
Queen mengantar Aielin ke bandara bersama Farhan.
Harusnya keberangkatan Aielin kemarin, tapi karena acara pernikahan sang kakak dadakan jadi, jadinya hari ini.
Hanya Queen dan Farhan yang mengantar Aielin ke Bandara. Mama Adelia tidak ikut karena kepalanya tiba-tiba merasa pusing. Maklum sudah tua.
Farhan menahan nafas ketika kedua wanita di samping kanan kirinya menghempit dirinya dengan posesif bahkan sampai Farhan sendiri menahan nafas.
Daniel, sang asisten hanya bisa tersenyum melihat di balik kaca spion.
"Kak Niel?"
"Iya, nona!"
"Dulu kak Niel selalu ikut paman Lukman ke mansion Al-biru. Sesekali kakak selalu membawa saudara kak Niel yang irit bicara itu bahkan aku masih ingat. Saking gemasnya aku selalu mencuri ciumannya tapi dia berakhir marah. Dia dimana sekarang? selama aku di Indo, kak Niel belum pernah membawanya?"
"Dia sedang sibuk sama dunianya sendiri, kenapa?"
"Ah.. t-tidak, Aielin cuma tanya saja!"
"Oh!"
Aielin mencebikan bibirnya mendengar kalimat Oh. Padahal Aielin ingin tahu seperti apa bocah kecil yang selalu mencuri perhatiannya. Setinggi apa dia sekarang, apa wajahnya semakin tampan atau malah jadi jelek. Aielin tidak tahu, bahkan rasa penasarannya juga tak ada yang bisa menjawab dengan puas.
"Kapan kak Niel melamar kakak?"
Uhuk...
Daniel berbatuk mendengar kalimat yang di lontarkan Aielin. Farhan yang mendengarpun ikut tersenyum sangat puas.
Queen hanya diam saja tak tertarik dengan pembahasan tiga manusia itu. Queen malah asik menyandarkan kepalanya di bahu calon suaminya dengan tangan memutar-mutar cincin yang di pakai Farhan.
"Kok diam, jawab dong kak. Kasihan kak Alexa nunggu kak Niel. Bahkan daddy sama mommy berencana menjodohkan kak Alexa!"
Glek..
Daniel hanya bisa menelan ludahnya kasar mendengar setiap kalimat yang Aielin lontarkan. Kata itu bagai sembilah pisau yang mengoyak hati Daniel.
Namun, Daniel kembali teringat akan siapa dirinya. Bagaimana mungkin dia bersanding dengan keluarga Alexsandria. Siapa dia dan siapa Alexa, Daniel tahu itu.
Farhan terdiam sangat tahu apa yang membuat sahabatnya masih diam di tempat yang sama. Tapi, bukankah sikap dima Daniel malah menyakiti Alexa. Hubungan Mereka begitu abu-abu, saling mencinta namun terhalang status nasab.
Daniel hanya berada di lingkup keluarga sederhana dan tak sekaya keluarga Alexa. Garis bangsawan dan kolomerat melekat di diri Alexa begitupun Aielin.
Tapi, tahukah Daniel, keluarga Al-biru tak pernah memandang seseorang dari kasta. Keluarga itu selalu memandang ketulusan terutama sebuah kejujuran.
"Ih.. di ajak ngomong malah diam, kak Niel menyebalkan. Awas saja ya, kalau suatu saat nanti minta bantuan aku untuk dekat sama kak Alexa, aku tak mau!"
Aielin benar-benar kesal dengan tingkah Daniel yang tak merespon sama sekali ucapannya.
Bahkan sudah sampai di bandarapun Aielin tetap cemberut. Aielin langsung chek in dengan wajah masih di tekuk membuat orang-orang keheranan. Ada apa dengan gadis bule itu, kenapa cantik-cantik malah cemberut.
__ADS_1
Sesudah menitipkan salam pada keluarga Daniel di Jerman. Aielin benar-benar masuk kearea chek in.
"Sesudah ini mau kemana sayang?"
"Mau ketempat waktu itu kamu ajak akh ke sana!"
"Baiklah siap tuan putri, tapi kamu tunggu di sini. Ada sesuatu yang harus aku katakan sama Daniel!"
"Hm,"
Farhan melangkah mengjauhi Queen. Daniel langsung mengikuti langkah Farhan tanpa di suruh dua kali.
"Waktumu hanya tiga bulan. Unty sama Uncle memberi waktu Alexa hanya tiga bulan. Jika kamu tak datang, maka Alexa harus menerima perjodohan itu!"
"Kamu bukan laki-laki pengecut yang kalah sebelum bertarung. Buktikan kalau kamu layak untuk Alexa. Jangan kalah sama sepupuhmu, walau dia anak brandalan tapi dia selalu mengejar apa yang dia mau!"
