
Pagi-pagi sekali Queen sudah bersiap pergi ke rumah sakit. Karena tak mau terjebak macet Queen menggunakan jalan pintas. Queen membawa mobil sendiri dengan mama Adelia di sampingnya.
Mama Dinda dan Daddy Fandi tidak bisa ikut karena Daddy Fandi harus pergi ke kantor. Sedang baby Alam kurang sehat membuat mama Dinda hanya bisa menitip salam saja.
Walaupun memakai jalan pintas, tetap saja pas lampu merah arah rumah sakit Queen terjebak.
Jakarta memang dari dulu kemacetan sudah membudidaya. Entah bagaimana pemerintah mengatasi masalah ini. Bahkan pengendaranya pun terkadang tidak tertib dalam berkendara.
Mungkin entah berapa tahun lagi suasana jalan raya akan lancar. Kita doakan saja semoga bisa mengatasi ini semua.
Kurang lebih lima belas menit, Queen terjebak macet. Kini dia bisa lolos sampai rumah sakit. Queen sendari tadi memegang tangan mama Adelia, karena terlalu banyaknya orang-orang lalu lalang.
Seperti biasa, hari masuk kerja rumah sakit pun padat. Sudah sampai di lorong baru langkah Queen mulai santai karena tidak terlalu banyak orang lalu lalang. Mungkin karena menuju ruang VVIP.
Queen menyerngit heran, nampak banyak sekali orang yang berpakaian serba hitam berjaga. Dan, mata Queen menangkap sosok Aielin ada di sana dan seorang wanita paru baya yang sedang ada dalam pelukan uncle Smit.
Queen bisa menebak, kalau itu pasti Mommy Alexa dan Aielin.
Para penjaga membungkuk hormat pada mama Adelia, mereka tahu siapa yang baru datang.
"Kak..,"
Mommy Aielin langsung berhambur kedalam pelukan Mama Adelia. Membuat Queen langsung melepas genggamannya pada mama Adelia dan mendekati sang suami yang sudah siap menyambutnya.
"Sutttth.... sudah jangan menangis, kakak yakin Alexa akan baik-baik saja."
Mama Adelia menenangkan istri adik iparnya yang begitu tak berdaya. Mama Adelia juga seorang ibu dia faham betul apa yang di rasakan mommy Aielin ini.
"Bagaimana keadaan Lexa, apa dia sudah sadar?"
Mama Adelia bertanya pada uncle Smit sambil mengajak duduk mommy Aielin. Bukannya menjawab uncle Smit malah diam. Sedang Aielin dia juga diam karena tidak tahu juga. Aielin dan sang mommy juga baru datang. Langsung menanyakan keadaan Alexa namun uncle Smit juga sendari tadi diam. Entah apa yang di pikirkan uncle Smit, dia seakan sedang menanggung beban berat.
Queen bisa membaca keterdiaman uncle Smit. Bukan hanya beban berat namun ada sebuah penyesalan besar dari sorot matanya.
"Kenapa pada diam, bagaimana keadaan Lexa sekarang?"
__ADS_1
Desak mama Adelia sedikit kesal karena malah diam. Mama Adelia melirik pada putranya yang duduk bersebrangan dengan dirinya. Seakan bertanya lewat sorot matanya.
"Operasinya berjalan dengan lancar, namun kondisinya masih kritis. Lexa hanya memanggil-manggil nama Daniel, namun matanya enggan terbuka. Daniel sedari subuh dia di dalam, sampai sekarang belum keluar. Entah apa yang terjadi di dalam, bahkan dokter pun juga belum ada yang keluar."
Entah bagaimana hubungan antara Daniel dan Alexa. Mama Adelia tidak tahu persis. Tapi, sebagai seorang ibu mama Adelia tahu apa yang terjadi pada Alexa. Kemungkinan besar ada ketakutan yang tak bisa Alexa ungkap hingga dia terus berperang di bawah alam sadarnya.
Begitupun dengan Queen, pikiran mama Adelia sama seperti yang Queen pikirkan. Karena Queen pernah berada dalam posisi seperti itu. Bedanya Queen kuat, hingga dia bisa melawan. Mungkin Alexa terlalu lemah, atau bisa jadi karena terlalu di pendam kesakitan yang dia rasa. Hingga rasa sakit itu menjadi bom waktu membuat dia lemah di titik lelahnya.
Tidak mau terlalu berpikir, Queen menyuruh sang suami untuk ganti baju lalu makan. Queen tahu pasti suaminya belum makan, apalagi ini sudah jam sembilan.
Sedang di dalam ruangan, dimana ketegangan terjadi.
