
Merasa terancam dengan syarat yang di ajukan David,aku pun langsung mengajukan protesku agar Rima tidak menyetujui apa yang menjadi syarat yang di katakan David.
"Curang...!"
Triak ku protes di tengah tengah kesepakatan mereka.
"Heii....ada apa dengan mu wanita penceramah."
Tanya David.
"David,kau tidak boleh memanfaatkan keluguan Rima untuk mencoba trik mu itu."
"Itu namanya curang."
Jawabku mulai kesal.
"Itu bukan curang,tapi dalam bisnis itu namanya strategi..."
Kata David berdalih.
"Lalu apa bedanya?"
"Bukan kah itu sama saja?"
Tanyaku kesal.
"Tentu saja beda..."
Jawab David tersenyum sinis.
Aku yang mengerti benar tidak akan bisa menang berdebat dengan David, malah yang ada aku malah kadang terjebak sendiri dengan kata kataku,akhirnya memilih diam dan malas merespon apa pun.
Suasana pun jadi hening seketika dalam beberapa menit,namun Rima yang pintar begitu cekatan mengendalikan keadaan agar suasana kembali ramai lagi meskipun itu dengan perdebatan.
"Baiklah ayah,aku setuju dengan persyaratan yang ayah minta "
Kata Rima menantang David.
Spontan aku langsung melotot kearah Rima dengan mengeratkan kedua gigi ku seolah kode agar Rima jangan terjebak dalam kecurangan David dan akhirnya mengatakan apa yang menjadi rahasia antara aku dan Rima.
"Benarkah?"
"Kau yakin...."
Tanya David kembali coba memperingatkan Rima karena jika dia setuju dengan syarat yang di minta David,ini pertama kali nya Rima tidak membela ibu Nai nya seperti biasanya.
"Ya ayah,tentu saja."
Jawab Rima begitu yakin."
Dan lagi lagi aku hanya terdiam menjadi pendengar yang Budiman dan penonton yang baik dalam kesepakatan antara ayah dan anak.
Meskipun sebenarnya aku lah pemeran utama dalam kesepakatan mereka.
"Baiklah sayang,katakan pada ayah ada rahasia apa antar kau dan ibu Nai?"
"Dan siapa orang yang menjadi dokter kesayangan ibu Nai?"
Tanya David pada Rima tapi mengalihkan pandangan nya padaku dan mengedipkan mata kanan nya dengan tersenyum seolah dia merasa sudah menang.
Aku spontan memalingkan wajahku dari pandangan David berpura pura melihat ke luar jendela mobil untuk menyembunyikan wajahku yang sudah merah merona karena menahan rasa malu ku saat David tahu bahwa aku telah menjadikannya dokter kesayangan ku.
"Em...em..em..."
"Tidak bisa ayah,tidak bisa seperti itu.Ayah terlebih dulu yang katakan barang istimewa apa yang ayah sudah belikan untuk ibu Nai,lalu aku akan menceritakan siapa dokter kesayangan ibu Nai."
Kata Rima menolak permintaan David,dengan menggoyangkan kedua jempolnya dan menggelengkan kepalanya bertingkah layaknya orang dewasa yang sedang bernegosiasi dalam kesepakatan bisnis.
"Em...em...em..."
__ADS_1
"Tidak boleh seperti itu juga sayang,sebaiknya ceritakan dulu rahasianya baru ayah akan memberitahu barang apa yang ayah beli untuk ibu Nai."
Balas David untuk penolakan Rima dengan mengikuti gaya berbicara seperti Rima.
"Hem....baiklah ayah,biar adil bagaimana jika kita mengatakan nya secara bersamaan."
Kata Rima memberi ide.
"Hem...tidak buruk "
"Ide yang bagus "
Sahut David setuju.
"Baiklah dalam hitungan ke tiga kita katakan secara bersama sama ya...."
Perintah Rima.
"...1...2...3..."
Rima : "Ayah....."
David : "Tas brended...."
Rima dan David mengatakannya secara bersamaan.
Spontan aku terperangah dengan jawaban mereka berdua.
Ya ampun....habis lah aku.
Kataku dalam hati.
"Ayah?"
"Maksudnya?"
Tanya David bingung.
Jawab Rima begitu gamblangnya menceritakan hal yang harusnya menjadi rahasia kami berdua.
