Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 112.....


__ADS_3

Rasa haru dan bahagia terus ku rasakan setelah keluar dari klinik dokter Nisa.Bahkan rasa tak percaya pun sesekali muncul dan keinginan untuk segera membuktikan pun amat sangat menyemangati ku.


Aku merasa sangat bahagia hingga dengan seketika aku langsung memeluk David begitu erat saat kami masuk ke dalam mobil setelah selesai konsultasi dari dokter Nisa.


"Hey......"


"Ada apa?"


Tanya David begitu lembut dan membelai kepalaku yang tertutup hijab.


"Terimakasih......"


Kataku lagi lagi meneteskan air mata.


"Satu....."


Jawab David tertawa memberi perhitungan hadiah seraya bercanda.


"Aku tidak peduli....."


Jawabku begitu berani.


"Hahaha..."


Tawa David kemudian mencium bagian belakang kepalaku sembari memeluk ku.


"Aku tidak peduli berapa banyak hadiah yang kau minta sebagai ucapan terimakasihku ini.Yang jelas aku sangat berterimakasih atas rasa pedulimu terhadapku."


"Terimakasih banyak...."


Kataku menatap David dengan penuh cinta.


"Sudahlah,tidak perlu berterimakasih..."


"Itu sudah menjadi tanggung jawabku sebagai suami mu."


Kata David sambil menghapus air mataku kemudian mengecup keningku.


"Kita jalan sekarang?"


Ajak David.


"Hemmm....."


Kataku yang bersandar manja di bahu kiri David .Dan mobil pun mulai melaju.


"Naima...."


Panggil David.


"Hemmm...."


Jawabku yang masih bersandar manja di bahunya.


"Aku rasa sebaiknya kau tidak usah mengajar lagi di sekolah.."


Kata David memberi saran.


"Kenapa?"


Tanyaku mengangkat kepalaku dari sandaran di bahu David.


"Ya aku pikir kau tidak boleh terlalu lelah saat ini.'


Jawab David.


"Tapi mengajar dan bermain dengan anak anak itu adalah hal yang menyenangkan untuk ku."


"Dan aku tidak pernah merasa lelah dengan hal itu."


Kataku coba menjelaskan.


"Iya,aku mengerti..."


"Tapi bagaimana bisa kau menjalankan dua pekerjaan sekaligus,itu pasti sangat menguras waktu dan pikiranmu."


Nasihat David yang jadi lebih posesiv.


"Jujur,setelah mendengar hasil pemeriksaan tadi dari dokter Nisa,aku semakin benci untuk melihat wajah Arga."


"Bahkan aku merasa menyesal kenapa Tuhan mempertemukan ku dengan Arga lebih dulu ketimbang dirimu?"


Keluhku.


"Itu sudah takdir..."


"Tidak perlu di sesali."


"Bahkan jika kau bertemu aku lebih dulu maka aku tidak akan merasakan enaknya jadi duda."


"Hehe....."


Kata David coba menasihatimu dengan bercanda.


"Ow....jadi kau senang dengan status dudamu ?"

__ADS_1


Tanyaku sewot.


"Ya...."


"Tapi aku lebih senang dengan statusku yang sekarang."


Jawab David coba menyenangkan hatiku.


"Apa?"


Tanyaku melirik tajam.


"Istri dari.....wanita penceramah."


"Haha....."


Tawa David begitu riang jika berhasil membuat aku kesal.


"ikh......"


Aku mencubit pipi David gemas.


"Oh ya..."


"Ngomong ngomong soal Arga,bagaimana jika hari ini kau ke kantor saja."


"Kebetulan hari ini dia ada janji bertemu denganku untuk membicarakan rincian biaya produksi untuk proyek kerjasama yang tertunda kemaren.."


Ajak David.


"Setelah kau tahu ada unsur penipuan kepemilikan dokumen dalam hal itu,apa kau masih ingin melanjutkan proyek ini?"


Tanyaku yang enggan melihat wajah Arga.


"EHmm...."


"Jujur sebenarnya aku sudah enggan melanjutkan kerjasama proyek ini,tapi aku juga ku hentikan begitu saja team work kita belum bisa memprediksikan angka kerugian yang kita alami."


Jawab David dalam dilema.


