Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 141 Melahirkan


__ADS_3

Kalau begitu sayang makan yang banyak, biara baby-nya sehat. Dan, jangan lupa kalau sudah merasakan sakit pinggang atau mau pipis Mulu sayang kasih tahu orang rumah ya. Karena itu tanda-tanda mau melahirkan,


Queen terngiang-ngiang ucapan sang mama sebelum Queen pulang kemarin.


Apa tanda yang Queen rasakan saat ini tanda mau melahirkan. Bagaimana bisa! bukankah HMl nya masih tiga Minggu lagi. Kenapa sekarang Queen sudah merasakannya.


"Ahhh ..."


Queen menjerit sambil memegang perutnya, teriakan Queen sampai terdengar ke luar membuat mama Adelia dan Alexa terkejut mendengar teriakan Queen.


Dua wanita berbeda generasi itu langsung meninggalkan meja makan menuju kamar yang di tempati Queen.


Brak ...


"Nak!"


"Queen!"


Mama Adelia dan Alexa membulatkan kedua matanya melihat Queen duduk di lantai sambil memegang perutnya. Entah itu duduk atau jatuh, entahlah.


"Sayang kamu kenapa?"


"S-sakit mah, akhh.. huh .. huh .. sakit bee!!"


Nafas Queen tersendat-sendat sambil menahan sakit di perutnya seakan ada sesuatu yang meminta keluar.


"Kamu mau melahirkan sayang!"


"Tidak! tidak, bukankah HMl nya tiga Minggu lagi mah. Bee juga belum pulang, sitt ... bee hiks ... bee ..."


"Mang Diman, bi Marni!!!"


Uhuk ...


Mang Diman dan bi Marni terkejut mendengar teriakan majikannya. Bahkan sampai mang Diman menyemburkan minumannya. Mereka berdua langsung berlari menuju teriakan majikannya.


"Allahu ... non mau melahirkan!"


"Mang Diman tolong bawa menantu saya ke mobil!"


"Aduh Bu, saya gak ke angkat,"


"Aduh, bagaimana sih mamang, masa gak ke angkat."


"Benar Bu, malah pinggang saya sakit!"


"Bagaimana ini!"


Keadaan orang-orang rumah begitu panik karena tak ada yang bisa mengangkat Queen. Mama Adelia bingung, cemas melihat keadaan Queen yang dari tadi meringis.


"Mah huh .. huh ... sakittt .. pipis .."


"Hah air ketuban, aduh ini bagaimana. sayang sabar ya ..."

__ADS_1


"Hiks bee .. sakit hiks ..."


Queen rasanya sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang tiada Tara. bahkan rasanya Queen mau mati saja.


"Tan, mungkin dokter sebentar lagi datang ke sini!"


"Lexa telepon kakak mu, suruh cepat pulang Queen mau melahirkan!"


"Sudah Tan, tapi nomor kakak gak aktif. Nomor Daniel juga sama!"


"Aduh anak itu, bagaimana ini .."


Ketegangan semakin menjadi, apalagi Queen semakin kesakitan. Tapi, semuanya tidak bisa apa-apa. Apalagi mang Diman, dia tak bisa di andalkan. Bukan tak bisa, mang Diman pinggangnya sedang sakit gara-gara jatuh dari pohon mangga ketika Queen ingin buah mangga.


"Mama bee ..."


Hanya nama itu yang terlintas dalam ingatan Queen. Queen ingin sang mama ada di sampingnya begitu pun suaminya. Rasanya Queen sekarat, tapi Queen tak mungkin pergi tanpa pamit pada keduanya.


Mah, inikah yang mama rasakan saat melahirkan Queen tanpa ayah. Sakit ini sungguh! ah .. mah maafkan Queen belum bisa jadi anak yang baik untuk mama. Rasanya sangat luar biasa, apa ini yang mama rasakan juga. Berjuang, demi Queen hiks ...


"Nak, kamu jangan tidur, tahan sebentar ya. Dokter sebentar lagi datang,"


Mama Adelia berusaha membuat Queen tetap sadar tidak boleh sampai pingsan karena bisa membahayakan calon cucunya.


Melihat Queen kesakitan begini membuatku jadi takut. Apa aku tunda dulu punya anak!


"Ya Tuhan sayang ..."


Semua orang berbalik melihat siapa orang yang datang. Mama Dinda langsung masuk bersama dokter yang baru tiba.