"Benarkah?"
"Kenapa seperti itu?"
Tanya David mengernyitkan dahi nya dan melirik padaku.
Dan aku pun sebisa mungkin coba ber ekspresi biasa saja untuk menahan rasa malu.
"Kenapa tanya padaku ayah,tanyakan saja langsung pada ibu Nai,kan orangnya ada di sini."
Jawab Rima membuatku semakin tak berkutik.
Dan terlihat dari kaca sepion depan David tersenyum melihatku dengan pandangan yang tajam dan aku oun langsung menunduk lagi lagi tak kuasa menahan rasa malu.
"Lalu ayah mana tas branded yang ayah beli kan untuk ibu Nai?"
"Aku ingin melihat dan menilainya apakah tas itu cocok di di pakai ibu Nai nantinya."
Tanya Rima lagi yang sudah tidak sabar ingin melihat tas seperti apa yang di belikan oleh David untukku.
Tadinya aku tidak merespon perkataan tas branded itu,karena aku pikir itu hanyalah trik David saja untuk memancing Rima agar kepo dan akhirnya mau menceritakan tentang julukan dokter kesayangan.
"Ada di dalam shoping bag gaun baru ibu Nai tepatnya di bagasi belakang bangku mobil yang kau duduki."
Jawab David.
Dan aku pun terkejut,ternyata David benar benar membelikan sesuatu untuk ku yang tadi nya ku kira itu hanyalah tipu daya David pada Rima.
Rima pun bergegas mengambil shopping bag itu dan mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang dengan tulisan sebuah merk tas ternama dan langsung membukanya.
__ADS_1
"Wow....ayah ini bagus sekali..."
Kata Rima kagum melihat tas kulit asli berwarna hitam mengkilap dengan merk tas ternama.Dan ternyata itu adalah tas yang sempat ku pegang pegang tadi di butiq dan kembali ku letakkan karena harganya sangat mahal dan David hanya memintaku untuk memilih gaun saja jadi niat untuk membeli tas tersebut pun aku urungkan.
Namun,aku sangat terkejut begitu tahu David memeblikan itu untuk ku.
Senyum sumringah pun menghiasi bibirku.
"Ibu Nai,lihatlah...."
"Tas ini sangat cocok sekali dengan gaun yang ibu beli ini."
Kata Rima yang juga mengeluarkan kotak beriri gaun yang ku coba tadi dari shopping bag.
"Oya...?"
"Benarkah...?"
Kataku masih tersenyum yang tak tahu harus bilang apa untuk yang di lakukan David kali ini.
"Benar...."
"Apakah ibu tadi sudah mencoba gaun ibu ini?"
Tanya Rima kepo.
"Tentu saja sudah."
Jawabku.
"Lali bagaimana ekspresi ayah saat melihat ibu Nai memakai gaun ini?"
Tanya Rima lagi.
"Ehm....ayahmu....ehm.."
Aku bingung harus jawab apa.
"Ayah pasti hanya terdiam saja dalam beberapa menit."
"Ya kan..."
Sambung Rima yang langsung tahu jawaban apa yang ada di dalam hatiku.
"Ehm...ya..."
Jawabku sambil melirik David yang sibuk dengan ponselnya.
"Wow....itu artinya ayah menilai ibu begitu cantik saat memakai gaun ini."
Kata Rima membuat aku merasa tersanjung.Meskipun aku tidak percaya benarkah David menilai demikian.
"Benarkah?"
Tanyaku lagi lagi melirik David.
"Iya benar ibu Nai..."
"Apa ibu tahu,itu sudah menjadi kebiasaan ayah jika dia melihat sesuatu sampai terdiam tanpa memberi komentar,itu artinya ayah sangat menyukainya."
Jelas Rima tentang sikap ayahnya.
"Oya....dari mana kau tahu?"
Tanyaku tak kuasa menahan tawa.
"Ayah sendiri yang mengatakan nya padaku dan itu salah satu dari rahasia ayah tentang kekaguman nya pada ibu Nai."
Cerita Rima yang secara tidak langsung telah membuat keadaan satu sama antara rahasiaku dan rahasia David.
__ADS_1
Kulihat dari kaca sepion depan David tertawa tanpa suara menggelengkan kepala sambil bermain ponsel sebagai alibinya.
Bersambung....