
Tidak ada keindahan dari pemandangan manapun kecuali wajah tampan yang sedang tertidur pulas.
Wajah tampan khas orang tidur tidak ada duanya bagi Queen kecuali suaminya sendiri.
Sejak subuh tadi Queen sudah bangun, dia awalnya terkejut karena ketiduran saat melakukan Vidio call. Tapi, ketika memeriksa ponselnya nyatanya semalaman Vidio call nya masih tersambung sampai saat ini.
Farhan memang sengaja tidak mematikan ponselnya. Dan, sebelum tidur Farhan mengarahkan kamera ponselnya pada ranjang agar ketika sang istri bangun langsung melihat dirinya.
Dan, benar saja apa yang sedang Queen lakukan. Dari tadi matanya tak lekas dari wajah tampan sang suami yang masih tidur menyamping menghadap kamera.
Queen bisa melihat dengan jelas suaminya tidur dengan tenang dan damai. Tentu saja, Farhan tidur sangat pulas karena di Jerman masih menunjukan jam satu dini hari. Karena Jakarta lebih cepat lima jam dari waktu Jerman.
Dor .. dor ...
"Kakak ..."
Alam di luar sana sejak tadi menggedor-gedor pintu kamar sang kakak.
Lamunan Queen seketika buyar oleh gedoran sang adik yang sejak tadi terus memanggilnya.
Saking asiknya memandang wajah sang suami membuat Queen seakan lupa akan dunia sekitar.
Cklek ...
Queen membuka pintu sudah di sambut dengan wajah cemberut sang adik dengan mata berkaca-kaca.
"Kakak jahat, katanya mau tidur sama Alam semalam tapi tidak."
Rengek Alam memanyunkan bibirnya membuat Queen merasa bersalah pada sang adik.
"Aduh nak, jangan marah sama kakak ya. Semalam Alam ketiduran sayang. Jadi Daddy bawa Alam ke kamar,"
Ucap Mama Dinda tiba-tiba muncul sambil membawa handuk. Sepertinya Alam kabur karena tidak mau mandi.
"Mama betul dek, maafkan kakak ya. Nanti malam kakak janji deh. Kalau Alam ketiduran lagi Kakak suruh Daddy tidurkan Alam di kamar kakak."
"Janji!"
"Iya, apa sih yang enggak buat om kecil. Sekarang Dede mandi ya sama mama?"
Bujuk Queen lembut sambil berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan sang adik.
"No, mau sama kakak! Boleh ya ..."
Ucap Alam penuh harap dengan wajah menggemaskannya. Bahkan matanya kembali berkaca-kaca seakan memohon untuk mengabulkan keinginannya.
"Sayang, nyatanya kamu di sini. Mas pergi berangkat kerja dulu ya."
Fandi tiba-tiba muncul sambil memakai dasinya. Terlihat terburu-buru sampai memakai dasinya tidak rapih.
"Pagi-pagi sekali mas,"
"Ini ada rapat sayang,"
Dinda berdiri mencoba membenarkan dasi sang suami. Queen yang melihat interaksi kedua orang tuanya langsung menggendong Alam masuk ke dalam sambil mengedipkan sebelah matanya pada sang Daddy. Fandi hanya tersenyum saja seakan faham isyarat Queen.
"Sekarang sudah rapih kan,"
Ucap Dinda sambil menepuk-nepuk dada bidang sang suami.
"Terimakasih sayang, mas pergi dulu,"
Cup ...
__ADS_1
"Gak sarapan dulu!!!"
"Nanti saja di kantor, mas sudah telat,"
"Mas cemburu!"
Deg ...
Angga terlonjat kaget tiba-tiba Murni menepuk pundaknya. Angga langsung berbalik guna melihat wajah sang istri.
"Ah ... enggak. Mana ada mas cemburu,"
Elak Angga gelagapan karena ketahuan. Sendari tadi memang Angga sedang memerhatikan interaksi mantan istrinya dan adik ipar nya.
Bukan .. bukan ....
Tepatnya Angga tadi gak sengaja melihat Alam berlari jadi dia mengikutinya takut Alam jatuh.
"Terus kenapa berdiri disini lihatin mereka?"
Ucap Murni ketus sambil menatap selidik sang suami.
"Jangan salah faham sayang, tadi mas mau ngejar Alam karena lari-lari, takut jatuh. Teru ..."
"Lihat adegan tadi!"
Potong Murni menatap tajam suaminya. Angga hanya menggaruk tengkuknya saja yang tidak gatal.
