Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 86....


__ADS_3

Tak terasa seminggu sudah Rima pergi berlibur bersama kakek dan nenek nya.Tepatnya hari ini adalah jadwal kepulangannya dari liburan di luar negri.Aku sangat bersemangat sekali untuk menjemputnya ke bandara.Karena tepat jam lima sore nanti mereka akan tiba di bandara.Namun ada sedikit kendala,karena hari ini aku juga ada jadwal bertemu dengan Arga untuk masalah pekerjaan,sedangkan David hari ini ada jadwal meeting dengan klien bisnisnya yang datang dari luar negri sampai malam nanti.


Sementara waktu sudah menunjuk kan pukul tiga sore.Aku cuma punya waktu dua jam untuk berpikir apa yang harus ku lakukan,karena jadwal pertemuan ku dengan Arga bertabrakan dengan waktu tibanya Rima di bandara.Aku sungguh dilema,satu sisi aku tidak ingin kehilangan moment penting saat menjemput Rima di tambah lagi David juga tidak bisa menjemput mereka ke bandara.Di sisi lain aku punya tanggung jawab untuk anak anak panti atas proyek ini,karena ini juga pertemuan penting karena kami akan membahas masalah produksi dan pemasaran dengan orang pabrik dan marketing.


Aku tidak punya pilihan lain selain menghubungi David,pikirku mungkin daja dia punya solusi untuk ku.


"Halo David..."


Sapaku begitu David mengangkat telepon dariku.


"Assalamualaikum suamiku sayang....."


"Tidak bisakah kau menyapa dengan salam mesra untuk suami mu yang sejak pagi tadi sudah meninggalkan mu untuk bekerja?"


Jawab David memberi kalimat sindiran padaku.


"Hehe...."


Tawaku kikuk,mendengar kritikan dari David yang memang benar menurutku.


"Apa,hehe..."


"Tutup teleponnya dan ulangi...!!"


Perintah David dan memutuskan panggilan masuk dariku.


"Astaga......"


"Si duda sombong ini..!"


"Uuuukkkhh....."


Teriak ku geram dengan ponselku seolah ingin meremasnya jika andai saja itu David.


Tak lama ponselku berdering notifikasi panggilan masuk dari David.


"Duh.....mana dia lagi yang menelepon ku balik duluan,habis lah aku"


Aku sudah uring uringan duluan begitu melihat nama nya di layar ponselku sedang memanggil.


"Halo....."


Jawabku.Namun tidak ada balasan dari David.


"Halo...."


Jawabku lagi,namun David juga masih diam.


Ku cek signal SIM card di ponselku dan terlihat signal nya tinggi.


"Halo....."


Jawabku lagi dengan nada sedikit berteriak karena kesal.


"Kau tidak dengar apa yang ku katakan tadi,bagaimana cara menyapa suami mu saat meneleponnya atau menjawab panggilan nya?"


Kata David tiba tiba bersuara.


"Haah....!"


"Iya maaf...."


Kataku menyesali ketidak pekaanku.


"Tutup telepon nya,dan ulangi...."


"Tut....Tut....Tut..."


Dan panggilan pun di putus kembali oleh David.


"Hufff....."


"Astaga....."


Teriak ku kesal dan langsung melakukan panggilan ulang jangan sampai dia yang menghubungi ku kembali.Tak lama panggilanku pun terhubung.


"Assalamualaikum suami ku sayang,yang tampan kaya raya dan rendah hati...."


Sapaku begitu panggilanku di jawab David.


"Tidak harus selebay itu...."


Jawab David,yang terdengar suaranya sedikit berat karena tertawa.


"Waalaikumsalam.....istri solehaku..."


"Tidak bisakah kau menjawab salam istrimu dengan kata kata yang menyejukkan hati."


Kataku membalas kritikan David.


"Jadi apa harus ku tutup dulu telepon nya dan ku ulangi?"

__ADS_1


Tanya David tertawa.


"Tidak perlu,ini Naima bukan David ...'


Jawabku ketus.


"Haha...."


"Baiklah istri Soleha ku,katakan ada apa kau meneleponku di jam kerja seperti ini?"


"Apa kau sudah sangat merindukan ku?"


Tanya David tertawa seraya menggodaku.


"Tidak...!"


Jawabku bermaksud ingin menjelaskan kenapa aku meneleponnya.


"Baik lah,kalau jawabannya tidak"


"Kalau begitu tutup teleponnya."


Ancam David.


"Haah..."


"Apa?"


"Maksud ku bukan begitu."


Jawabku terbata bata.


"Jadi...?"


Tanya David seolah tidak punya pekerjaan penting hingga menghabiskan waktu mengerjaiku lewat telepon.


"Em..maksudku,tidak mungkin aku tidak rindu kau kan type pria ngangenin."


