Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 52 Malam juga, I Love You Too.


__ADS_3

"Dari hasil pemeriksaan, Keadaan ibu dan bapak sangat subur, apalagi ibu memang sudah lama tak berhubungan badan dan itu membuat keadaan ibu subur dan sehat. Apalagi sepertinya ibu merawat tubuh ibu dengan baik. Kalau di lihat dari diagnosa kesehatan bapak ibu kemungkinan 80% ibu masih bisa hamil walau di usia yang tak lagi muda apalagi Rahim ibu tak ada masalah apapun."


Fandi tersenyum puas mendengar penjelasan dokter. Kemungkinan besar sang istri akan hamil, dan tentu Fandi harus bekerja keras untuk mewujudkannya.


Dari semalam setelah mereka melakukan hubungan suami istri Fandi meminta sang istri untuk periksa bersamanya kedokter. Fandi ingin memastikan sendiri apakah sang istri benar-benar boleh hamil atau tidak, dan hasilnya sangat memuaskan Fandi.


Di sepanjang jalan pulang Fandi tak henti-hentinya tersenyum membuat Dinda menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang seperti anak muda saja.


"Apa mas bahagia? "


"Sangat sayang, sebentar lagi kita akan memberi Queen adik."


"Mas ini semangatnya kaya anak remaja saja he.. he.., ingat sudah tua!"


"Itu harus! kita harus bekerja keras mulai sekarang,"


Ah.. rasanya Dinda ingin menenggelamkan wajahnya ke dasar laut. Sangat malu mendengar godaan sang suami. Apalagi Fandi mengedipkan sebelah matanya.


Sepasang suami istri itu seperti pengantin baru saja, masih malu-malu membahas hal sensitif.


Emang masih pengantin baru, pengantin baru bujangan lupuk.


Bukankah itu bagus, untuk tetap menjaga keharmonisan sebuah rumah tangga. Tua usia boleh tapi jiwa muda harus tetap ada supaya kita tak akan bosan dengan pasangan kita.


"Sayang, bagaimana kita makan malam di luar saja?"


"Boleh mas, di tempat biasa ya! "


...-----...


Queen mendengus kesal dari tadi menunggu sang mama dan sang daddy tapi jam segini belum pulang.


Katanya akan pulang sore, lah ini sudah malam belum juga pulang. Bahkan Queen belum memakan makan malamnya karena menunggu kedua orang tuanya.

__ADS_1


Bi Nina yang melihat nona mudanya cemberut tersenyum samar, begitu banyak perubahan di diri nona mudanya ketika kedatangan Fandi di rumah ini. Bahkan bibir yang selalu rapat enggan bicara kini mulai bisa tersenyum, tertawa bahkan manja-manjaan.


Queen terus mondar-mandir menghubungi ponsel sang mama tapi tak ada satupun jawaban. Begitupun ponsel sang daddy, kenapa mereka begitu sangat kombak sekali tak bisa di hubungi.


Seketika Queen mengembangkan senyum manisnya ketika mengingat sesuatu.


Tingkah Queen tak luput dari pandangan bi Nina yang seketika menyerngit heran melihat senyuman Queen. Beberapa detik lalu bibirnya cemberut dan sekarang malah tersenyum membuat bi Nina bergidik ngeri.


"Bibi..,"


Bi Nina langsung terlonjat kaget mendengar panggilan nona mudanya. Bi Nina langsung bergegas ke ruang makan memenuhi panggilan nona mudanya.


"Iya, Non. "


"Bi, bibi sama pak Tono sudah makan belum? "


"B.. belum, Non! "


Bi Nina semakin di buat bingung dengan tingkah nona mudanya yang semakin melebarkan senyum.


Bi Nina hanya mengangguk patuh, karena memang sudah terbiasa akan permintaan nona Mudanya.


Pada akhirnya Queen makan bareng bersama pak Tono dan Bi Nina dengan semangat. Bahkan Queen begitu lahap sampai makan dua kali nambah. Apalagi makan dengan ikan bakar, menu Faporit nya. Walau Queen makan selalu banyak dan tak ada jaim-jaiman tetap saja badan Queen langsing karena Queen sering olah raga.