Alexa terus saja memanggil nama Daniel seperti seseorang yang takut kehilangan. Tapi, kedua mata Alexa masih tertutup seakan enggan untuk membuka mata.
Daniel menggenggam erat tangan Alexa, sesekali mengecupnya. Daniel membisikan sesuatu di telinga Alexa. Entah apa yang Daniel ucapkan membuat Alexa sedikit lebih tenang.
"Tuan, terus ajak bicara pasien. Sepertinya pasien merespon ucapan anda."
Ucap sang dokter yang melihat layar monitor kembali mulai membaik.
Dan, benar saja. Kehadiran Daniel sangat berpengaruh. Walau Alexa masih belum sadar, tadi di bawah alam sadarnya dia merasakan kehadiran Daniel.
Ketegangan yang sempat dokter rasakan kini menjadi lega. Padahal tadi para dokter begitu tegang. Walau operasinya berhasil tapi lima menit kemudian keadaan Alexa sempat menurun.
Tapi, kini mereka bernafas lega, karena pasien mulai normal. Kemungkinan tiga jam ke depan Alexa sadar.
Daniel yang berpakaian khusus atas perintah dokter. Karena kehadiran Daniel di butuhkan. Dokter menyuruh Daniel untuk tetap di samping Alexa dan terus berusaha mengajaknya bicara supaya menjadi rangsangan Alexa cepat sadar.
Semua dokter dan perawat keluar membiarkan sepasang kekasih itu berdua.
Semua keluarga langsung berdiri melihat para dokter keluar dan beberapa perawat. Mommy Aielin langsung berdiri menghampiri dokter dan menanyakan keadaan putrinya.
"Alhamdulillah, putri ibu sudah melewati masa kritisnya. Walau tadi sempat drop, tapi kehadiran tuan Daniel membantu. Tapi, boleh saya tanya sesuatu?"
"Tanyakan saja dok, apa! putri saya tidak mengalami hal lain kan!"
__ADS_1
"Tidak buk, tapi, dari hasil pemeriksaan sepertinya keadaan putri ibu sedikit ada sebuah trauma. Seperti ketakutan di tinggal pergi, atau putri ibu di paksa untuk melupakan sesuatu!"
Semua orang terdiam membuat sang dokter menyerngit bingung. Mommy Aielin begitu shok mendengar penuturan dokter. Seingatnya, dia tak pernah mengekang sang putri berhubungan dengan siapapun. Dan selama ini keadaan Alexa pun baik-baik saja tak menunjukan gelagat aneh. Kecuali jika Alexa sudah berbicara dengan suaminya.
Aielin pun sama, begitu terkejut dengan apa yang terjadi pada kakaknya. Aielin pikir kakaknya tidak memiliki hak seberat itu.
"Buk.."
"Sa..saya tidak tahu dok, selama ini putri saya tidak menunjukan gelagat aneh. Dia memang cendrung pendiam dan tak banyak bicara!"
"Baik buk, mengenai operasinya kita tunggu sampai pasien sadar. Apakah ada efek samping atau tidak. Doakan saja mudah-mudahan tidak terjadi hal serius. Dan, satu lagi, pasien tidak boleh ada yang menjenguk dulu sebelum pasien benar-benar sadar."
"Kenapa Daniel tidak ikut keluar dok?"
Kini uncle Smit yang angkat bicara setelah sendari tadi dia diam. Mommy Aielin menyerngit bingung, pasalnya sang suami tidak memberi tahu dirinya kalau ada orang lain yang masuk.
"Kami tidak bisa meminta tuan Daniel keluar, sepertinya putri bapak membutuhkan tuan Daniel. Sepertinya tuan Daniel objek pertama yang membuat putri bapak merasa takut kehilangan. Bahkan di bawah alam sadarnya putri bapak terus memanggil-manggil nama itu."
Deg...
Bagai tamparan keras membuat uncle Smit terdiam. Apa selama ini yang dia lakukan salah. Uncle Smit merasa putrinya baik-baik saja. Tapi, kenapa seperti ini.
"Dad, apa yang terjadi! apa Daddy menyembunyikan sesuatu dari mommy?"
Mommy Aielin menuntut penjelasan karena melihat gelagat aneh dari sang suami.
"Dad, katakan! apa Daddy tahu sesuatu tentang Lexa? kenapa dokter bicara seperti itu?"
"Maafkan Daddy mom, Daddy yang membuat Lexa seperti ini!"
"Apa maksudnya dad, jelaskan! dan siapa Daniel?"
"Daniel orang yang Lexa cinta, tapi Daddy telah memisahkan mereka lima tahun lalu!"
"Apa!!!"
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih.....