
Setelah selesai di rumah sang ayah, Queen pamit pulang dimana Farhan sudah menjemput. Queen hanya bisa menyuruh sang ayah meminta izin pada sang mama jika ingin Queen menginap di sini dengan satu syarat. Jika Queen menginap maka Queen tak mau ada Jek di rumah.
Angga hanya menatap kepergian sang putri dengan tatapan sendu. Tapi, Angga tak cukup keberanian untuk mencegah sang putri tinggal.
"Jika papa ingin tinggal dengan Queen, Jek tidak pa-pa."
Ucap Jek serius menatap sang papa yang hanya diam ketika Queen pulang.
"Papa tidak cukup keberanian son, Papa akan mendekatinya secara perlahan. Dulu papa membentengi diri papa karena tak mau menyakitimu tapi sekarang Queen yang membentengi diri."
Murni hanya bisa membuang nafas kasar, kali ini Murni tak bisa membantu. Biarkan Angga berusaha sendiri meraih kepercayaan putrinya. Murni faham, sulit bagi Queen untuk menghapus rasa kecewa terhadap ayahnya sendiri. Tapi, sejauh ini Queen selalu welcam, walau terlihat dingin.
"Sekarang mas istirahat, kita pikirkan nanti masalah Queen!"
Angga hanya pasrah saja mengikuti saran sang istri.
...--...
Di Jalan.....
Sepanjang jalan Farhan terus saja memegang tangan Queen dengan satu tangan memegang stir.
Sesekali Farhan mencium tangan itu, tapi tak mengalihkan pokus Queen sama sekali dan itu membuat Farhan heran.
"Apa terjadi sesuatu, Rora?"
"Tidak!"
"Apa ada yang menggangu pikiran kamu sayang?"
"Ayah ingin aku tinggal di rumahnya beberapa hari!"
Farhan tersenyum ketika Queen menyahut atas pertanyaannya. Queen memang baik-baik saja maka Farhan salah jika menanyakan keadaannya. Karena yang terjadi, pikiran Queen yang bingung maka tepat jika Farhan menanyakan keadaan pikiran Queen, terbukti Queen langsung menjawab.
"Ya tinggal saja, kenapa harus menolak! "
"Isshh.. kau ini lupa. Besok kita akan ke puncak dan aku tidak mungkin mengecewakan mama. Kecuali jika mama mengizinkan,"
"Aku tidak lupa Rora. Mungkin om Angga ingin dekat dengan kamu. Aku yakin tante Dinda pasti mengerti!"
"Entahlah.., Tapi aku tak mau Jek ada di rumah jika nanti aku tinggal,"
"Aku mengerti! ya sudah, kita mau langsung pulang atau kemana dulu?"
Farhan sengaja mengalihkan pembahasan supaya Queen tidak terlalu keras berpikir. Queen melihat jam pergelangan tangannya, masih sore tapi Queen tak ada keinginan.
Rasanya Queen malas jika hanya jalan-jalan atau sekedar makan di luar. Queen lebih senang menghabiskan waktu di rumah dengan Gym, renang atau membantu sang mama mengurus tanaman.
__ADS_1
"Emmz.., bisa kita mampir ke indomart atau supermarket. Aku ingin buah?"
"Ya sudah, di depan ada supermarket kita kesana,"
Farhan membelokan mobilnya ke arah supermarket yang tak jauh dari persimpangan. Farhan dan Queen berjalan bergandengan tangan masuk ke supermarket.
Banyak pasang mata yang menatap kagum pada Farhan, bahkan ada juga yang diam-diam mempoto Farhan dan itu membuat Queen kesal. Bagaimana tidak, Farhan begitu gagah dan berkarisma dengan stelan kemeja dengan baju lengan di gulung sampai sikut.
Tapi Queen bisa apa, hanya diam dengan bibir mengerucut, percuma Marah-marah juga.
Tanpa Queen sadari, begitupun apa yang di rasakan Farhan. Bahkan Farhan jauh lebih meradang melihat pasang mata jelalatan memandang Queen penuh nafsu. Ingin sekali Farhan mencongkel mata-mata para bajingan itu, berani menatap kagum pada kekasihnya.
Dengan posesif, Farhan menarik pinggang Queen untuk merapat pada tubuhnya dan itu sontak membuat Queen tersenyum karena Queen berpikir Farhan tak akan tergoda pada cewe-cewe yang menatap Farhan penuh puja.
Hingga Farhan membeli masker dan memakaikannya pada Queen begitupun dirinya. Queen tidak menolak dengan apa yang Farhan lakukan, Queen malah senang.
Sesudah membeli bermacam buah-buahan Queen memutuskan langsung pulang. Apalagi waktu sudah mulai petang.
Sesudah mengantar Queen pulang, Farhanpun langsung pulang ke rumah yang tak jauh dari Queen. Satu komplek berbeda blok.
"Sayang bawa apa, banyak sekali belanjaannya?"
Tanya Dinda ketika Queen sudah mencium punggung tangannya.
"Buah mah, buat bawa besok ke Puncak jadi di sana tidak akan beli lagi."
