Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 91....


__ADS_3

Makan malam telah usai,setelah mengantarkan dua gelas susu ke kamar ayah dan ibu mertua aku pun membantu Si Mbak untuk membereskan dapur.


"Mbak..."


Panggilku.


"Ya non.."


Jawab Si Mba.


"Setelah ini,pergilah tidur dan istirahat karena Mbak pasti lelah kan?"


Perintahku sambil membantu nya menyusun piring yang sedang dia cuci.


"Tapi Tuan David belum pulang non,nanti tidak ada yang buka kan pintu jika saya tidur."


Kata Si Mba begitu patuh.


"Tidak perlu khawatir mba biar aku saja yang buka kan pintu,Mbak istirahat sana kan sudah capek habis liburan."


"Besok harus bangun pagi lagi."


Ujarku setelah semua piring sudah bersih di cuci dan tertata rapih.


"Terimakasih non..."


"Enon memang baik sekali sangat berbeda dengan nona Sahira."


Ucap Si Mbak menatapku dengan mata berbinar binar.


"Gak usah lebay deh Mbak,pergi tidur sana."


Kataku tertawa memukul bahu Si Mbak.


"Hehe...."


"Selamat malam Non...."


Ucap Si Mbak dan pergi ke kamarnya.


"Selamat malam ...."


Jawabku sambil mematikan lampu dapur dan pergi ke kamarku.Aku pikir sebaiknya aku menunggu David di kamar saja.


Waktu sudah menunjuk kan pukul sebelas malam namun juga belum ada tanda tanda David kembali misalnya saja suara mobil nya yang juga tidak terdengar.Sementara mataku sudah begitu mengantuk.Ingin pergi ke kamar Rima aku merasa tidak enak dengan Sahira takut dia terganggu.Aneh kan padahal saat ini status Sahira adalah tamu,tapi aku yang merasa tidak enak.hehe....


Ku pikir sebaiknya aku menghubungi David saja,memberitahunya jika dia sedang dalam perjalanan pulang telepon aku,agar aku menahan ngantuk ku demi membuka kan pintu untuknya.Namun sebelum aku melakukan panggilan telepon ku dengar suara mobil masuk ke halaman pekarangan rumah,aku pun langsung melihatnya dari jendela dan ternyata benar itu adalah suara mobil David.


Antara senang dan takut aku pun bergegas lari menuruni anak tangga untuk membuka kan pintu.


Ya Tuhan.....


Jangan biarkan David berkeinginan menemui Rima malam ini juga,tolong beri aku kesempatan untuk menceritakannya pelan pelan tentang Sahira.


Doa ku dalam hati dan membuka kan pintu.


"Assalamualaikum suami Soleh ku...."


Sapa ku menyambut kedatangan David di depan pintu.


"Waalaikumsalam istri soleha wanita penceramah yang perkasa."


"Emmuach...."


Jawab David yang begitu panjang menaiki sebelum akhirnya tanpa gengsi mendaratkan ciuman di pipiku.


"Kenapa harus ada kata perkasa?"


Tanyaku sambil menutup pintu kembali.


"Haha....."


"Itu panggilan yang tepat untukmu sekarang."


Jawab David tertawa.


"David...."

__ADS_1


Panggilku geram menatapnya tajam.


"Sudah lupakan,kenap kau yang membuka kan pintu?"


"Dimana semua orang orang yang baru saja pulang liburan."


Tanya David menuju meja makan dan meneguk segelas air putih yang ku sajikan.


"Semua sudah tidur begitu selesai makan malam,mungkin perjalanan liburan membuat mereka begitu lelah."


Jawabku deg degan.


"Apa Rima juga sudah tidur?"


Tanya David dengan pertanyaan yang ku takutkan.


"Hem...ya."


"Ehm...tapi sebaiknya besok saja kau menemui Rima."


Kataku coba mengalihkan.


"Kenapa?"


Tanya David.


"Karena Rima juga sudah tidur nyenyak sekali sejak dalam perjalanan dari bandara ke rumah.Sepertinya dia sangat lelah kasian jika harus terbangun karena suaramu."


Jawabku coba menghindarkan David agar malam ini tidak melibat sahira di kamar Rima.


"Hem...baiklah."


"Aku sudah makan tidak usah siapkan makan malam,aku mau langsung mandi saja."


"Ayo naik ke kamar saja."


Ajak David terlihat begitu lelah.


Tapi rasa manjaku tiba tiba saja datang dan tidak bisa kompromi dengan pengelihatan ku ya g tahu bahwa David terlihat lelah.


"Gendong...."


"Maaf aku tidak mampu menggendongmu lagi karena kau semakin terasa berat."


Kata David mulai meledek ku.


"Apa??"


Kataku kesal dan mengikuti langkah david yang tiba tiba berhenti saat di depan anak tangga.


"Pegang ini..."


Perintah david menyodorkan beberapa map yang dia bawa dari kantor.


Aku pun mendeka tepat di belakangnya dan mengambil map dari tangan nya.


"Naiklah...."


Kata David dengan sedikit membungkuk dan memintaku naik di punggung nya.


"Sungguh...."


Tanyaku begitu riang.


"Hemm...."


"Cepatlah jangan sampai seisi rumah terbangun karena suara berisik mu itu.."


Kata david.


Dengan begitu semangat aku pun langsung melompat ke punggung David dan di gendongnya menuju ke kamar.


"Kau ini semakin hari semakin berat saja."


Kata David mengejek ku sambil berjalan menaiki anak tangga.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Tapi kau tidak bilang berat saat aku menindihmu setiap malam saat kita bercinta."


Protesku membalas ejekkan David.


"Oh...itu beda rasanya."


Jawab David berdalih.


"Alasan..."


" bilang saja kau memang senang menghinaku."


Kataku kesal.


"Haha....."


"Kau jadi cepat sekali marah ya sekarang seperti saat di meeting tadi."


Kata David begitu sampai di depan pintu kamar.


"Maksudmu?"


Tanyaku bingung.


"Ya...aku tidak kau bisa semarah itu meeting proyek tadi?"


Jawab David membuat aku semakin bingung kenapa dia bisa tahu saat aku berteriak teriak di meeting tadi.


"Ow....kau pasti dapat laporan dari mata matamu kan yang kau tunjuk dari salah satu staff produksi yang ikut meeting hari ini bersamaku?"


Tuduhku mencurigai David.


"Haha...."


"Tepatnya kamera pengintai ya g ada di setiap sudut ruang meeting."


"Haaah......!!"


Kataku terkejut.


"Sampai sebegitu nya kah kau tidak percaya padaku David?"


Sambungku.


"Bukan padamu,lebih tepatnya pada rekan meeting mu."


Jawab David menjelaskan kecemburuannya.


"Arga?"


Tanyaku lagi.


"Ya..."


Jawab David sambil mengambil handuk mandi.


"Untuk apa?"


Tanyaku.


"Untuk antisipasi jika dia bersikap kurang ajar padamu."


"Karena aku tidak ingin siapa pun menyentuhmu apa lagi menatap mu terlalu lama "


Jawab David.


"Lalu kau bisa berbuat apa jika itu terjadi,sementara .kau tidak ada di situ?"


Tanyaku yang merasa tidak logika alasan David.


"Jika sampai itu terjadi,sebelum Arga berkedip kembali saat menatap mu,maka aku sudah berada di situ untuk menghabisinya."


Jelas david dan masuk ke kamar mandi menyegarkan diri.


"Dasar duda gila...."


Kataku menggeleng gelengkan kepala mendengar setiap jawaban dari david yang penuh dengan kecemburuan.

__ADS_1


Bersambung ......


__ADS_2