"Ciiih...."


Jawabku coba merayu,meskipun membuatku kesal mengatakannya.


"Benarkah?"


"Lalu..."


Tanya David terdengar suaranya senang.


Tanyaku.


"Belum,saat ini kami sedang break menunggu para staff kami mempersiapkan bahan meeting selanjutnya.Dan mungkin aku pulang malam."


Jelas David.


"Oh...begitu ya?"


"Ya ..sudahlah..."


Kataku dengan nada suara penuh putus asa.


"Ada apa?"


"Kau sakit?"


Tanya David terdengar suaranya panik.


"Tidak..."


Jawabku lemas seolah hilang harapan.


"Hei...katakan ada apa?"


"Apa aku harus pulang sekarang?"


Tanya David semakin panik.


"Tidak ...tidak..."


"Aku pikir mungkin meeting mu sudah selesai di jam lima sore nanti,karena pesawat Rima tiba di bandara di jam yang sama."


Jawabku secepat mungkin untuk menghilangkan rasa panik David.


"Lalu...?"


"Bukan nya kau yang menjemput ke bandara?"


Tanya David


"Nah itu dia masalahnya,ternyata jam lima sore nanti aku kan harus meeting dengan Arga bersama team produksi dan marketing."


Jelasku.

__ADS_1


"Kalau begitu suruh saja supir yang menjemput ke bandara."


"Aku akan suruh nanti supir kantor."


"Bereskan."


Jawab David memberi solusi.


"Tapi David aku sudah janji pada Rima bajwa kita yang akan menjemputnya ke bandara."


"Jika aku tidak bisa,aku pikir kau bisa melakukannya setidaknya salah satu di antara kita ada yang bisa menjemputnya."


"Kalau tidak nanti dia bisa sedih..."


Jelasku dengan rengek kan manja.


"Ehm...."


"Kalau begitu maju kan saja jadwal meeting mu dengan Arga,sekitar tiga puluh menit lagi.Aku rasa jika demikian sebelum jam lima sore meeting mu akan selesai dan kau bisa segera ke bandara meski sedikit terlambat dariapda tidak sama sekali."


Kata David memberikan sebuah ide dan harapan.


"Bolehkah demikian?"


Tanyaku yang tak pernah menduga jika jadwal meeting dengan partner bisnis bisa maju mundur.


"Ya....mungkin bisa,jika orang orang yang terlibat dalam meeting itu tidak keberatan.Hal itu sudah biasa dalam dunia bisnis sayang...."


Jawab David.


"Baiklah...kalau begitu aku akan coba menghubungi Arga."


Kataku segera bermaksud segera action dengan ide yang di berikan David yang ku rasa itu adalah jalan keluar untuk dilema ku.


"Sudah....jangan repot repot kau harus menghubungi Arga,karena itu akan memberinya peluang untuk mengobrol denganmu selain hal pekerjaan."


Kata David mulai memberi larangan.


"Lalu bagaimana bisa meeting di percepat kalau begitu?"


Tanyaku heran,kenapa David tidak bisa mengesampingkan rasa cemburu nya dalam hal pekerjaan.


"Kau cepatlah bersiap siap,biar aku yang perintahkan asisten pribadiku untuk mengatur semuanya termasuk menghubungi Arga dan team meeting yang lain nya."


"Lima belas menit lagi aku akan menghubungi mu."


Perintah David.


"Terimakasih suami Soleh ku"


"Emmuach..."


"Itu hadiahnya."


Kataku begitu senang karena masalahku terselasaikan.


"Tidak bisa,karena aku tidak merasakannya."


"Kau berhutang satu hadiah."


"Dan harus kau bayar malam nanti saat aku kembali."


Kata David tidak mau kalah.


Dasar duda mesum,selalau saja ambil keuntungan dalam setiap kesempatan.Tapi ya sudahlah yang penting masalah ku selesai.


Pikir ku dalam hati.


"Ya...ya...baiklah."


Jawabku sebelum memutus panggilan.


Aku pun bergegas untuk bersiap karena aku yakin Arga pasti setuju jika David yang meminta agar jadwal meeting di percepat.


Tak lama kemudian ponselku berbunyi notifikasi pesan masuk.Kulihat sebuah pesan dari David.


"Kok cepet banget tuan duda ini memberi kabar?'


Pikirku dan segera membaca pesan yang membuat aku istighfar dan tertawa geli.


Isi pesan David :


Berdandan yang biasa biasa saja,jangan Sampai kau terlihat sangat cantik,karena aku tidak ingin Arga tidak berhenti menatapmu selama kalian meeting.


Dan dengan jahil aku pun membalas dengan emot


😘😘😘😘😘😘😘❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Untuk mu semua......


Balasan dari ku.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2