"Ingat! uncle tak menyukai laki-laki pengecut!"
Daniel menahan nafas ketika sedetikpun Farhan tak membiarkannya buka suara. Bertubi-tubi ucapan Farhan membuat Daniel meragu.
"Kamu pulang naik taksi, aku harus membawa Queen ke suatu tempat!"
Huh...
Daniel membuang nafas kasar sambil mengusap wajahnya.
Sungguh, ucapan Farhan dan Aielin mengganggu pikiran Daniel. Daniel menengadahkan wajahnya ke atas langit melihat begitu cerahnya hari ini tapi tak secerah hatinya.
Tanpa kata Daniel meninggalkan Bandara ketika pesawat yang Aielin tumpangi sudah lepas.
Begitupun Farhan dan Queen langsung pergi ketempat yang mereka tuju. Mungkin tempat itu akan menjadi tempat kedua bagi Queen setelah taman.
Mengingat itu, rasanya Queen kangen pada bocah kecil yang selalu menemani Queen ketika Farhan di Jerman.
"Menurut kamu kenapa Daniel dan Alexa bisa pisah?"
Sebuah pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulut Queen.
Queen menyandarkan kepalanya di bahu Farhan. Mereka duduk di atas mobil sambil menikmati udara sore hari. Dengan pemandangan laut lepas di bawah sana.
"Aku tidak tahu pasti, yang aku tahu hubungan mereka terlalu rumit!"
"Terhalang restu atau ada orang ke tiga?"
"Kenapa kamu penasaran dengan hubungan mereka?"
"Aku melihat, begitu banyak cinta dari tatapan Daniel ketika nama Alexa di sebut. Tapi, aku juga melihat keraguan di dirinya!"
"Aku tak tahu pasti masalah mereka, yang aku tahu. Daniel merasa tak pantas jika harus bersanding dengan Alexa. Daniel merasa mereka berbeda, Daniel takut Alexa tak bahagia bersamanya."
"Kenapa merasa takut jika dulu mereka mengukir masa yang indah. Jika memang merasa takut, harusnya kisah indah itu tak ada. Atau... "
__ADS_1
Queen menghentikan ucapannya seolah sedang berpikir kemana arah pembicaraannya. Queen pikir masalahnya bukan sekedar kasta atau restu melainkan ada masalah lain yang membuat mereka jadi seperti itu.
"Kenapa malah melamun sayang,"
"Tidak! aku hanya sedang berpikir. Lukisan indah seperti apa yang kita ukir dalam hubungan kita?"
"Apapun yang kamu mau sayang, aku akan berusaha mewujudkannya!"
"Lihatlah sepasang burung itu!"
Queen menunjuk pada sepasang burung yang sedang bermesraan di atas pohon sana. Queen tenggelam dalam kenyamanan ini. Seakan Queen tak mau waktu ini berhenti. Queen ingin waktu ini terus berjalan untuk terus melukis kisah perjalan cinta mereka.
"Sayang?"
"Hm,"
"Setelah kita menikah, kamu gak pa-pa kan tinggal satu rumah sama mama Adel?"
Queen mendongkak hingga nyaris saja bibir mereka bersentuhan jika tak terhalang hidung mancung mereka.
"Tidak masalah, aku tahu kamu tak bisa jauh dari mama Adel. Apalagi mama Adel satu-satunya orang tua yang kamu punya. Aku bukan wanita egois,"
"Terimakasih, kamu mengerti aku!"
"Apapun untuk kamu, tapi kamu janji ya. Aku ingin bulan madu di sini. Sambil menikmati udara segar dengan pemandangan yang begitu indah."
"Ini pegunungan sayang, apa kamu tak mau ke luar negri atau tempat-tempat lain, seperti Bali, atau ke Bandung. Mereka juga mempunyai tempat indah!"
"Tidak! aku suka tempat ini. Tapi, kalau kita tinggal di sini rasanya lebih indah dan menghabiskan hari tua kita dengan alam penuh kesejukan."
"Baiklah, apapun mau kamu. Sekarang kita pulang ya, mau hampir magrib?"
Cup..
"Mulai nakal ya!"
"Tidak! itu hadiah, karena kamu sudah bawa aku ke sini!"
Grep...
Farhan mencengkal lengan Queen ketika akan masuk kedalam mobil. Lalu Farhan menariknya lembut hingga Queen merapat pada tubuh Farhan.
"Kapan aku mendapat kecupan di sini?"
Ucap Farhan sambil menunjuk bibirnya. Queen tersenyum sambil berjinjit kakinya. Lalu Queen membisikan sesuatu di telinga Farhan. Tak lama Farhan tersenyum, bahkan senyuman itu begitu lebar. Entah apa yang Queen bisikan!
Bersambung....
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote...
Terimakasih...
__ADS_1