
Tak lama kami pun tiba di Klinik Dokter Nisa.Ada dokter Ipnu juga di sana yang kebetulan sedang mampir.Mereka menyambut kedatangan kami dengan begitu ramah.
"Selamat datang....."
Sap dokter Nisa dengan senyum yang begitu bersahabat.Hingga akhirnya rasa gugupku sedikit berkurang.
Kulihat sekeliling Klinik dan suasannya begitu tenang seolah tidak datang ke klinik tapi seperti datang ke sebuah vila.Karena suasana klinik terlihat sangat sepi seperti tidak ada pasien selain aku.
"Jangan heran Naima..."
"Sebenarnya klinik ku tidak pernah sepi pasien,tapi selama satu jam aku harus tidak menerima pasien karena selama satu jam ke depan David suami mu pengusaha yang disegani di kota ini telah membooking klinik ku khusus untuk melayani mu saja."
"Hehe......"
Kata dokter Nisa tersenyum seolah tahu atas kebingunganku.
"Ya itu benar Nai,dan kami tidak bisa menolak jika sudah ada request dari David.Karena jika kami menolak dia akan menghubungi kolega nya yang bekerja di bidang perizinan untuk mancabut izin praktek kami."
"Haha....."
Sambung dokter Ipnu.Dan sementara David hanya tersenyum menunduk sambil sesekali meenatapku lewat curi pandang.
"Benarkah?"
"Sekejam itukah dia?"
Tanyaku melirik David.
"Sebenarnya bukan kejam,David hanya tidak ingin kau merasa tidak nyaman jika suasana klinik terlalu ramai."
"Karena dia ini tergolong suami siaga loh...."
"Aku sudah begitu mengenalnya sejak kami di kuliah dulu."
"Jika dia sudah mencintai seseorang,maka dia pastikan orang itu akan selalu merasa nyaman berada bersamanya."
Jelas dokter Nisa memuji David.Dan aku semakin jatuh cinta mendengar sisi lain dari kepribadian David.
"Hei....sudahlah Nisa,kau ingin terus memuji David atau memeriksa Naima."
"Jangan buat aku menjadi cemburu atas pujian mu pada tuan besar ini."
Kata dokter Ipnu bercanda seolah cemburu.
"Haha....."
"Jangan takut kawan,aku sudah menemukan tambatan hatiku.Jadi pujian Nisa tidak akan mempengaruhi ku."
"Ayolah...."
"Hahaha....."
Seketika tawa David pecah mendengar candaan dokter Ipnu.
"Pllak...."
"Kau ini...."
Kata dokter Nisa memukul bahu dokter Ipnu.
"David kau mau ikut masuk ke dalam atau di sini saja mengobrol dengan Ipnu?"
Tanya dokter Nisa saat mengajak ku masuk ke ruangannya.
"Ehm...."
Sejenak David terdiam untuk menentukan pilihan.
__ADS_1
"Sudah kau masuk saja,ini adalah momen yang juga harus tahu dan lihat langsung hasilnya "
"Aku juga harus kembali ke rumah sakit karena satu jam lagi ada jadwal operasi."
Kata dokter Ipnu menyarankan.
"Benarkah....?"
Tanya David.
"Ya..."
"Santai saja,ikutlah masuk semoga hasilnya penuh dengan keajaiban."
"Aku pergi dulu."
Kata dokter Ipnu turut mendoakan sebelum pergi meninggalkan Klinik.
"David...Naima,ayo masuklah..!"
Dokter Nisa mengajak kami masuk ke ruangannya.
"David duduklah di sini..."
Titah dokter Nisa meminta David duduk di kursi meja kerjanya.
"Dan Naima,karena David sidah menjelaskan semuanya aku rasa sebaiknya kita langsung periksa dulu keadaamu,ayo...."
Ajak dokter Nisa menuju ruang USG.
Aku yang biasanya selalu bertanya terlebih dahulu untuk setiap hal,kali ini hanya diam dan menurut apa pun yang di katakan oleh dokter Nisa.Perasaanku campur aduk,antara takut dengan hasilnya,terharu dengan perhatian David,apalagi saat dia mengedipkan matanya dan mengangguk saat aku akan menatapnya sebelum masuk ke ruangan USG,seolah dia mengatakan aku ada untukmu dan kau akan baik baik saja.
Setelah memeriksa tekanan darahku,dokter Nisa melanjutkan pemeriksaan dengan melakukan rekaman lewat USG yang hasilnya tampak di layar monitor tepat di hadapan ku berbaring.
