Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 143....


__ADS_3

Hampir tiga Bulan sudah tragedi keributan yang menjadi totonan tetangga di sekitar kompleks karena ulah Sahira berlalu.Kehidupan kami pun kembali normal.


Kebahagiaan kembali menyelimuti keluarga kami.Sesekali ayah dan ibu pun datang berkunjung untuk sekedar mengobrol sambil minum teh di teras rumah bersama ayah dan ibu mertua,dan kadang sebaliknya.


Setelah mengetahui bahwa aku ternayata masih bisa mengandung,yang menjadi pembahasan utama mereka adalah keinginan segera menimang cucu sebagai adik Rima.Terutama ayah dan ibu ku,karena kehadiran seorang cucu dari pernikahan ku dan David akan memberi pengalaman baru untuk mereka.


Sesekali obrolan itu tercetuskan di suatu sore saat mereka ngobrol sambil minum teh.Dan betetapan David pulang dari kantor.


"Selamat sore semua...."


Sapa David.


"Selamat sore nak...kemarilah duduk sebentar bersama kami."


Jawab ayah dan meminta David duduk di sampingnya.


"Wah...wah...sepertinya da obrolan seru di sini."


Sahut David yang langsung duduk di samping ayah.


"Iya,kami baru saja membicarakan tentang keinginan kami untuk segera punya cucu lagi dari kalian berdua..."


Kata ayah.


"Glleekk..."


Aku yang saat itu sedang menyajikan camilan hanya dapat menelan ludah dan mulai memikirkan ke mana pembicaraan ini nantinya akan di arahkan David padaku.


"Ow....soal itu ayah dan ibu tenang saja,seperti yang kita ketahui bahwa dokter sudah menyatakan bahwa Naima dan rahimnya sudah dalam keadaan yang sehat dan siap untuk hamil.Mudah mudahan dengan berusaha dan bekerja keras kami akan segera memberikan cucu baru buat kalian semua..."


Jelas David dengan senyuman sinis penuh makna menatapku.


"Ya kan Naima....?"


Tanya David lagi yang sepertinya sengaja seolah dia tahu aku mulai memikirkan serangan yang akan dia lancarkan padaku setelah ini.


"Hehe....iya"


Jawabku dengan senyuman berat.


"Bagaimana jika kalian pergi berbulan madu saja berdua,aku rasa Susana bulan madu lebih mendukung untuk kalian segera punya momongan...?"


"Aaaaaaa......bagaimana?"


Tanya ibu mertua seolah menggodaku dan membuat wajahku memerah menahan malu.


"Ehm...boleh juga,nanti akan aku suruh skretaris ku mengatur semuanya."


Jawab David setuju dengan ide ibu mertua.


"Wah.....ayah sudah pulang.."


Tiba tiba Rima datang dan duduk di atas pangkuan David.


"Halo tuan putri ayah,bagaimana suasana hatimu hari ini..?"


Tanya David.


"Sangat buruk ayah...."


Jawab Rima layaknya orang dewasa berbicara.


"Ow....kenapa?"


"Katakan pada ayah?"


Tanya David sambil memeluk Rima dalam pangkuannya.


"Ayah tahu,hari ini teman terbaik ku tidak masuk ke sekolah karena ikut melihat ibunya yang baru saja melahirkan di rumah sakit,aku jadi tidak begitu bersemangat karena teman bermainku tidak ada di sekolah,lalu setibanya aku di rumah aku juga merasa kesunyian ayah,karena tidak ada anak lain lagi di rumah ini selain diriku..."


Cerita Rima menyampaiakan rasa kesepiannya.


"Benarkah?"


"Lalu apa yang harus ayah lakukan agar tuan putri ayah ini tidak kesepian lagi...?"


Tanya David begitu memanjakan Rima.


"Ayah...aku ingin sekali punya adik bayi seperti teman baik ku di sekolah."


Rengek Rima yang ternyata permintaannya seperti tema obrolan yang sedang kakek dan neneknya bicarakan.


Dan untuk yang kesekian kalinya David tersenyum sinis menatapmu penuh makna.


"Oow.....sayang..."


"Kemarilah sini duduk dengan nenek.."


Panggil ibu dan meminta Rima duduk di pangkuannya.


"Jadi cucu nenek ini ingin sekali punya adik bayi ya..."

__ADS_1


Tanya ibuku.


"Iya Nenek sebrang,bukankah itu menyenangkan...?"


Tanya Rima tampak mencari pembenaran akan keinginannya.


"Tentu saja...."


"Dan untuk itu teruslah berdoa agar Tuhan segera mengirimkan seorang adik bayi dalam perut ibu Nai..."


Titah ibu kepada Rima.


Mendengar saran dari ibu Rima pun langsung datang menghampiriku.


"Tuhan Yang Maha Baik,tolong segera kirimkan adik bayi yang lucu ke dalam perut ibu Nai ya...."


Doa Rima sambil memegang perutku.


Sontak ulah Rima yang menggemaskan itu membuat kami semua tertawa.


"Rima sayang....apa kau ingin sekali punya adik bayi?"


Tanyaku sambil mencubit pipinya karena gemas.


"Iya ibu Nai...,apa ibu akan memberikannya untukku?"


Tanya Rima dengan mengatupkan kedua tanganya seraya membuat permohonan.


Namun aku hanya tersenyum saja memandangnya.


"Tentu saja sayang,kau adalah prioritas dalam hidup ibu Nai,tentu dia akan memenuhi keinginanmu."


Sahut David seolah mewakili jawaban dariku.


Dasar duda sombong...selalu saja memanfaatkan sesuatu yang akan memberi keuntungan padanya.


Gerutuku dalam hati dan menatapnya tajam.


"Baiklah semuanya,aku permisi dulu ingin menyegarkan diri..."


