Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 109....


__ADS_3

Aku tak begitu banyak bicara di waktu sarapan pagi ini,entah kenapa aku merasa tak kuasa menahan air mata setiap kali suara Rima saat menceritakan mimpinya terngiang di telingaku.


Aku yang biasanya paling suka memulai obrolan di meja makan meskipun tentang hal hal kecil ,kali ini aku hanya diam seribu bahasa.Bahkan aku hanya tersenyum dan mangusap kepala Rima saat dia memuji nasi goreng buatanku sebagai sarapan favoritnya.


Hingga sarapan selesai aku hanya mengucapkan satu kata yaitu assalamualaikum saat berpamitan kepada kedua mertuaku.


Seolah mengerti apa yang ku rasakan,David pun mengelus kepalaku yang di tutup dengan hijab.Tatapan nya yang penuh kasih sayang menunjukkan bahwa dia begitu peduli padaku.Dan tak ingin melihatku terus memasang wajah sedih dengan menggunakan Rima David coba membuat lelucon.


"Ehmmm Rima sayang ...."


Panggil David .


"Ya ayah...."


Jawab Rima dari bangku belakang.


"Apa telingamu baik baik saja hari ini?"


Tanya David.


"Kenap ayah tiba tiba bertanya tentang telinga,aku merasa telingaku baik baik saja."


Jawab Rima yang belum mengerti maksud David.


"Benarkah..?"


"Tapi ayah merasa ada yang salah dengan telinga ayah pagi ini."


"Entah memang tidak ada atau ayah yang tidak mendengarnya."


"Ayah merasa hari ini tidak ada ceramah yang biasa ayah dengar."


Kata David yang tujuan sindirannya memancingku untuk berbicara.


"Ow.....aku mengerti maksud ayah."


"Tapi ayah....aku sarankan jangan membangunkan singa yang sedang tidur,karena itu akan membahayakan ayah."


Nasihat Rima yang terdengar sangat bijak.


"Tapi sayang,singanya tidak sedang tidur melainkan sedang diam saja.Jadi hal itu tidak akan terlalu berbahaya."


"Haha......


Jawab David yang masih terus berusaha membuat aku kesal agar aku mengatakan sesuatu karena rasa kesalku.Namun bukannya mengatakan sesuatu seperti yang di harapkan David aku malah hanya tersenyum seperti tidak ada gairah untuk melakukan apa pun.


"Ayolah ibu Nai....katakan sesuatu?"


"Dunianimi terasa sangat sunyi tanpa suara ibu Nai."


Rengek Rima.


"Ya...Rima benar .."


"Perjalanan menuju ke sekolah terasa sangat membosankan tanpa ceramah mu."


"Hehe....."


kata David ,dan lagi lagi David coba mengatakan sesuatu yang dapat membuatku kesal.


"Apa kau tahu....?"


"Selera humor mu jelek sekali,jika kau berusaha membuatku kesal.Kau tidak cocok mejadi komedian,karena kau lebih cocok menjadi pria yang sombong saja tuan duda."


Kataku mulai berbicara dan mengomentari usaha David untuk membuatku tidak sedih lagi sambil tertawa.


"Dasar wanita penceramah...."


Kata david tersenyum terlihat senang karena aku sudah mulai berbicara.


"Dasar duda sombong....!"


Balasku.


"Biarpun sombong tapi aku adalah pilihan ayahmu untuk menjadi menantu idaman nya "


"Hehe...."


Sahut David tak mau kalah.


"Ya itu sebabnya aku menikahi duda sombong pilihan ayah..."


Balasku lagi tertawa.

__ADS_1


"Hore.....akhirnya ayah dan ibu sudah berdebat lagi...."


"Itu artinya ini Nai sudah kembali baik baik saja..."


Sorak Rima tepuk tangan yang lebih terbiasa dengan perdebatan kami ketimbang keakuran kami.


"Hei...sayang"


"Kau ini lebih suka melihat kami berdebat ya?"


Tanyaku tertawa.


"Tentu saja ibu Nai,karena semakin kalian berdebat kalian semakin terlihat serasi...."


"Haha...."


Jawab Rima tertawa.


"Anak nakal...."


Kataku tertawa merasa gemas dengan perkataan Rima.


Dan suasana perjalanan pun kembali normal seperti biasa.Hingga akhirnya mobilnyamg di kemudikan David tiba di depan gerbang sekolah.


"Assalamualaikum ayah...."


"Emmuach...."


Pamit Rima kepada David sebelum turun dari mobil.


"Waalaikumsalam sayang...."