Sesudah makan Queen langsung pergi ke kamarnya yang ada di lantai atas. Kebiasaan Queen sebelum tidur dia akan duduk di balkon menghirup udara malam dengan buku deary di tangannya. Kali ini Queen membawa dengan boks bukunya.


Queen bukan wanita yang suka main atau keluar malam, untuk sekedar jalan-jalan atau makan malam di luar.. Sepulang kuliah Queen akan diam dirumah atau mengunci dirinya di kamar. Apalagi memang Farhan jarang mengajak main keluar, sekedar makan malam romantis. Karena Farhan lebih suka main langsung kerumah Queen bersama sang mama dari pada ngajak jalan keluar.


Tapi, Queen akan keluar jika dia akan ikut balapan atau menonton balapan, tentunya di temani Farhan. Karena Queen lebih suka hal berbau menantang dari pada jalan berdua romantisan. Karena ada saatnya Queen bersikap romantis dan itupun bukan di depan umum melainkan di depan keluarganya sendiri.


Inikah arti kebahagiaan sesungguhnya, Tuhan terimakasih Kau berikan kebahagiaan yang tak pernah aku sarakan sebelumnya. Ini yang aku mau, keutuhan, kehangatan dan kebahagian keluarga.


Queen menghentikan coretan tangannya lalu menutup buku dearynya kembali. Queen menatap kedepan sana, dimana ada pohon besar tempat Farhan selalu memerhatikannya.

__ADS_1


Queen tersenyum ketika melihat bayangan Farhan ada di sana, walau Queen tak terlalu jelas melihatnya karena jauh. Tapi Queen yakin Farhan sedang tersenyum menatapnya.


Hal terkecil, tapi mampuh membuat Queen bahagia.


Pandangan Queen teralih pada boks tempat deary Queen yang sudah lama tak Queen buka. Perlahan Queen membukanya lalu menekan sebuah tombol kecil hingga bagian dalam boks terbuka lagi. Jika di lihat sekilas boks itu seperti boks biasa tapi siapa sangka boks itu memiliki ruang lain yang tak akan orang tahu.


Bibir Queen tersenyum ketika melihat barang di dalamnya. Barang yang begitu berharga bagi Farhan dan dia mampu menjaganya walau Queen hampir melupakannya.


"Kamu akan terpasang, jika sang pemiliknya memasangkan kembali. Kita tunggu dihari spesial ya."


Monolog Queen pada barang itu, sambil mengelus sebuah permata yang terukir indah di sana.


Queen menutup kembali boks itu lalu masuk kedalam kamar, sudah waktunya Queen tidur.


Ting...


Sebuah pesan masuk, membuat Queen langsung mengambil ponselnya yang tadi Queen letakan di atas meja belajar.


Queen membuka pesan itu lalu membacanya dengan bibir tersenyum.


"Jangan lupa matikan lampu kalau mau tidur, jangan kebiasaan menyala. Mata kamu harus benar-benar istirahat, aku tak mau mata kamu mint nanti sulit melihatku. Selamat tidur, mimpi indah, I Love You,"


Hal kecil tapi mampuh membuat jantung Queen berdebar. Setiap malam memang Farhan akan mengirim pesan dengan kata yang berbeda. Dan, itu menjadi cinta yang tampa Queen sadar telah tumbuh subur.


"Malam juga, I Love You Too, "


Monolog Queen, memang sudah menjadi kebiasaan Queen. Jika mendapat pesan Queen tidak akan membalas tapi akan membalas dengan ucapan bibirnya walau Queen tahu Farhan tak akan mendengar. Tapi itulah jalan kisah cinta Farhan dan Queen, berusaha menjaga jarak agar selalu menimbulkan kerinduan. Sengaja tak bertukar pesan agar menimbulkan cinta yang kuat.


Karena bagi Farhan dan Queen justru keseringan bertemu dan bertukar pesan akan menimbulkan rasa bosan dan jenuh karena hal itu saja yang di bahas. Tapi jika apa yang mereka berdua lakukan, justru membuat mereka saling terikat satu sama lain.


Hinga bertemu maka mereka akan banyak menemukan topik baru dan seru, menceritakan apa saja tentang keseharian yang di lakukan yang tak tahu.


Farhan tersenyum ketika lampu kamar Queen mati tandanya Queen sudah tidur.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like dan Vote...


__ADS_2