"Lalu bagaimana dengan Sahira dan Arya?"


Tanyaku lagi.


"Dan keinginan mereka masih dalam pertimbangan ku."


Jawab David.


"Maksudmu kau sedang memikirkan pilihan yang di ajukan mereka?"


Tanyaku.


"Ya...."


Jawab David bimbang.


"David...."


"Jangan sampai kau terpedaya dengan pilihan mereka,Rima tidak ada sangkut pautnya dengan bisnismu."


"Jangan jadi seperti Sahira,jangan pernah libatkan anak dalam urusan bisnis."


Kataku coba mengingatkan David.


"Kenapa?"


"Kau tidak setuju jika keuntungan dua puluh lima persen perusahaan kita di alihkan ke sahira?"


Tanya David memancing emosi ku.


"Tentu...!"


"Karena keuntungan itu adalah hak dari anak anak panti asuhan kita."


jawabku tegas.


"Lalu bagaimana solusimu untuk mengatasi hal ini?"


"Kau kan pimpinan dari proyek kerjasama ini?"


Tanya David seolah menantang ku.


"Aku akan memikirkannya...."


"Pasti ada solusi untuk ini,dan aku perlu waktu."


Kataku begitu yakin.


"Kau yakin?"


Tanya david.


"Ya tentu..."


Jawabku dengan mantap.

__ADS_1


"Tapi aku rasa kau tidak mampu."


Kata David yang langsung memfonis ketidak mampuanku.


"Kenapa?"


"Kau meragukan kemampuanku?"


Tanyaku kesal .


"Bukan itu maksudku."


"Tapi menurutku masalah ini butuh pemikiran khusus jika kau ingin menemukan solusinya.Kalau kita tidak menemukan solusi secepatnya dari masalah ini ,perlahan proyek ini akan terus berjalan dan mau tidak mau keuntungan dari proyek ini akan di nikamati oleh Sahira."


Jelas David yang hingga akhirnya membuat aku murka.


"Apa?"


"Tidak semudah itu Sahira menikmati hasil dari proyek ini yang bukanlah hak nya melainkan hak anak anak panti."


"Baiklah,aku putuskan untuk resign dari mengajar dan akan fokus mengurus proyek ini hingga menemukan jalan keluarnya.Aku pastikan Sahira tidak akan mendapatkan satu rupiah pun dari keuntungan perusahaan kita,karena itu adalah hak anak anak panti."


Jelasku begitu tegas.


"Benarkah?"


"Apa sudah yakin dengan keputusanmu?"


Tanya David padaku memastikan.


"Hem....."


Jawabku.


"Lalu bagaimana dengan anak anak muridmu yang sangat ku cintai do sekolah?"


Tanya David.


"Ya....ini memang berat,tapi setidaknya meskipun tanpa diriku di sekolah namun mereka masih memiliki orang tua di rumah mereka masing masing untuk mengurus keperluan mereka."


"Tapi bagaimana dengan anak anak panti jika aku tidak mengerjakan proyek ini?"


"Siapa yang akan mengurus biaya hidup mereka,dan keperluan mereka.


"Karena aku lah orang tua mereka."


Jelasku yang terdengar begitu bijaksana.


"Hey ..."


"Aku juga..."


Sahut David memegang tanganku dan mengingatkan ku.


"Hehe...."


"Kita berdua...."


Sambungku.


"Jadi...."


"Katakan padaku,apakah keputusan mu sudah final?"


Tanya David lagi.


"Hemmm...."


"Yah....."


Jawabku mantap.


"Deal...."


Tanya David mengajakku berjabat tangan.


"Haruskah kita berjabatan tangan untuk hal seperti ini saja?"


Tanyaku heran.


"Ya tentu,karena setelah ini kau tidak boleh lagi merubah keputusanmu."


Kata David.


"Baik,deal...."


Kataku menyambut tangan David untuk berjabat tangan tanda sepakat.


"Anak pintar...."


Kata David tersenyum penuh makna.


Dan tak lama kami pun tiba di kantor.Dan tanpa sengaja kami melihat Arga turun dari mobilnya di pelataran parkir kantor.


"Si pecundang ini,tunggulah nasibmu."

__ADS_1


Kata David seraya memberi ancaman.


Bersambung....


__ADS_2