Jawab David dan memegang erat tanganku seoalah menahanmu untuk tidak turun.


"Tetap diam di sini,jangan turun dari mobil sampai aku kembali."


Perintah David sebelum turun menyusul Rima yang seketika membuat aku bingung.Kulihat dari jendela mobil David sedang berbisik pada Rima entah managatakan apa sehingga akhirnya Rima melambaikan tangannya kemudian masuk kedalam sekolah.


"Daaag...."


"Ibu Nai...hati hati di jalan...."


Teriak Rima melambaikan tangannya.


Jawabku meskipun tak tahu karena hal apa tiba tiba Rima melambaikan tangannya.Dan aku juga masih bingung kenapa David melarangku turun begitu sampai di depan gerbang sekolah.


Tak lama kemudian David pun kembali masuk ke mobil.


"Ada apa?"


"Apa yang kau katakan pada Rima?"


"Kenapa tiba tiba dia melambaikan tangan padaku,padahal aku juga akan menyusulnya masuk?"


Tanyaku tanpa jeda.


"Kau tidak akan mengajar hari ini."


Jelas David.


"Kenapa?"


"Ini masih hari kedua setelah libur panjang David."


"Dan aku belum izin pada kepala sekolah"


Kataku keberatan karena merasa aneh.


"Sudah tenang saja nanti aku yang akan mempermisikan mu."


Jawab David.


"Lalu kita akan kemana?"


Tanyaku penasaran.


"Ke klinik Nisa."


Jawab David mulai menejalankan mobil.


"Mau apa kesana?"


"Apa telingamu benar benar sakit?"

__ADS_1


Tanyaku khawatir.


"Telingaku tidak apa apa,tapi kita akan bertemu dengan dokter Nisa istri dari dokter Ipnu yang tempo hari kau telepon saat aku sakit."


Jelas David.


"Ow...."


"Mau apa kita kesana?"


Tanyaku lagi.


"Dokter Nisa adalah dokter spesialis kandungan dan aku sudah buat janji tadi pagi dengannya."


Jawab David.


"Lalu kenapa kita harus ke dokter kandungan?"


Tanyaku yang sama sekali tidak paham maksud dari perkataan David.


"Tentu saja memeriksakan dirimu."


Jawab David begitu sabar menjawab setiap peetanyaanku.


"Iya..."


"Tapi maksudku untuk apa?"


"Aku baik baik saja,tidak ada yang salah denganku."


Jawabku.


"Ada...."


Sahut David.


"Apa?"


Kataku bingung.


"Kesalahanmu adalah,karena kau tidak pernah memeriksakan kesehatanmu setelah dokter memfonismu."


"Ya kan...?"


Kata David.


"Untuk apa?"


"Apa gunanya lagi aku harus memeriksakan keadaanku toh sudah jelas dokter mengatakan itu pada Arga bahwa aku tidak akan bisa hamil."


"David sebaiknya kita pulang saja,karena apa yang di katakan Dokter nanti akan menyakiti hatiku."


Kataku yang begitu trauma dengan masa lalu yang menjadi penyebab kesedihan tiap kali mendengar kata bayi dan mengandung.


"Jangan bertanya untuk apa?"


"Kau memang harus melakukan pemeriksaan rutin seharusnya setelah fonis itu,setidaknya kau dapat mengetahui perkembangan kesehatanmu."


"Lagi pula coba kau ingat ingat,apakah saat itu kau mendengar langsung dari dokter?"


Tanya David.


"Tidak,Arga yang menyampaikan hasil dari pemeriksaan dokter saat itu."


Jawabku menunduk.


"Lalu kau percaya begitu saja?"


Tanya David lagi.


"Ya tentu saja,karena aku pikir arga tidak mungkin berbohong karena ini tentang masa depan kami."


Jawabku begitu yakin.


"Hem....jika dia sanggup meninggalkanmu karena alasan kau tidak bisa hamil,tidakm enutup kemungkinan pria itu juga sanggup berbohong padamu."


Jelas David.


"Dan untuk mencari tahu kebenarannya,ayo kita periksakan keadaanmu dengan dokter Nisa,meskipun nanti hasilnya terdengar sama aku percaya akan ada solusi bagaimana agar kau bisa memberikan adik bayi untuk Rima putriku yang sangat kau cintai hingga kau bersedih tiap kali mendengar mimpinya.'


Jelas David begitu tegas dan sangat mendukungku.


Dan aku tak mampu berkata apa pun lagi setelah itu.Perasaanku campur aduk ,tapi setidaknya perkataan David seolah memberiku secerca harapan.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2