"Oh ini oleh-oleh dari ayah, nih satu buat mama, "
"Buat mama! "
Ulang Dinda memastikan membuat Queen mengangguk saja.
"Ya sudah mah, Queen ke kamar dulu. Eh, oh iya, daddy belum pulang?"
"Belum, katanya masih ada rapat, mungkin pukang jam delapanan. Mama siapkan makan malam dulu ya sama bi Nina, kamu mandi dulu gih,"
Queen hanya mengangguk, lalu pergi kelantai satu menuju kamarnya. Queen tersenyum melihat masker yang Farhan tadi belikan. Queen menyimpannya di kotak dimana Queen selalu menyimpan barang apapun pemberian Farhan.
Lalu Queen beranjak menuju kamar mandi guna membersihkan badannya. Tak butuh lama, Queen selesai lalu memakai baju santai.
"Sebentar lagi kamu akan terpasang kembali,"
Cup...
Monolog Queen mengecup kotak kecil yang sudah di hias secantik mungkin dengan pita berwarna pink.
Tok.. tok...
__ADS_1
"Sayang, ayo makan malam,"
Reriak Dinda dari luar.
"Iya, sebentar mah."
Jawab tak kalah teriak, Queen langsung menyimpan kotak itu lagi ke tempat semula.
Lalu bergegas membuka pintu, nampaklah sang mama masih menunggu di depan pintu. Hingga anak dan ibu turun kebawah beriringan.
"Daddy sudah pulang mah?"
"Sudah, tuh sudah menunggu di meja makan. "
Queen tersenyum dan langsung duduk di kursi samping kiri Fandi, sedang Dinda di sisi kanan Fandi.
Dinda dengan telaten mengambilkan makanan untuk suami dan putrinya. Ada rasa yang entah apa membuat Queen terdiam sebentar. Andai saja, sang ayah yang ada di kursi ini pasti Queen akan jauh lebih bahagia mendapat kehangatan sebuah keluarga. Tapi, nyatanya itu hanya mimpi yang tak bisa Queen dapatkan. Tapi, Queen bersyukur mempunyai ayah sambung yang begitu menyayanginya.
Bahkan Queen mendapatkan apapun dari Fandi yang tak dapatkan Queen dari sang ayah. Walau Fandi tak akan pernah bisa menggeser cinta yang ada di hati Queen untuk sang ayah. Angga tetap cinta pertama Queen yang tak bisa Queen ganti dengan apapun. Walau Queen juga tak munafik, bahwa Queen juga sangat menyayangi Fandi, apalagi Fandi selalu membuat sang mama bahagia. Tutur katanya yang lembut membuat Queen terkadang merasa iri pada sang mama. Entahlah, entah iri apa Queen tak tahu.
Mungkin perasaan itu muncul karena Queen sudah terbiasa di perlakukan manis oleh Fandi, hingga Queen tak ingin perhatian Fandi berkurang sedikitpun.
Queen gadis yang sendari kecil menginginkan kasih sayang sosok ayah dan itu Queen dapatkan dari Fandi. Mungkin, Queen tak ingin Fandi berkurang kasih sayangnya hingga Queen merasa hampa kembali.
"Apa daddy begitu mencintai mama?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa Queen saring. Fandi yang mendapatkan pertanyaan seperti itu langsung melihat Queen.
Queen memang gadis jujur dan apa adanya, segala kegundahan hati maka Queen akan bicara langsung tak memendam. Karena Queen tahu, memendam rasa itu sakit.
"Ya, Daddy begitu mencintai mama sendari dulu sampai sekarang. Bahkan rasa itu tak pernah berubah walau ada rasa sakit dan luka."
"Apa daddy juga mencintai Queen, dan tak akan berubah sedikitpun kasih sayang daddy pada Queen?"
Fandi dan Dinda sedikit tercengang tak menyangka kalau Queen akan berkata seperti itu. Dinda faham betul kemana arah pembicaraan sang putri.
"Bagaimana kalau Daddy yang balik bertanya. Apa cinta Queen pada daddy tidak akan berkurang walau Queen sangat mencintai Biru?" Queen menggeleng.
"Kalian laki-laki yang Queen cintai, tapi, cinta kalian berbeda. Daddy adalah ayahku sama seperti ayah Angga walau cinta yang Queen miliki untuk kalian beda tipis. Tapi, Biru adalah kali-laki yang memberi rasa lain akan kata cinta itu sendiri."
"Begitupun rasa yang daddy miliki untuk mama dan kamu. Kamu adalah tuan putri daddy sendari dulu, yang mampuh membuat daddy sembuh atas rasa daddy pada sang ratu. Jika ratu adalah nyawa daddy maka Queen adalah detak jantung daddy. Tanpa kalian berdua raga ini tak akan hidup."
"Jadi, jangan ragu akan cinta Daddy pada kamu, walau Queen tak bisa menyelami cinta daddy pada mama. Tapi, satu yang harus Queen ingat! bahwa daddy tak bisa menggantikan pangeran dan raja sesungguhnya di hati Queen. Daddy hanya seorang panglima yang beruntung mendapatkan cinta sang ratu dan sang putri."
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote....
__ADS_1