Keresahan mama Dinda semakin menjadi tetkala Alexa menelepon nya memberi tahu keadaan Queen sekarang. Hingga mama Dinda meminta suaminya langsung ke rumah Al-biru.


Fandi dengan sigap langsung mengangkat putri ya ke atas ranjang yang sudah di persiapkan mama Dinda dan dokter.


Semua orang keluar dari kamar menyisakan mama Dinda, mama Adelia dan dokter saja.


"M ... ma .. hiks .."


"Iya sayang, mama di sini! mama di sini! sabar ya, putri mama pasti bisa .."


"Nona tenang ya, ikuti instruksi saya. Jangan tegang! tarik nafas lalu keluarkan perlahan ..."


Queen mencoba mengendalikan kesadarannya sambil mencengkram erat tangan mama Dinda. Dia harus kuat, kuat demi anaknya.


Queen mencoba tenang mengikuti apapun yang di instruksikan dokter.


Dokter melihat ini sudah pembukaan delapan tapi sepertinya Queen tidak perlu menunggu sampai pembukaan sempurna karena jalan anak sudah terbuka.


Mungkin karena Queen rajin olahraga buat persalinan lancar. Apalagi dari kemaren Queen banyak gerak.


"Tarik nafas keluarkan perlahan, siap!"


Queen mencengkram erat tangan mama Dinda. Seakan meminta kekuatan untuk dirinya membantu sang anak keluar.

__ADS_1


"Emmz .. huh .. huh ... s.. sakit mahhh ... "


"Ayo sayang, kamu pasti bisa, demi anak kalian .."


Hiks bee ...


Jerit batin Queen sekuat tenaga mencari ke kuantan dimana seperti ada sesuatu yang memaksa ke luar di area sensitifnya. Itu sangat menyakitkan dan dan Queen tak bisa menjabarkannya dengan kata.


Sungguh dahsyat nya nikmat melahirkan,. bertarung nyawa demi melahirkan malaikat kecil.


Oe .. oe ...


Tangisan seorang baby terdengar nyaring di dalam kamar. Berbarengan dengan Queen membuang nafas panjang. Rasanya Queen sudah tidak ada tenaga lagi.


Mama Dinda menitikkan air mata haru melihat perjuangan anaknya melahirkan.


"Selamat nak, kamu hebat, terimakasih sayang .."


Mama Dinda mengecup puncak kepala Queen dengan sayang. Sedang Queen hanya tersenyum saja dengan nafas yang masih naik turun.


Dokter memberikan baby mungil itu pada mama Adelia untuk di mandikan.


"Mah ..."


Lilir Queen dengan air mata yang keluar dari pelupuk matanya.


"Kenapa sayang, butuh apa?"


"Maafkan Queen, belum bisa jadi anak yang baik buat mama. Maaf .."


"Nak, hey ... buka mata kamu ... jangan tidur, nak!"


Dinda menepuk-nepuk pipi Queen agar tidak tidur. Tapi, Queen malah tersenyum dengan mata kembali tertutup.


"Dok, kenapa dengan putri saya?"


Sang dokter yang sedang membersihkan tangannya langsung berbalik. Seketika dokter terkejut melihat Queen mengalami pendarahan pasca melahirkan.


"Dia pendarahan, kita harus segera membawa nona ke rumah sakit."


Rasanya jantung Dinda ingin berhenti mendengar penjelasan dokter. Dia berlari keluar memanggil suaminya, dengan dokter berusaha menghentikan pendarahan pada area sensitif Queen.


Fandi terkejut mendengar penjelasan istrinya, dia langsung masuk lalu menggendong Queen yang sudah tak sadarkan diri.


Mama Adelia terkejut melihat Queen di bawa oleh Fandi. Semakin terkejut lagi ketika baby mungil yang baru dia selesai mandikan menangis.


"Ada apa ini, Queen!"


"Kak, tolong jaga cucu kita ya, Dinda harus ke rumah sakit. Queen mengalami pendarahan,"


Mama Adelia tak bisa berkata-kata lagi, dia tak mungkin juga ikut ke rumah sakit membawa baby mungil ini. Tapi cucunya dari tadi menangis membuat mama Adelia bingung. Terpaksa dia menyusul ke rumah sakit bersama Alexa, bi Marni dan mang Diman yang membawa mobil.


Sedangkan Queen dari tadi sudah sampai di rumah sakit dengan beberapa petugas yang sudah siap menyambut mereka.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, dan, Vote Terimakasih...


__ADS_2