Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 119 Penyerahan jabatan


__ADS_3

Rapat kali ini begitu berbeda dengan biasanya. Semua petinggi perusahaan ada di ruang itu. Biasanya rapat hanya bergantian setiap harinya tergantung apa yang di bahas. Tapi kali ini tidak, semuanya ikut.


Kabar seorang Angga Prayoga akan menyerahkan jabatannya pada Putranya sudah tersebar di seluruh kantor. Orang-orang yang belum tahu siapa putra sang CEO di buat penasaran. Apalagi para karyawan yang memang belum tahu siapa putra dari pemilik kantor tempat mereka kerja. Bahkan para jajaran petinggi pun banyak yang tidak tahu, hanya sebagian saja yang tahu.


Karena Jek waktu bekerja di sana tidak menggunakan identitas aslinya.


"Seperti yang kalian ketahui, saya akan menyerahkan penuh perusahaan ini pada putra saya. Saya rasa saya sudah cukup tua untuk terus bergelut dalam bisnis."


Semuanya terdiam mendengar pidato Angga yang memaparkan semuanya. Orang-orang yang ada di ruangan itu saling berbisik penasaran siapa putra dari pimpinan mereka.


Ada sebagian yang santai karena sudah tahu.


"Masuklah nak,"


Semua orang kembali hening ketika Angga menyuruh seseorang masuk ke ruangan.


Pak Teja, asisten Angga langsung membukakan pintu dimana masuk sosok gagah dengan balutan jas. Auranya nampak berbeda dari biasanya.


Sebagian orang tercengang mengetahui siapa anak pimpinan mereka. Bahkan sebagian orang meneguk ludahnya kasar. Dan, sebagian lagi bersikap biasa saja, karena memang mereka sudah tahu. Apalagi Jek dulu bergabung di divisi yang sama, yaitu divisi keuangan.


"Terimakasih atas sambutannya, mungkin sebagian orang sudah tahu siapa saya dan mungkin sebagian lagi belum. Perkenalkan nama saya Jek Prayoga putra pertama Angga Prayoga!"


Jek menatap tajam pada sebagian orang yang menunduk. Entah karena segan atau ada yang lain. Tapi di lihat dari mimik wajah mereka. Mereka seperti ketakutan mengetahui siapa Jek sebenarnya.


"Selamat nak, papa serahkan semuanya pada kamu. Papa yakin kamu mampu!"


"Terimakasih pak, mohon bantuannya jika Jek melakukan kesalahan!"


Semuanya sudah selesai dan Jek sudah resmi menggantikan papah nya. Rapat pun sudah di tutup. Satu persatu keluar sambil memberi ucapan selamat pada Jek.


"Sekarang kita keruangan kamu,"


Ucap Angga langsung melangkah di ikuti Jek dan Pak Teja. Jek di buat kagum baru pertama kali melihat ruangan sang papa yang sekarang menjadi ruangannya.


Pak Teja keluar ketika Angga memberi isyarat.


"Bagaimana nak, kamu suka!"


"Suka pah,"


"Di sini bukan sembarang rak buku, jika kamu merasa lelah kamu bisa istirahat di sini!"


Jek benar-benar menatap kagum ruangan sang ayah. Ternyata paket komplit, ada sebuah kamar yang begitu luas.

__ADS_1


"Jika di luar kita tak bisa melihat kedalam sini, tapi di sini kamu bisa melihat keluar,"


Jek benar-benar di buat kagum, tak menyangka ruangan sang papa se modern ini. Biasanya Jek melihat ruangan seperti ini hanya di tv tv saja.


Sesudah selesai memperlihatkan isi ruangan yang akan di tempati Jek. Ayah dan anak itu duduk di shopa. Mereka makan siang bareng di sana. Hari ini Jek tidak langsung bekerja, tapi Jek menyuruh pak Teja memberikan laporan dari semua bidang divisi dari lima tahun kebelakang.


Sesudah Angga pulang, Jek mempelajari berkas-berkas yang dia pinta tadi. Baru selesai satu dan masih banyak lagi. Tapi Jek memutuskan pulang karena ini sudah sore. Jek sudah janji tidak akan pulang malam, walaupun harus lembur Jek akan lembur di rumah saja.


Tak lupa Jek juga membawa semua berkas itu kerumah untuk di pelajari di rumah.


Sebelum pulang, tak lupa Jek mampir ke swalayan untuk membeli buah yang di inginkan sang istri.


Mendengar suara mobil suaminya Melati langsung mematikan tv dan berjalan kearah tangga.


Jek tersenyum melihat istrinya menyambut di atas sana.


Melati mencium punggung tangan Jek dengan takdzim.


"Wanginya istriku, ini baru sore adek sudah mandi! biasanya nungguin Abang?"


" Sekarang kan Abang kerja di kantor, jadi badan Abang pasti gak terlalu lengket dan bau. Jadi mulai sekarang Abang mandi sendiri, dan adek menyambut Abang sudah wangi!"


Jek terkekeh mendengar celotehan istrinya. Memang semenjak Jek kerja di bengkel, Jek ketika palang pasti di suruh langsung mandi dengan keadaan Melati juga belum mandi. Karena pernah satu kali Jek pulang dari bengkel dia mandi buru-buru alhasil mandinya gak bersih dan harus Melati yang memandikannya. Sampai menjadi kebiasaan, dan sekarang Jek merasa lucu dengan kebiasaan yang di rubah kembali sama sang istri. Tapi dua-duanya sangat membuat Jek semangat 45.


"Baiklah istriku, terimakasih sudah membuat Abang senang!"


"Kasih kembali, sini tasnya biar adek yang bawa!"


"Jangan, ini berat, ada beberapa berkas di dalamnya. Adek gandeng tangan Abang saja,"


Melati terkekeh dan langsung bergelayut manja di lengan sang suami. Suami istri itu masuk kedalam kamar, lalu mereka duduk di atas shopa.


"Bagaimana kabar baby, dia gak rewel kan?"


"Alhamdulillah tidak, Abang beli buah pesanan adek kan?"


"Beli dong, masih ada di mobil. Nanti Abang ambil setelah mandi ya. Abang gerah!"


"Ya sudah, adek siapkan airnya dulu,"


"Gak di mandiin nih?"


"Gak, ayo buruan mandi airnya sudah siap!"

__ADS_1


"Baik ibu ratu,"


Melati geleng-geleng kepala mendengar setiap panggilan sang suami yang berubah-ubah. Melati langsung menyiapkan baju santai untuk sang suami. Lalu ia pergi ke dapur untuk masak.


Jek sudah selesai mandi, tapi Jek tak menemukan sang istri. Jek melihat ada baju yang sudah di siapkan. Dengan cepat Jek memakai bajunya lalu keluar kamar guna mengambil buah yang dia beli.


Harum masakan tercium membuat Jek sekarang tahu, kalau istrinya ada di dapur. Sesudah mengambil buah, Jek menaruhnya di meja makan.


"Masak apa Dek?"


"Cumi saur tiram, sambal sama tumis labu Siam,"


"Bang lepasin, adek susah gerak nih!"


Protes Melati karena Jek memeluknya, membuat Melati sulit menggerakkan tangannya.


"Abang kan cuma peluk!"


"Iya, tapi kan Adek sedang masak. Jadi lama nih beresnya,"


"Cium dulu baru di lepasin,"


Jek memajukan wajahnya tepat di samping wajah Melati membuat Melati mencebikkan bibirnya. Suaminya selalu saja cari kesempatan dalam kesempitan.


Cup ...


"Terimakasih adek manis,"


Melati hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya. Tadi panggi adek, sekarang pakai manis. Entah panggilan apa lagi yang akan Jek ucapkan untuk dirinya.


Melati langsung menghidangkan masakannya di meja makan. Sedang Jek menyusun buah di dalam kulkas dan sebagian di simpan di meja makan.


"Pengen melon?"


"Adek duduk, Abang kupas in!"


Begitulah interaksi suami istri itu. Siapa sangka mereka begitu saling mencintai dan menjaga satu sama lain.


Apalagi Jek memperlakukan Melati bak ratu. Bukankah pepatah mengatakan, perempuan akan menjadi ratu jika di samping laki-laki yang tepat.


Bersambung...


Jangan lupa Like Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2