"Naimaa...."
"Ya dokter..."
Jawabku yang fokus menatap monitor dan coba memahami gambar yang terdapat di sana.
"Coba ceritakan,apa kata dokter yang memfonismu bahwa kau tidak dapat mengandung."
Tanya dokter Nisa dengan tetap mela jutkan pemeriksaan.
"Ehmmm...."
"Saat itu aku tidak mendengar langsung dari dokternya dok,karena keadaanku sedang tidak sadarkan diri setelah peristiwa kecelakaan waktu itu"
"Jadi semuanya di jelaskan dokter pada Arga yang pada waktu itu statusnya calon suamiku."
Jawabku berusaha tetap tenang mengingat kembali kepingan kepingan kehancuran hati yang sudah lama ku kubur dalam dalam.
"Oh ya...?"
"Lalu apa yang dijelaskan Arga padamu."
Tanya dokter Nisa lagi begitu sabar mbendengarkan ceritaku dari setiap pertanyaannya sebelum dia menjelaskan hasil pemeriksaannya.
"Saat itu kata Arga,kecelakaan itu mengakibatkan luka serius pada rahimku sehingga dengan persetujuan orangtuaku dokter terpaksa melakukan operasi pengangkatan rahim.Sehingga dengan kata lain dokter telah memfonis ku tidak bisa mengandung karena sudah tidak memiliki rahim."
Jelasku tanpa sadar meneteskan air mata karena teringat kembali saat Arga meninggalkanku dengan alasan yang sama.
"Oh....seperti itu ceritanya."
Kata dokter Nisa memberikan ku tissu karena dia juga melihat aku meneteskan air mata.
"Ehmmmm...."
__ADS_1
"Tapi Naima,sebaiknya kau tanya lagi kebenaran dari cerita Arga."
Lanjut dokter Nisa seperti memberikan saran.
"Tapi dokter,setelah Arga memutuskan meninggalkan ku,aku mencoba mencari tahu kebenaran tentang apa yang di katakan Arga,tapi sayangnya aku tidak dapat bertemu dokter tersebut karena sudah pindah ke luar negri.Hingga akhirnya rasa putus asa membuatku tidak pernah lagi memeriksakan keadaanku untuk mencari tahu kebenarannya."
Jelasku.
"Kalau begitu nanti kau minta nama lengkap dokternya dan alamat rumah sakitnya ya..."
Pinta dokter Nisa.
"Untuk apa dok?"
Tanyaku heran.
"Untuk mengungkap kesalahan informasi dari pemeriksaan mereka."
Jawab dokter Nisa.
"Kenapa dok?"
"Ada apa sebenarnya?"
Tanyaku bingung.
"Ya...karena hingga saat ini rahim mu masih ada..."
Jawab dokter Nisa mulai menejelaskan gambar yang ada di monitor.
"Serrrrr........."
Darahku seolah mengalir begitu cepat sepuluh kali lipat dari hitungan normal setelah mendengar apa yang di katakan Dokter Nisa.
"Dokter...."
"Coba ulangi sekali lagi.."
Pintaku serasa tidak percaya.
"Ya Naima....."
"Kau masih memiliki rahim..."
"Lihatlah kemari,inilah yang di sebut rahim pada alat reproduksi setiap wanita."
Kata Dokter Nisa menunjukkan ku apa yang terdapat pada layar monitor.
"Dokter...."
"Itu artinya...."
"Aku......?"
Tubuhku menjadi gementar,tanganku dingin,dan air mataku tak henti menetes hingga aku tak mampu melanjutkan apa yang ingin ku katakan pada dokter Nisa.
"Ya Naima,itu artinya kau punya potensi untuk mengandung,meskipun sebenarnya keadaan rahim mu lemah.Tapi...."
"Ayo turunlah...dan aku akan menjelaskan detailnya bersama david juga."
Ajak dokter Nisa.
Aku hanya terdiam,kaki ku seolah tak memiliki tulang untuk bangkit dan turun menapak ke lantai.Tangis haru pun pecah begitu saja.Aku merasa seperti mendapat keajaiban seoalah doa Rima di kabulkan Tuhan.
Aku tiada henti mengucapkan syukur atas kabar bahagia ini.Secerca harapan pun muncul untuk ku bisa membuat mimpi rima menjadi nyata tentunya dengan izin Tuhan.
Dan lagi lagi aku merasa begitu haru dengan jalan hidup yang di arahkan Tuhan padaku.
__ADS_1
Bersambung.....