Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 102....


__ADS_3

Jam belajar pun selesai satu per satu para siswa pun di jemput oleh orang tua masing masing.Tak lama kemudian mobil David pun tiba yang di kendarai oleh supir kantornya.


Aku dan Rima pun bergegas masuk mobil dan mobil pun langsung melaju menuju rumah.Dan tak lama kemudian kami pun tiba di rumah.


"Assalamaualaikum..."


Sapa Rima mengucapkan salam seperti biasa setiap kali masuk rumah yang di ikuti oleh ku.


Namun suasana rumah terlihat sepi.Bahkan kakek dan nenek Rima yamg biasanya selalu menjawab salam Rima dan menyambut dia pulang juga tidak terlihat.Hanya ada Si Mbak saja yang terlibat dan sedang sibuk di dapur memasak makan siang.


"Assalamualaikum Mbak..."


Sapaku menghampirinya.


"Waalaikumsalam..."


"Loh Nona Naima sudah pulang?"


Tanya Si Mba terkejut karena tiba tiba aku berdiri di belakangnya.


"Iya...barusan aja."


"Kok rumah sepertinya sepi?"


"Dimana Tuan dan Nyonya besar?"


Tanyaku melihat sekeliling.


"Mereka katanya tadi pergi non,kerumah orang tua nona katanya sebel di rumah."


"Hehe....."


Jawab Si Mbak meringis dan aku paham apa yang dia maksud.


"Sssst....."


"Mbak jangan keras keras,nanti Sahira dengar."


Kataku ikut meringis juga.


"Oh....nona Sahira juga sudah pergi non beberapa menit yang lalu."


Jelas Si Mbak.


"Oya...?"


"Kemana?"


Tanyaku dan mengambil segelas air putih.


"Tidak Tahu non,saya cuma dengar tadi sepertinya terima telepon taksi online untuk menjemputnya"


Jelas Si Mbak kembali.


"Oh...ya sudah."


"Ehm...Mbak kalai begitu saya titip Rima ya,karena saya harus ke kantor David untuk memghadiri meeting."


Kataku.


"Wah....si non,sudah mulai jadi wanita bisnis men ya..."


Sanjung Si Mbak namun dengan julukan yang salah.

__ADS_1


"Bisnis woman Mbak..."


Kataku tersenyum memperbaiki julukan yang di sebutkan si Mbak.


"Hehe...."


"Iya,maksudnya itu tadi Non...."


"Hehe..."


Sahut si Mbak meringis.


"Ya sidah saya ke atas dulu ya Mbak."


Kataku dan meninggalkan Si Mbak yang sedang sibuk di dapur.


Sebelum bersiap untuk berangkat ke kantor,aku pikir sebaiknya aku memberitahu Rima terlebih dahulu jika aku ada urusan sebentar menemui ayahnya di kantor,agar dia tidak mencari cari ku nanti jika setelah aku pergi.


"Rima sayang...."


Panggilku membuka pintu kamarnya.


"Ibu Nai...."


"Lihatlah ada surat kecil dari Ibu Sahira di meja belajar ku."


Kata Rima menunjuk kan kertas memo yang di buat Sahira dalam bentuk pesan singkat.


"Oya...?"


"Apa katanya.."


Tanyaku mendekati Rima.


"Rima sayang...."


Kata Rima membaca isi pesan dari Sahira dalam memobyang dia temukan.


Seketika aku melihat kesedihan pada wajah Rima.Dan pertanyaan pun muncul dalam benak ku.


"Mungkinkah Sahira benar benar pergi dan meninggalkan Rima lagi?"


"Tapi kenap dia tidak permisi langsung dengan kami?"


Aku pun bertanya tanya dalam hati.


"Ibu Nai....."


"Lagi lagi ibu Sahira pergi meninggal kan ku..."


Rima menangis dan memeluk ku yang terasa seperti kehilangan sesuatu.


"Rima sayang.."


"Jangan menangis...."


"Ibu Sahira pasti akan segera kembali...."


"Sudahlah sayang...."


Kataku coba menenangkan Rima.


"Tapi kapan...?"

__ADS_1


Kata Sahira masih menangis.


"Sayang....tenanglah..."


Kataku dengan tetap memeluknya.


"Ehm...begini saja,bagaimana jika ibu Nai menemui ayahmu dulu di kantor dan menceritakan hal ini,setelah itu kami akan mencari nya."


"Bagaimana?"


"Kau setuju...?"


Kataku membujuk Rima agar dia tenang.


"Hem...baiklah."


Kata Rima menurut.


"Anak pintar...."


"Baiklah....kalau begitu cepat ganti pakain mu dan segeralah turun,ibu akan mengantarmu ke rumah nenek sebrang,karena kaken dan nenek mu ada di sana."


Kataku mengarahkan Rima.


"Baiklah ibu Nai..."


Jawab Rima menurut.


Dan aku pun peri ke kamarku untuk ganti pakaian juga dan bersiap pergi ke kantor.Aku berpikir untuk tiba lebih awal dari jadwal pertemuan agar dapat menceritakan masalah ini dengan David sebelum menghadiri pertemuan di ruang meeting.


Setelah selesai,aku pun langsung mengantarkan Rima ke rumah ayah dan ibu,dan kemudian langsung berangkat ke kantor dengan mobil dan supir yang sejak tadi sudah menungguku .


Tiga puluh menit kemudian aku pun tiba di kantor.Ku lihat jam masih ada waktu berkisar satu jam lagi untuk datang ke pertemuan.Dan waktu itu bisa ku manfaatkan untuk ngobrol tenang dan santai dengan David perihal kepergian Sahira yang di tangisi Rima.


Aku pun bergegas turun dari mobil dengan membawa semua keperluan meeting aku jalan menuju ruangan David.


"Tuan David ada?"


Tanyaku pada Nisa sekretaris pribadi David yang meja nya tepat berada di depan ruangan David.


"Ibu Naima?"


Tanyanya.


"Ya benar,bisa saya bertemu dengan tuan David ?"


Tanyaku begitu ramah.


"Ya bu,Bapak juga sudah pesan tadi jika anda datang,anda di minta langsung masuk ke ruangannya."


Jelas Nisa sekretaris david.


"Baiklah terimakasih Nisa"


Ucapku melontarkan senyuman yang begitu bersahabat.


"Tok...tok..."


"Permisi..."


Kataku kemudian membuka pintu.


Dan aku terperangah karena di sambut dengan beberapa orang yang sangat membuat aku terkejut sekaligus bingung.Selain David orang orang itu yang tak lain adalah Arga,Sahira,dan satu pria dengan penampilan pria executive yang belum ku kenal karena ini pertama kalinya aku bertemu dengan dia.

__ADS_1


Bersambung............


__ADS_2