawab Rima terlihat antusias ingin mendengarkannya.
"Jadi sebenarnya apa yang di ceritakan ibu Sahira itu tidaklah benar ya sayang...."
"Ayah David sangat mencintaimu,bahkan dia rela mengorbankan waktu kebersamaan nya dengan mu semasa kau kecil,agar bisa fokus bekerja keras dan menjadi orang yang sukses dan dapat memberikan kehidupan yang baik utk semua kebutuhan mu,agar kau tidak hidup dalam kekurangan."
"Tentu kau bisa lihat dan rasakan sendiri bagaimana ayah David memperlakukan mu?"
"Bak putri raja dalam sebuah kerajaan yang besar."
"Ibu Nai benarkan?"
Ceritaku yang coba menjelaskan dan bertanya untuk meyakinkan Rima.
"Hem ..Bu Nai benar."
jawab Rima.
"Dan satu hal lagi,ayah David menikahi ibu Nai bukan karena dia ingin memindahkan semua cinta nya pada ibu,melainkan karena dia ingin ada yang merawatmu dan memberikan cinta dan kasih sayang layakanya seorang ibu kepada putrinya."
"Dan karena dia tahu bahwa ibu begitu mencintaimu,oleh sebab itu dia setuju menikahi ibu Nai."
"Apa kau paham....?"
Tanyaku kembali setelah panjang lebar menjelaskannya.
"Sangat paham...."
Jawab Rima yang terlihat sudah mengantuk.
"Baiklah,kalau begitu karena tuan putri sudah terlihat sangat mengantuk,maka ibu peri akan menidurkan nya sekarang."
Kataku sambil merebahkan tubuh Rima di tempat tidur dan menyelimutinya.Dam hanya dalam hitungan detik Rima pun langsung tertidur nyenyak.
"Selamat malam sayang ...."
Kataku setelah mengecup dahi Rima dan keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Bersambung....