Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 106 A..apa yang om la..lakukan!!!


__ADS_3

Di rumah sakit....


Alexa tak henti-hentinya melirik ke arah pintu berharap Daniel akan datang. Tapi sendari tadi tak ada tanda-tanda Daniel datang. Perasaan takut tiba-tiba muncul membuat Alexa mengepalkan kedua tangannya.


Apa Daniel meninggalkannya tanpa kepastian lagi. Kenapa! kenapa dia pergi tanpa memberi pesan sama sekali. Apa semuanya bohong,. kenapa!


Tiba-tiba dada Alexa sesak, Alexa hanya diam sambil mencengkram dadanya kuat seakan ingin mencabut kesesakan ini.


"Kakak!!!"


Pekik Aielin terkejut melihat keadaan kakaknya. Aielin memegang tangan sang kakak supaya tak menyakiti dirinya sendiri. Tapi tenaga sang kakak begitu kuat.


"Kak..."


Lilir Aielin sakit melihat keadaan sang kakak. Tatapannya terlihat kosong tapi mata itu terus mengeluarkan air mata.


Aielin memeluk sang kakak berharap sang kakak sadar.


"Kakak jangan sakiti diri kakak, kakak kenapa. Apa yang terjadi!"


Aielin berusaha menyadarkan sang kakak apapun caranya. Aielin terus mengguncang tubuh sang kakak. Sambil berusaha menahan tangan sang kakak agar tak menyakiti dirinya sendiri.


"Kak, lihat Ai, apa yang terjadi!"


Bentak Aielin spontan karena panik dengan apa yang kakaknya lakukan. Seketika Alexa diam mendengar bentakan Aielin. Alexa menatap nanar adiknya lalu memeluk Aielin erat membuat Aielin sakit. Entah apa yang membuat sang kakak seperti ini. Kenapa jiwanya terguncang kembali, bukankah sudah membaik kenapa begini lagi.


"Sutttt... kakak kenapa, tenang ya ada Ai di sini!"


"Dia pergi hiks.. pergi.."


Aielin menautkan kedua alisnya, siapa yang pergi pikir Aielin bingung. Padahal tak ada yang pergi dari sisi kakaknya.


"Dia pembohong.. dia pergi.."


Alexa semakin terisak di pelukan Aielin membuat Aielin benar-benar bingung.


Uncle Smit dan mommy Aielin baru saja masuk sudah di kejutkan dengan keadaan putrinya yang terisak.


"Ya Tuhan, dek kenapa dengan kakak?"


Mommy Aielin langsung menghampiri ke dua putrinya. Begitupun uncle Smit merasa jantungan mendengar isakan pilu sang putri.


"Kak, kakak kenapa? ini mommy sayang,"


"Dia pergi mom dia pergi... dia pembohong..."


Deg...


Uncle Smit seakan tertampar mendengar ucapan sang putri. Uncle Smit tahu siapa yang di maksud Alexa. Apa sebegitu ketakutannya Alexa kehilangan Daniel. Cinta, takut, marah tergambar jelas di sorot mata Alexa. Uncle Smit pikir Anaknya baik-baik saja dan tak mengalami ketakutan seperti ini.


"Daniel tidak pergi, Nak."


"Bohong!"

__ADS_1


Uncle Smit menatap putrinya dengan tatapan sulit di artikan. Aielin dan sang mommy hanya diam karena tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Uncle Smit mendekat lalu duduk di hadapan Alexa. Uncle Smit meraih tangan putrinya lalu mengelus punggung tangannya.


"Daddy tidak bohong, tadi Daniel menemui Daddy. Dia ada sedikit urusan yang tak bisa dia tinggalkan bersama Biru."


"Daddy gak bohong kan!"


"Tidak sayang, buat apa Daddy berbohong. Maafkan Daddy sayang, semuanya gara-gara Daddy."


Alexa tak menjawab, Alexa hanya diam entah percaya atau tidak. Karena sang Daddy selalu membohonginya tentang Daniel.


Padahal selama ini Daniel selalu menyuruh orang menjaga Alexa dari kejauhan walau Daniel tak bisa menjaga Alexa secara langsung.


Entah apa yang harus mommy Aielin lakukan agar putrinya tenang. Pemuda yang bernama Daniel sungguh telah membuat putrinya tak ingin lepas barang sejenak. Jika sudah seperti ini apa yang harus di lakukan.


