
Hoek ... Hoek ..
Queen terbangun dari tidurnya mendengar suara orang muntah-muntah. Queen terkejut ketika tak mendapati sang suami di sampingnya. Queen langsung berlari menuju kamar mandi.
"Oh ya Tuhan ... bee kamu kenapa!!"
Pekik Queen terkejut melihat wajah pucat sang suami sambil terus muntah.
Perut Farhan seakan di aduk-aduk di dalam sana, sesuatu terus memaksa keluar.
Queen dengan cepat membantu sang suami berbesih, lalu membersihkan muntahan sang suami.
Farhan begitu tak berdaya sekali, entah apa yang dia makan. Perasaan kemarin Farhan gak makan apa-apa yang membuat sakit perut.
"Bee, kamu muntah-muntah dari semalem. Kita ke dokter ya. Rora takut bee kenapa-kenapa?!"
Bukannya menjawab Farhan malah menarik sang istri. Farhan menyimpan kepalanya di perut Queen. Karena memang posisi Queen sedang berdiri sedang Farhan sedang duduk.
"Bee ..."
"Bee pengen begini sayang, di pelukan kamu mual dan pusing ya hilang!"
"Tapi bee, Rora takut bee kenapa-kenapa?"
Cemas Queen sambil menjauhkan kepala sang suami dari perutnya. Queen menangkup pipi Farhan hingga Farhan mendongak.
"Wajah bee semakin pucat, apa itu menyakitkan?"
"Tidak sayang, tapi di pelukan kamu bee merasa baik-baik saja,"
"Bee!!!"
Pekik Queen terkejut, ketika Farhan menariknya hingga Queen kini berada di atas pangkuan Farhan. Queen memberontak ingin turun karena kasihan melihat wajah pucat Farhan.
"Bee turunkan Rora, bee sedang sakit. Rora berat!"
"Sebentar sayang,"
Farhan memeluk erat tubuh sang istri, bahkan Farhan sampai mengendus-endus kepalanya di dada sang istri. Seakan Farhan mencari kenyamanan di sana.
"Sayang kamu pakai parfum apa, kok wangi?"
Queen menautkan kedua alisnya mendengar ocehan sang suami. Parfum! wangi? Queen merasa aneh. Bagaimana tidak merasa aneh, dia baru bangun dan bahkan belum gosok gigi dan cuci muka. Malah di bilang wangi, ada-ada saja.
"Bee, turunkan Rora ya, kita pindah ke atas ranjang. Bee harus istirahat?"
"Tapi bee pengen seperti ini!"
Queen benar-benar di buat bingung dengan tingkah sang suami. Kemarin-kemarin dirinya yang tak mau menempel dengan sang suami. Tapi,sekarang Farhan yang malah menempel dengan Queen dan anehnya Queen tak merasa bau lagi dekat dengan Farhan.
Lama kelamaan Queen berasa geli sendiri dengan apa yang dilakukan sang suami. Queen faham dengan apa yang dilakukan Farhan pada tubuhnya. Tapi, Queen hanya takut suaminya malah kecapean. Apalagi kondisinya seperti ini.
"Bee .."
"Sayang .."
Mereka saling tatap satu sama lain, terlihat jelas kabut gairah di mata sang suami. Tapi, Queen seakan ragu melakukannya.
"Bee sedang sakit, apa tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Sayang ..,"
Suara Farhan sudah sangat serak menahan gejolak rasa yang ada. Apalagi Queen bisa merasakan. Queen nampak ragu tapi melihat tatapan nafsu sang suami membuat Queen tak bisa menolak.
"Tapi jangan di sini bee,"
Senyum Farhan mengembang ketika sudah mendapat izin dari sang istri. Farhan langsung menurunkan sang istri dari pangkuannya karena Queen ingin berjalan tak mau di gendong dengan keadaan sang suami yang begini.
"Pelan-pelan ya bee, ada baby di sini!"
"Hm,"
Farhan memulai dengan sangat hati-hati karena takut menyakiti istri dan calon anaknya.
Queen nampak heran, kenapa sang suami stamina malah semakin naik. Padahal tadi begitu sangat mengkewatirkan. Apa sakit bisa sembuh karena hubungan suami istri, pikir Queen.
"Akhh ..."
Queen meringis ketika Farhan hilang kendali membuat Farhan jadi diam. Karena terkejut mendengar ringisan sang istri.
"Sayang, apa bee menyakiti kamu dan baby?"
"Tidak! tapi pelan-pelan bee."
Farhan mengangguk dan melanjutkan kegiatannya dengan sangat hati-hati. Tapi, Queen malah yang jadi tersiksa dengan apa yang di lakukan sang suami. Queen merutuki kebodohannya sendiri, dan tak mengerti dengan dirinya sendiri. Kenapa sekarang malah Queen yang seakan menginginkan lebih dari sang suami.
