Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 26...


__ADS_3

Waktu terasa berjalan begitu cepat,siang yang cerah telah berganti malam yang sedikit sejuk di musim kemarau kali ini.


Setelah selesai makan malam dan membantu Rima menyelasaikan pekerjaan rumahnya hingga dia tidur,aku pun kembali ke kamarku.Karena ada beberapa materi pelajaran yang harus ku siapkan untuk mengajar besok di kelas.


Ku lihat David juga sedang sibuk dengan laptopnya untuk urusan pekerjaannya di kantor.


Dan kali ini dia tidak bekerja di meja kerjanya melainkan di sofa tempat yang sudah menjadi tempat tidurku.


"Huff....kenapa dia harus di situ sih,cuma sofa itu tempat ternyaman ku,apa dia juga ingin merampasnya?"


"Dasar....!"


Dalam hati aku menggerutu kesal dan akhirnya aku putuskan mengerjakan pekerjaanku di meja kerjanya saja.Tadinya dia tidak menyadarinya karena begitu fokus Dengan laptopnya, namun tiga puluh menit kemudian saat pekerjaanku baru separuh jalan ku kerjakan tiba tiba dia sadar bahwa aku sedang duduk di meja kerjanya.


"Hei...wanita penceramah !"


Panggil David padaku.


"Siapa yang mengizinkan mu duduk di meja kerjaku ?"


Tanya David.


"Kau "


Jawabku singkat tanpa melihat wajahnya yang mulai emosi karena aku tidak menghiraukan pertanyaannya malah sibuk dengan buku buku ku.


"Berani sekali kau !"


David semakin emosi.


"Jangan marah....kau yang membuat aku berani duduk di meja kerjamu."


Jawabku acuh.


"Apa maksudmu?"


Tanya David.


"Kalau kau duduk di situ mengerjakan pekerjaan mu ,berarti aku harus duduk di sini untuk mengerjakan pekerjaanku."


Jawabku tanpa melihat wajahnya dan tentu saja itu semakin membuat David kesal.


"Hei....wanita penceramah,satu hal yang harus kau ingat ini adalah kamarku dan aku bebas mau duduk dimana saja."


Kata David begitu songongnya.


"Oya?"


"Kalau begitu satu hal yang harus kau ingat suka atau tidak suka,saat ini aku adalah istrimu dan aku berhak atas apa pun yang kau miliki termasuk kamar ini."

__ADS_1


Jelasku tanpa sadar memberi pengakuan tentang statusku saat ini.


"Wah....wah...hebat."


Kata David tepuk tangan untuk pengakuanku


Sontak aku pun tersadar.


Ya ampun,apa yang barusan ku katakan.


Hufff ...Naima kenapa setiap kata yang keluar dari mulut ini selalu saja menjadi bumerang untukku sendiri.Dia pasti akan menyerangku dengan kata kata ku sendiri.


Gumamku dalam hati..


"Hem...kau benar."


"Dan baiklah kalau begitu,kau sendiri yamg sudah mengakui statusmu,itu artinya kau bersedia memberikan apa yang sudah menjadi hak ku atas istriku."


Jawab David sambil menutup laptopnya untuk menyudahi pekerjaannya kemudian beranjak dari sofa dan berjalan menuju meja kerjanya tempat aku duduk.


Aku yang menyadari hal itu sontak gemetar melihat david berjalan ke arahku dengan tatapan mata yamg tajam.


Huff ...lagi lagi adegan tadi siang terulang,jangan bilang aku lagi yang salah paham.Karena sepertinya kali ini david memang akan melakukan sesuatu padaku.


Gumamku dalam hati di balik sikap dan ekspresi wajah yang pura pura tenang,padahal aku sudah begitu gelisah apalagi David sudah berdiri tepat di sisi kanan meja kerja.


"K..kau mau apa?"


"Mau meminta hak ku."


Jawab David dengan ekspresi wajah begitu serius.


Aku yang ingin segera beranjak berdiri dari kursi tiba tiba terhalang oleh kedua tangan David yang menghadangku dengan memegang kedua pegangan kursi dan wajah David kini sudah sangat dekat sekali dengan ku.


Segera aku menundukkan wajahku untuk menghindari hal yang ku takutkan.