Alexa merebahkan tubuhnya membelakangi sang Daddy dan sang mommy. Alexa hanya memegang tangan adiknya seakan itu adalah Daniel. Alexa memeluk tangan Aielin dengan erat membuat Aielin terpaksa harus sedikit membungkukkan badannya.


"Kakak tenang ya, ada Ai di sini."


Bisik Aielin di telinga sang kakak sambil satu tangannya mengelus-elus punggung Alexa.


Uncle Smit hanya bisa membuang nafas kasar melihat putrinya seperti itu.


"Dad, mommy gak mau terus melihat Lexa seperti ini!"


"Apa Daddy tahu kemana perginya nak Daniel. Hari ini memang mommy juga belum melihatnya,"


Uncle Smit hanya diam tak bergeming sama sekali. Entah harus menceritakannya atau apa, uncle Smit tak tahu. Uncle Smith hanya tak mau membuat sang istri khawatir jika tahu apa yang sedang Daniel lakukan.


Sudah selesai berbicara dengan seseorang Queen langsung menyimpan ponselnya di atas naskah. Queen melirik jam tangannya, ternyata ini sudah sore, seharusnya Farhan sudah pulang.


Rasa cemas mulai menghantui Queen, pasalnya sang suami sudah berjanji akan pulang cepat. Di telepon pun nomornya tidak aktif membuat Queen semakin cemas.


Queen turun ke bawah tujuannya menuju kamar mama Adelia. Queen mengetuk pintu tak lama mama Adelia keluar dengan pakaian yang sudah rapih.


"Loh, katanya mau berangkat sekarang, kok belum siap-siap?"


"Emmz.. aduh gimana ya mah!"


"Kenapa sayang, kok muka kamu pucet banget. Kalau kamu sakit mending kita batalin saja!"


"Jangan mah, Queen gak apa-apa. Cuma Queen mau bilang, mama berangkat duluan nanti Queen nyusul,"


"Kok gitu harusnya bareng sayang."


"Queen mau nungguin dulu Biru, gak apa-apa kan mah!?"


"Ya sudah, mama duluan ya."


Queen bernafas lega ketika mama Adelia menyetujui usulnya.


Queen sama mama Adelia memang sudah berencana akan pergi merayakan ulang tahun baby Alam yang ke dua tahun. Di mana acaranya di adakan di sebuah villa yang sudah di booking.

__ADS_1


Mama Adelia mengerti mungkin Queen akan memberi kejutan pada adiknya, sehingga pergi belakangan.


Sesudah Mama Adelia pergi di antar oleh mang Danang Queen langsung pergi lagi ke kamarnya guna bersiap.


Seperti biasa Queen memakai pakaian yang menurut Queen nyaman. Sedikit polesan make-up, rambut di kuncir kuda.


Drum...


Suara mobil terdengar membuat Queen tersenyum. Queen yakin itu pasti suaminya sudah pulang.


Lantas Queen bergegas turun dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


Cklek...


Seketika senyum Queen menghilang ketika tahu siapa yang datang.


"Om Lukman!"


"Selamat sore nona muda,"


"Iya sore om, silahkan masuk!"


Queen mempersilahkan om Lukman masuk dengan dua orang yang entah siapa Queen tidak tahu.


"Ada perlu apa ya om, maksudnya kalau masalah kantor Biru belum pulang!"


"Ini ada berkas yang harus di tanda tangani, oleh Tuan terutama nyonya Adelia. Dan, memerlukan stempel untuk bagian ini,"


"Stempel!"


"Iya nona, berhubung tuan tidak memegang stempelnya, katanya nona yang menyimpan. Bisakah nona memberi stempel di sini!"


Tunjuk om Lukman pada sebuah bagian yang berbeda. Queen hanya menautkan kedua alisnya karena tak mengerti.


"Bisakah om tunggu Biru dulu, soalnya Queen gak ngerti!"


Ucap Queen polos sambil membulak-balik berkas itu, lalu menaruhnya kembali.


Om Lukman tersenyum tipis sambil menatap kalung yang Queen pakai. Om Lukman mengisyaratkan pada kedua anak buahnya untuk bergerak cepat.


"Berikan kalung itu, atau peluruh ini akan menembus kepala nona!"


Deg...


Queen terkejut dengan apa yang om Lukman lakukan. Bahkan Queen sampai berdiri saking terkejutnya.


"A...apa yang om la..lakukan!"


"Cepat berikan kalung itu!"


"Tidak! om apa-apaan!"


Bentak Queen terkejut karena kedua tangannya di cengkal.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih.....


__ADS_2