Pamit David.


"Dan...Naima tolong bawakan tasku ke atas ya..."


Sambung David yang sengaja meninggalkannya tasnya dan memintaku membawanya agar ku mengikutinya ke kamar.


Dan ternyata dugaanku benar,David mulai beraksi dengan alasan agar cepat memenuhi permintaan Rima.


"Kemarilah.....!"


"Aouuich...."


"Hei....apa yang kau lakukan?"


Tanyaku coba mengelak.


"Tidak ada,hanya ingin bermesraan saja?"


Jawab David santai dan mulai mencium ku perlahan lahan di bagian bahuku.


"Tidak bisakah kau membersihkan dirimu dul"


Saranku meminta David agar menyegarkan dirinya dulu.


"Tidak perlu,karena aku tidak mandi tujuh hari pun akan tetap tampan dan wangi..."


Jawab David begitu sombongnya.


"Huuh dasar duda sombong...."


Sahutku ketus.


"Memang,dan kau harus ingat duda sombong ini adalah pilihan ayahmu untuk menjaga dan membahagiakan mu."


Jawab David semakin sombong.


"Sudahlah....kenapa harus berdebat,ayo kita mulai bekerja keras untuk memberikan aduk bayi pada Rima."


Sambung David dengan jari jemari yang terus bekerja ke bagian dadaku.


"Lalu bagaimana jika keinginan Rima itu sudah terpenuhi...?"


Tanyaku tersenyum menatap David.


"Maksudnya?"


Tanya David seketika mengehentikan aksinya.


"Sebentar....."


Kataku ijin turun dari pangkuannya kemudian berjalan menuju meja rias mengambil hasil tes kehamilan yang aku simpan di laci sejak 2 hari lalu.

__ADS_1


"Maksudnya adalah ini...."


Kataku kembali mendekat kepada David dan memberikan hasil tes kehamilan yang menyatakan aku positif hamil.


"Naima...."


"Ini.....ini..."


"Ini artinya......"


Rasa terkejut bercampur bahagia seketika muncul di wajah David bahkan dia tak sanggup mengatakan apa pun untuk meneruskan kalimat pertanyaannya."


"Iya David keinginan Rima sudah terpenuhi bahkan sebelum dia memintanya padaku tadi."


Jawabku.


"Oh...ya Tuhan...."


"Aku sangat berterimakasih padamu..."


Kata David langsung melakukan sujud syukur sebagai ungkapan terimakasih pada Sang Pencipta atas karunia yang di berikan pada kami berupa seoarang bayi dalam rahimku.


"Naima sayang,selamat untukmu..."


Ucap David langsung mengecup dahiku tanpa dia sadari dia meneteskan air mata sebagai tangis bahagia.


"Selamat juga untukmu..."


Kataku sambil menghapus air mata David.Aku lebih merasa tenang dengan kebahagiaan ini karena aku sudah merasakan lebih dulu apa yang di rasakan David saat ini begitu aku melihat dua garis hasil dari tes kehamilan ku.


"Kapan kau tau hal ini?"


Tanya David menatapku penuh dengan cinta.


"Sejak dua hari lalu."


Jawabku.


"Kenapa kau tidak langsung memberitahumu?"


Tanya David sambil memandangi hasil tes kehamilan itu.


"Kejutaaan..."


Jawabku dengan senyum sumringah.


"Dan kau berhasil membuat aku terkejut"


Peluk David begitu erat padaku.


"Bahkan bukan hanya aku,mereka yang sedang berbincang di teras pasti jug akan sangat terkejut dan senang mendengar berita ini,ayo kita tunjukkan pada mereka."


Ajak David begitu bersemangat.


Dan David pun beraksi menjadi suami super protektif,seolah tak ingin aku kelelahan dia pun langsung menggendongku menuruni anak tangga menuju teras rumah untuk menemui semua yang ada di teras termasuk Rima.


Dan ternyata benar,Susana haru dan bahagia bercampur jadi satu dalam gambaran wajah ayah,ibu ,ayah dan ibu mertua. terlebih lebih Rima.


"Ibu Nai,benarkah ada adik bayi di perut ibu?"


Tanya Rima memastikan sembari memegang perutku.


"Iya sayang..."


Jawabku begitu bahagia .


"Wah...terimakasih Tuhan,karena langsung mengabulkan doa ku..."


Bahkan anak sekecil Rima pun jug ikut mengucapkan syukur atas kebahagiaan ini.


Terlebih lebih diriku yang bahkan aku tak sanggup mengungkapkan rasa bahagia ini.Bahkan aku begitu malu pada Sang Pengcipta karena sempat berburuk sangka setelah vonis aku tidak dapat mengandung lagi di sampaikan oleh dokter yang di bayar Arga untuk kejahatannya.


Tapi ternyata itu adalah cara terindahnya Tuhan agar membuat aku bisa bertemu dan bersatu dengan pria sebaik David yaitu si duda sombong pilihan ayahku.....


...Tamat...


...****************...


Hallo.....


Alhamdulillah....


aku mengucapkan terimakasih buat kalian semua yang sampai saat ini masih selalu mengikuti alur cerita DUDA SOMBONG PILIHAN AYAH...


Aku mohon maaf jika belakangan ini update episodenya begitu cukup lama ya...


Di karenakan kondisi kesehatan ku yang tidak stabil.


Tapi aku berterimakasih🙏


atas kesetiaan Kalian yang selalu mengikuti cerita ini membuat aku terus semangat menulis hingga akhirnya mampu membuat cerita ini selesai.

__ADS_1


Terimakasih buat like nya,dan komentarnya.


Semoga kita selalu sehat semua dan sampai ketemu di karya ku selanjutnya ya🖐️🖐️🖐️🖐️


__ADS_2