Tapi David terus saja menatapku dengan tajam bahkan tersenyum sinis.


"Apa yang kau akukan?"


Tanyaku dengan nada suara begitu lemah karena gemetar.


Jujur,meskipun kami telah sah menjadi pasangan suami istri, tapi aku merasa masih tabuh untuk bermesra mesra dengan suamiku.Apalagi hubungan ini terjalin hanya karena demi kebaikan Rima,bukan karena kami mencintai satu sama lain,maka sebab itu David sangat asing bagiku meskipun kami tinggal dalam satu kamar.


"Gerrr....."


Tiba tiba tengkuk leherku merinding dan jantungku berdenyut begitu kencang tak beraturan saat kedua tangan David pindah menyentuh kedua bahuku dan memaksa ku untuk berdiri.


Aku yang tak berdaya berusaha menguatkan tulang kedua kaki ku agar mampu menopang tubuhku yang gemetar ini untuk mampu berdiri.

__ADS_1


Pikirku mungkin saja satelah berdiri aku memiliki kesempatan untuk lari dan menghindar.Tapi tidak,kedua tangan David begitu kuat meremas kedua bahuku bahkan terasa sangat sakit.Kami pun berdiri dengan jarak yang sangat dekat bahkan dada David yang lebar dan bidang itu sudah hampir merapat ke dadaku.


Perlahan aku berjalan mundur dan David mengikuti langkahku dengan tetap memegang kedua bahuku bahkan pandanganya masih saja terus menatapku yang tetap menundukkan wajah.Hingga akhirnya kami berhenti di salah satu sudut di kamar yang membuat aku tidak dapat melangkah lagi bahkan bergerak walaupun sedikit.


"David,kau mau apa?"


"Ku mohon jangan seperti ini."


Kataku dengan gemetar dan memalingkan wajahku,bahkan suaraku seolah seperti orang yang ketakutan.


"Meminta hak ku..."


Bisik David di telinga ku.


Jantungku seolah berhenti mendengar bisikan itu.Dadaku terasa sesak dan aku kesulitan untuk mengatur nafasku dengan normal.Bahkan rasa takutku membuat aku meneteskan air mata hingga menangis dan David tersenyum sinis melihat itu.


"Kenapa menangis?"


Tanya David sambil menepiskan rambut yang menutupi mataku.


"Tenanglah...aku tidak minta banyak malam ini."


Sambung David yang membuat aku semakin sesak menahan rasa takut.


"Bukankah kau yang mengatakan saat ini kau adalah istriku dan kau berhak atas semua yang ku miliki?"


"Jadi itu artinya aku juga memiliki hak yang sama sebagai suamimu.Aku berhak atas semua yang ada pada dirimu."


Bisik David begitu dekat di telingaku.Jantung serasa berhenti berdenyut mendengar kalimat terakhir yang di bisikan David.Tangisku pecah menahan rasa takut.


"David tolong lepaskan aku..."


Aku memohon kepada David dengan suara lirih.


"Tidak akan sebelum kau tau apa yang ku inginkan."


Kata David tersenyum.


"Lalu apa yang kau inginkan?"


Tanyaku yang tak kuasa menahan tangis seolah pasrah dan tak mampu menolak dengan semua perasaan yang campur aduk.


Sejenak David terdiam dan hanya menatap wajahku yang ku palingkan dari pandangannya.Hingga akhirnya dia kembali menarik telingaku dan mendekat kan wajahnya ke wajahku.


"Aku minta.....agar kau selalu menjadi ibu yang baik untuk Rima."


Bisik David di telingaku dan melepaskan cengkeramannya dari bahuku.


"Serrrr......"

__ADS_1


Aku seperti mendapatkan nyawaku kembali setelah mendengar bisikan itu.Dengan tenaga yang tersisa aku melorotkan diriku yang berdiri lemas di sudut kamar hingga terduduk dan terdiam dengan air mata yang masih membasahi pipi pandangan ku kosong coba mencari kesadaran ku yang seolah hilang ats perlakuan David yang sangat membuat aku takut meskipun hingga akhirnya kalimat terakhir yang di bisikannya membuat aku lega.


Bersambung.....


__ADS_2