Satu jam mereka melakukan hubungan suami istri. Farhan kembali tertidur sedang Queen masih berjaga.
Queen menatap wajah sang suami yang sudah terlelap. Wajah pucat nya masih terlihat jelas. Tapi, ada kepuasan di dalamnya.
"Sebenarnya kamu kenapa bee? wajah kamu pucat, kamu sakit. Tapi, tenaga kamu menjadi besar ketika menginginkan aku."
Monolog Queen terheran sendiri, Queen menyibak selimut lalu meraih baju Farhan. Queen melangkah ke arah kamar mandi guna membersihkan tubuhnya.
Di dapur sudah ada mama Adelia dan mommy Aielin yang sedang menyiapkan sarapan.
"Mah, Tan,"
"Eh sayang, mau apa?"
"Rora merasa lapar dan haus mah!"
"Uluh .. cucu nenek ternyata lapar ya. Ya sudah, Rora duduk biar mama yang buatkan sarapan,"
"Biar sama Rora saja mah, Rora gak apa-apa!"
"Gak! Duduk dan tunggu!"
Tegas mama Adelia namun tetap lembut membuat Queen pasrah saja. Sedang mommy Aielin hanya tersenyum saja. Dia membayangkan, bagaimana kalau Alexa juga hamil, pasti dia sangat bahagia sekali.
Queen menikmati sarapannya dan tentu dengan segelas susu ibu hamil. Tak lama Alexa dan Aielin ikut bergabung begitupun uncle Smith. Semua sudah berkumpul di meja makan, tinggal Farhan yang tak ada.
"Biru mana, kok belum keluar!"
Ucap uncle Smith membuat semua orang langsung menatap Queen. Queen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena bingung harus menjawab apa.
"Jangan bilang dia belum bangun!"
Celetuk mommy Aielin membuat Queen semakin terpojok.
__ADS_1
"An...anu .. emmz tapi kalian jangan jijik ya,"
Semua orang nampak heran mendengar ucapan Queen yang terkesan gugup.
"Jijik kenapa nak?"
Tanya mama Adelia yang ikut penasaran. Karena gak biasanya jam segini Farhan belum bangun. Biasanya Farhan akan lari pagi dan harusnya dari tadi sudah balik.
"Se.semalam Biru datang muntah-muntah, Rora pikir Biru masuk angin biasa. Tapi, tadi subuh, dia muntah-muntah lagi dan itu membuat Rora bingung. Di suruh periksa cuma Biru tidak mau. Sekarang dia kembali tidur sesudah muntah,"
"Dan muntah kenikmatan,"
Lanjut Queen dalam hati, tidak mungkin kan Queen membicarakan adegan itu. Masih ada dua gadis di meja makan bisa bahaya.
Semua orang terdiam mendengar ucapan Queen. Begitupun dengan mama Adelia yang nampak khawatir.
"Sayang ..."
Teriak Farhan membuat semua orang langsung mengarah ke arah tangga.
Farhan terkejut ketika bangun tidak mendapati istrinya ada di samping. Farhan langsung bangun dan memakai baju santai tanpa mandi dulu. Dengan kepala pusing, Farhan memaksakan diri turun guna mencari sang istri.
Farhan mendekati sang istri, namun langkahnya berhenti. Wajah Farhan langsung memerah seperti menahan sesuatu.
"Bee, kamu kenapa?"
Hoek .. Hoek ...
Semua orang jadi terkejut melihat Farhan berlari kearah wastafel muntah-muntah. Tapi tidak dengan mommy Aielin yang nampak tahu sesuatu.
"Ya Tuhan bee,"
Queen menepuk-nepuk pundak sang suami supaya muntahannya cepat keluar. Begitupun mama Adelia yang sudah siap dengan tisu di tangannya.
"Kita ke dokter ya?"
Farhan hanya menggeleng lemah, sambil berjalan kearah meja makan.
"Kamar!"
"Tapi bee belum sarapan?"
"Bau telor dan sosis itu!"
Tunjuk Farhan lemah membuat semuanya nampak heran. Pasalnya telor setengah Mateng Dan goreng sosis adalah menu sarapan kesukaan Farhan. Kenapa bilang bau, aneh-aneh saja.
"Nak, bawa suami mu ke kamar, biar mama yang panggil dokter supaya ke sini!"
Queen mengangguk saja, Aielin dengan sigap membantu Queen yang sedikit kesusahan berjalan.
"Kak,"
Panggil mommy Aielin membuat mama Adelia menoleh.
"Sepertinya Biru mengalami Couvade Syndrome, atau kehamilan simpatik. Queen yang hamil, tapi Biru yang ngidam. Sama seperti aku hamil Aielin tapi Daddy yang ngidam!"
"Couvade Syndrome!"
Bingung mama Adelia, tapi tak lama dia tersenyum.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih.....