Sungguh Angga tak ada rasa cemburu sama sekali. Yang ada Angga merasa rasa bersalahnya berkurang karena Dinda sekarang sudah sangat-sangat bahagia bersama Fandi.
"Sayang cemburu!"
Murni melotot suaminya malah menuduh dirinya. Jelas-jelas Angga yang cemburu.
"Masa, tapi bibirnya manyun gitu. Ingin di cium ya,"
Plak ...
Murni malah memukul lengan Angga yang mulutnya sudah melantur. Angga hanya terkekeh saja. Bahkan pukulan sang istri tak seberapa.
"Idih kabur ..."
"Sayang cemburu, hayo ngaku saja,"
Canda Angga tersenyum geli sambil menyusul sang istri yang malah kabur menuju ruang belakang.
"Sayang tunggu ..."
"Idih ngambek!!"
Mama Adelia dan Bik Marni yang sedang memetik buah langsung menoleh mendengar teriakan Angga. Mama Adelia menggeleng melihat tingkah besannya yang main kejar-kejaran seperti anak kecil saja. Bahkan sampai mengitari pohon apel.
.
"Sudah ganteng,"
Ucap Queen tersenyum melihat adiknya yang sudah rapih.
"Terimakasih kak, ikut Alam yuk ke belakang petik buah,"
"Alam sama mama dulu ya, kakak mandi dulu nanti nyusul,"
"Ok, ayok mah,"
__ADS_1
Ajak Alam sambil meraih tangan mama Dinda.
Queen bukannya langsung mandi dia malah kembali melihat layar ponselnya yang memang Queen juga sengaja tak mematikannya.
Queen tersenyum ternyata suaminya masih belum bangun. Sekarang perkiraan sudah waktu subuh di Jerman. Sudah puas memandang wajah tampan sang suami Queen beranjak mandi.
Dua puluh menit, Queen baru keluar kamar mandi dengan wajah nampak segar. Dia langsung memakai pakaian. Queen membuka jendela yang tadi belum sempat Queen buka supaya matahari masuk ke dalam.
Queen tersenyum melihat keseruan di bawah sana. Dimana Mama Dinda, mama Adelia, Ayah Angga, Tante Murni, Bik Marni dan Alam sedang asih memetik buah-buahan. Membuat Queen ingin ikut juga.
Queen menulis sebuah tulisan di selembar kertas. Lalu menempelkannya menghadap layar ponsel. Entah apa yang Queen tulis membuat Queen tersenyum sendiri. Dengan cepat Queen segera menyusul ke taman belakang.
"Sayang sini!!!"
Seru mama Adelia melambaikan tangan dimana mama Adelia sedang duduk di bawah pohon apel bersama Tante Murni dan ayah Angga. Sedangkan mama Dinda sedang sibuk menuruti kemauan Alam yang menginginkan buah strawberry.
Queen duduk di antara mama Adelia dan Tante Murni.
"Sayang sudah sarapan kan?"
Tanya mama Adelia sambil mengupas buah mangga yang baru matang dua buah.
"Sudah mah, barusan sebelum ke sini."
"Nak, kamu mau?"
Tawar Tante Murni sambil menyodorkan melon yang sudah di kupas pada Queen. Queen mengangguk sambil mengambil buah tersebut. Karena sejujurnya memang Queen menginginkan buah melon.
"Terimakasih tan,"
"Manis?"
"Iya,"
"Habiskan, nih Tante kupas in,"
Queen merasa senang selalu di perhatikan. Setidaknya Queen tidak terlalu merasa rindu pada sang suami. Karena keluarganya berusaha tetap bersamanya.
Dengan lahap nya Queen memakan buah yang di kupas Tante Murni di bantu sang ayah.
Jika begini mungkin Queen tidak akan merasa kesepian untuk kedepannya.
"Kakak ... mau gak strawberry!!"
Teriak Alam berlari sambil membawa keranjang buah.
"Nak, larinya pelan-pelan,"
Mama Dinda dari tadi di buat jantungan Mulu oleh sang putra yang berlarian. Bukan apa-apa, Dinda hanya takut sang putra jatuh dan terluka.
"Terimakasih Dede kakak yang ganteng, strawberry manis,"
"Alam juga ambil buah jeruk dan jambu dan ..."
"Melon di bawa mama tuh ...."
Dinda hanya mendengus melihat anaknya. Dari tadi terus ingin mengambil bermacam buah. Ujung-ujungnya dia yang harus membawa mana berat lagi!
Semua orang malah tertawa melihat kejahilan Alam pada ibunya sendiri. Bahkan Angga juga ikut tertawa melihat tingkah polos Alam.
"Anak ini!"
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih....