
"Mas, apa kamu yakin cara ini berhasil?"
"Mas yakin sayang, cara ini berhasil. Anak itu belum menyadari perasaannya. Kita lihat saja nanti apa Jek membawa kabar gembira atau tidak!"
"Tapi, aku tak enak sama Melati mas, gadis itu terlalu polos. Dia pasti akan menganggap kita merendahkannya!"
"Jangan kewatir sayang, mas sudah meminang Melati pada ibunya tiga hari lalu. Rencana ini juga mas sudah bicara pada ibu Melati dan beliau setuju. Mas yakin, melati juga menyukai Jek, tapi gadis itu memiliki trauma pada orang kaya!"
"Trauma! maksudnya apa mas?"
"Apa kamu ingat pengusaha tambang yang bekerja sama dengan kita!"
"Semi Dewangga!"
"Iya, dia adalah ayah kandung Melati. Dia tak menganggap Melati anaknya. Sem menganggap ibu Melati wanita rendah dan murahan yang menjual dirinya padahal Sem yang memperkosa ibu Melati. Hingga semua keluarga Sem menghina ibu Melati dan mengkucilkannya menganggap ibu Melati mau menjerat Sem dengan tubuhnya. Tapi, faktanya itu semua adalah fitnah. Sem sengaja mengarang cerita seperti itu. Padahal Sem sudah menikahi ibu Melati, karena gelap akan kekuasaan. Karena keluarga Dewangga akan mencoret setiap anak yang menentang aturan keluarga itu dimana mereka harus menikah dengan kelas atas sedangkan ibu Melati memang keturunan sederhana. Sem membuang ibu Melati ketika Melati berusia tujuh tahun dan tanpa Sem sadari, ketika membuang mereka ibu Melati sedang mengandung anak Sem adik Melati."
Murni membekam mulutnya tak percaya dengan apa yang suaminya katakan. Sungguh malang hidup gadis itu. Dari kecil harus menderita, pantas saja Melati menjungjung tinggi kehormatannya.
"Apa mas memilih Melati untuk menjadi menantu kita karena kasihan?"
"Tidak sayang, karena Jek. Selama ini aku selalu menyuruh seseorang untuk memata-matai Jek kemanapun Jek pergi karena aku tak mau Jek kembali pada Jek yang dulu. Anak buah mas, melaporkan akhir-akhir ini Jek selalu mengikuti seorang gadis culun bahkan Jek rela menunggu demi menjaga Melati pulang kerja dengan selamat. Jek selalu menjaga Melati dari kejauhan tanpa Melati sadari. Di situ mas biasa menyimpulkan kalau Jek menyukai Melati tapi Jek belum menyadari perasaannya. Untuk itu kita merencanakan seperti itu agar Jek bisa mengungkap perasaannya sendiri, kalau tidak kita pancing Jek pasti kedahuluan yang lain."
"Sudah sejauh ini!"
"Mas ingin yang terbaik sayang! apa kamu tahu satu hal!"
"Apa!"
"Otak Melati begitu cerdas, Mas yakin Melati bisa membantu Jek di kantor suatu saat nanti. Gadis itu jenius tapi kejeniusannya tertutup oleh penampilan culun dan pemalunya. Hingga banyak orang mengucilkannya. Bukankah Melati menantu idaman!"
Murni tersenyum tak menyangka sang suami sudah sejauh ini bergerak. Murni pikir sang suami memilih Melati karena kasihan atau karena menyukai sopan santun gadis itu. Tapi, nyatanya masih ada kejutan lain yang Murni tak tahu tentang Melati. Bahkan dari pandangan pertama saja Murni sangat menyukai Melati, walau culun tapi gadis itu mempunyai kewibawaan seorang pemingpin. Mungkin, karena Melati keturunan Dewangga. Namun, sungguh miris hati Murni ketika membayangkan betapa sulitnya Melati kecil harus menyaksikan dan menanggung beban atas kelakuan ayahnya sendiri.
Murni memang tidak tahu tentang rekan-rekan bisnis suaminya, namun nama Dewangga selalu muncul ketika sang suami membahas pekerjaan. Keluarga Dewangga adalah orang yang sangat ambisius dalam pekerjaan. Bagi mereka uang adalah segalanya.
...---...
Kediaman Melati....
Melati Berkali-kali menghembuskan nafas kasar sebelum masuk.
__ADS_1
Ucapan Jek terus terngiang-ngiang di otak Melati antara menerima dan menolak. Melati tahu, Jek mengatakan itu dari hatinya bukan paksaan dari kedua orang tuanya. Karena Melati juga sebenarnya tahu, selama ini Jek selalu mengikutinya, menjaga dia dari kejauhan. Tapi, Melati masih ragu, apalagi Jek bukan orang sembarangan. Melati terlalu takut Jek sama seperti ayahnya yang sewaktu-waktu membuangnya.
Rasa sakit yang ayah Melati berikan sampai sekarang membekas di hati Melati. Bahkan Melati selalu menyaksikan ibunya di hina dan di caci tapi sang ayah tak pernah membela sama sekali malah ikut-ikutan menyudutkan.
Itulah kenapa Melati tak menyukai orang kaya, bagi Melati mereka sama. Mereka hanya menjungjung tinggi kekuasaan, harta dan martabat keluarga tapi mereka lupa akan orang kecil yang mereka tindas seenaknya. Apa salah gadis miskin bermimpi menjadi seorang putri!
Cklek...
Melati perlahan masuk kedalam rumah ketika sudah merasa lebih baik.
"Ibu, kenapa belum tidur?"
Melati terkejut melihat sang ibu duduk di kursi menunggunya. Membuat Melati merasa bersalah karena pulang terlalu larut.
Ibu Melati, Intan tersenyum melihat keterkejutan putrinya.
"Maafkan Mel, Bu. Mel membuat ibu menunggu!"
"Tidak apa sayang, bagaimana acara makan malamnya?"
Glekk...
"La.. lancar bu, ini sudah malam. Ibu harus istirahat,"
"Apa ada yang kamu tutupi dari ibu, putri ibu tak pandai berbohong loh,"
Melati terdiam bingung harus bagaimana. Melati memang tak pandai berbohong pada ibunya. Apakagi Melati akan terlihat gugup jika merasa hatinya gelisah.
Melati duduk di lantai, lalu Melati menaruh kepalanya di pangkuan sang ibu. Intan mengelus kepala putrinya, seorang ibu merasakan apapun yang anaknya rasakan.
"Maafkan Mel, Bu. Nyatanya Mel tak pandai berbohong."
Melati mendongkak demi melihat wajah sang ibu. Intan menangkup wajah putrinya dengan lembut.
"Katakan?"
"Kedua orang tua Queen meminta Melati jadi menantunya!"
"Lalu!"
__ADS_1
"Melati tak mau bu, mereka berbeda dengan Melati. Kenapa orang kaya selalu seenaknya pada orang tak punya seperti kita. Mereka selalu menganggap uang adalah segalanya, bahkan bagi mereka, mereka bisa membeli Melati. Melati di ancam, jika Melati tak mau menikah dengan putranya beasiswa Melati akan di cabut!"
"Apa perilaku orang tua itu dan anaknya sama, memaksa kamu?"
"Tidak! Jek tidak sama, dia terlihat tulus,"
"Apa kamu mencintainya?"
Damm...
Melati terdiam, Melati seakan terjebak dalam ucapannya sendiri. Terlihat sekali banyak ketakutan, beban, kebencian terpancar jelas dari sorot mata Melati, Intan tahu itu.
"Dengar nak, setiap orang kaya tak sama. Ada juga yang baik hati, jangan menilai orang dari rasa takut kamu. Berdamailah dengan keadaan, lupakan masa lalu, ibu sudah menerimanya dengan ikhlas. Jika kamu mencintai Jek, kenapa kamu masih ragu untuk menerimanya?"
"Tapi, papa Jek merendahkan aku, Mel tak terima. Bukankah dalam pernikahan bukan cinta saja yang di butuhkan tapi juga restu. Mel tak mau orang tua Jek meminta Melati karena ada maunya, bukan ketulusan."
"Ternyata putri ibu sudah dewasa, apa Mel mau tahu satu rahasia!"
Melati mengerutkan keningnya tanda bingung. Memang rahasia apa yang ibunya sembunyikan. Perasaan Melati tahu semuanya.
"Apa!"
"Orang tua Jek tidak seperti yang Mel pikirkan. Mereka orang tua yang sangat baik ..."
"Tunggu! kenapa ibu malah memuji mereka, apa mereka mengancam ibu juga. Katakan sama Mel, biar M.."
"Suttt! jangan potong ucapan ibu. Dengarkan! Sebenarnya tiga hari lalu papa Jek datang kerumah bersama Queen. Dia meminang kamu pada ibu untuk Jek. Dan, pak Angga juga meminta izin pada ibu untuk mengundang kamu datang kerumah. Perkataan pak Angga jangan kamu masukan hati, dia sengaja melakukan itu karena ingin putranya mengungkapkan sendiri perasaannya pada kamu. Bukan di paksa menikah. Pak Angga hanya ingin Jek mengungkap perasaannya dan meminta kamu untuk menjadi pendampingnya. Karena pak Angga tahu, Jek sampai kapanpun tidak akan berani bicara sebelum di pancing,"
Mulut Melati menganga tak percaya dengan apa yang dia dengar. Jadi, ibunya sudah tahu sendari awal. Ini sebuah rencana, dan rencana ini sangat sempurna.
Aku tak mau kamu menganggap aku sama dengan laki-laki di luar sana. Bisa mendapatkan kamu karena uang. Pandang aku laki-laki biasa yang sedang meminta kamu menjadi istriku?
Melati mengulum senyum ketika mengingat perkataan Jek.
Melati memeluk pinggang sang ibu, menyembunyikan rona merah di pipinya. Sangat malu jika ketahuan sama ibunya.
"Sekarang bagaimana jawaban Mel?"
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote...