Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 39....


__ADS_3

Cerita ayah tentang masa lalu David seolah memberi nasihat padaku ,yaitu jangan biarkan masa lalu membuat kita rapuh,sepahit apa pun masa lalu mu jadikan itu motivator atau pun cambuk yang membuat kita bangkit kembali menata hidup yang lebih baik di masa sekarang dan masa depan.


Cara ayah yang begitu tenang memberi nasihat membuat aku lebih mudah mengerti bagaimana cara kita memahami seseorang dengan keadaanya.


Berbeda dengan ibu,ibu lebih cepat khawatir apalagi jika menyangkut David,dia tidak ingin jika anaknya di bilang wanita yang tidak bertanggung jawab kepada suami dan anak.


"Naima sayang,sebaiknya segeralah kau pulang nak...!"


Kata ibu memberiku saran.Namun aku hanya terdiam menatap ibu.


"Hemm,jangan salah paham bukan ibu tidak suka kau berlama lama di sini,bahkan ibu ingin sekali sewaktu waktu kau tidur di sini bersama Rima dan David,tapi untuk saat ini kalau boleh ibu menyarankan sebaiknya segera temui David dan jelaskan tentang Arga,jangan sampai David mendengarnya lebih dulu dari orang lain."


Nasihat ibu padaku.


"Biarkan saja Bu..."


Kata ayah perkataan ibu, dan membuat ibu terdiam dan terperangah merasa heran kenapa ayah malah membiarkan aku berada di rumah orang tuaku.


"Mungkin saat ini Naima perlu waktu untuk sendiri di kamarnya dan merenungkan semuanya,sebaiknya jangan di ganggu..."


Sambung ayah sebelum ibu memotong untuk menyampaikan rasa keberatannya.


"Tapi pak....?"


Ibu tetap saja keberatan.


"Bu ...tidak usah khawatir,masalah David biar bapak yang mengatasi.Ayo...!"


Kata ayah dan mengajak ibu keluar dari kamarku.


"Istirahatlah nak..."


Kata ibu dengan raut wajah yang masih bingung sebelum menutup pintu kamarku dan keluar meninggalkan ku sendiri di kamarku.


Entah kenapa rasa kantuk tiba tiba menyerang mata ku di siang yang cerah ini,mungkin efek terlalu banyak mengeluarkan air mata karena rasa sedih hingga akhirnya aku tak kuasa menahan kantukku dan tertidur begitu nyenyak hingga sore hari aku baru terbangun.


Berniat ingin menyegarkan mata dengan berdiri di balkon kamarku sebelum kembali ke rumah David,tak ku sangka di waktu yang sama David juga berdiri di balkon kamar dan sedang memandang ke arah rumah ku.Aku merasa begitu kikuk dan tak dapat menghindar hingga kami pun saling memandang dari kejauhkan.


"Cling..."


Tak lama ponsel yang sedang ku pegang berbunyi notifikasi pesan masuk.


Kulihat di layar ponsel satu pesan dari David dan aku pun langsung membacanya.


Isi pesan :


Hai,bagaimana perasaanmu sekarang?"Apakah kau sudah merasa baik?"


Cepat kembali Rima terus saja menanyakanmu begitu juga ayahnya Rima.....

__ADS_1


Aku tersenyum membaca pesan itu,dan dengan merasa tidak canggung lagi aku pun membalasnya.


Isi pesanku :


Oya?...Memang siapa nama ayah Rima itu?


Balasku dalam pesan yang langsung ku kirim ke ponsel David.Aku pun langsung memandang ke arah David ingin melihat bagaimana ekpresi David saat membaca pesanku.Namun yang terlihat adalah David sedang menelepon seseorang dari ponselnya.


Sedang berbica dengan siapa si duda ini?


Tanyaku dalam hati,dan masuk kembali ke kamarku aku pun memutuskan untuk menyegarkan diri sebelum kembali ke rumah.


Ternyata di sebrang sana David sedang berbicara dengan salah satu orang kepercayaan nya yang biasa bertugas menjadi Intel pribadi dalam urusan bisnisnya.


"Aku ingin kau cari tahu dengan sangat detail pria yang bernama Arga dalam waktu dua puluh empat jam,fotonya akan ku kirim lewat pesan."


Perintah David pada orang itu.


Tak lama setelah mengakhiri pembicaraan di telepon David kembali menoleh ke arah balkon kamarku yang ternyata aku sudah tidak berada di situ,dia pun langsung membuka isi pesan yang ku kirim dan tersenyum membacanya.


Setelah menyegarkan diri dan merasa lebih tenang aku pun bergegas turun dari kamarku menjumpai ayah dan ibu untuk berpamitan.


"Ayah..ibu.."


Panggilku pada mereka yang sedang santai minum teh di ruang tv.


"Naima...,kemarilah nak?"


"Bagaiamana perasaanmu sekarang?


"Kau sudah tenang?"


Tanya ayah begitu lembut.


"Ya ayah aku sudah merasa lebih baik dan aku ingin kembali ke rumah karena Rima sudah terus bertanya tentangku."


Jawabku.


"Baiklah sayang kalau menurutmu seperti itu,dan jangan lupa ceritakan semua nya pada David,kau mengerti?"


Kata ibu yang lebih cenderung menjaga perasaan David.Tak lama terdengar suara bel berbunyi dari pintu depan.


"Ayah,ibu sepertinya ada tamu datang."


Kataku.


"Iya sepertinya begitu mari kita lihat."


Kata ibu.Dan kami pun bersama sama berjalan menuju ke arah pintu depan sekalian aku akan keluar untuk pulang.

__ADS_1


Seperti mendapat kan sebuah surprise aku begitu terkejut melihat David dan Rima berdiri di depan pintu saat ibu membuka pintu depan.


"Ibu Nai...!


Panggil Rima dan langsung memelukku.


"Sayangku..."


Panggilku membalas pelukan Rima dan berlutut di depan nya.


"Wah....wah..sebuah kejutan ini namanya."


Kata ayah menyambut mereka.


"Rima terus menanyakan ibunya,jadi aku berpikir membawa nya ke sini mungkin saja Naima masih perlu waktu yang lama di sini."


Kata David memberikan alasan kenapa dia datang ke rumah.


"Wah...wah...ayah,kenapa mengatasnamakan aku?bukan ayah yang sudah tidak sabar bertemu ibu Nai dan mengajakku ke sini."


Protes Rima dan membuat David kikuk.


"Haha....anak pintar,memang kenapa jika ayah yang ingin bertemu ibu Nai,kan dia istrinya."


Kata ayah coba membela David yang sudah kikuk dengan wajah memerah.


"Ya..ya kakek sebrang benar,ayahku tidak pernah mau berkata jujur jika menyangkut ibu Nai."


Kata Rima kembali yang terus saja mengejek David.


"Hei...kau ini nakal ya."


Kata David gemas mencubit hidung Rima.


"Baiklah....karena Rima sudah di sini jadi Rima harus cicipi dulu puding buatan nenek.piding rasa coklat."


Kata ibu mengajak mereka masuk.


"Ehm...mohon maaf ibu mertua mungkin lain kali saja karena ayah dan ibu di rumah sebenarnya sedang cas menunggu Naima di rumah sejak tadi."


Jawab David menolak ajakan ibu.


"Huff...ayah,kenapa lagi lagi harus merugikan aku,apakah ayah tahu puding coklat makanan kesukaanku jadi aku tidak ingin melewatkannya.sebaiknya kalian pulang lah lebih dulu aku ingin bermain di sini bersama kakek dan nenek sebrang."


Lagi lagi Rima protes kepada David.Dan aku hanya bisa diam dan tertawa mendengar celotehan Rima.


"Rima memang cucu kakek yang paling pintar..."


Pujian ayah untuk Rima dan menggendongnya masuk kedalam seolah setuju dengan apa yang di katakan Rima.

__ADS_1


"Baiklah Bu sampai jumpa..."


Peluk ciumku pada ibu sebelum pergi di susul oleh David yang berpamitan kepada ayah.


__ADS_2